
“Perhatian-perhatian, bapak ibu guru bisa kumpul sebentar” Pada suatu ketika salah seorang guru, pak Nanas. Memanggil semua guru dan staff yang ada untuk berkumpul. Entah apa yang direncanakan. Kemungkinan besar karena ada hal penting yang ingin dibahas. Apakah ia akan menikah lagi? setahu saya Pak Nanas ini adalah Duda dan memiliki anak.
Pak Nanas merupakan salah satu guru yang cukup lama sudah mengajar di sini. Sama sepertiku dan Pak Dani. Dia juga mengajar mata pelajaran (mapel) TKJ. Pak Nanas memiliki badan yang cukup tegap dan tinggi. Badannya juga kurus namun tidak terlalu kurus. Perawakannya tegas dan kudengar dia sering menghukum siswa yang bandel.
Melihat semua orang sudah hadir, pak Nanas memulai pembicaraan “Sebentar lagi akan kembali diadakan lomba upacara seperti tahun lalu. Selain murid, dewan guru dan staff TU juga diminta untuk partisipasinya dalam lomba ini. Apakah ada yang bersedia?” Kata pak Nanas sambil memperhatikan semua orang yang ada dalam ruangan.
Aku hanya bisa bermuka heran saja karena aku sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Secara tahun lalu aku belum mengajar di tempat ini. Beberapa menit setelahnya, pak Nanas akhirnya menunjuk diriku.
“Bagaimana pak Ray, bersedia untuk ikut? tenang kok pak, nanti ada komisinya”
“Eh…”
Mendengar adanya komisi pastinya membuatku langsung tertarik untuk mengikuti acara ini. Siapa sih yang mau menolak uang, betul tidak?
“Baiklah, aku mau ikut. Siapa saja dari pihak guru yang ikut?”
Pak Nanas menyebutkan siapa saja yang mengikuti acara ini. Dilihat dari namanya, semua staf yang ikut rata-rata masih berumur muda. Hal ini karena tahun kemarin ada staf yang tidak sikap sempurna karena kakinya goyang-goyang akibat kaki yang kelelahan. Karena itulah kali ini petugas upacara yang dipilih adalah yang masih muda dan bertenaga.
Meskipun aku tidak yakin dapat menjadi petugas upacara yang baik. Kalau hanya berdiri seharusnya tidak sulit. Hal itulah yang aku pikirkan sebelum menyadari kenyataan yang pahit. Ternyata sikap sempurna tidak semudah yang aku bayangkan.
Setelah memberitahukan tata cara lomba dan yang lainnya. Pak Nanas nanti akan mempersiapkan tempat latihan. Kami berlatih pada saat sore hari saat jam belajar berlangsung. Karena itulah kalau aku memiliki jam mengajar, aku tidak perlu ikut latihan. Murid lah yang wajib latihan terus setiap hari karena merekalah bintangnya dalam lomba ini. Aku tidak harus selalu ikut namun kalau bisa ikut lebih bagus lagi untuk menyemangati anak-anak.
“Pak Ray, lagi sibuk ngak? bisa menemani para murid latihan hari ini?” ucap pak Nanas saat melihatku sedang mengoreksi tugas siswa di ruang guru.
“Bisa pak, di lapangan yang mana latihannya?”
:Lapangan SMP pak”
“Ok. saya akan kesana” Jawabku sambil membereskan barang di mejaku dan bergegas untuk ke lapangan.
Sekolah kami berdekatan dengan sekolah lain. Tempat kami mengajar anak SMK dan kami berhubungan dengan anak SMP dari yayasan yang sama. Oleh karena itu, terkadang kami menggunakan lapangan dari SMP. Karena lapangan yang kami miliki terlalu kecil sehingga tidak bisa maksimal dipakai untuk latihan. Terlebih lapangan kami juga selalu digunakan sebagai parkir mobil.
__ADS_1
Perjalanan menuju lapangan SMP tidak jauh. Paling hanya sekitar 3 menitan saja. Tidak lelah berjalan dari ruang guru menuju lapangan tersebut.
"Eh ada pak Ray, ikut upacara juga? " Tanya salah satu petugas upacara yang ada di sana.
"Iya betul, saya ikut menjadi perwakilan guru. Gimana? Semuanya lancar? "
Lapangan SMP cukup luas. Kira-kira ratusan siswa bisa berdiri bersamaan di sini. Apalagi dengan jumlah petugas upacara kami, membutuhkan lapangan yang luas. Tiang yang ada juga sudah sesuai standar menurut pak Nanas. Karena akan bahaya kalau tinggi tiang biasa kami latihan dan yang digunakan saat lomba berbeda.
Sama seperti upacara biasa. Terdapat petugas upacara, pembacaan pancasila, dll. Juga terdapat peserta upacara dengan beberapa baris. Latihan kami mulai setelah semua peserta siap.
Beberapa petugas aku kenali karena mereka adalah murid dari kelas yang aku ajar. Karena itulah aku menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan mereka.
"Upacara dimulai" MC upacara telah memulai upacara.
Berbeda dengan upacara biasanya, kali ini semua peserta harus menjalankan tugasnya dengan sempurna. Bahkan sikap sempurna ku sebagai guru juga harus sama.
Untungnya aku menggunakan sepatu pantofel. Sehingga kaki tidak terlalu sakit. Namun seiring upacara berlangsung, terasa sekali kaki semakin pegal. Apalagi menjelang akhir dari upacara.
"Upacara selesai, pemimpin pasukan membubarkan pasukannya. "
Setelah aba-aba itu, semua peserta istirahat sejenak. Beberapa ada yang langsung mencari tempat duduk, ada juga yang ngobrol dulu dengan temannya.
Pak Nanas langsung turun ke lapangan untuk memberikan penilaian upacara kali ini.
"Petugas sudah cukup baik, yang bagian pancasila dipermantap lagi langkah nya. Pemimpin upacara juga sudah bagus. Terus tingkatkan kemampuan kalian semua. "
Tidak hanya petugas, pak Nanas juga memberikan arahan kepada peserta upacara. Dewan guru juga tidak luput dari hal ini. Aku hanya bisa tersenyum saja sambil menerima koreksi darinya.
Biasanya kami melakukan latihan sebanyak 2 atau 3 kali. Lebih dari ini khawatir murid akan terlalu lelah karena besok mereka masih harus sekolah seperti biasa. Mereka juga harus berlatih lagi besok agar semakin baik kemampuan mereka.
Aku juga pamitan dengan mereka setelah ngobrol sebentar dengan murid dan dewan guru.
__ADS_1
Sama seperti para murid, aku juga besok mengajar seperti biasa. Namun beberapa hari ke depan mungkin aku juga akan rajin mengikuti latihan upacara ini. Semoga saja badanku tidak tumbang karena kelelahan.
Pada suatu sore, pak Nanas memberi tahu kan kepadaku untuk mengatur latihan upacara sore ini. Meskipun ia sudah memberitahukan untuk semua peserta lomba hadir, masih harus ada guru yang datang untuk mengontrol mereka.
Pak Nanas bilangnya sudah mengatur lapangan untuk latihan. Betapa terkejutnya diriku, ternyata lapangan SMP sudah dipakai oleh murid SMP.
Kepala sekolahnya juga dengan muka kesal bilang "katanya hari ini gak latihan, gimana sih? Gak jelas" Dengan nada sinis dia berkata kepada ku. Bilangnya sudah koordinasi, kenapa jadi seperti ini?
Aku cukup kesal dengan muka dan nada bicaranya. Namun karena dia orang tua dan memiliki posisi tinggi. Diriku ini hanya bisa tersenyum pahit dan kembali ke ruang guru.
Daripada ribet, aku memilih untuk latihan di lapangan yang ada saja. Untungnya meskipun ada insiden tadi. Para siswa masih tetap semangat untuk latihan.
Beserta dengan guru yang lain, aku mengawasi mereka latihan. Sama seperti sebelumnya, aku juga mengikuti mereka dalam berlatih.
Namun kali ini tidak ada orang yang memberikan koreksi karena pak Nanas tidak hadir. Pak Nanas dulunya merupakan petugas paskibra, karena itulah ia mendapatkan tugas untuk melatih murid-murid sekolah ini.
"Jangan lupa pak Ray, besok mulai lomba di kota. Persiapkan tugas untuk para murid. "
"Oke, pak. Siap laksanakan"
Waktu lomba sudah di ujung mata. Karena lomba ini berlangsung seharian. Aku harus mempersiapkan tugas untuk semua kelasku esok hari.
Sudah banyak sekali kita berlatih hingga saat ini. Semoga saja kami berhasil mendapatkan yang terbaik.
Banyak sekali yang harus kami persiapkan untuk acara besok. Mulai dari memastikan atribut yang akan dikenakan oleh murid dan guru, hingga transportasi yang akan murid gunakan.
Beberapa dari mereka ada yang menggunakan motor pribadi. Ada juga yang nebeng pakai mobil para guru dan mobil sekolah. Kebanyakan murid cewek yang minta nebeng mobil.
__ADS_1
Murid cowok kebanyakan menggunakan motor mereka sendiri. Semoga saja mereka berhati-hati di jalan saat berkendara. Karena jiwa muda seperti mereka biasa kurang waspada dalam berkendara. Lebih mementingkan emosi daripada logika ketika menyetir.