
Saat aku sudah sampai di rumah, aku menyampaikan apa yang terjadi di rumah sakit. Bagaimana kondisi papah saat ini, serta siapa saja yang sedang menemaninya di rumah sakit.
Arip dan Yana cukup lega saat mendengar kalau bapak masih dalam keadaan cukup normal. Namun mereka tetap saja khawatir, apalagi dengan riwayat bapak yang dulu pernah kena struk ringan dulu saat aku mulai bekerja di Tangerang.
"Papah akan sembuh kan mas?" Tanya Yana kepada diriku.
"Tentu saja, papa cuma lelah saja karena acara yasinan dan kebanyakan merokok." Jawabku sambil memberikan fakta dari apa yang diberitahukan Bule Yeni.
Memang sudah dari dulu kami sering mengingatkan untuk paling tidak mengurangi merokok kalau tidak bisa berhenti. Namun memang karena mungkin sudah kecanduan, sehingga ia sulit untuk melakukanya.
Terjadilah hal seperti ini kalau tidak menjaga kondisi badan. Namun kalau yang kudengar juga dari ibu, bapak memang sarafnya sepertinya terganggu karena penyakit yang ia derita. Sehingga saat kakinya berdarah pun, ia tidak merasakan apapun.
Entah ada syarafnya yang rusak atau karena alasan lainnya. Bapak memang harus selalu dipantau oleh yang lain agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan. Contohnya saja yang terjadi tadi pagi.
Tiba-tiba tiada angin tiada hujan, ia sesak nafas sehingga dilarikan ke rumah sakit. Padahal saat malam hari aku lihat dia biasa saja. Dia masih tidur dengan nyaman di atas kursi seperti yang biasa ia lakukan. Memang sepertinya kejadian yang menimpa Mbah Kakung cukup berdampak terhadap kesehatan papah.
Selesai mejelaskan mengenai keqdaan papah, aku istirahat di kamar sambil stand by apakah akan ada kabar baru dari ibu. Benar saja, beberapa jam kemudian, aku mendapatkan kabar tersebut.
"Mas, tolong kirimkan beberapa barang ke rumah sakit. Nanti perawat papah akan ikut mengantar. Dicatat ya apa saja yang harus di bawa"
Ibu mulai menyatakan beberapa barang yang harus dibawa seperti kebutuhan sehari-hari dan obat yang harus dibawa. Beberapa benda yang harus dibeli juga aku tulis. Selesai membuat daftar tersebut, ibu mengucapkan terima kasih kemudian menutup telepon.
"Arip, Yana. Ini daftar barang barang yang nanti harus dibawa saat ke rumah sakit. Bagaimana kalau kalian yang siapkan?"
"Siap mas!"
__ADS_1
Arip dan Yana mengambil daftar itu dariku dan membacanya dengan seksama. Beberapa barang seperti baju dan sejenisnya mereka cari dari rak. Kemudian mereka masukkan ke dalam tas yang besar untuk menampung semuanya.
Kemudian mereka juga pergi ke Indomaret untuk mencari barang yang harus dibeli. Sebelum ke sana, Arip menyodorkan tangannya kepadaku "Minta ongkos mas, takut nggak cukup."
Aku mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa uang sebagai ongkos Arip. Setelah memberikan uang, aku kembali untuk istirahat.
"Mas, bangun mas ada yang mengetok pintu." Adikku Lamda berkata sambil berteriak ke arahku. Saat ini aku sedang tidur sehingga ia membangunkanku.
"Mm? Tamu? Makasih ya udah bangunin mas"
"Sama-sama" ucap Lamda kemudian ia pergi kembali ke kamarnya.
Memang kamar Lamda sangat dekat dengan pintu depan. Sehingga kalau ada yang mengetuk pintu, ialah yang paling dekat dari sumber suara. Namun karena dia masih kecil, biasanya ia tidak diperbolehkan untuk membuka pintu.
Karena kita tidak tahu apakah orang yang mampir ke rumah itu jahat atau tidak. Kenalan orangtua atau bukan. Alasan inilah yang mendasari orang tuaku untuk melarang Lamda untuk saat ini membuka pintu. Takutnya orang yang dibukakan pintu adalah penjahat.
"Eh sudah datang ya, silahkan duduk dulu. Nanti sebentar lagi Arip ke sini."
"Nggeh mas"
Orang yang datang itu adalah perawat yang nantinya akan merawat papah. Arip akan mengantarkannya ke rumah sakit tempat bapak berada. Karena ibu tidak bisa menemani bapak untuk malam ini, ia masih harus melakukan pekerjaan yang lain.
Beberapa menit setelahnya, Arip akhirnya datang dan langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tentunya dengan sang perawat di belakangnya. Aku liat sekilas perawat ini masih cukup muda. Tenaganya seharusnya cujup kuat untuk menjaga bapak.
Melihat Arip sudah berangkat, aku kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Tidak lupa aku juga istirahat yang cukup karena yasinan Mbah Kakung masih akan diadakan nanti malam.
__ADS_1
*Setelah Yasin selesai*
Beberapa hari setelahnya aku melakukan Yasin seperti biasa. Namun berbeda dengan hari pertama, hari Yasin berikutnya aku dan Arip saja yang berangkat pengajian. Papah tidak ikut bersama kami karena masih harus rawat inap di rumah sakit.
Tentunya ibu juga ikut namun aku tidak melihatnya karena ia ikut jamaah ibu ibu. Lamda dan Yana memilih untuk tidak ikut Yasin karena alasan tertentu. Memang di keluarga kami kalau masih kecil tidak dipaksa untuk ikut Yasin. Lagipula belum paham kalau bocil masalah hidup dan mati.
Setelah yasinan selama 7 hari, akhinrya aku terbebas dari acara tiap malam yang cukup membuat badanku lelah. Aku akhirnya bisa tidur secara normal untuk hari hari berikutnya.
Tidak masalah kalau yasinan saat akhir pekan. Yasinan saat hari kerja yang cukup membuat badanku lelah, karena aku harus wfh esok harinya. Arip juga masih melakukan pelatihan online seperti biasa.
Sehingga kegiatan kami di rumah semuanya ngumpul bersama namun sibuk pada Masing-masing acaranya. Ibu menjaga bapak, Lamda dan Yana sekolah, serta aku dan Arip yang bekerja.
Walaupun serumah, kami hanya bisa bersama setelah jam kerja selesai. Inilah waktu yang sangat berharga untuk kami saling berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Selain selesai Yasin, ada juga kabar terbaru dari bapak saat berada di rumah sakit. Ibu menelponku saat masih berada di rumah sakit. Pada saat ini acara Yasinan sudah selesai dan kami semua berada di satu ruangan untuk mendengarkan berita dari ibu.
Tentunya hanya Lamda yang tidak ikut bersama kami. Karena ia masih terlalu kecil untuk paham hal ini. Ibu mulai dengan bertanya kabar dari kami kemudian ia masuk ke inti pembicaraan.
"Begini ya anak-anak. Menurut vonis dokter, sekarang papah sudah harus cuci darah rutin karena ginjalnya bermasalah. Kalau nanti sudah selesai diatur, nantinya bapak boleh kegiatan di rumah seperti biasa."
Cuci darah, ini sering sekali kudengar dilakukan oleh orang orang yang berumur lanjut. Namun sekali kita perlu cuci darah, biasanya seumur hidup orang tersebut akan terus melakukannya.
Entah apa dampaknya terhadap bapak nantinya. Namun semoga langkah ini akan membuat bapak mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik. Tidak sering sakit sakitan dan sesak nafas seperti sekarang.
Mendengar kabar ini tentunya kami semua sepat shock, apalagi diriku yang mulai memikirkan bagaimana nanti biaya untuk setiap sesi cuci darah. Namun ibu tetap bisa menenangkan kami dan tidak perlu khawatir. Karena Alhamdulillah biayanya dicover oleh asuransi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
__ADS_1
Mendengar hal itu aku tetap lega namun tetap saja masih sedih melihat bapak. Harus rutin setiap berapa kali seminggu pergi ke rumah sakit untuk cek cuci darah rutin. Semoga saja keluarga diberikan kekuatan untuk mendukung bapak dalam menjalani kehidupan yang lebih sehat lagi seterusnya.
*bersambung*