Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 159 Mutiara


__ADS_3

Beberapa bulan setelah selesai urusan dengan Dewi. Dalam artian kami sudah tidak ada kontak satu sama lain. Terakhir aku DM akun Lamagram miliknya dan balasnya lama sekali. Kejadian ini mengingatkanku kepada salah satu cewek yang pure aku mulai dekati sebelum bertemu dengan Dewi dan Seli. Cewek itu bernama Mutiara.


Sama seperti Dewi, Mutiara juga berasal dari sekolah yang sama denganku. Namun kami beda jurusan, sehingga saat SMA dulu, Kami jarang melakukan komunikasi. Kalau kuingat lagi, aku sudah mengenal Mutiara mulai dari saat SMP dahulu. Karena kami pernah berada  di satu kelas yang sama.


Hal yang sangat mencolok dari wanita ini adalah rambutnya yang hitam dan panjang. Kemudian kulitnya yang putih, lebih putih daripada wanita kebanyakan. Hal lain yang kuingat adalah kemampuannya di bidang akademis tidak terlalu unggul dibandingkan rata-rata murid. Ia juga memiliki teman yang unik, karena memiliki badan yang besar. Entah apa kabar terbarunya saat ini.


Setelah lulus sekolah, kami tidak pernah melakukan kontak. Hingga pada suatu hari, saat aku sedang fokus membangun brand di akun Lamagram milikku. Ada like dari nama yang rasanya tidak asing.


“Mutiara? Kayaknya pernah dengar deh namanya. Siapa dia?” Aku mengecek profil dari aku yang memberikan like. Ternyata Itu adalah Mutiara. Kami berhubungan kembali setelah kejadian ini.


Mulai dari sana, kami mulai saling bertukar DM. Kemudian saling bertukar kabar, bahkan sampai sempat ketemuan langsung. Namun sepertinya, pada saat itu levelku masih belum cukup mahir untuk bisa melakukan date yang memukau lawan jenis.


[Mutiara, aku dengar kamu lagi di kota C ya?]


[Iya betul, memangnya kenapa? nanya seperti itu?]

__ADS_1


Aku menjelaskan kepadanya kalau aku memiliki niat untuk melakukan jalan-jalan bareng. Tentu saja, aku tidak menggunakan kata kencan untuk mengajaknya pergi. Bisa-bisa, ia langsung menolak kalau mengajaknya secara langsung seperti itu. Setelah saling balas-balasan chat, akhirnya kami berhasil menentukan waktu dan tanggal kami akan melakukan ketemuan.


Berbeda dengan saat aku bertemu Dewi dan Seli, kami hanya melakukan pertemuan empat mata saja. Tidak ada pihak lain yang mengganggu kami. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya aku melakukan taaruf going solo. Karena tidak ada pihak ketiga yang menemani. Selain Mutiara dan Uswa, sepertinya tidak ada cewek lain yang aku jalan-jalan bareng hanya berdua saja.


Dengan perasaan yang berdebar-debar, aku menunggu kabar berikutnya dari Mutiara. Tentunya setelah kami menentukan tanggal pasti kami akan bertemu, hanya menunggu yang bisa aku lakukan. Hari demi hari berlalu, hingga pada akhirnya. Waktu ku janjian dengan Mutiara telah tiba.


Sebelum berangkat dengan motorku, aku telah berdandan semaksimal mungkin. Kemudian aku menggunakan motor menuju tempat kami ngumpul. Kalau biasanya aku ketemuan dengan cewek langsung ke restoran. Kali ini kami ketemuan dulu di sebuah minimarket. Tempat yang agak unik sebagai tempat ketemuan, bukan?


Tentu saja sebagai pria gentleman, aku sudah tiba sebelum waktu ketemuan. Namun sesuai dugaan, Mutiara tidak datang on time. Aku sempat khawatir kalau ia tiba-tiba membatalkan ketemuan ini. Karena sayang saja, aku sudah berdandan ganteng begini tapi kencannya tidak jadi.


Untungnya beberapa menit kemudian, aku melihat Mutiara turun dari mobil orang tuanya. Sepertinya ia diantar sampai ke tempat ini.


“Gapapa, santai saja” ucapku sambil tersenyum


Aku sempat terkejut melihat penampilan Mutiara saat ini. Memang ia tidak memakai hijab, sama seperti fotonya di media sosial. Namun aku tidak menyangka kalau dandan wanita yang satu ini cukup berani. Menggunakan baju lengan pendek serta pakaian jeans yang telah robek-robek. Aku tidak tahu memang ia senang dandan begini atau karena ia pergi denganku saja dandannya seperti ini. Dari kostumnya, aku mulai mempertimbangkan untuk menurunkan ekspektasi untuk melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih jauh.

__ADS_1


Setelah basa-basi, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat makan. Paling tidak tempat dimana kami bisa duduk dan ngobrol mengenai beberapa hal sambil nyantai. Namun sayangnya, sepertinya dewi fortuna tidak mendukung acaraku kali ini. Karena saat ini sedang pandemi, semua tempat makan tidak memperbolehkan dine in. Mau tidak mau, kami hanya bisa bicara sambil jalan-jalan.


Sudah dua sampai 3 tempat kami datangi untuk menari tempat duduk. Untungnya, kami berhasil menemukan tempat duduk setelah lebih dari setengah jam lamanya kami mulai jalan-jalan. Akhirnya kami bisa memulai inti dari pertemuan kami kali ini.


Pertanyaan demi pertanyaan aku keluarkan untuk mengenal Mutiara lebih jauh. Tentunya aku berusaha untuk tidak menggunakan pertanyaan yang bisa menyinggung lawan bicaraku. Namun sepertinya memang kami tidak jodoh, terlihat kalau Mutiara tidak terlalu nyaman ngobrol lama-lama denganku. Apalagi ia mengakhiri pembicaraan dengan ucapan kalau dia masih ada kegiatan lain dan terlihat buru-buru banget ingin pulang.


Tentu saja aku menerima hal tersebut dan akhirnya mengantarnya kembali ke tempat pertemuan sebelumnya. Setelah melihatnya dijemput oleh orang tuanya (yang bisa saja orang lain yang jemput karena dari mobil tidak kelihatan siapa di dalamnya). Aku baru kembali ke rumah setelah hanya 2 atau 3 jam saja jalan-jalan bersama dengan Mutiara.


Namun kencan ini bagaikan ultimatum. Hubunganku dengan Mutiara langsung terjun bebas setelah kencan ini. DMku sama sekali tidak dihiraukan olehnya, entah dari WA ataupun dari Lamagram. Kita tiba-tiba sudah seperti orang asing saja. Melihat hal ini, aku mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan temanku, Rendra.


[Bagaimana menurut kami ini bro?] Tanyaku padanya melalui chat


[Kayaknya emang gak jodoh bro. Dia gak tertarik dengan lo. Cari yang lain aja deh mendingan. Daripada buang-buang waktu PDKT sama dia]


“...”

__ADS_1


Mendengar pendapat dari temanku serta mempertimangkan berbagai macam hal. Aku memutuskan untuk tidak terlalu mengejar kembali Mutiara. Masih ada banyak cewek diluar sana, dengan penuh keyakinan, pasti ada dong jodoh yang memang untuk diriku. Kira-kira, harus berapa perjuangan lagi yang harus aku lalui sebelum bertemu denganya?


*bersambung*


__ADS_2