Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 130 Berdoa Untuk Bapak 3


__ADS_3

Keesokan harinya, aku menerima pesan dari ibuku untuk membawa baju ke Bogor karena ia akan menginap selama beberapa hari. Kemarin, ia buru-buru ke Bogor tanpa membawa persiapan apapun karena mendengar kondisi bapak sedang kritis. Itu pun ia juga berangkat bersama dengan karyawan yang lain ingin melihat kondisi bapak.


[Mas, nanti bawakan baju mamah ya. Minta tolong Yana siapkan. Terus bawa…]


Kurang lebih itulah pesan yang ibu kirimkan kepadaku. Ia meminta dibawakan baju serta keperluan lainnya yang harus ada saat menginap di tempat orang lain. Sesuai dengan perintah ibu, aku meminta tolong bantuan Yana untuk mengemas barang-barang milik ibu. Karena aku sama sekali tidak tahu mengenai hal itu. Dengan sigap Yana menyiapkan semua yang ibu perlukan nanti saat menginap.


Tidak hanya pakaian ibu, aku juga membawa beberapa sedikit pakaian milikku. Ada wacana bahawa aku juga akan pergi menemeani ibu di sana. Entah hal itu benar atau tidak. Namun tidak ada salahnya berjaga-jaga terlebih dahulu. Sedia payung sebelum hujan.


“Sudah siap Ray?”


“Siap om, ayo berangkat!”


Kali ini aku sudah bersama dengan om Maman saja berdua untuk pergi ke Bogor. Jarang sekali kami berduaan seperti ini. Karena biasanya paling sedikit kami pergi bertiga bersama dengan ibu. Sampai di Bogor, kami mampir ke rumah Bule Yeni terlebih dahulu. Karena saat ini ibu sedang berada di sana. Sepertinya ia sedang istirahat karena telah merawat bapak semalaman. Terlihat sekali wajah ibu kelelahan akibat situasi kali ini. Semoga aku bisa menghiburnya dan juga menguatkan ibu. Karena tidak hanya bapak juga yang perlu semangat, kami sekeluarga juga sebenarnya perlu support moral. Meskipun memang untuk saat ini bapak yang lebih membutuhkan hal itu.


“Bagaimana kabar papah?”


“Ya gitu deh Ray. Kabar papah saat ini..”


Ibu mulai cerita panjang lebar mengenai situasi kesehatan bapak saat ini. Katanya sih sudah tidak ada covid di dalam tubuhnya. Namun entah kenapa, daya tahan tubuhnya melemah. Semua data menunjukkan kalau kesehatan bapak menurun. Sampai sekarang, ia masih membutuhkan alat bantu pernapasan. Masih belum mampu ia untuk bernafas dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Saat alat tersebut dilepas, bapak masih sesak nafas tanpa adanya bantuan dari alat.

__ADS_1


Mendengar hal itu, aku banyak-banyak memberikan semangat kepada ibu. Karena ibu sangat menyayangi bapak. Pasti ia ingin sekali orang yang dicintai itu selamat dan pulang kembali ke rumah. Namun kita juga harus bersiap untuk menghadapi situasi terburuk. Karena bagaimanapun, takdir semuanya ada di tangan yang Maha Kuasa.


Beres mengobrol dengan ibu, akhirnya tiba waktunya kami bisa kembali menengok bapak. Waktu jenguk sudah ditentukan sehingga kita tidak bisa sembarangan berada di dalam selama 24 jam. Karena sudah waktunya, ibu akhirnya bersiap dan kembali pergi untuk menjenguk bapak. Kudengar, ibu selalu masuk dan menjenguk bapak dengan waktu yang selama mungkin dan diperbolehkan oleh dokter.


Sampai di sana, aku lihat bapak sudah berada di ruangan yang berbeda. Sekarang ruangan tempatnya berada telah berbeda. Aku belum pernah mengunjungi tempat tidur bapak yang baru. Karena sebelum ini, saudara-saudara yang lain datang dan mengunjungi bapak.


Kulihat dari CCTV ibu dan Bule Yeni masuk. Terlihat sekali wajah ibu yang sangat cemas dan selalu mendoakan kesembuhan untuk bapak. Aku hanya melihat dari CCTV dan merasa sangat sedih melihat kejadian ini. Semoga bapak cepat sembuh dan bisa kembali pulang.


Aku teringat bawah ketika bapak sakit, sebenarnya hari ulang tahunnya juga termasuk ke dalam hari itu. Jadi betapa ironisnya ketika hari yang seharusnya dirayakan dan berbahagia itu, malah ia habiskan berobat di rumah sakit.


Pada saat bapak ulang tahun, kami juga sempat membawakan kue ulang tahun. Meskipun tidak bisa ia makan. Paling tidak kita bisa memberikan semangat ketika hari ulang tahunnya tiba. Semoga saja usaha kecil itu bisa menambah kemungkinan bapak untuk sembuh.


“Jadi…Gimana ini Bule? apakah saya perlu nginep juga? kasihan di rumah cuma ada Lamda dan Yana saja.”


“Loh? si Arip kemana?”


Sepertinya Bule Yeni belum tahu, kalau Arip sudah berangkat ke Jakarta karena covidnya sudah sembuh. Karena sudah sembuh, ia harus segera ngantor untuk menjalani kewajiban yang ia miliki sebagai seorang karyawan. Mendengar cerita itu, akhirnya Bule Yeni baru paham kenapa aku terlihat sangat tidak ingin untuk menmani ibu di Bogor.


“Ya ampun, begitu toh ternyata. Iya lah, dijagain ya adik-adiknya. Untuk sekarang, kamu laki-laki tertua di sana. Harus menjaga mereka dengan baik”

__ADS_1


“Baik Bule”


Mendengar jawaban dari Bule itu, aku memberitahukan kepada om Maman kalau aku jadinya kembali ke kota C. Lagipula kasihan juga om Maman kalau aku nginep. Karena nantinya ia berangkat pulang seorang diri saja. Setelah beres mengobrol, aku pamitan dengan ibu dan semua orang yang ada di sana.


“Pamit dulu ya bu, Ray mau pulang dulu”


“Iya Ray, hati-hati di jalan”


Aku mencium tangan ibu kemudian barulah pergi pulang ke rumah. Beruntung aku bisa pulang ke rumah dengan selamat. Setelah dari perjalanan panjang, sisa hari aku habiskan dengan beristirahat.


Beberapa hari kemudian, muncullah berita yang mengejutkan.


[Innalillahi wa innailaihi Rajiun. Telah pulang ke Rahmatullah…]


Aku melihat Bule Yeni mengirimkan chat ke WA keluarga dan setelah kubaca….


Bapak ternyata sudah meninggal.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2