
Karena petugas ambulans tidak tahu jalan. Kami menjadi mobil yang berada di garis depan. Namun sama seperti mereka. Aku dan om Iskandar lupa lupa ingat jalan di daerah ini. Di saat seperti ini, maps menjadi solusi yang tepat untuk keluar dari masalah ini.
"Coba Raya, buka maps, ke arah mana jalanya. "
"Bentar om, saya buka dulu. semoga saja ada sinyal internet di tempat ini. "
Saat ini kami masih dalam perjalanan. Karena itulah aku khawatir apakah kami mendapatkan sinyal internet atau tidak. Biasanya kalau berada di wilayah baru, harus di cek dahulu kualitas sinyal yang ada. Bisa jadi kartu perdana kita memang tidak cocok untuk daerah tersebut. Setiap daerah memiliki provider yang berbeda-beda kekuatan sinyal ya.
"Ke arah sana om. Terus nanti setelah 500 meter belok kanan. " Ucapku sambil melihat peta yang ada di HP ku.
Aku mulai memandu arah perjalanan kami. Beberapa tempat om Iskandar ketahui namun ia belum hafal secara pasti. Karena itulah kami memanfaatkan aplikasi peta sebagai penunjuk jalan.
Ada beberapa tempat yang kami lewati kurang meyakinkan. Sampai Om Iskandar geleng-geleng kepala melihat jalan itu.
"Ray, benar jalan nya lewat sini? Nyawa mbah kakung dipertaruhkan lo. " Ucap om iskandar dengan nada bercanda.
"Aman om. Udah benar kok. Habis ini nanti belok ke sana. "
agak deg degan walaupun ia hanya bercanda. Karena memang betul kalau salah jalan, nyawa mbah taruhannya. Aku berusaha pede dan membaca peta berulang-ulang karena takut nyasar. Lebih baik aku lebih fokus dan membaca peta dengan benar. Supaya sampai di tempat tujuan dengan selamat.
"Akhirnya sampai jumpa. " Ucap om Iskandar saat sudah melihat rumah sakit di depan mata.
Jalan menuju rumah sakit cukup lebar karena dua arah. Setiap jalurnya dapat dilalui oleh 2 mobil secara bersamaan. Rumah sakitnya terletak tepat di perempatan jalan sehingga jalanan cukup padat saat siang hari. Apalagi persis ada lampu merahnya juga.
Namun karena sekarang masih tengah malam, jalanan sepi dari mobil sehingga kami bisa masuk ke dalam dengan lancar. Kami masuk melalui gerbang depan yang sudah ada satpam siap siaga dua puluh empat jam.
Saat akan sampai di tempat, aku menelepon bule Yeni untuk memberitahukan kabar kedatangan kami.
"Halo"
__ADS_1
"Halo bule , ini mbah sudah sampai di rumah sakit. Terus habis ini jalan nya kemana? "
"Bawa aja ke UGD. Parkir ambulans di sana, terus ke meja pendaftaran untuk mengurus administrasi mbah. Syarat sudah lengkap kan?"
Aku menanyakan kepada para perawat dan mereka sudah lengkap membawa berkasnya. Segala urusan dokumen, perawat mbah dan Bule Yeni yang mengurusnya. Sedangkan aku dan Om Iskandar hanya istirahat sambil mondar mandir kesana kemari mencari tempat duduk. Karena sudah lelah kami melakukan perjalanan di dalam mobil selama beberapa jam.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Bule Yeni sampai ke rumah sakit. Ia keluar dari mobilnya dan langsung keluar menghampiri kami. Terlihat sekali kalau ia memasang wajah cemas karena khawatir akan keadaan mbah.
“Gimana Ray keadaan mbah? sudah diurus dokumenya?”
Aku menunjuk ke arah meja pendaftaran dan berkata “sudah bule, itu lagi diurus sama si perawat.”
Bule Yeni melihat ke arah yang aku tunjuk kemudian pergi menghampiri mereka. Setelah percakapan singkat itu, aku kembali menganggur dan hanya bolak balik mencari tempat duduk. Selain itu, aku juga sempat beberapa kali ke toilet. Karena udara dingin tengah malam membuatku lebih mudah membuatku kedinginan. Meskipun aku sudah mengenakan jaket.
Beberapa menit kemudian, Mbah akhirnya sudah mulai masuk ke dalam UGD. Sedangkan om Iskandar mengurus dokumen perawatan untuk mbah. Aku sendiri ikut mengawasi saat prosedur sedang berlangsung. Sedangkan aku hanya mondar mandir saja sambil meregangkan badan agar tidak ngantuk. Karena mata ini sudah mulai berat.
Tiba-tiba, aku merasakan hp bergetar. Sepertinya ada orang yang sedang menelepon nomorku. Saat aku lihat layar, ternyata Bule Yeni yang menelepon diriku. Langsung aku angkat telepon tersebut.
“Gini Ray, nanti sama om Iskandar ke rumah bule ya. Terus ambilin bantal minta ke bibi.”
“Bantal buat siapa Bule?”
“Buat mbah kamu. kalau gak ada bantal untuk mengganjal, tidurnya gak enak katanya.”
Setelah mendapatkan perintah dari Bule Yeni, aku dan om Iskandar segera berangkat untuk melaksanakannya. Perjalanan dari rumah sakit ke rumahnya Bule tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menitan saja. Saat kami sudah sampai ke rumahnya, aku melihat rumah yang terlihat sederhana dengan dua tingkat.
Ternyata tidak seperti bayanganku. Meskipun dari halaman luarnya kecil, ternyata mereka memiliki halaman yang luas di belakang. Sehingga tidak terlihat besar kalau dari depan. Aku penasaran ingin melakukan house tour untuk rumah ini. Namun aku tidak sempat menikmati jalan-jalan di rumah ini karena aku hanya mengambil bantal di sini. Kami tidak boleh berlama-lama karena mbah sudah menunggu bantal ini. Apalagi status kami sekarang harusnya isolasi mandiri karena sudah melakukan kontak dengan orang yang melakukan kontak dengan mbah.
tok tok tok
__ADS_1
“Assalamualaikum. Bibi, ada di rumah?”
Kami menunggu respon dari yang ada di dalam. Memang agak mengganggu sih datang ke rumah tengah malam begini. Namun apa boleh buat, kalau dalam keadaan darurat seperti ini. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bibi membuka pintu dan mengajak kami masuk ke dalam. Terlihat sekali dari raut muka bibi kalau ia baru saja bangun dari mimpinya yang indah.
“Eh, ada Ray dan om Iskandar, ayo masuk dulu. Mau ngambil bantal ya? tadi sudah bule Yeni kirim pesan untuk siapkan bantal. Sebentar ya, saya ambilkan dulu.”
“Siap bi.”
Aku dan om Iskandar istirahat sejenak di dalam rumah terlebih dahulu. Saat aku ke ruang tengah, aku cukup kaget karena melihat om Ageng, suami Bule Yeni. Sedang tidur hanya dengan memakai singlet dan celana panjang di sofa. Sontak aku berjarak dengan nya karena ternyata saat tidur ada bau jigong yang cukup menyengat.
Mungkin hal ini terjadi karena pengaruh obat. Setahuku, air liur bapaku juga baunya menyengat akibat mengonsumsi berbagai macam obat-obatan. Entah itu obat untuk gula, kolesterol, dan obat-obat lainnya. Saat aku duduk dan mengobrol dengan om Iskandar, tIba-tiba om Ageng bangun.
“Eh ada Ray sama Iskandar. Baru datang ya? Gimana kabar mbak?” Ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan tangannya serta kucek-kucek mata.
Kami ngobrol sebentar mengenai keadaan mbah saat ini. Setelah selesai bertanya, om Ageng kembali lagi tidur di kamar karena katanya badan masih pegal-pegal dan matanya masih ngantuk.
“Ini nak Ray bantalnya. Mau ngopi dulu gak?”
“Boleh bi, satu ya, Ray mau ngopi” Ucap om Iskandar menerima tawaran dari bibi.
Aku sendiri menggeleng gelengkan kepala karena saat ini sedang tidak mood ngopi. Memang aku tidak punya kebiasaan ngopi. Karena menurutku, kalau memang kita mengantuk, solusinya cukup dengan tidur, jangan maksa bangun dengan kopi. Khawatir nanti akan ada komplikasi nanti kedepannya. Namun kalau memang dalam kondisi tertentu, tidak masalah kok mengkonsumsi kopi dalam batas yang wajar.
Bibi membuat kopi yang om Iskandar nikmati sambil ia bersantai duduk di sofa. Beberapa menit ia menikmati kopi tersebut. Saat kopinya sudah habis, kami memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Karena mbah masih menunggu bantal ini untuk istirahat.
“Makasih ya bi, kopinya. Nanti kapan-kapan main kesini lagi” Ucap om Iskandar sambil memberikan cangkir kopi yang kosong kepada bibi.
“Siap om, mampir aja ke sini, saya tunggu.”
Kami berpamitan dengan Bibi kemudian masuk ke mobil untuk kembali ke rumah sakit. Penghuni rumah yang lain tidak kami sapa saat akan pergi karena mereka semua masih pulas istirahat di atas kasur mereka masing-masing.
__ADS_1
Kira-kira setelah mengantar bantal ini, apakah aku bisa segera kembali pulang ke rumah? Badan sudah mulai pegal karena aku tidak menyangka akan sepegal ini. Apalagi tidak boleh tidur karena harus menemani om Iskandar ngobrol . Alhasil kondisi fisik dan mental cukup terdampak karena kurang tidur. Untuk hari ini hari libur, jadi setelah semua ini selesai. Aku bisa istirahat tidur sepuasnya di rumah.
*bersambung*