
Selesai memberikan salam, aku duduk sebentar setelah menaruh barang di lantai. Kulihat selain adik-adik, ibu tidak ada di rumah. Apakah dia sedang merawat bapak?
“Dek, mamah kemana?” Tanyaku kepada Yana.
“Mamah di rumah sakit mas, jagain papah” Jawabnya dengan muka agak sedih.
Kami mengobrol dan aku berbicara mengenai beberapa hal dengan Yana. Terutama mengenai kejadian papah mulai jatuh sakit tempo hari. Cukup sedih juga karena ia langsung jatuh sakit padahal aku baru saja mulai bekerja di Tangerang.
“Iya mas, pas hari Senin papah sudah mulai kelihatan gejala sakit. Tapi baru pas hari Selasa di bawa ke rumah sakit. Karena bibirnya sudah terlalu monyong dan gemetaran saat memegang benda seperti pulpen dan sendok”
Saat Yana berbicara, ia mulai meneteskan air mata. Aku hanya bisa memberikan pelukan untuk mengurangi kesedihan yang dirasakan. Memang bapak itu unik, meskipun sikapnya galak dan kadang-kadang tidak jelas. Namun semua anaknya sayang kepada bapak. Semoga kami semua bisa berbakti kepada bapak dan ibu.
Mungkin itu semua karena didikan ibu yang sangat baik. Ia selalu mengingatkan kalau sama bapak harus berbakti dan jangan sampai membenci bapak. Karena itulah aku saat bertemu dengan teman-teman aku selalu bilang “Kalau bukan karena ibu, aku dan bapak sudah pukul-pukulan dari dulu”
Aku sendiri tidak ada masalah dengan bapak, selain ketika ia mulai ngomong suatu hal yang membuatku kesal. Entah ini bakat atau apa, setiap bapak mulai membuka mulutnya. Pasti ada saja hal yang membuatku kesal. Terkadang aku tidak bisa menahanya dan memukul pintu atau tembok terdekat. Apalagi saat aku bekerja sebagai guru dulu. Seringkali aku kesal karena kelakuan bapak.
Alhasil sering sekali tanganku terasa sakit akibat amarah sesaat itu. Melihat hal itu, aku langsung tertarik dengan squishy dan mencoba untuk membelinya. Karena katanya benda itu dapat mengurangi emosi. Tidak diduga, ternyata benda itu cukup berhasil. Paling tidak aku sudah tidak suka memukul tembok atau pintu lagi. Semua amarah disalurkan kepada squishy yang lucu.
Menurut teman kerja juga, kalau emosi terus sering menghancurkan barang-barang itu tidak baik. Apalagi kalau menghancurkan barang mahal, kan sayang. Karena itulah, lebih baik lampiaskan kemarahan dengan squisy saja. Beruntung itu berhasil untuk diriku, apakah hal yang sama juga berlaku untuk orang lain? mungkin saja iya, mungkin saja tidak.
Puas ngobrol dengan Yana, aku menelepon ibu yang sedang berada di rumah sakit.
*tuut...tuuut...Klek*
“Halo, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, mamah masih di rumah sakit ya?”
“iya nak, Mamah masih di sini mengurus papah”
__ADS_1
“Papah gimana? sudah baikan?”
Aku mulai membicarakan banyak hal dengan Ibu. Awalnya aku ingin menceritakan mengenai perjalananku. Namun hal itu tidak aku lakukan karena aku ingin mendengar kabar dari bapak terlebih dahulu. Apalagi ibu juga harus istirahat karena menjaga orang sakit dan membutuhkan banyak tenaga. Mungkin aku bisa gantian jagain bapak kalau ada kesempatan, agar ibu bisa istirahat.
Tidak terpikir olehku kenapa harus ditemani terus oleh istri saat di rumah sakit. Bukannya ada suster yang akan menjaga mereka? atau bapak tidak percaya suster dan lebih memilih dirawat oleh ibu? Sayangnya aku belum memiliki pengalaman berumah tangga sehingga belum bisa relate dengan sikap bapak. Memang kata ibu sih bapak memang kalau saat seperti ini pengenya dimanja.
Namun kalau cerita yang kudengar dari teman kantor. Memang seringnya suami mereka aleman dan mintanya ditemenin terus. Ada sih yang menganggap itu romantis dan so sweet. Tapi kalau harus ditemenin terus 24 jam dalam sehari, bukannya malah jadi gedek nantinya? Pastinya setiap rumah tangga memilih aturan dan kebahagiaan mereka masing-masing.
Mungkin saja pertanyaan ini akan terjawab nanti kalau aku sudah menempuh hidup yang baru. Semoga saja jika saatnya itu telah tiba, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. karena orang yang paling baik adalah yang lebih baik dari kemarin. Kalau kita masih belum menemukan jodoh kita, hal yang harus dilakukan adalah melakukan upgrade diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
“Begitu ya bu, semoga cepat sembuh ya, nanti Ray jenguk besok. Ini sudah malam, ibu juga harus istirahat ya. Salam juga buat bapak” Ucapku sambil berniat untuk mengakhiri telepon kali ini.
“Iya Nak, terima kasih ya. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Setelah menutup telepon dari ibu, aku mengganti baju kemudian merapikan tempat tidur sebelum pergi ke alam mimpi. Karena sudah seminggu lamanya tidak ada yang menggunakan kasur, kelihatan sekali harus sedikit diurus. Kamarku saat ini kosong karena penggunanya, aku dan Arip sedang tidak ada di rumah. Untungnya debunya tidak terlalu banyak, sepertinya kamar ini dibersihkan secara berkala.
“Mmmm.. Semoga besok bisa tahan emosi dan tidak akan marah kepada bapak karena tidak menjaga kesehatan nya” Aku berdoa sebelum tidur agar nyenyak dan besok menjenguk bapak berjalan lancar.
*Keesokan Harinya*
Aku bangun pagi seperti biasa. Namun hal yang berbeda terjadi terhadap tubuhku… Badanku pegal semua.
“Walah, efek dari tangerang kah ini?”
Memang setelah melakukan perjalanan selama 2 jam dengan angkutan umum. Badan sudah berteriak kesakitan. Menurut saya cukup mengherankan kenapa bisa capek padahal cuma duduk di bus doang. Mau tidak mau, aku harus memijat bagian yang saking dan melakukan stretching ringan untuk mengurangi rasa pegal. Setelah selesai meregangkan tubuh, badanku merasa enakan dan aku kembali beraktifitas.
Hari ini hari Sabtu, dimana banyak orang libur. Seharusnya jalanan juga menjadi semakin ramai karena orang berlibur. Entah apakah akan terjadi situasi di mana orang menjadi takut keluar rumah karena insiden luar biasa. Karena aku lebih senang kalau jalanan sepi daripada macet.
__ADS_1
Tadi malam ibu sudah nitip untuk membelikan uduk sambil mengunjungi bapak saat pagi hari. Karena kalau berangkat terlalu siang, khawatirnya akan kehabisan nasi uduk. Setelah pamit dengan adik-adiku, aku langsung meluncur ke tempat tujuan.
“Bu, beli nasi uduknya 5 ya”
“Siap pak, mau pakai apa saja?”
Kali ini aku pesan untuk semua anggota keluarga. Ibu, bapak, aku, Yana, dan Lamda. Semuanya berjumlah 5 orang dan aku membelikan nasi uduk untuk mereka semua. Nanti setelah mengantar nasi uduk ke rumah sakit, aku akan membawakan makanan ini ke rumah untuk adik-adik santap.
Sama seperti penjual nasi uduk lainnya, tempat ini juga jualan di pinggir jalan. Karena itulah banyak orang lewat yang membeli ke tempat ini. Orang yang menjaga adalah ibu-ibu dan kelihatan sekali dari caranya membungkus nasi uduk, ia sudah lihai dalam pekerjaannya. Dengan cepat ibu-ibu uduk itu mengambil nasi, lauk, kerupuk, dan yang lain. Sehingga ia bisa melayani banyak orang dalam waktu yang singkat.
Setelah menunggu beberapa menit, aku langsung pergi ke rumah sakit setelah membayar makanan yang aku beli. Sebentar lagi aku akan bertemu bapak, kira-kira seperti apa kondisinya saat ini? Semoga saja bapak cepat kembali sehat dan akan memperbaiki gaya hidupnya menjadi lebih baik lagi. Karena penting sekali bagi manusia untuk menjaga kesehatan.
*Sampai di rumah sakit*
Sudah lama sekali aku tidak pergi ke rumah sakit. Untungnya aku dan adik-adik jarang sekali mengunjungi rumah sakit. Ibu selalu mengedepankan istirahat di rumah secara mandiri. Karena kasihan kalau cuma sakit ringan ke rumah sakit, nanti orang yang kondisinya lebih parah akan kehabisan tempat.
Sejauh yang aku tahu, anggota keluarga yang sering sakit adalah bapak. Semoga saja kali ini, ia akan menjadi pribadi yang lebih peduli akan kesehatan. Karena kami masih ingin banyak berbakti kepada bapak.
Aku mencari tempat parkir dan menaruh helmku sebelum berjalan ke dalam area rumah sakit. Sampai di depan gerbang, aku menghubungi ibuku.
“Halo, assalamualaikum. Mamah, papah dirawat di ruangan mana?”
“papa dirawat di ruangan xxx, nanti langsung ke sini saja untuk mengantar uduk dan menjenguk bapak ya”
Setelah memastikan lokasi ruangan melalui peta rumah sakit. Aku menutup telepon dan berjalan menuju ruang bapak dirawat.
‘Bismilah ray. Sabar, bapak lagi sakit. Jangan marahin bapak karena gak mengurangi rokok dan menjaga kesehatan, istighfar’ Doa ini aku ucapkan berkali-kali sebelum bertemu dengan bapak.
Karena ku paling tahu kalau mengenai masalah bapak, aku lebih mudah emosian. Padahal biasanya kalau untuk urusan lain, aku jarang berlaku seperti ini. Entah apa penyebabnya hal ini hanya terjadi kepada bapak saja. istighfar Ray, istighfar.
__ADS_1