
Lomba tingkat kota telah sekolah kami menangkan. Kali ini lomba berlanjut ke tingkat provinsi. Berbeda dengan lomba sebelumnya yang diadakan di lapangan kota, upacara kali ini akan dilakukan di halaman sekolah milik kami.
Namun karena lapangan milik kami terlalu kecil, kami menggunakan lapangan milik sekolah sebelah. Kami masih satu yayasan dengan sekolah tersebut. Karena itulah mereka mengizinkan penggunaan fasilitas milik mereka.
Tentunya kami tetap berlatih seperti biasa. Namun intensitas latihan yang lebih berat dari sebelumnya. Karena saingan kami di provinsi lebih berat dari tingkat sebelumnya. Kalau latihannya kendor, hasilnya tidak akan maksimal. Pastinya latihan bertambah dengan intensitas yang masih masuk akal. Tidak mungkin kami berlatih upacara selama 24 jam.
Para siswa dan dewan guru peserta lomba semuanya berlatih dengan keras. Badanku tidak lepas dari rasa lelah setiap menjalani sesi latihan. Namun demi sebuah kemenangan, ada hal yang harus dikorbankan. Untungnya tidur semalaman sudah cukup untuk membuat badanku segar kembali.
Waktu berlalu dengan aku mengajar dan latihan seperti biasa. hari lomba dilakukan telah muncul di depan mata. Sama seperti saat akreditasi, hari ini semua sekolah diliburkan karena harus steril. Tidak boleh ada murid yang muncul dan mengganggu jalannya upacara. Kami menyambut tim penilaian dengan sambutan terbaik. Kepala sekolah dan dewan guru yang tidak mengikuti upacara menyambut mereka semua.
Tanpa basa basi, kami langsung memulai upacara. Berbeda dengan sebelum nya, kali ini kami tidak perlu menunggu giliran. Kami sudah bersiap sebelum tim penilaian datang.
MC memulai upacara beberapa saat setelah melihat tim penilai datang. Memang prosedurnya seperti ini atas arahan pak Anas. Tanpa adanya pembukaan dan basa-basi, tim langsung melakukan penilaian saat tiba di lokasi.
Para tim penilaian bolak balik melihat peserta upacara dan petugas yang mungkin kurang sempurna. Untungnya bagian dewan guru tidak terlalu mereka perhatikan. Aku takut akan gugup kalau mereka melihat sikap sempurnaku dengan tatapan mereka.
Senang sekali aku melihat ternyata tim penilaian ada cewek cantik. Terasa ada energi besar yang muncul karena bisa melihat pemandangan yang indah ketika sedang menjalankan upacara.
"Pemimpin upacara membubarkan pasukannya"
Bagian terakhir dari upacara telah berjalan. Aku hampir saja merubah sikap sempurna ku. Namun karena ada pengumuman tambahan, sikap santai yang hendak aku lakukan tidak jadi aku jalankan.
‘Wah, bakal ada apa lagi ini’ Tanyaku dalam hati. Aku sudah merasakan kakiku teriak kesakitan.
Ternyata tim penilaian hanya menyampaikan pesan dan kesan saja. setelah ini mereka akan memilih yang terbaik untuk maju ke tingkat nasional. Kami perlu menunggu pengumuman datang dalam beberapa minggu ke depan.
Beberapa minggu setelah lomba, pak Nanas mendapatkan hasil dari kontes yang kami lakukan.
"Bapak ibu guru, sayang sekali kita tidak bisa mewakili provinsi untuk ke tingkat nasional. Namun bapak ibu tidak perlu khawatir. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tepuk tangan untuk kita semua"
*clap clap clap*
Meskipun kami kalah, tapi pengalaman ini cukup berharga untuk diriku. Dengan lomba ini, aku menyadari betapa kurangnya sikapku saat melakukan upacara. Nasionalisme ku mungkin saja meningkat setelah mengikuti lomba Ini. Entah apakah peserta yang lain juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Sayangnya kegiatan bendera ini setahu diriku tidak akan bisa menghasilkan uang yang banyak. Pastinya orang akan pindah ke jalur yang lebih menguntungkan secara material daripada hanya puas secara jiwa saja. Entah kerja sebagai karyawan kantoran atau membangun usaha sendiri.
Karena lomba telah selesai, Sekarang aku kembali fokus untuk melakukan pekerjaan utamaku sebagai guru. Sebentar lagi ujian akhir semester akan dilakukan. Ada beberapa hal yang harus aku persiapkan.
Sama seperti saat UTS, sebagai guru aku harus membuatkan soal. Namun jumlah soal kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Hampir dua kali lipat dari saat membuat soal UTS tempo hari.
Aku juga telah menduplikasi file UAS milik guru yang lain. Sehingga aku hanya perlu mengedit soalnya saja. Meskipun begitu, tetap saja akan lelah membuat soal pilihan ganda yang banyak.
Solusi cepatnya aku hanya salin dan tempel soal dari buku paket saja. Dengan melakukan perubahan di urutan soal serta jawaban pilihan gandanya. Lucunya, beberapa siswa sudah kebingungan menjawab hanya dengan memutar letak soal dan jawaban.
Dengan metode ini, waktu pembuatan soal menjadi lebih singkat. Tentunya aku tetap membuat sendiri soal essay nya. Aku harus memilih soal yang tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah. Membuat soal memang gampang-gampang susah.
Kurang lebih aku membutuhkan waktu beberapa minggu untuk membuat soal ini. Karena aku juga masih mengajar seperti biasa meskipun harus membuat soal. Apalagi mata pelajaran yang aku buatkan soalnya tidak hanya satu. Ada beberapa mata pelajaran.
Berbeda dengan saat UTS, kali ini aku juga harus membuat kisi kisi soal. Hal ini membuatku cukup kebingungan karena aku belum pernah membuatnya. Untungnya ada staf guru lain yang sabar membantu diriku.
"Haah" Aku menghela nafas sambil meregangkan badanku. Akhirnya semua masalah UAS telah selesai. Tanganku terasa pegal mengetik soal yang banyak. Untung semua kerjaan sudah beres dan aku bisa mengistirahatkan tanganku yang lemah lembut ini.
Dengan ini aku hanya perlu menunggu hari H datang. Karena kali ini aku tidak menjadi panitia, ini pertama kalinya aku menjadi pengawas ujian. Kira-kira akan seperti apa nantinya?
Aku berjalan menuju ruangan yang menjadi tempatku mengawas ujian.
Ternyata kali ini aku mengawasi jurusan TKJ. Kelas ini aku sudah kenal semua muridnya. Karena guru mereka adalah diriku sendiri.
"Yes, pak Ray yang ngawas, asik. "
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Entah kenapa mereka ada yang senang saat aku mengawas. Apakah karena pengawasan yang aku lakukan tidak ketat atau diriku memang disenangi oleh para murid?
Tugas pengawasan berusaha aku lakukan dengan baik. Karena aku bosan duduk terus dan tidak enak kalau mengawas sambil main hp. Mau tidak mau aku berkeliling ruangan untuk mengawasi para murid. Juga untuk mengurangi rasa ngantuk yang muncul ketika duduk terlalu lama.
Beberapa murid yang santai dan sudah mengerjakan banyak soal, malah mengajak diriku mengobrol. Ada murid yang kulayani dan ada beberapa murid yang tidak. Pastinya murid cewek selalu aku balas obrolan mereka, hehehe.
Lebih nikmat ngobrol dengan murid cewek daripada cowok. Meskipun kalau ngobrol dengan mereka harus hati-hati. Kadang kelakuan mereka galak kalau lagi "waktunya". Perlu teknik khusus untuk berbicara dengan lawan jenis. Apalagi kalau ingin mencari pasangan, banyak yang harus kita persiapkan. Entah dari segi materi atau dari segi persiapan mental.
__ADS_1
“Pak Ray, ini jawabannya apa?” Celetuk salah satu murid ketiak ujian.
“Ada deh, mana saya tahu. Emang saya yang buat soal.” Candaku kepada mereka.
Ada kalanya murid bertanya kepada diriku mengenai jawaban dari soal ujian mereka. Aku hanya bisa tertawa dan menolak untuk memberikan petunjuk apapun.
Ketika waktu sudah menjelang akhir ujian. Aku mengingat kan mereka agar segera menyelesaikan ujian.
"Waktu ujian sebentar lagi selesai. Segera selesaikan soal dan jangan lupa untuk mengecek kembali jawaban kalian. "
"Siap pak "
*teeng teeng*
Bel berbunyi menandakan waktu ujian telah selesai. Aku meminta semuanya untuk mengumpulkan lembar jawaban mereka. Kebanyakan dari mereka telah keluar dari ruangan setelah selesai mengerjakan soal.
Tetapi tidak sedikit dari mereka yang mengerjakan soal hingga mepet waktu ujian berakhir. Kadang kasihan melihat mereka yang panik belum selesai mengerjakan soal namun waktunya keburu habis. Namun ini semua adalah konsekuensi karena kurangnya persiapan mereka dalam menghadapi ulangan.
Setelah selesai mengumpulkan lembar jawaban, aku menyortir lembaran tersebut agar sesuai dengan nomor absen mereka. Biasanya nomor ujian murid yang aku gunakan sebagai patokan. Karena akan lama kalau disusun berdasarkan urutan nama murid.
Lembar tersebut aku masukkan ke dalam amplop kemudian aku tutup. Kemudian aku menyerahkannya ke panitia untuk diproses lebih lanjut.
“Pak ray, sudah beres. Langsung dibawa saja pak soalnya. Nanti saya ceklis.” Salah satu panitia memberikan kembali berkas map yang hendak aku serahkan.
“Ok” Map tidak jadi aku serahkan dan aku bawa kembali.
Biasanya setelah ini mereka akan memberikannya kepada guru yang bersangkutan. Lucunya kalau pas mengawas ternyata soalnya adalah buatanku. Otomatis lembaran tersebut langsung dibawa olehku sendiri.
Kurang lebih satu minggu lamanya proses yang sama terjadi. Sambil mengawas, aku juga nyicil mengoreksi lembar soal UAS. Karena jumlah soal yang lebih banyak membuat waktu koreksi semakin lama juga.
Untungnya saat ada ujian aku tidak perlu mengajar kelas. Karena itulah aku bisa fokus untuk membereskan jawaban dari siswa. Menggunakan waktu secara efisien adalah kunci dari segalanya.
Setelah selesai koreksi soal, masih ada waktu untuk menyampaikan nilainya kepada murid. Namun tidak hanya nilai UAS saja. Ada nilai lain yang harus aku urus karena sebentar lagi untuk akhir semester ganjil ini.
Semoga saja aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Karena ini pertama kalinya aku akan membuat nilai untuk dimasukkan ke dalam raport siswa. Nilai yang akan sangat menentukan masa depan mereka di dunia pendidikan.
__ADS_1