Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 148 Makan Malam Dengan Arip


__ADS_3

Setelah melaksanakan shalat Jamak Maghrib Isya (karena statusku saat ini adalah musafir). Barulah aku merasakan perutku berbunyi. Sepertinya sudah waktunya untuk mencari makan malam. Wajar saja aku sudah lapar, karena hari ini aku melakukan perjalanan dari Kota C menuju Jakarta. Ratusan kilo aku lampaui hanya untuk berkumpul dengan teman-teman dan menjalin silaturahmi dengan saudaraku, Arip.


“Arip, ada makanan enak apa saja di sini.”


“Banyak mas, ada…”


Arip mulai menyebutkan satu per satu makanan yang ada di sekitar sini. Memang namanya ibu kota. Segala macam makanan lengkap ada disini. Mulai dari ayam, daging, bahkan sampai yang aneh-aneh seperti burger, pizza, dan juga ramen. Mendengar banyak sekali makanan seperti itu, perutku semakin terasa lapar saja.


“Kalau begitu, kita pergi ke mallnya saja. Sekalian jalan-jalan!” Ucapku dengan semangat


“Boleh mas. Ayo kita berangkat kesana” Jawab Arip dengan senyuman datar seperti biasa. Memang adikku yang satu ini jarang sekali ekspresinya berubah.


Adikku Arip ini memang seringnya diam. Namun sekalinya ngomong atau marah. Kalimatnya jleb pisan.


Keputusan kami mencapai kesepakatan. Akhirnya kami segera bersiap-siap untuk pergi ke mall yang tadinya merupakan tempatku turun dari ojek. Sebagai cowok, tentunya tidak butuh waktu lama untuk kami bersiap-siap. Tinggal ganti celana dan baju saja, sisiran sedikit, kemudian berangkat setelah menggunakan parfum untuk pakaian kami. Tidak enak kalau ada yang mencium aroma kami yang kurang wangi.


Perjalanan dari kontrakan Arip ke mall tidak terlalu lama, kurang dari sepuluh menit. Saat sudah sampai di pintu masuk. Aku lihat harus scan qr code terlebih dahulu. Akibat pandemi, sekarang saat kita ingin masuk ke tempat umum, kita harus scan code untuk menandakan kalau kita sudah masuk ke dalam tempat tersebut.


Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa padat tempat yang ingin kita kunjungi. Serta nantinya kalau terjadi cluster baru covid. Bisa dilakukan tracing kemana saja tempat ramai yang orang tersebut pernah datangi. Memang sih jadi nya ribet, harus selalu sedia hp yang ada kuotanya agar bisa masuk ke dalam. Namun demi kepentingan bersama, ayo kita mendukung program yang dibuat oleh pemerintah.


Selesai scan, barulah kami kembali masuk ke dalam mall. Tadinya aku mengira mallnya akan bagus gimana gitu. Karena dari luar terlihat kalau mall ini cukup besar dengan lantai mungkin lebih dari lima. Betapa terkejutnya ketika sudah tiba di tempat, bagian dalam mall ini berbeda jauh dengan yang terlihat di luar.


Desain interior mall tidak seperti kebanyakan mall Jakarta. Lebih mirip ke pasar di dalamnya karena di desain seperti labirin. Dimana setiap bloknya terdapat toko-toko kecil yang menempatinya. Mirip dengan mall di blok M mungkin. Sehingga setiap kita jalan, ada banyak sekali toko-toko yang kita lihat.


Hal yang paling membuatku kaget adalah banyaknya eskalator yang rusak serta ada bagian bangunan mall yang sedang diperbaiki. Entah ini memang tempatnya mau di renovasi atau memang sudah dari lama proses perbaikan belum selesai juga. Namun melihat Arip yang sudah tidak kaget saat berada di tempat ini. Sepertinya Ini adalah pemandangan yang normal di sini. Aku juga tidak melihat ada pengunjung yang lain merisaukan tempat yang sedang diperbaiki ini.


“Mau makan dimana ni mas?”


“Ada ramen ya katamu di sini? ke sana saja”

__ADS_1


“Ok”


Aku memutuskan untuk makan ramen. Karena memang aku suka dengan masakan-masakan Jepang serta kebudayaan di sana. Kalau ada kesempatan, aku ingin sekali pergi ke negara Sakura itu.


Ramen memang enak, namun saya tidak sarankan untuk sering makan makanan yang terdiri dari mie dan kuah itu. Karena sama seperti mie instan, terlalu banyak memakan ramen bisa membuat perut kita terasa tidak enak. Sebagai orang Indonesia, mungkin perutnya kalau tidak masuk nasi, belum terasa kenyang. Karena itulah biasanya tidak cukup makan malam hanya dengan ramen. Untungnya dengan adanya kuah, paling tidak bisa membuat perut kita terasa kenyang untuk beberapa jam ke depan.


Kedua karena harganya tidak ada yang murah. Sejauh aku membeli ramen, paling murah biaya yang kita habiskan sampai 40.000 termasuk minumnya. Kalau ada ramen yang harganya 20.000, biasanya itu rasanya biasa dan tidak ada yang spesial. Karena itulah makan ramen hanya sesekali waktu saja. TIdak cocok di kantongku kalau ingin dijadikan makanan sehari-hari.


Dari lantai dasar, kami harus menaiki beberapa lantai untuk sampai ke restoran yang menjadi tempat tujuan. Dalam perjalanan, aku juga melihat ada beberapa tempat makan lain yang tidak kalah enaknya. Namun karena kami sudah berniat untuk membeli ramen, tujuan kami tidak berubah semenjak awal masuk ke sini.


“Wow, jadi ini tempatnya. Bagus juga”


Setelah sampai di lokasi\, aku melihat ada tempat makan yang terdapat papan besar bertuliskan ramen ***. Dari namanya sih\, sepertinya maksudnya adalah ramenya enak seperti kita masuk ke surga. Paling tidak itu yang aku tangkap dari bahasa jepang ku yang masih beginner. Karena masih kurang latihan kosakatanya. Semoga saja suatu saat nanti aku bisa lebih mahir dalam berbahasa Jepang.


Tempatnya cukup ramai meskipun masih terdapat kursi kosong yang bisa kami tempati. Kami langsung menempati kursi yang tersedia kemudian meminta menu yang ada di restoran ini.


“Irasshaimase. Selamat datang ke ***. Silahkan\, ini menunya. Nanti tinggal panggil saja kalau ingin memesan makanan”


Aku dan Arip masing-masing mendapatkan menu kami sendiri. Dilihat dari buku yang aku pegang, sepertinya usia buku ini sudah cukup lama. Ada beberapa bagian yang sedikit robek. Namun secara keseluruhan, buku menu ini masih layak pakai dan menu-menunya masih bisa terbaca.


Seperti buku menu di restoran yang lain. Pastinya di dalamnya terdapat ilustrasi makanan yang mewah dan megah. Seringnya nanti saat makanan aslinya datang, tampilanya bisa jauh berbeda dari ilustrasi. Bisa saja sih kalau saya ngotot minta menunya diganti yang lebih mirip. Namun daripada repot-repot nunggu lagi. Lebih baik bersyukur dan menikmati saja makanan yang sudah hadir. Semoga saja makanan di tempat ini sebagus dan seenak yang kita bayangkan saat melihat ilustrasi yang ada.


“Sudah siap Arip untuk pesan makanan nya?”


“Sudah mas, panggilin dong mbaknya”


Setelah kami selesai memutuskan menu apa yang akan kami pesan. Aku mencari pelayan terdekat untuk mencatat pesanan kami. Melihat dirinya dipanggil, sang pegawai langsung pergi menuju meja tempat kami berada dan mengeluarkan alat tulis untuk mencatat pesanan.


“Mbak, aku pesan…”

__ADS_1


Aku dan Arip masing-masing memesan menu yang kurang lebih sama. 2 ramen serta 2 ocha. Biasanya kalau makan ditempat ala jepang ini, kami memesan teh ocha. Karena biar lebih dapat feel jejepangannya. Pesanan kami memiliki ukuran large, hal ini karena katanya kalau kita pesan yang large, bisa mendapatkan refill mie. Jarang sekali aku melihat ada tempat ramen yang membolehkan untuk menambahkan mienya.


Sambil menunggu pesanan, aku kembali ngobrol dengan Arip mengenai kehidupannya di sini serta mengenai hobi kami. Kami sama-sama gamers sehingga sering sekali untuk tek tokan mengenai masalah-masalah game.


Beberapa menit kemudian, akhirnya pesanan kami datang. Dua ramen dengan ukuran large serta dua teh ocha dingin. Berikut dengan mie refillnya.


“Itadakimasu” Ucapku dan Arip sambil menirukan ucapan yang orang jepang lakukan sebelum makan. Tentunya kami juga tidak lupa berdoa menurut kepercayaan kami.


*Slurp slurp slurp*


Saat masuk ke dalam mulut, rasa mienya ditambah dengan kuahnya menghasilkan rasa yang harmonis. Aku bisa-bisa nambah satu porsi lagi kalau rasanya seenak ini. Kalau aku tidak memiliki faktor penghambat seperti isi dompet. Kita harus bisa mengerem nafsu kita. Sesuaikan pengeluaran dengan pendapatan, jangan sebaliknya.


Aku dan Arip menikmati pesanan yang sudah ada di depan mata kami. Apalagi diriku yang sudah lelah jalan selama berjam-jam menuju Jakarta. Rasanya seperti mendapatkan energi baru setiap adonan mie masuk ke dalam mulutku satu per satu.


Setelah mie yang pertama habis, kami akhirnya menambahkan mie kedua yang sudah disiapkan. Namun saat aku mulai memakannya, aku merasa ada yang ganjil.


“?” Aku dan Arip saling menatap satu sama lain. Sepertinya kami memiliki pemikiran yang sama.


Mie yang pertama yang kami makan rasanya sangat enak. rasanya ingin mau nambah. Namun entah kenapa, mie refillnya rasanya sangat berbeda dengan yang pertama. Dilihat dari sikap Arip, sepertinya ia merasakan hal yang sama. Kalau cuma aku yang merasakannya kan, berarti bisa saja lidahku yang salah.


Kami menghabiskan kedua mie tersebut. Meskipun mie kedua tidak begitu enak, mubazir bagi kami untuk tidak menghabiskannya. Selesai makan, aku membayar biaya untuk kami berdua makan kemudian pergi kembali ke kontrakan Arip.


Dalam perjalanan pulang, kami membahas secara detail bagaimana rasa mie kedua sangat berbeda dengan mie yang pertama. Kami juga sempat mampir ke minimarket untuk belanja air serta membeli beberapa cemilan yang dijual pedagang kaki lima. Selesai belanja, baruah kami kembali ke kontrakan.


Sampai di kontrakan, kami melanjutkan obrolan sampai waktunya tidur. Aku agak tidak senang sih bermain di tempat Arip. Karena entah kenapa sinyalnya jelek sekali. Mungkinkah ini karena tembok kontrakan Arip terbuat dari beton? Entahlah. Namun yang pasti, lain kali kalau nginep di sini. Aku harus mempersiapkan beberapa hiburan offline yang bisa aku mainkan.


Senang sekali bisa jalan-jalan dengan Arip. Karena hal ini sudah jarang sekali kami lakukan semanjak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semoga saja di masa depan, kami masih bisa akrab dan pergi jalan-jalan seperti ini apapun yang terjadi. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga.


Hari ini aku sudah sampai di Jakarta. Kira-kira, akan seperti apa perjalanan menuju bogor esok hari?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2