Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 141 Mencari Kontrakan Arip 2


__ADS_3

Kami menunggu pesanan kami datang dengan kegiatan masing masing. Kadang aku ikut nimbrung dengan obrolan ibu bersama dengan bapak. Di momen lain aku bermain dengan handphone milikku. Pokoknya jangan sampai waktu yang kita gunakan untuk menunggu pesanan datang menjadi sia sia.


Beberapa menit kami menunggu, akhirnya datang salah satu petugas membawakan pesanan kami.


"Terima kasih sudah menunggu. Ini pesanan steak…"


Petugas itu dengan lihainya menaruh semua menu satu per satu di atas meja kami. Ia juga memastikan bahwa pesanan yang ia bawa tidak salah antar. Setelah semuanya beres, dengan penuh senyuman petugas itu kembali ke kasir untuk melanjutkan pekerjaannya.


Kami semua yang ada di atas meja berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Barulah setelah doa selesai, kami menyantap masing masing makanan yang ada.


Steak yang ada di depanku terlihat sangat lezat sekali dengan aroma yang menggoda. Pisau dan garpu yang ada di tanganku dengan mudahnya memotong daging tersebut. Kemudian aku perlahan menikmati daging tersebut dan mengunyahnya secara perlahan di dalam mulutku.


'hmm..enak sekali. Memang pantas lah harganya cukup mahal' gumamku dalam hati.


Setelah gigitan pertama, aku mulai memakan steak tersebut dengan variasi bumbu dan juga mencicipi Mash potato yang disediakan. Rasa kentang sebagai pendamping steak itu cukup nikmat. Bahkan aku bisa makan kentangnya saja meskipun tanpa lauk. Kentang ini salah satu kentang terenak yang pernah aku makan. 


Meskipun makannya enak, sayangnya minumannya biasa saja. Tidak terlalu wah atau gimana. Namun secara keseluruhan, aku sangat menikmati makan siang di tempat ini.


Kami menghabiskan waktu dengan suasana yang gembira karena kami bisa makan enak. Sayangnya aku sempat terkejut saat melihat berapa biaya yang harus kita bayar untuk mendapatkan makanan seenak ini. Tidak bisa kita jadikan makan di tempat ini sebagai kegiatan rutin. Namun memang benar apa kata orang, ada harga ada kualitas. 


"Gimana mas makananya?" Tanya bapak kepadaku. 


"Enak pak  pilihan bapak memang bagus. "


Terlihat wajah bapak dengan senyuman dan kami pergi kembali ke mobil dalam suasana gembira. Bahkan ibu juga sempat sempatnya untuk swafoto di tempat ini. Karena memang dekorasi tempat ini cukup oke untuk tempat foto-foto. 

__ADS_1


Setelah puas menikmati tempat ini. Kami pergi kembali ke mobil untuk lanjut mencari kontrakan Arip. 


Kali ini kami kembali mencari sampai ke pelosok. Mobil kami parkir di tempat yang agak luas, lalu Arip bersama dengan om Maman mencari ke pelosok sampai menemukan kontrakan yang pas. 


Untungnya sebelum ke tempat ini, ia sudah melakukan kontak dengan pemilik kontrakan melalui telepon. Sehingga kami tidak mencari secara membabi buta. Waktu pencarian kontrakan menjadi lebih cepat berkat langkah Arip ini. 


Saat ini aku bersama dengan anggota yang lain menunggu Arip yang sudah masuk ke dalam gang. Karena untuk masuk ke dalam tidak bisa menggunakan mobil. Bahkan motor aja susah masuknya, apalagi mobil. 


Beberapa menit menanti, akhirnya Arip keluar bersama dengan om Maman. Ia memberitahukan kalau kontrakan yang dipilih sudah ada. Kami senang sekali mendengar hal itu, kecuali bapak. Dia memberikan pendapat yang skeptis tentang kontrakan ini. Karena masuk ke dalamnya harus melewati gang. 


Seperti biasa, bapak harus mengecek bibit bebet dan bobotnya. Apalagi akibat kejadian kemalingan yang pernah aku alami. Hal ini membuat bapak menjadi semakin ketat untuk memilih kontrakan yang akan dipakai oleh anak-anaknya. 


Niatnya baik sih, untuk keamanan. Namun aku gak suka setiap ia ungkit ungkit kejadian itu. Memang sih aku juga yang salah lupa untuk mengunci pintu. Tapi jangan terus dibahas dong, udah aku sakit secara material, masa aku kembali sakit lagi secara mental. Padahal aku bisa merelakan kejadian yang menyedihkan itu. 


Beruntung aku bisa menahan emosi dan tidak memarahi bapak. Karena menurut ku pengendalian emosi ini cukup penting. Apalagi saat menghadapi orang tua. Harus banyak belajar tentang pengendalian emosi. 


Karena bagaimanapun. Mereka adalah orangtua kita. Banyak pahala yang bisa kita dapatkan dari mereka. Menjaga tali silaturahmi itu penting, apalagi dengan orangtua kandung kita sendiri. Kalau silaturahmi dengan teman yang toxic ya barulah kita menjauh dari pertemanan seperti itu. 


Kembali ke kontrakan, kami semua sekarang pergi menuju kontrakan yang akan ditempati oleh Arip. Aku juga penasaran, seperti apa kontrakan dengan harga sewa satu jutaan ini perbulannya. Dari harganya saja, sudah lebih mahal dari kontrakanku di Tangerang dulu. 


Jalan menuju kesana harus melalui gang kecil. Di gang tersebut juga ada masjid yang masih aktif. Arip nantinya bisa melaksanakan ibadah di tempat ini. 


Setelah melewati gang, kami sampai di gang kecil yang memiliki bau sampah yang cukup pekat. Sepertinya karena selokan di wilayah ini cukup kecil sehingga kalau ada sampah yang nyangkut, bau yang tidak sedap mulai menyebar kemana-mana. 


Kami melewati pagar rumah, di dalamnya terdapat parkiran motor dan banyak pintu kontrakan di dalamnya. Namun kami tidak menuju salah satu pintu tersebut. Tujuan kami adalah gedung baru yang berisi kontrakan yang lebih bagus dari yang lama. 

__ADS_1


Sepertinya kontrakan yang Arip pilih merupakan yang baru sehingga harganya lebih mahal. Namun sisi baiknya, fasilitas yang ada di dalamnya lebih baik dari gedung yang lama. 


"Silahkan bu, kalau mau lihat-lihat. " Ucap Ibu kos sambil membukakan pintu.


Dari cerita Arip, ia bilang waktu ia mengecek kontrakan. Menghabiskan waktu agak lama karena menunggu ibu kos datang ke kontrakan untuk membawa kunci. Karena itulah kami baru bisa masuk ke dalam setelah kuncinya ada. Tidak mungkin pintu kontrakan kami dobrak. 


Saat pintu dibuka, aku melihat ruangan yang cukup kecil kemudian ada kamar mandi dalam. Ruangan ini juga memiliki AC yang dipakai secara bersama-sama dengan tetangga sebelah. 


Tidak banyak barang yang ada di sini. Hanya ada kasur dan juga lemari baju. Ibu kontrakan bilang nantinya akan ada beberapa barang yang akan dipinjamkan secara cuma-cuma selama Arip ngontrak di sini. 


Selesai melihat-lihat, Arip cocok untuk tinggal disini selama ia kerja di Jakarta. Bapak juga sudah cocok dengan kontrakan ini. Karena terdapat dua gerbang sehingga keamananya dua kali lipat. 


Setelah itu, kami mulai membicarakan mengenai biaya sewa dan juga pembayaran kontrakanya kemana. Setelah semuanya beres, kami meminjam kamar yang kosong di kontrakan untuk menjalankan ibadah kami.


Karena pencarian kontrakan ini, kami masih belum sempat menjalankan shalat. Beruntung saat ini kami statusnya musafir sehingga kami boleh melakukan shalat secara jamak. 


Selesai sholat, kami kembali ke mobil kami setelah pamitan dengan pemilik kontrakan. Sang pemilik kontrakan kebetulan juga sedang mau keluar dan sedang menunggu driver online saat kami berangkat pulang. Kami pulang bersamaan dengan ibu kontrakan menaiki mobil yang ia pesan melalui aplikasi. 


Awalnya aku mengira kegiatan ini berjalan lancar-lancar aja. Kami berhasil mendapatkan kontrakan yang Arip mau. Bahkan kami sempat makan di tempat makan yang enak. Sayangnya, kejadian baru muncul saat keluarga sampai di rumah. 


"Haah.. Haaha. " Nafas bapak mulai sesak akibat kecapean. Wajar saja, karena kami baru saja melakukan perjalanan jauh. 


Dengan cepat kami langsung membantu bapak agar bisa istirahat dengan tenang dan nyaman. Setelah hal itu selesai, barulah kami bisa lega dan sudah tidak ada masalah lagi. 


Kontrakan sudah ketemu, sekarang tinggal bagaimana Arip akan bertahan hidup dengan gaji yang nanti ia terima. Karena biaya hidup di Jakarta cukup mahal. Ia harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Kalau boros, bisa-bisa duit yang ia miliki keburu habis sebelum tanggal gajian datang. 

__ADS_1


Semoga Arip bisa menjalankan pekerjaan dengan lancar dan tanpa hambatan. 


*Bersambung*


__ADS_2