Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 78 Bandung


__ADS_3

Pada suatu hari, aku sedang mencuci baju di kontrakan. Dengan menggunakan kedua tanganku sendiri, aku membersihkan baju yang baru saja terkena banjir, menjadi bersih kembali. Ini pertama kalinya aku membersihkan baju yang terkena lumpur seperti ini. Namun untungnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara mencuci baju yang terkena banjir dengan yang selesai dipakai sehari-hari.


Selesai mencuci baju, aku mengeringkan tanganku kemudian mulai membuka handphone. Aku tidak bisa membuka laptop karena rusak terkena banjir. Hiburanku saat ini hanya dengan menggunakan handphone yang aku miliki. Kulihat ada notifikasi baru berisi pesan dari temanku.


[Bro, teman kita Hasan mau nikahan. Pada mau datang gak bro? Di Bandung ]


[Boleh, kapan? ]


Temanku langsung memberikan tanggal dan di mana kita akan ketemuan saya pergi ke Bandung. Anggota yang akan berangkat adalah aku, Zul, dan Rendra. Rencananya, aku akan pergi ke tempat Rendra terlebih dahulu.


Acara nikahan berlangsung pada hari Sabtu. Karena itu, aku pergi ke kontrakan Rendra saat hari Jumat. Selesai ngantor, aku langsung berkemas untuk persiapan ke Bandung.


Tentunya aku membawa ransel yang di dalamnya terdapat pakaian, handuk, dan alat mandi. Meskipun sepertinya di apartemen juga sudah disediakan. Tidak ada salahnya untuk membawanya untuk berjaga-jaga. Meskipun agak capek juga ke kontrakan dulu terus kembali berangkat. Namun agak lucu juga kalau ke kantor bukannya bawa laptop malah bawa baju dan peralatan mandi.


Pergi ke tempat Rendra cukup mudah. Aku menaiki angkot ke stasiun Serpong, kemudian aku turun di Stasiun Palmerah. Lalu naik angkot lagi sampai ke gang kontrakan Rendra berada.


Setelah itu, tinggal jalan kaki saja ke tempatnya. Penjagaan kontrakan tidak terlalu ketat, dengan bebas aku bisa naik ke lantai 4 tempatnya tinggal. Namun kalau kita ke sana naik motor, harus membayar biaya ekstra untuk parkirnya. Hal ini tidak berlaku bagiku yang menggunakan kakiku untuk kemari.


Anehnya, nginep di tempatnya tidak perlu bayar untuk ongkos tamu. Entah itu benar atau kami sembunyi sembunyi melakukanya. Seharusnya tidak ada masalah kalau cuma menginap beberapa malam. Kalau penumpangnya sebulan mungkin baru masalah.

__ADS_1


Setelah menaiki tangga, aku mengetuk pintu yang kemungkinan besar merupakan ruangan Rendra, karena aku sudah agak lupa lupa ingat juga posisi persis pintunya di mana. Lantai 4 saja sudah ada lebih dari 20 pintu kamar, wajar kalau aku sempat tidak ingat di mana posisi persis kamar Rendra.


*tok tok tok*


"Assalamu'alaikum, Rendra, kamu ada di dalam?"


"Buka aja Ray, pintu nya gak di kunci."


Aku masuk ke dalam kemudian melihat Rendra sedang bermain game di laptop. Tidak mau kalah, aku juga main game di handphone. Hingga malam tiba, kami bermain sampai kami mengantuk. Tentunya aku sebelumnya sudah makan malam sebelum ke tempat Rendra. Sehingga hingga waktunya tidur, kami habiskan dengan ngobrol dan bermain bersama.


Sama seperti saat tahun baru dulu, aku tidur dengan beralaskan karpet dan menggunakan tasku sebagai bantal. Tidak ada enak-enaknya memang tidur numpang seperti ini. Semoga saja nanti tidak terlambat untuk bangun, karena kereta yang berangkat ke Bandung jadwalnya di pagi hari setelah subuh. Untungnya aku bisa cepat tidur setelah mataku mulai terpejam


*krinng kriing*


Alarm ini telah menunjukkan jam 3 pagi. Kami sudah mengukur waktu perjalanan dari kos Rendra ke stasiun. Kemudian menghitung juga waktu untuk menunggu driver online. Kalau tanpa perhitungan yang matang, kami khawatir bisa-bisa kami terlambat sampai ke kereta.


Setelah bangun tidur, kami segera mandi kemudian langsung memesan driver ke tempat kami. Seperti dugaan, beberapa kali kami mendapatkan penolakan karena memang jam segini tidak banyak driver yang menerima penumpang.


Untungnya, kami berhasil mendapatkan driver dan berhasil sampai ke stasiun tepat waktu. Di perjalanan, seperti biasa driver membicarakan banyak hal. Kurang lebih ceritanya temanya sama.

__ADS_1


Entah sudah lama jadi supir, menolong orang kecelakan, dsb. Mungkin sebagai bahan obrolan saja atau ada niat terselubung dari supirnya. Setelah sampai ke stasiun, kami langsung pergi ke mushola untuk melaksanakan shalat subuh.


Kami tidak melakukanya secara berjamaah karena khawatir akan terlambat menaiki kereta. Selesai shalat, ternyata malah Zul kembali telat seperti biasa. Bilangnya sholat bareng di mushola, malah dia shalat di kontrakannya sendiri. Memang kadang-kadang ini anak omongannya kurang bisa dipegang.


Memang Zul sudah dari sananya begitu. Sulit untuk merubahnya. Daripada ribut panjang, aku memilih untuk mencari sarapan terlebih dahulu sebelum naik kereta. Karena dikejar waktu, aku hanya membeli onigiri dan minum sebagai sarapan. Hal yang pastinya aku beli kalau ketemu, onigiri. Entah kenapa di Tangerang dan kampung halamanku, tidak ada yang menjual snack ultimate ini.


Onigiri merupakana nasi kepal yang di dalamnya sudah diisi oleh lauk pauk sesuai dengan rasanya. Biasanya aku memesan yang rasa tuna mayo. Dengan dibuat berbentuk segitiga, onigiri ini mudah sekali di makan kapan saja dan di mana saja. Kalau pengen kenyang, saya sendiri harus belinya 2 karena kalau satu sama sekali tidak terasa di dalam perut.


Kemudian kami menuju peron tempat kereta berada. Ternyata meskipun masih pagi. Banyak juga yang akan pergi ke Bandung dengan kereta. Namun karena masih agak gelap, aku tidak mengetahui secara pasti orang seperti apa saja yang naik kereta ini.


"Kereta menuju Bandung sudah tiba di peron…  Penumpang yang akan menaiki kereta bisa langsung bersiap untuk menaiki kereta. Perhatikan barang bawaan anda, jangan sampai tertinggal atau tertukar. "


Sebelum naik kereta, Zul juga sempat heran karena kami membawa ransel. Aku dan Rendra hanya bisa tertawa kecil saja karena hanya ini tas yang kami miliki. Kami tidak memiliki tas khusus untuk bepergian. Lagipula, saya rasa tidak aneh untuk membawa ransel saat bepergian.


Mungkin maksud Zul ini ingin menonjolkan tas yang ia bawa. Ia membawa tas yang mirip dengan tukang pos. Sehingga memiliki space yang lebar dengan cara bawanya tidak seperti tas ransel. Lebih ke arah tas selendang. Mungkin topik ini dia buat tujuannya agar bisa memamerkan tas yang ia bawa.


Setelah kereta datang, kami langsung naik sesuai dengan gerbong di tiket kami. Kemudian aku dan Rendra duduk bersebelahan. Sedangkan Zul terpisah dari kami, namun ia duduk bersama dengan wanita cantik. Kami hanya bisa saling melihat satu sama lain dan tertawa kecil saja melihat keberuntungan yang Zul miliki.


Kereta yang kami naiki cukup nyaman. Entah ini kereta jenis apa. Namun fasilitas nya cukup bagus dan lengkap. Ada meja dan lain-lain. Tempatnya juga bersih. Berbeda dengan kereta biasa. Memang dari harga cukup mahal sih, namun kalau nyaman seperti ini gak papa lah. Dibandingkan naik bus, aku lebih memilih ke Bandung dengan kereta seperti ini.

__ADS_1


Biasanya kalau aku dengan keluarga pergi ke Bandung, kami menggunakan mobil pribadi. Pengalaman menggunakan kereta menuju Bandung merupakan salah satu hal yang menarik bagiku. Karena ini pertama kalinya aku jalan-jalan dengan kereta tanpa adanya keluarga ataupun orangtua yang iku. Apa saja yang akan kami lakukan dalam perjalanan kali ini?


__ADS_2