Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 138 Vaksin 3


__ADS_3

"Silahkan duduk pak" Ucap petugas sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di sampingnya.


Aku berjalan menuju kursi tersebut kemudian mulai duduk di atasnya. Petugas memberikan arahan kepada ku untuk melipat lengan baju agar jarum suntik bisa disuntikkan ke bagian lengan.


"Ok\, bapak rileks aja tenang. *jleb*" Sambil memberikan arahan untuk rileks. Tiba tiba ia menusuk jarumnya kemudian tidak perlu menunggu lama\, ia mencabut jarum tersebut.


"... "


Aku hanya bisa terdiam saja karena proses menyuntiknya bisa dibilang cukup cepat. Ternyata rasanya juga tidak sesakit yang aku bayangkan. Benar-benar mirip seperti digigit semut. Durasinya juga hanya sebentar sehingga rasa sakit tidak sempat terasa. Tentunya aku juga harus jaga image agar terlihat keren, tidak bergeming meskipun lengan disuntik vaksin.


"Habis ini aku ke mana mbak? "


"Ke sana ya pak. Ditunggu dipanggil namanya lagi untuk pengambilan kartu vaksin. "


Selesai disuntik, aku pergi ke tempat duduk untuk menunggu diberikannya sertifikat vaksin. Biasanya sertifikat diberikan kalau kita mengikuti seminar atau telah mengikuti kelas dengan skill tertentu. Agak unik juga kalau hanya dengan divaksin, bisa dapat sertifikat. Kudengar-dengar, nantinya sertifikat ini harus dibawa nantinya saat akan mengunjungi tempat yang ramai pengunjung seperti mall ataupun tempat wisata.


Saat aku ke tempat duduk, aku lihat Yana juga sudah selesai dan ia menunggu di luar. Sedangkan aku sama sekali tidak melihat ibu di tempat duduk.


Aku celingak celinguk kesana kemari dan tidak bisa menemukan mereka. Karena ada banyak sekali orang di sini. Aku perlu menelepon Yana untuk menanyakan dimana posisis dirinya berada saat ini.


"Halo Yana. Kamu lagi dimana? Mas sudah selesai vaksin ini. "


"Yana di luar mas"

__ADS_1


Kemudian kami memastikan langkah kami berikutnya. Yana memutuskan untuk tetap di luar sedangkan aku memutuskan untuk menunggu di dalam gedung untuk pembagian sertifikat.


Sedangkan ibuku katanya masih belum di suntik karena tensinya sempat naik. Ia sekarang masih sedang menunggu untuk tensinya turun. Warga yang tensinya tinggi tidak boleh disuntik vaksin, karena dampaknya bisa berbahaya.


Beberapa menit kemudian, aku melihat ibu sudah mulai bisa disuntik. Terlihat sekali kalau ibu biasa-biasa saja disuntik, tidak ada reaksi yang berlebihan. Selesai menyuntik, ibu juga pergi keluar bersama dengan Yana untuk menunggu sertifikasi vaksin.


“Pak Ray..Pak xxxx, bu xxx” Namaku dipanggil bersama dengan nama warga yang lain.


Aku langsung pergi mengambil sertifikasi itu kemudian berkumpul bersama dengan Yana dan juga ibuku. Mereka sudah duluan mendapatkan sertifikasi karena lebih duluan suntik nya daripada aku. Kecuali ibu yang masih menunggu sertifikasi sambil menunggu anggota rombongan yang lain.


Tidak hanya ibu saja, ternyata ada juga anggota rombongan lain yang tidak bisa divaksin karena tensinya tinggi. Pantas saja sehari sebelumnya ia sempat datang ke rumah untuk meminta obat tensi. Ibu terkadang minum obat tensi kalau sedang tinggi tensinya, sehingga kami memiliki stok di rumah.


Selain obat tensi, kami juga pernah memiliki banyak insulin yang dipakai oleh bapak. Karena ia harus suntik insulin agar badannya baikan. Namun sekarang dirumah sudah tidak ada obat itu karena yang memakainya sudah tidak ada.


“Masih nungguin siapa bu RT?” Tanya Ibuku kepadanya.


“Ada bu xxx masih belum selesai vaksin. Masih tinggi tensinya katanya.”


Bu RT lalu menceritakan kalau si ibu xxx ini sudah berkali-kali dites dan masih belum aman tensinya. Kami mencoba untuk menunggunya kemudian juga memberikannya tips agar tensinya turun. Namun karena semuanya tidak mempan juga, pada akhirnya ia tidak jadi vaksin dan kami semua pergi kembali pulang bersama-sama.


Saat pulang, rombongan kami sudah berbeda dari sebelumnya. Karena semuanya sudah duluan pulang. Agak lucu sih, berangkatnya bersama tapi pulangnya sendiri-diri. Bahkan suami si ibu xxx yang tadi juga sudah pulang duluan meninggal istrinya. Itu lebih aneh lagi, masa iya istrinya ditinggal?


Akibat menunggu satu ibu terakhir itu, waktu pulang kami jadi agak terlambat sehingga aku tidak sempat untuk melaksanakan shalat jumat. Meskipun tanpa alasan itu pun, aku juga sebenarnya masih belum berani shalat jumat karena masalah pandemi ini.

__ADS_1


Sampai dirumah, aku tidak merasakan ada perbedaan yang terjadi dalam tubuhku. Aku tidak berubah menjadi mutan akibat suntikan vaksin ini. Tidak seperti meme yang berteban, bahwa katanya kalau disuntik vaksin, kita akan menjadi titan. Hanya rasa lelah akibat perjalanan keluar serta ngilu di wilayah kulit yang disuntik saja yang aku rasakan.


Selanjutnya aku menghabiskan hari-hari dengan menjalani kegiatan seperti biasa. Masih mencari pekerjaan yang sampai saat ini aku belum dapatkan untuk kegiatan mencari nafkah.


Beberapa hari setelah vaksin pertama. Aku sempat merasakan pegal di lengan bagian kiri. Karena di bagian itulah aku mendapatkan suntikan. Selain keluhan itu, tidak ada keluhan khusus yang terjadi seperti demam ataupun sejenisnya. Yana dan Ibu yang juga divaksin juga mengalami dampak yang sama. Mereka tidak merasakan dampak buruk apapun yang mengganggu aktivitas mereka. Sepertinya memang kebetulan saja kalau badan kami aman saat menerima vaksin.


Karena saya cukup percaya kalau setiap orang itu pasti berbeda. Tidak ada orang yang sama dari yang satu dengan yang lain. Bisa saja ada orang yang alergi vaksin. Karena setiap orang memiliki alergi yang berbeda. Seperti contohnya ada juga orang yang memiliki penyakit tertentu sehingga tidak boleh mendapatkan vaksin. Contohnya orang yang memiliki penyakit khusus sehingga tidak diperbolehkan untuk suntik vaksin. Salah satu muridku saat mengajar SMK juga termasuk ke dalam kategori ini.


Semoga saja, dengan adanya vaksin ini. Indonesia bisa menang melawan covid…


Beberapa bulan kemudian


Dari satu vaksin ke vaksin lainnya harus ada jedanya. Sehingga tidak mungkin kita baru suntik vaksin, besoknya kita minta dosis vaksin berikutnya. Sampai saat aku telah selesai suntik dosis vaksin satu. Isu mengenai vaksin dosis berikutnya sudah mulai menyebar. Melihat bahwa keluarga kami sudah bisa untuk menerima vaksin dosis berikutnya, ibu langsung bertanya kepada bu RT apakah dosis vaksin kedua sudah tersedir.


“Bu Rt, sudah ada belum vaksin dosis kedua?”


“Sudah ada ibu, besok pagi kalau mau boleh ikut daftar untuk melakukan vaksin”


Mendengar kabar itu, ibu langsung menanyakan syarat apa yang harus dibawa untuk vaksinasi kedua itu. Ia juga meminta syaratnya dariku dan juga Yana. Setelah semua syarat terkempul, berkas itu disatukan menjadi satu dan nantinya esok hari akan dibawa untuk mendaftar vaksin kedua.


Kalau vaksin pertama aku tidak masalah, seharusnya vaksin kedua ini juga tidak akan terjadi apa-apa, bukan?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2