
Berhasil menahan emosi akibat tidak bisa login email utama. Aku melanjutkan proses registrasi dengan email kedua. Untungnya email kedua ini aku tidak menggunakan verifikasi nomor sehingga bisa masuk dengan sempurna. Kemudian aku ingin setup aplikasi yang di dalamnya memiliki uang seperti e-wallet. Sayangnya hal itu tidak bisa dilakukan.
Sama seperti email tadi, semuanya harus verifikasi dengan nomor hp yang hilang. Kepala ini pusing memikirkan bagaimana cara mengatasi hal ini. Setelah selesai setting dengan bantuan staff counter. Aku berniat untuk menghubungi ibu dengan nomor baru, namun kasus baru terjadi. Ternyata sekarang, kalau nomor belum registrasi dengan KTP dan KK, nomor tidak akan aktif.
Mendengar syarat yang aneh itu, muncul kembali amarah aku ingin membanting barang. Aku tidak masalah kalau harus pakai KTP, karena tahu fungsinya agar setiap nomor yang digunakan untuk kejahatan, bisa tracing ke yang punya dengan kartu identitas. Namun fungsinya pakai KK Apa? lagipula kalau dengan nomor KTP, bisa juga akan kalian hubungkan dengan KK yang ada karena di dalam KK pasti ada nomor KTP kita di dalam keluarga. Kecuali kalau kita dikeluarkan dari KK.
Di counter aku ngomel-ngomel dan petugas di sana berusaha untuk menenangkan diriku. Sudah kemalingan, ribet kali ngurus begitan. Mendengar saran dari mbak counter, aku coba duduk dan menarik nafas panjang berkali-kali. Setelah agak tenang, aku berterima kasih kepada petugas counter kemudian aku pamit untuk menemui RT tempat kontrakanku berada.
Perjalanan dari Mall aku lakukan dengan berjalan kaki. Lumayan untuk olahraga dikit-dikit. Sampai ke kontrakan, aku ke ibu pemilik kontrakan dahulu untuk menanyakan lokasi rumah RT di sini.
“Eh nak Ray, gak kerja hari ini?”
“Gak bu, saya mau nanya. Ketua RT di sini rumahnya di mana?”
“Tumben nyari RT, ada masalah apa?”
Aku menceritakan hal yang terjadi tadi pagi. Sontak ibu kontrakan langsung kaget dan menanyakan detail apa saja yang terjadi. Berusaha dengan tegar, aku reka ulang lagi apa saja yang setelah aku selesai sahuri. Mendengar ceritaku, ibu kontrakan langsung memberikan arah untuk ke rumah ibu RT (kebetulan ketuanya wanita). Kemudian aku langsung menuju ke sana setelah mengucapkan terima kasih kepada ibu kontrakan atas arahannya.
Perlahan-lahan aku berjalan menuju arah yang tadi diberikan. Sampai ke rumahnya, aku tanya ke orang sekitar.
“Ibu, permisi mau nanya. ini rumah ibu RT bukan?”
“Iya benar, tapi bu RTnya lagi pergi. Ada urusan apa?”
__ADS_1
Aku memberikan kembali sekilas cerita apa yang menimpaku tadi pagi. Kemudian aku bertanya mengenai kapan bu RT akan pulang. Para tetangga menjawab bahwa ia akan pulang setelah dzuhur. Karena itulah aku pulang kembali ke kontrakan setelah pamit dengan mereka. Sambil menunggu waktu dzuhur, aku hanya bermain hp di kos, meskipun tidak banyak yang bisa aku mainkan, karena aku tidak membeli hp gaming.
Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya waktu dzuhur telah tiba. Aku segera mengambil wudhu kemudian menjalankan ibadah shalat seperti biasa. Selesai shalat, aku langsung bersiap-siap kemudian kembali pergi ke rumah ibu RT yang tadi aku datangi. Saat aku sampai di lokasi, kebetulan ibu RTnya juga baru saja sampai ke rumah.
“Assalamualaikum bu.”
“Waalaikumsalam. Ada keperluan apa mas? datang ke sini.”
Bu RT mempersilahkan diriku duduk. Kemudian aku mulai menceritakan kejadian yang terjadi tadi pagi. Mendengar ceritaku, bu RT langsung berkata bahwa memang di sekitar sini sudah sering terjadi kemalingan. Karena itulah, terkadang kalau ada waktu, ia sering mengingatkan orang-orang yang tidak mengunci pintunya untuk segera mengunci pintu.
Mendengar kabar ini, aku hanya bisa menghela nafas saja karena ceroboh dan tidak berhati-hati. Namun aku tidak boleh terlalu bersedih, bisa saja memang ini takdirnya dan tidak bisa terelakkan untuk terjadi. Setelah bu RT selesai memberikan ceritanya, ia memberitahukan kepadaku lokasi kantor polisi tempatku bisa memberikan laporan.
Arahan yang ia berikan aku cocokkan dengan google map di dalam hp, agar tidak nyasar. Memastikan bahwa lokasi sudah benar, aku pamitan dengan bu RT dan segera langsung menuju lokasi. Ada kalimat bu RT yang teringat di kepalaku. ia berkata :kalau memang rezekinya mah, insyaAllah bisa kembali barangnya. Tapi kalau tidak ya, allahu a'lam”
‘Counter kartu XS? kebetulan ini, aku sekalian mengurus nomorku yang hilang.’ melihat ada kantor kartu perdana yang aku gunakan, aku menuju tempat itu terlebih dahulu karena kantor polisi lebih jauh posisinya daripada kantor ini. Mumpung sekalian lewat.
“Bang kiri bang”
Memastikan bahwa aku sudah dekat dengan kantor XS, aku meminta mamang angkot untuk berhenti di sini. Ongkos aku bayar kemudian sisa perjalanan aku lalui dengan berjalan kaki. Saat sampai di lokasi, aku lihat tempatnya cukup terpencil. Di dalamnya juga kulihat belum banyak orang. Entah karena ini masih jam kerja atau karena memang tempatnya yang sepi.
“Selamat datang di counter XS. Ada yang bisa dibantu?”
Baru saja aku masuk, para staf sudah siap siaga untuk membantu diriku. Langsung tanpa basa basi aku melaporkan apa yang aku butuhkan dari tempat ini. Mendengar kalau aku kehilangan kartu perdana, petugas memberikan syarat-syarat yang harus aku serahkan untuk mengurusnya.
__ADS_1
Aku mencatat syarat tersebut kemudian aku bertanya-bertanya “Harus bawa surat hilang dari kepolisian ya mbak?”
“Iya pak, itu syaratnya untuk mengurus kehilangan” jawab sang petugas.
Setelah melihat kembali syarat yang aku terima, aku mengucapkan terimakasih kepada petugas. Kemudian aku kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi. Dalam perjalan, aku ingat katanya sih ada angkutan umum menuju ke sana. Namun selama aku jalan kaki, tidak kulihat ada tanda-tanda angkot klakson ke arahku untuk naik menuju ke lokasi yang aku tuju.
Saat kaki sudah mulai lelah, dari belakang tiba-tiba muncul motor dan memberikan klakson kepadaku.
*tiin tiin*
“Ojek mas? mau pergi ke mana?”
Kulihat disampingku sudah ada bapak-bapak dengan motor butut dan membawa beberapa barang. Aku memberitahukan tempat tujuanku kemudian kami nego harga ongkos ke sana. Setelah sepakat, aku menaiki ojek tersebut dan akhirnya mendapatkan kendaraan untuk pergi ke sana. Meskipun hidungnya agak mahal, lumayan untuk menghemat tenaga.
Karena aku takut nantinya dari kantor polisi untuk ke kontrakan aku harus berjalan kaki. Takutnya selesai mengurus surat kehilangan, hari sudah sore hari dan aku masih harus menghemat energi untuk melakukan hal yang lain.
“Sudah sampai mas, ke kantor polisi”
“Makasih ya pak” ucapku sambil memberikan ongkos transport
“Sama-sama”
Setelah selesai membayar, tukang ojek tersebut langsung melanjutkan perjalan. Aku menghela nafas sebentar kemudian pergi masuk ke dalam kantor polisi. Dari depan saja, aku sudah melihat ada polisi yang berjaga di pintu masuk. Otomatis aku jadi agak semakin tegang kemudian berusaha untuk masuk dengan senormal mungkin. Kira-kira, akan seperti apa ya proses mengurus suratnya nanti?
__ADS_1
*bersambung*