Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 155 Tur ke Jogja 4


__ADS_3

"Ini hari terakhir ya." Ucapku saat terbangun.


Sama seperti sebelumnya, aku melaksanakan shalat kemudian mandi terlebih dahulu. Sebelum sarapan, kami membersihkan kamar dan barang bawaan terlebih dahulu. Karena setelah ini, kami akan check out dari hotel.


Barulah setelah semua beres, kami turun sebentar mengambil sarapan. Puas menikmati makanan terakhir di hotel ini, kami kembali ke kamar untuk mengambil barang dan mengembalikan kunci hotel.


"Jangan lupa ya untuk bawa barangnya"


"Iya mah."


Ibu meminta kepada Lamda untuk membawa barang bawaan kami. Tetapi ia lupa membawanya sehingga kami sempat ribut saat sudah naik ke dalam lift.


"Loh kok!? Kamu gak bawa barangnya Lamda!!" Ucap ibu dengan nada tinggi saat melihat barang bawaan yang harusnya Lamda bawa malah tidak ada.


Seperti biasa, adikku Lamda tidak memperhatikan saat diajak berbicara, ia malah asik main hp sendiri. Barulah ketika kami naik lift, aku menyadari kalau Lamda tidak melakukan apa yang ibu minta. Hal inilah yang menyebabkan ibu terkejut dan meninggikan suaranya


Mau tidak mau, kami kembali ke kamar untuk mengambil barang tersebut. Untung kuncinya belum kami arahkan ke pihak hotel. Sehingga barang tersebut masih dapat kami ambil. Tentu saja sepanjang perjalanan, Lamda ngedumel gak karuan seperti biasa. Ini yang sampai sekarang saya bingung bagaimana memperbaiki sikapnya agar menjadi lebih baik.


"Huh, untung masih bisa diambil. Lain kali ada orang ngomong itu diperhatikan."


"Iya mas." Ucap Lamda dengan ekspresi kesal.


Beres mengambil barang, kami kembali ke lantai bawah untuk bertemu kembali dengan Ibu dan Yana serta check out hotel.


"Bapak ibu yang sudah check out, jangan lupa untuk Segera naik bus.kita akan segera berangkat."


Mendengar instruksi dari panitia, kami segera bergegas untuk masuk ke dalam.bus. seperti biasa, ada beberapa orang yang telat keluar dari hotel sehingga kami masih harus menunggu mereka datang sebelum melanjutkan perjalanan.


“Sudah hadir semuanya? Saya absen dulu ya”

__ADS_1


Selesai mengecek apakah semua orang sudah hadir atau belum, barulah rombongan kami mulai berangkat. Kali ini, kami kembali ke tempat membeli oleh-oleh. Kalau dari kota Jogja, oleh-oleh standar yang biasa dibawa adalah bakpia. Aku sendiri membeli bakpia kukus untuk oleh-oleh kepada pasangan tercintaku, Uswa. Masa iya aku jauh-jauh jalan kesini gak beliin dia sesuatu.


Ketika membeli oleh-oleh, aku sempat curiga kenapa bus rombongan sebelah tidak muncul-muncul. Ternyata ia memiliki rute yang berbeda. Kedatangan kami ke tempat ini merupakan hal di luar rencana, sehingga hal ini nantinya akan mempengaruhi kegiatan kami kedepannya.


“Ioh, gimana sih, kok malah berhenti lagi di sini. Harusnya langsung ke pasar Beringharjo saja.” Ucap salah satu panitia dari sekolah marah-marah ke panitia travel.


Perjalanan ini memiliki dua panitia yang berbeda, panitia sekolah dan juga dari travel. Mereka bekerja sama untuk memastikan perjalanan ini berlangsung dengan aman dan nyaman. Tentu saja kegiatan di luar rencana ini membuat panitia dari sekolah ngomel-ngomel. Beruntung konflik tidak berlanjut dan hanya selesai di omelan saja. Tidak sampai jadi keributan.


Puas mencari oleh-oleh, kami melanjutkan ke pasar yang tadi disinggung oleh panitia, Beringharjo. Tempat ini ternyata dekat dengan Malioboro, aku malah tidak tahu ada pasar seperti ini. Wajar saja, karena tempat ini hanya menjual barang berupa baju-baju. Hal yang jarang sekali aku beli sendiri. Biasanya baju yang aku kenakan semuanya dari ibuku,


Di pasar ini, aku tidak membeli barang apapun, Aku hanya memutari tempat ini saja, karena tempat ini cukup luas dan berputar-putar cocok untuk menghabiskan waktu di sini. Selain diriku, hanya Yana dan ibu yang turun dari bus. Lamda tidak tertarik untuk keliling dan hanya berdiam diri di bus saja.


Puas mengitari tempat ini, aku kembali ke bus sebelum waktu jalan jalan usai. Lebih duluan daripada yang lain. Berbeda dengan diriku yang jalan kaki, Yana dan ibu sempat naik becak untuk pergi ke pasar tersebut.


Namun siapa sangka, ternyata ada jebakan untuk penumpang becak. Foto mereka diambil kemudian dicetak hingga dijadikan kalender. Tentu saja tanpa persetujuan orang yang difoto. Mau tidak mau, orang yang terfoto akan membelinya, daripada dibeli oleh orang lain. Kita tidak tahu nantinya foto yang mereka cetak itu nantinya akan diapakan kalau tidak kita beli.


Sebelum sampai ke bus, aku sempat menikmati toilet yang katanya bagus sekali isinya. Karena berada di bawah tanah, kita harus turun tangga dulu sebelum bisa ke toilet tersebut. Mirip dengan stasiun MRT yang ada di Jakarta.


Sampai di bus, aku kembali menunggu penumpang yang lain sebelum rombongan melanjutkan perjalanan.


"Bapak ibu, dicek lagi sudah naik semua belum tetangganya. Kalau sudah, ayo kita kembali berangkat ke Candi Prambanan."


"Sudah lengkap pak " ucap salah seorang panitia.


Melihat kalau tidak ada yang tertinggal, akhirnya bus kami berangkat. Dalam perjalanan, seperti biasa aku tidur hingga pada akhirnya, kami sampai ke tempat tujuan kami berikutnya, Prambanan.


Candi ini merupakan salah satu tempat yang terkenal di Jawa Tengah. Entah di mana sebenarnya lokasi sari Candi ini, tapi setahuku, ia masuk ke wilayah Jawa Tengah. Konon katanya, pasangan yang bukan suami istri akan putus kalau pergi berkunjung ke tempat ini. Entah itu benar adanya atau tidak.


Sampai di sana,kami beramai-ramai pergi ke pintu masuk Candi. Namun rencana tidak sesuai realita, ternyata candi ini sedang dibersihkan, sehingga kami tidak boleh menginjakkan kaki ke sana.

__ADS_1


Sontak hal ini membuat kami kecewa, jauh-jauh kesini, tapi malah tidak bisa melihat candi. Hal ini tidak membuat kami terlalu bersedih, karena kami masih bisa foto foto dan pergi mengelilingi wilayah ini.


Tidak diduga-duga, ternyata wilayah candi Prambanan ini cukup luas juga. Bahkan aku sampai kelelahan untuk mengitari tempat ini. Puas berkeliling, kami kembali naik ke bus untuk melanjutkan perjalan menuju tempat pemberhentian terakhir kami.


Pemandangan yang kami foto di sekitar cukup bagus. Kami juga sudah banyak mengambil foto satu keluarga. Beruntung Lamda yang biasanya susah disuruh foto mau di foto kali ini. Jarang-jarang ia difoto, karena anaknya cuek banget dan ogah-ogahan kalau difoto.


Aku kembali tidur saat bus sedang dalam perjalanan. Goncangan yang ada di jalan tidak aku rasakan dan aku tetap dapat tidur dengan nyaman. Hingga pada akhirnya, rombongan kami tiba di tempat tujuan terakhir kami. Kampung air.


Kampung air merupakan tempat yang indah dan gunakan untuk foto-foto. Sepertinya hanya ibu-ibu dan orang yang senang main Lamagram akan mengunjungi tempat ini. Semoga saja aku masih bisa menemukan kenikmatan mengunjungi tempat wisata kali ini.


Tetapi sepertinya Dewi keberuntungan tidak berpihak kepada kami. Karena saat kami sampai di sana, tempat wisatanya baru saja mau ditutup. Pihak pengelola tidak setuju kalau wahana di buka kembali. Meskipun kita sudah negosiasi seperti apapun. Mereka tetap tidak mengiyakan wahana dibuka kembali.


Mau tidak mau, kami hanya bisa memutari wilayah depan sebelum kami kembali ke bus. Beruntung pintu masuknya saja sudah cukup bagus untuk ambil shoot beberapa foto. Puas berkeliling, kami kembali ke bus untuk mulai jalan pulang ke kota C.


Awalnya aku mengira perjalanan akan berjalan baik-baik saja. Tapi ternyata, Lamda mengalami musibah saat sedang dalam perjalanan.


Mungkin karena ia kecapean, atau tidak biasa naik bus. Lamda tiba tiba muntah sebanyak dua kali saat dini hari. Muntahan pertama berhasil aku masukkan ke dalam plastik. Namun muntahan kedua lolos dari tangkapan ku dan akhirnya mengotori bus yang kami tumpangi.


Aku tidak enak dengan pengelola bus. Semoga ia diberikan rezeki yang melimpah karena bersedia untuk membersihkan muntahan Lamda. Ada-ada saja memang kelakuan adikku yang satu ini.


"Mas sih, gak cepet ngasih plastik."


"..." Aku hanya bisa tersenyum pahit saja. Karena tidak mungkin aku sempat memberikan plastik kalau ia tidak menahan muntahan dari mulutnya. Aku bukan The Flash yang memiliki kecepatan super.


Selain insiden kecil tersebut, Alhamdulillah perjalanan kami berjalan lancar dan aman. Kami sekeluarga selamat sampai di Kota C serta aku langsung istirahat saat sudah sampai di rumah.


‘Hah, memang ternyata tidak ada yang lebih nyaman dari kasur rumah sendiri.’ Gumamku dalam hati sambil memejamkan mata dan mulai istirahat.


Jalan jalan ke Jogja akhirnya selesai. Apalagi yang akan aku hadapi berikutnya? HIdup memang penuh dengan warna, seperti dunia kerja.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2