Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 137 Vaksin 2


__ADS_3

Vaksin, apakah kalian semua sudah melakukan vaksin? Pada awalnya, vaksin ini hanya diberikan kepada lini-lini krusial terlebih dahulu. Mulai dari petugas kesehatan, pejabat pemerintahan, staf kependidikan, barulah vaksin diperuntukkan untuk khalayak umum. Pemerintah banyak sekali melakukan program vaksin serta menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mengambil vaksin.


Tentunya tidak semua orang bisa mendapatkan vaksin. Orang yang terlalu muda ataupun tua umurnya tidak boleh menerima vaksin. Apakah ada bayi yang sudah divaksin? Dari informasi yang saya tahu. Bayi masih belum boleh diberikan vaksin. Anak yang sudah SD barulah mungkin dipertimbangkan untuk mendapatkan vaksin.


Karena tidak bisa dipungkiri, perubahan kegiatan menjadi semuanya serba online secara masif ini berdampak banyak ke seluruh segi kehidupan. Tidak terkecuali dunia pendidikan. Bayangkan bagaimana anak yang terbiasa sekolah biasa berangkat ke sekolah setiap pagi. Tiba-tiba berubah menjadi semuanya online akibat pandemi yang terjadi.


Aku sendiri saja yang mengalami perubahan menjadi online saat bekerja terkena dampaknya. Apalagi anak-anak yang mungkin tidak semuanya bisa beradaptasi dengan cepat. Ada sih beberapa anak yang mungkin bisa mengikuti, namun saya rasa tidak banyak anak yang seperti itu dan dapat mendapatkan ilmu dengan optimal secara online. Lihat saja Lamda yang sering nya saat waktu meeting untuk sekolah, bukannya join malah enak-enakan saja bablas tidur. Kemudian tugas onlinenya juga sering bolong.


Kembali ke Vaksin, 3 bulan lamanya setelah keluarga sembuh dari covid. Kami langsung pergi mencari informasi dimana vaksin di kota C dilaksanakan. Karena dari informasi yang terdengar, stoknya sudah tersedia namun warganya sendirilah yang harus mengajukan mau divaksin. Sepertinya langkah kasar masih belum dilakukan untuk vaksin saat ini.


Kebetulan vaksin dosis satu ini stoknya sudah banyak. Setelah ibu mencari-cari, ternyata di daerah kami ada juga kegiatan vaksinasi ini.


“Ray, siap-siap ya besok. Nanti kita akan pergi.”


“Pergi kemana mah?”


“Vaksinasi”


Ibu menceritakan bahwa ia mendapatkan informasi dari bu RT bahwa ada vaksin yang diadakan dan RT kami juga kebagian jatah. Sebagai panitia, bu RT memberitahukan hal ini dan juga mengadakan agenda untuk pergi dan juga pulang bareng. Pastinya aku memiliki waktu untuk melakukan vaksin, toh untuk saat ini aku masih belum memiliki pekerjaan.


Keesokan harinya, aku sudah siap-siap dari pagi dan berangkat ke tempat ketemuan. Ibu, aku, dan Yana adalah orang yang berangkat untuk mendapatkan vaksin. Arip sudah vaksinasi di Jakarta karena ia ngantor di sana. Sedangkan Lamda masih belum divaksin karena ia harus menunggu aturan dari pemerintah keluar dulu untuk anak di bawah umur 17 tahun.

__ADS_1


Setelah beres bersiap-siap dan dengan dandanan yang sudah rapi. Kami berangkat menuju tempat ketemuan diadakan. Seperti biasa, Yana sempat terburu-buru karena ia biasanya yang paling susah untuk disuruh mandi. Dandannya juga yang paling lama. Bahkan ibuku saja dandan tidak selama dia. Kami pergi ke tempat ngumpul dengan berjalan kaki. Kurang dari lima menit, kami sudah sampai ke tempat pertemuan yang berada di kantor kelurahan.


“Baiklah ibu-ibu dan bapak-bpak, saya absen dulu ya” Ucap bu RT sambil membaca daftar absen yang sudah dipegang.


Satu per satu nama warga yang akan ikut vaksin disebut. Tentu saja, namaku, nama ibu, dan juga Yana disebut juga. Dari kegiatan ini, terlihat kalau masih ada yang belum datang tepat waktu. Bu RT langsung membuat koordinasi dan meminta orang yang telat untuk segera menyusul. Karena kami dikejar waktu agar tidak terlalu mepet saat waktu jumatan.


Hari ini adalah hari Jumat, karena itulah kalau kita terlalu lama. Bisa-bisa nanti kita telat shalat jumat. Meskipun memang aku minggu ini tidak pergi ke masjid karena masih takut akan covid. Pada masa ini, pemerintah masih menganjurkan untuk tidak terlalu banyak orang melakukan kegiatan beribadah di masjid untuk menghindari kerumunan.


Selesai mengabsen, bu RT mulai carter angkot yang akan mengantar kami semua. Sekilas kuhitung, kira-kira sekitar 10 orang yang ada di dalam angkot. Perjalanan menuju tempat vaksin sekitar 5-10 menit. Untungnya angkotnya tidak ngetem karena sudah kami carter. Entah berapa lama waktu yang terbuang kalau kami tidak melakukan hal itu.


“Baiklah ibu-ibu dan bapak-bapak. Ayo turun dulu dari angkot” Ucap bu RT sambil turun dari mobil kemudian membayarkan biaya angkot. Tentunya uang tersebut sudah dikumpulkan secara kumulatif sebelumnya. Kalau tidak dilakukan seperti itu, bisa ribut nanti tentang masalah duit.


Turun dari angkot, kami harus menjalani sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Untungnya dari tempat turun angkot, lokasi vaksinasi dilakukan tidak terlalu jauh. Hanya sekitar ratusan meter saja.


Pastinya untuk menghindari kerumunan, tempat yang dijadikan sebagai posko vaksinasi adalah tempat yang luas dan terdapat banyak tempat duduk. Karena kasihan jadinya kalau warga yang mengantri tidak bisa menunggu giliran sambil duduk.


Gedung yang dipakai kali ini adalah gedung Gor yang di dalamnya cukup luas. Ketika kami masuk, kami di data terlebih dahulu kemudian diarahkan ke tempat duduk yang sudah disediakan. Tempat duduk kami semuanya sudah diatur sedemikian rupa dan tidak boleh duduk sembarangan. Kareena urutan duduknya sudah sesuai dengan waktu kedatangan.


Sehingga nantinya kalau ada nama yang dipanggil, kami harus geser tempat duduk dan mendekati tempat menyuntik dilakukan. Semua anggota rombongan kami harus menunggu dengan sabar sebelum tiba waktu nya penyuntikan. Aku sendiri menghabiskan waktu dengan bermain media sosial dan juga membaca novel di hpku. Beruntung aku ada hiburan sehingga tidak terlalu bosan saat menunggu giliran vaksin.


Beberapa jam menunggu, akhirnya tiba giliranku untuk pindah antrian. Ibu dan Yana sudah pindah duluan karena mereka berada di depan. Sedangkan aku masih menunggu satu kloter lagi.

__ADS_1


Setelah pindah tempat duduk, kali ini formasi tempat duduk sudah dibuat berbaris sebanyak 5-10 kursi dan masih harus menunggu dipanggil untuk proses medical check up serta proses penyuntikan. Ada beberapa hal yang bisa saya perhatikan saat duduk di sana.


Kulihat ada berapa tempat duduk yang orangnya tidak ada, namun tas pemiliknya ada di sana. Sepertinya orang yang duduk di situ sedang ke kamar mandi. Hal ini wajar saja, karena sudah satu jam lebih aku menunggu antrian untuk suntik saja. Mungkin ada beberapa orang yang sudah tidak tahan dan perlu ke toilet.


Padahal dari yang aku lihat, proses menyuntiknya tidak sampai dua menit. Mungkin waktu suntik akan berjalan lama kalau ada drama seperti orang takut jarum suntik dan sejenisnya. Namun sejauh saya lihat, tempat melakukan vaksin ini aman-aman saja. Kemungkinan besar waktu menunggu suntik lama karena jumlah orangnya yang terlalu banyak.


Akhirnya giliranku tiba setelah menunggu selama beberapa menit. Perlahan aku mulai beranjak dari kursiku dan mulai pergi ke meja pendaftaran saat namaku dipanggil. Petugas mulai memberikan pertanyaan seputar kesehatan diriku secara umum serta menanyakan pernahkah terkena covid atau belum.


Pada momen ini, aku mengatakan semuanya dengan jujur dan mengatakan bahwa sudah 3 bulan lamanya kami sembuh dari covid. Karena aturan pemerintah seperti itu. Harus 3 bulan setelah sembuh dari covid baru boleh menerima vaksin Setelah selesai mengisi data, aku mulai di cek kondisi tensinya saat ini. Orang yang sedang tensi tidak boleh mendapatkan vaksin. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


Aku ingat sekali kalau saat proses tanya jawab, petugas masih ingat dengan ibu dan Yana. Karena mereka juga mengatakan hal yang sama denganku. Baru saja sembuh dari covid. Sehingga petugas yang ini juga mengenali diriku satu keluarga dengan mereka.


“Bagus tensinya. Silahkan tunggu untuk dipanggil lagi ya.”


Aku mulai menunggu lagi untuk kloter penyuntikan. Kulihat ada kloter tersendiri yang menampung warga yang ingin vaksin namun tensinya terlalu tinggi. Sepertinya mereka disuruh menunggu beberapa menit untuk menunggu tensinya turun atau naik menjadi normal.


“Pak Ray!”


Mendengar namaku dipanggil, aku mulai pergi ke sumber suara kemudian mulai duduk sambil mempersiapkan mental untuk dilakukan vaksinasi. Memang aku tidak takut jarum suntik. Namun seumur hidupku, terakhir aku mendapatkan suntikan adalah untuk imunisasi saat masih sekolah dasar dulu.


Kira-kira, apa yang akan terjadi setelah proses vaksinasi ini? Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2