Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 153 Tur ke Jogja 2


__ADS_3

“Waduh sudah jam 06 pagi!” Ucapan saat melihat layar HP ku.


Buru-buru aku langsung melaksanakan shalat kemudian berusaha membangunakan Lamda untuk ikut ibadah juga. Seperti biasanya, dia memang agak susah kalau untuk bangun pagi. Saat ini aku sedang berada dikamar bersama dengan Lamda. Kami berdua menempati satu kamar. Sedangkan ibu dan Yana berada di kamar yang lain.


kasurnya lumayan empuk, fasilitasnya cukup lengkap dan juga nyaman. Saya sih, betah-betah saja kalau harus lama menginap di sini. Namun sayangnya, hanya nanti malam momen terakhir aku bisa menikmati tempat ini. Karena esok harinya, rombongan kami sudah akan check up.


Selesai mandi dan bersiap-siap, aku pergi ke dining hall untuk mencari sarapan. Tentunya aku dan Lamda sudah sangat lapar sekali. Sehingga kami berdua bersemangat untuk mengambil makanan.


Makan pagi kami kali ini cukup enak dan komplit. Ada nasi dan lauk pauknya, serta ada hidangan penutup seperti buah dan juga agar-agar. Aku puas sekali untuk makan pagi kali ini. Lamda juga terlihat sangat menikmati makanan yang pihak hotel sajikan.


Puas menikmati hidangan, kami melanjutkan kegiatan dengan mulai naik ke dalam bus. Jalan masuk ke dalam hotel cukup sempit. Aku salut sekali sopir bus berani masuk ke jalan ini. Bahkan kalau pakai mobil roda empat biasa saja, rasanya sudah terasa sempit ini jalan.


Berhasil keluar dengan selamat, kami mulai menuju tempat tujuan kami hari ini.


“Baiklah bapak-ibu, saat ini kita akan berangkat menuju Ocean view. Di sana, kita bisa melihat pemandangan laut yang indah dari pinggir bukit”


Pemandu kegiatan mulai menceritakan mengenai tempat tujuan kami kali ini. Saat sudah mendengar namanya, sontak aku sudah paham kalau aku sama sekali tidak tertarik untuk pergi ke tempat ini. Karena memang aku jarang bermain dengan Lamagram (aplikasi untuk upload foto). Namun karena nanggung udah di jalan, aku hanya bisa menikmatinya saja.


Dalam perjalanan seperti biasa aku kebanyakan isi dengan tidur. Meskipun ada suara penumpang lain yang nyanyi karaoke, hal itu tidak menggangguku diriku saat ingin tertidur lelap. Sebisa mungkin aku ingin memiliki energi penuh saat sampai ke tempat wisata nanti.

__ADS_1


“Bapak ibu silahkan melanjutkan perjalanan dengan bus kecil. Karena bus ini tidak bisa masuk ke dalam”


Saat ini kami sudah sampai di sebuah tempat parkir. Disini nantinya kami juga akan melakukan makan siang. Kami harus turun dari bus kami untuk melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang disediakan.


Sebelum naik ke sana, banyak penumpang yang ingin pergi ke toilet terlebih dahulu. Tadinya aku juga ingin kesana, namun melihat antrian yang cukup panjang, membuatku mengurungkan niat untuk melanjutkannya.


“Lamda gak ke toilet?”


“Nanti aja mas”


“Kalau gitu, kita tunggu Yana dan ibu di sini saja.”


Aku dan Lamda tidak ke toilet sehingga kami menunggu kedua keluarga kami yang lain menyelesaikan kegiatannya. Beberapa menit menunggu, akhirnya mereka telah keluar dan kami melanjutkan kegiatan dengan menaiki angkutan yang ada.


Setelah merasa sesak selama beberapa menit, melewati jalan yang naik turun layaknya sedang naik gunung. Akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami, Ocean view.


“Jadi ini toh, tempatnya” Ujarku saat melihat kondisi tempat ini.


Hal pertama yang aku rasakan adalah…Panas sekali di sini!!! Matahari serasa berada telak di atas kepala kita. Padahal ini masih jam 11 san kurang. Masih belum masuk waktu dzuhur. Namun tempat yang dekat pantai ini sudah terasa sekali hawanya cukup panas. Beruntung ada beberapa angin sepoi-sepoi yang lewat sehingga ada aura penyejuk yang mengurangi panasnya terik matahari.

__ADS_1


Merasakan hal ini, aku memutuskan untuk membeli dua buah topi. Satu untukku dan satu untuk Lamda. Aku rasa ibu dan Yana tidak terlalu perlu karena mereka sudah ada jilbab. Selesai membeli topi, aku kembali melanjutkan perjalan menuju puncak. Karena pintu masuk dari wahana ini berada di atas.


Beberapa orang ada yang pergi kesana dengan ojek. Namun karena aku rasa sayang duitnya dan kelihatannya aku masih kuat badannya, kuputuskan untuk naik dengan kedua kakiku sendiri. Lamda juga setuju untuk jalan saja menuju ke sana. Kami berpisah dengan Yana dan ibu sehingga tidak tahu mereka ada di mana.


Sampai ke pintu wahana, kami mulai baris sesuai dengan rombongan. Sepertinya tidak hanya dari tempat kami orang-orang pergi ke tempat ini. Ternyata Masih banyak juga rombongan lainnya yang mengunjungi tempat ini. Terlihat dari ada banyak sekumpulan orang yang mengenakan seragam yang berbeda-beda.


Melewati pintu masuk, kami tidak ada pemandu dan diperbolehkan untuk mengunjungi semua wahana yang ada. Kecuali wahana yang harus berbayar untuk menikmati fasilitasnya. Sayangnya tempat ini hanya cocok untuk orang yang suka foto-foto, tidak cocok untuk orang sepertiku,


Karena itulah ditempat ini aku hanya foto pemandangan sesekali kemudian menunggu sampai waktunya kami keluar dari wahana. Sayang juga kalau membeli barang di sini, karena harganya lebih mahal dari harga snack yang normal. Ibaratnya kalau beli makan di sini itu kayak bakar duit.


Puas muterin wahana, kami akhirnya pergi keluar dari sini dan berniat untuk kembali naik bus kecil menuju tempat bus besar kami parkir. Namun ternyata, terjadi musibah yang tidak diduga-duga. Angkot yang tadi naikin ternyata menghilang! Padahal katanya nanti akan pulang dengan menggunakan bus yang sama.


Tetapi setelah kami berkeliling mencari, tidak ketemu juga batang hidupnya. Pada akhirnya kami hanya bisa kebingungan sendiri dan bertanya kepada panitia bagaimana cara kami pulang ke bus. Keliatan juga kalau ternyata hal ini diluar dugaan mereka. Mau tidak mau, kami hanya bisa menunggu saja sampai ada kepastian.


Beberapa menit menunggu, akhirnya diputuskan kalau kami akan menaiki bus yang berbeda. Nantinya akan dibayar kembali oleh panitia. Setelah mendengar kabar tersebut, kami sekeluarga segera masuk agar pergi kembali ke bus dengan angkutan yang sama. Pada akhirnya, kami berhasil sampai ke bus dengan selamat.


Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah dulu di rumah makan yang dekat tempat parkiran. Disana juga orang-orang melakukan ibadah di mushola yang terdekat. Namun aku sendiri memilih untuk shalat saat tempatnya sudah agak sepi saja. Untuk menghindari kerumunan.


Beres makan siang dan istirahat sebentar, rombongan kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tempat berikutnya. Saat makan tadi ada banyak juga drama yang terjadi, contohnya kayak rebutan kursi dan juga drama-drama lainnya. Memang kalau jalan bareng-bareng seperti ini, ada aja kisah-kisah aneh yang terjadi.

__ADS_1


Kira-kira, tempat seperti apalagi yang akan kami datangi? aku tidak membaca pamflet acara sehingga sama sekali zonk tidak tahu akan pergi ke tempat mana berikutnya. Informasi yang aku dapatkan hanya dari mulut ibu saja. Semoga tempat berikutnya bisa lebih seru daripada tempat ini.


*Bersambung*


__ADS_2