Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 77 Jalan Jalan ke Jawa Timur 4


__ADS_3

Selesai menjalankan ibadah, Ade pamit pulang duluan dengan menggunakan driver online. Mulai dari Ade yang pulang, satu per satu temanku juga pamit untuk pulang.


Temanku Roja bingung sendiri karena ia belum pernah pulang dari Jakarta ke kampung halamanya. Zul dan Rendra yang lebih pengalaman memberitahukan jalan yang benar kepadanya. Tentunya sebagai teman yang baik, kami juga mengantarnya menuju tempat bus berkumpul untuk dia mencari bus dengan rute yang melewati rumahnya.


Setelah Roja berhasil menaiki bus yang tepat, Rendra kemudian pamit pulang ke kontrakanya yang berada di daerah Palmerah. Naik ojol sama seperti Ade, namun Rendra pakainya motor sedangkan Ade menggunakan driver mobil. Sedangkan aku dan Zul menggunakan KRL untuk pergi ke tangerang. Karena kebetulan kami berdua sama-sama kerja di Tangerang  untuk saat ini.


Ini pertama kalinya aku menaiki kereta paling pagi KRL. Biasanya aku naik saat agak siangan. Betapa terkejutnya diriku, ternyata yang naik kereta saat lagi banyak juga.


Dari tempat kami berada, seharusnya kami turun ke Stasiun Tanah Abang kemudian lanjut ke Stasiun Serpong. Namun Zul mengajak diriku untuk naik MRT.


“Ray, sudah pernah naik MRT belum?”


“Belum si Zul, emang gimana naiknya? mahal gak? coba naik yuk. Aku penasaran, kayak apa MRT itu”


Zul mengajak diriku untuk menaiki MRT. Kebetulan aku penasaran dengan kereta yang satu ini dan setuju untuk pergi ke stasiun MRT. Kami turun di stasiun Sudirman kemudian turun ke bawah tanah. Keretanya ternyata berada di sana. Tangga ke bawah cukup besar dan panjang. Sepertinya naik turun tangga ini bisa menjadi olahraga yang bagus.

__ADS_1


Seperti stasiun biasa, kami melewati loket tiket yang sudah menggunakan kartu e-money untuk metode pembayaran. Untungnya saldo di dalam kartuku cukup untuk menggunakannya. Kurang lebih metode naiknya sama dengan KRL. Namun bedanya adalah model kereta dan juga jalur yang disediakan. Serta kecepatan gerak keretanya sangat berbeda.


MRT hebat sekali. Datang sangat tepat waktu dan berangkat juga tepat waktu. Kalau kereta sudah datang, kami harus cepat masuk karena pintu nya tidak terbuka dalam waktu yang lama. Pintu MRT terbuka hanya beberapa detik saja.Setelah berhasil masuk, kereta mulai melaju dengan sangat cepat.


Kecepatan kereta ini lebih cepat dari KRL. Sensasi menaikinya sangat memuaskan. Dengan tarif yang kurang lebih sama dengan KRL namun lebih cepat. Aku sangat senang kalau bisa naik kendaraan ini setiap hari. Murah dan juga cepat, tidak ada macet lagi.


Sayang rute MRT ini masih belum banyak. Kalau saja kereta ini ada di Tangerang, pastinya akan lebih cepat perjalan ke Jakarta daripada dengan KRL. Namun entah apakah hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.


Desain dari MRT sendiri mirip-mirip dengan KRL. Ada tempat duduk di sisi kanan dan kiri gerbong serta ada alat yang bisa kita gunakan untuk gantungan ketika berdiri. Karena kecepatan MRT ini, kalau kita tidak terbiasa, bisa-bisa terjatuh akibat gaya yang ditimbulkan.


Memang kalau tidak menggunakan e-money, kita harus membeli dan juga menukarkan kartu tiket kita setiap selesai melakukan perjalanan. Hal yang sangat membosankan dan membuang waktu. Kebetulan kami harus ikut mengantri karena Zul menggunakan kartu dari loket tiket MRT. Kami mulai mengobrol sambil aku juga melihat pemandangan.


Tidak hanya orang mengantri, aku juga melihat ada beberapa orang jogging masuk ke dalam MRT. Keren juga ada yang jogging seperti itu. Mungkin aku bisa menirunya kapan-kapan. Ada juga cewek cantik dengan badan yang seksi mengenakan pakaian olahraga sedang jogging dan menaiki MRT. Saat ia lewat, mataku seperti kamera autofocus dan melihat ke arah wanita tersebut. Mataku kembali normal setelah sang wanita pergi dengan menaiki MRT.


Puas melihat pemandangan, kami kembali ke stasiun KRL untuk pergi ke Tangerang. Namun sayangnya dari MRT, kami harus naik ojol dulu sebelum bisa kembali ke rute Stasiun KRL. Seperti biasa, kami menunggu dulu sampai ojol yang kita pesan sampai, barulah kami berangkat menuju stasiun.

__ADS_1


Karena kami naik motor yang berbeda, kami saling tunggu-tungguan di stasiun KRL. Saat kami berdua sudah tiba, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan KRL untuk menuju Stasiun di wilayah Tangerang.


Zul turun di Stasiun Rawa Buntu, sedangkan aku turun di Stasiun Serpong. Awalnya aku kira kedua jalur ini berbeda jalur angkotnya. Belakangan aku tahu, naik angkot dari kedua tempat itu rutenya sama. Namun memang kalau dari tempat kerjaku, tidak ada angkot yang pergi menuju Rawa Buntu, adanya yang menuju Stasiun Serpong. Anehnya, kalau dari Rawa Buntu, malah ada angkot yang melewati kantor tempat kerjaku. Memang agak membingungkan rute angkutan umum ini.


Di dalam angkot, aku hanya bermain handphone, melihat pemandangan, dan melakukan observasi terhadap penumpang yang naik. Kebanyakan dari mereka semuanya sudah dewasa. Terlihat juga wajah mereka kebanyakan masih mengantuk, mungkin karena sekarang masih pagi.


Setelah menaiki angkot, akhirnya aku bisa sampai ke kontrakan dengan berjalan kaki serta menaiki Jembatan Penyeberangan Orang. Karena kondisi masih cukup pagi, tidak banyak aku melihat orang lalu lalang di jalan. Sampai di kontrakan, aku langsung menaruh barang dan istirahat sambil meregangkan badan di atas kasur.


“Waduh, capek juga ya perjalanan kali ini. Apakah perjalanan ini sepadan dengan kesenangan yang didapatkan.”


Sambil tidur, aku kembali mengingat apa saja yang sudah terjadi beberapa hari ini. Berangkat dari rumah orang tua bersama dengan Roja, bertemu dengan Zul di Stasiun Rawa Buntu, kemudian berangkat dari Jakarta bersama dengan Rendra dan Ade. Banyak sekali hal sudah kami lalui, jarang sekali kami ada kesempatan berkumpul bareng jalan-jalan seperti ini. Apakah kedepannya kami juga akan melakukan perjalanan seperti ini? hanya waktu yang bisa menunjukkannya.


Perjalanan ke Jawa Timur sudah selesai. Namun aku masih ada satu lagi perjalanan yang belum aku ceritakan. Berikutnya aku akan ke Bandung, kota yang dikenal dengan banyak wanita cantik. Konon katanya, 9 dari 10 wanita Bandung itu cantik cantik. Acaranya sama dengan perjalanan kali ini, mendatangi salah satu teman SMA yang sedang melangsungkan resepsi pernikahan.


Untuk ke Bandung nanti, kami lebih santai daripada perjalanan kali ini. Karena kami sudah menjadwalkan akan menginap semalam di sebuah apartemen. Kira-kira keseruan apa yang nantinya akan kami temukan di perjalanan nanti?

__ADS_1


__ADS_2