Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 59 Menjenguk Bapak


__ADS_3

Seminggu setelah aku mulai kerja di Tangerang. Sebelum kedatangan si Bona. Aku sempat mendapatkan suatu hal yang mengejutkan. Awalnya aku kira minggu pertama bisa nyantai dulu di Tangerang. Namun sepertinya keadaan masih belum mengizinkan.


*hari Kamis*


“halo mamah, apa kabar?” Ucapku saat menelepon ibu.


“Baik mas, gimana kerjanya di sana?”


“Lancar mah, alhamdulilah. Gimana keadaan yang di sana?”


Ibu diam sejenak lalu berkata “Nak, kamu nanti hari jumat pulang kan? bapak… masuk rumah sakit karena stroke” Terdengar suara ibu sedih saat mengatakan hal ini.


“Astaghfirullah! yang benar mah? kapan!? sekarang lagi dirawat di mana!?”


Ibu langsung bercerita mengenai kejadian yang menimpa bapak setelah mengantarku ke Tangerang.


Bapak memulai aktifitas seperti biasa setelah mengantarku ke Tangerang. Namun saat itu bapak tidak sadar kalau ia sudah mulai sakit. Malahan teman kantornya yang menyadari hal itu pertama kali. Kurang lebih inilah yang terjadi berdasarkan cerita dari ibu.


Ketika sedang di kantor, salah satu teman kantor bapak bertanya-tanya setelah melihat keadaan bapak.


“Pak Toto sehat? kayaknya mukanya pucat? gak mau izin sakit saja?”


“Gak, saya gak papa, sehat kok”


Beberapa saat setelah ngomong begitu, pulpen yang ia pegang tiba-tiba jatuh. Bapak melihat tangannya yang ternyata sudah gemetaran. Melihat hal itu, semua orang kantor langsung memaksa dia untuk berobat ke rumah sakit.


Selain dari tangan, bapak juga mengalami bibir mulai miring dan kelihatan kaku. Alhasil ketika bapak berbicara, orang lain kesulitan untuk mendengar apa yang bapak bicarakan. Namun apa daya, sikapnya yang keras malah menyalahkan orang yang ia ajak bicara.


“Budek amat sih” teriak bapak sambil posisi mulutnya miring


Padahal yang salah seharusnya adalah bapa yang memang sedang sakit sehingga ngomongnya kurang jelas. Mendengar kabar dari kantor bapak, ibu langsung dengan cepat mengantarkan bapak dirawat. Menurut keterangan dokter, ia perlu istirahat paling tidak selama satu minggu.


Kemudian ia juga harus menjalani terapi untuk melatih syarafnya dapat bergerak seperti normal kembali. Dokter juga mengatakan bahwa penyebab dari struk kali ini adalah gaya hidup yang tidak sehat. Terutama karena bapak masih merokok dan juga makan bebek yang memiliki tingkat kolesterol yang tinggi. Kecapean juga faktor lainnya karena ia terkena stroke setelah lelah pergi ke Tangerang.


Untungnya bapak tidak masuk ke ruangan ICU dan hanya di ruang inap biasa. Hal inilah yang membuat ibu bisa mengunjungi bapak dengan leluasa. Meskipun Aku juga kasihan mendengar kalau ibu bolak-balik rumah sakit karena bapak maunya ditemenin terus oleh ibu. Dalam keadaan ibu juga masih harus kerja ke kantor.


Bahkan sampai tidur harus di rumah sakit untuk menjaga bapak. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bapak yang manja seperti ini. Manjanya maksa lagi. Beruntung ibu tidak masalah akan hal ini dan juga tidak ikut jatuh sakit karena menjaga bapak. Memang ibuku ini adalah wanita superwoman.

__ADS_1


Mendengar cerita ibu sampai sini, aku hanya bisa berkata pada ibu “Ya Allah, bapak. Susah sih diingatkan . Baiklah kalau begitu, nanti saya pulang ya bu, jumat sore. Mungkin akan sampai di Rumah saat malam hari sekitar jam 9.”


“Oke deh Ray, hati-hati di jalan ya. Jangan sampai ketiduran di jalan dan jaga barang bawaan. Rawan kehilangan kalau di dalam bus.”


“SIap mah, terima kasih atas sarannya” Ucapku sambil menutup telepon setelah memberikan salam kepada ibu.


‘ada-ada saja bapak’ batinku dalam hati.


Awalnya aku malas banget pulang langsung ke rumah padahal belum ada seminggu aku menikmati kehidupan di kontrakan tangerang ini. Tinggal di kontrakan membuatku teringat saat masa kuliah dulu. Sangat bebas dan tenang melakukan apapun. Tidak ada pengawasan dari orangtua yang terkadang membuat kesal.


Padahal aku sangat menantikan menghabiskan liburan di Tangerang sendirian. Mungkin saja aku juga bisa mengajak temanku yang berada di Jakarta untuk ketemuan dan ngumpul bareng. Kabar yang kudapat, ada beberapa teman dekatku yang sekarang kerja di Jakarta. Kesempatan bagus untuk mengunjungi mereka.


Sayangnya kondisi bapak membuatku tidak bisa melakukanya minggu ini. Tidak masalah, seharusnya masih ada kesempatan berikutnya. Karena menjenguk orang sakit itu besar pahalanya, paling tidak itulah yang aku tahu dari ajaran yang aku anut. Selain untuk mengecek kondisi bapak, dapat pahala juga. Sekali tepuk dua lalat.


Sambil searching untuk menentukan rencana pulang besok, aku mulai memilih barang apa saja yang dibawa saat pulang nanti. Karena di rumah ada baju, seharusnya aku tidak perlu membawa baju lagi dari sini.


Ya Allah, Semoga perjalanan besok akan berjalan lancar.


*Perjalanan pulang ke rumah*


Saat sebelum pulang kerja aku sudah membuat catatan rute apa yang harus aku ambil untuk pulang ke rumah dari Tangerang. Pastinya semuanya melewati jalur darat, untuk sampai ke rumah tidak perlu naik pesawat atau kapal.


Antara bus dan kereta aku memilih bus terlebih dahulu. Karena jalurnya lebih simpel dan cukup naik angkot satu kali dan bus sekali saja. Berbeda dengan kereta yang kita harus lebih hafal rutenya terlebih dahulu.


Apalagi dilihat dari waktu tempuh sepertinya lebih cepat bus untuk sampai ke rumah daripada kereta. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetop angkot dan pergi ke terminal terdekat.


Kantorku selesai kerja pada pukul 17.00. Perjalanan ke terminal membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Karena itulah aku sampai ke terminal pada pukul 17.30. Namun melihat sebentar lagi waktu shalat maghrib, aku memutuskan untuk berhenti sebentar menjalankan ibadah terlebih dahulu.


Beruntung dekat terminal ada mall yang didalamnya terdapat mushola, aku juga sekalian makan di restoran yang berada di dalam mall. Selesai makan dan ibadah, aku melanjutkan perjalanan ke terminal.


“Jadi ini tempatnya. Benar juga, aku melihat banyak bus di sini.”


Kulirik ke sana kemari, banyak bus yang parkir di sini. Aku mencari rute pulang yang aku butuhkan. “Sepertinya ini deh busanya” gumamku sambil melihat jurusan bus ini.


“Pak, benar ini rute ke Merak?”


“benar a, naik saja.” ucap kenek sambil menunjuk ke dalam bus

__ADS_1


Aku bersyukur sekali rute yang kucari adalah benar. Karena informasi ini hanya kudapat dari internet. Untuk kepastiaan dari rute ini sendiri masih belum aku ketahui.


Perlahan aku menaiki bus dan mencari kursi yang kosong. Terdapat dua tempat duduk di dalam bus, smoking dan nonsmoking. Untungnya di bagian dilarang merokok masih ada tempat kosong, aku langsung menempati kursi itu. Aku memilih tempat ini tentu saja karena aku tidak merokok.


“Permisi bu, boleh duduk di sini? gak ada orangnya kan?”


“Monggo mas, silahkan.”


“Terima kasih”


Sambil menunggu bus mulai berjalan, aku mendengarkan musik sambil melihat pemandangan ke arah luar jendela. Aku juga memperhatikan orang-orang yang berada di dalam bus.


Ada berbagai macam orang naik ke bus ini. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu, anak-anak, serta orang lanjut usia. Kulihat sekilas ada juga yang naik bus bersama dengan keluarga namun tidak sedikit juga yang naik sendirian seperti diriku.


Selesai mengamati orang sekitar, aku kembali sibuk sendiri dengan mendengarkan musik sambil membaca beberapa artikel berita dalam perjalanan.


“Pemberhentian selanjutnya xxx, yang turun di xxx segera bersiap karena bus akan segera sampai”


Mendengar tempat tujuanku sudah di depan mata, aku bersiap-siap dengan berdiri dan berpegangan terlebih dahulu. Karena kalau tidak pegangan dan jatuh, bisa malu berat nanti di dalam bus. Pastinya aku juga sudah mengecek semua barang bawaan lengkap dan tidak ada yang tertinggal.


Setelah bus berhenti sempurna, aku langsung turun dengan cepat. Karena kalau kelamaan, kasihan penumpang lain yang belum turun. Sampai di terminal aku mencari angkot yang melewati jalur rumahku.


“Ayo yang mau naik angkot segera naik, mau berangkat!”


Angkot yang aku naiki cukup sesak, karena angkot di terminal hanya berangkat ketika jumlah penumpang sudah penuh. Apa boleh buat, maaf ya penumpang yang lain karena aku mengambil banyak space tempat duduk karena badanku ini.


Untungnya sebelahku cewek sehingga tidak ada wangi busuk yang masuk ke dalam hidung. Sepanjang perjalanan, aku hanya melihat pemandangan saja karena sesaknya angkot membuatku tidak ada mood untuk mendengarkan musik.


“Kiri pak, kiri pak” ucapku kepada supir angkot ketika sudah melihat tempatku harus turun.


Perjalanan menuju tujuanku hanya sekitar 15 menitan saja. Setelah turun dari angkot, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga sampai ke rumah. Sampai ke rumah, aku langsung membuka pintu dan mengucapkan salam.


“Assalamualaikum” ucapku ke dalam rumah sambil menaruh tas bawaan yang aku jinjing.


“Waalaikumsalam” orang rumah telah siap menyambutku dengan riang gembira. Meskipun terlihat dari raut muka mereka, terdapat kesedihan atas kejadian yang menimpa bapak.


KIra-kira, bagaimana ya keadaan bapak sekarang?

__ADS_1


__ADS_2