Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 131 Bapak


__ADS_3

Mendengar berita itu, sangat terpukul dan kesedihan yang besar langsung masuk ke dalam hatiku. Tidak kusangka ini merupakan bagaimana salah satu orang tua yang aku sayangi akan menyelesaikan kehidupan yang fana ini.


Saat aku menerima pesan ini, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Ternyata bapak meninggal di malam hari dan di luar kampung halamanya. Karena ia meninggal saat masih berada di bogor.


Kabar buruk ini mau tidak mau segera aku sampaikan kepada adik-adikku. Ibu masih berada di Bogor saat kejadian ini melanda. Sehingga pastinya ia merupakan orang pertama yang tahu mengenai hal ini.


Pertama-tama, aku mencoba menghubungi Arip terlebih dahulu. Karena posisinya saat ini masih berada di Jakarta.


“Halo mas, ada apa?”


“Sudah dengar kabar dari grup belum? Bapak telah meninggal”


Kemudian aku mulai menceritakan segala hal yang terjadi satu hari sebelumnya. Kemarin, kondisi bapak kembali melemah dan pada saat itu ia sulit bernafas meskipun sudah menggunakan alat bantu. Melihat hal ini, para dokter di sana sepakat untuk mencoba memasang ventilator. Langkah ini adalah langkah terakhir, ibu setuju dan memasangkan alat tersebut kepada bapak. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan bapak selain cara ini.


Setahuku, kalau sudah dipasang ventilator. Berarti sudah ada 50 persen kemungkinan untuk gagal. Ketika mendengar hal itu, aku banyak-banyak berdoa agar hasil yang keluar adalah yang kami inginkan. Namun ternyata, satu hari kemudian, nyawa bapak sudah tiada.


Setelah mendengarkan ceritaku, Arip diam sejenak lalu berkata. “Baiklah mas sekarang juga aku akan berangkat pulang.”

__ADS_1


Aku menanyakan dengan apa ia akan pulang. Ia bilang mau coba naik bus. Namun karena khawatir, aku segera memberitahukan kabar ini ke bude Weni yang saat ini sedang berada di Tangerang. Semoga saja ia bis membantu Arip.


Bude Weni sendiri adalah kakak dari ibu, ia adalah Budeku. Saat ini ia kadang pergi ke Tangerang karena salah satu dari anaknya sudah menikah dan tinggal disana bersama dengan suaminya.


Benar saja, Arip sempat mengalami problem saat menaiki bus. Bilangnya busnya mau berangkat. Namun setelah Arip bayar, busnya tidak kunjung berangkat juga. Melihat hal ini, untungnya menantu Budeku sudah berada di sana dan menjemput Arip dari bus tersebut. Sehingga ia bisa sampai ke rumah bersama dengan mereka.


Memang benar ya kalau bus itu pada nyari penumpang mulu. Ngak lihat apa itu penumpangnya ada yang sedang buru-buru. Saat Arip bilang ia sedang ada keadaan mendesak dan meminta untuk segera berangkat, malah ia yang kena semprot si kenek dan supir bus. Kurang lebih itulah yang terjadi kepada Arip saat ia hendak pulang ke rumah.


Setelah Arip, aku memberitahukan hal ini kepada Lamda. Mendengar bapaknya meninggal. Lamda hanya berkata


“Oh gitu ya. Innalillahi.” Ucapnya dengan singkat.


Aku menutup pintu kamar Lamda kemudian pergi ke ruangan terakhir yang harus aku masuki. Ruangan itu adalah kamarnya Yana. Berbeda dengan semua adik-adikku yang lain. Yana satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Entah akan seperti apa reaksinya saat mendengar berita ini.


“Hiks…hiks.”


Saat aku hendak mengetuk pintu. Aku sudah mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Sepertinya ia sudah mengetahui kabar terbaru ini dari grup WA. Karena memang adikku yang satu ini sangat aktif dalam menggunakan internet. Setelah mengetuk pintu, aku membukanya kemudian melihat mata Yana secara langsung.

__ADS_1


Wajahnya yang biasanya cerita sekarang sudah penuh dengan air mata. Warna matanya yang putih sekarang sudah menjadi merah. Air mata menetes dari mata jatuh ke atas daster miliknya. Melihat kondisi Yana, aku tidak berkata apa-apa dan hanya memeluknya selama beberapa menit. Karena aku tidak bisa lama-lama menemaninya terlalu lama. Ada banyak hal yang harus aku lakukan.


Setelah menenangkan Yana, aku mulai keluar rumah dan mulai membantu warga yang lain menyambut kedatangan bapak. Satu per satu om dan tante dari pihak bapak datang ke rumah untuk mengucapkan bela sungkawa. Agak miris menurutku, karena saat kami tidak ada apa-apa, mereka sama sekali tidak pernah mampir ke rumah untuk silaturahmi. Hanya saat hal ini terjadi saja, barulah mereka mulai berdatangan.


Tentunya semua adik bapak sudah mendapatkan pesan dari WA keluarga mengenai kondisi bapak yang terbaru. Karena itulah mereka sudah langsung mengontak kesana kemari dan menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk menyambut jenazah bapak datang ke sini. Rumah mbah akan kami gunakan sebagai lokasi penerimaan jenazah. Karena disana lebih luas dari rumah yang aku tempati bersama dengan keluargaku.


Bapak meninggal sekitar jam 7 malam. Dilihat dari jarak antara kota Bogor dan kota C. Kemungkinan besar bapak akna sampai saat tengah malam. Banyak sekali hal-hal yang harus dipersiapkan saat kondisi seperti itu. Hal yang paling penting adalah minuman dan juga kopi. Karena semua yang menunggu kedatangan orang tuaku adalah bapak-bapak.


Mereka paling tidak harus diberikan apresiasi karena sudah bersedia tengah malam begini, tidak tidur di atas ranjangnya yang empuk. Tetapi malah ikut bersama-sama menunggu kedatangan bapakku. Kulihat lebih banyak bapak-bapak yang menunggu daripada ibu-ibu. Karena beberapa keluarga cewek pergi ke rumah untuk menemani Yana. Karena ia sekarang sedang membutuhkan support system akibat kondisi saat ini.


Beberapa jam kemudian, terdengar suara sirine dari kejauhan. melihat waktu dan juga mobil ambulans yang datang. Kemungkinan besar itu adalah bapakku. Melihat mobil yang ditunggu sudah datang, juru parkir sudah siap untuk mengarahkan mobil masuk ke dalam rumah. Karena gerbnag rumah mbah cukup kecil sehingga mepet sekali saat ambulans mulai masuk.


Setelah Ambulans berhenti dengan sempurna. Pintu belakang ambulance mulai dibuka oleh petugas kemudian ia mulai menurunkan jenazah. Warga sekitar yang hadir semuanya membantu mereka untuk memindahkan mayat tersebut. Tentu saja, aku sebagai anaknya berada di barisan paling depan untuk membawa bapak.


Kami menurunkan bapak pelan-pelan kemudian mulai mengembalikan barang yang dimiliki oleh pihak ambulans yang tidak kami perlukan. Ambulans kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah sakit karena tugasnya sudah selesai.


Jenazah bapak akhirnya sudah sampai ke rumah. Terlihat kalau sekarang bapak sudah tertutup oleh kain dan kami sama sekali tidak bisa melihat wajahnya. Ada orang yang menawarkan kepada kami apakah ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Namun Yana menolak karena ia sudah ketakutan dan raut mukanya sudah sangat sedih. Sepertinya ia sudah tidak kuat kalau harus melihat wajah jenazah dari bapak.

__ADS_1


Semua tamu undangan pulang ke rumah masing-masing setelah mendoakan mayat bapak. Kami sekeluarga juga untuk kembali pulang untuk istirahat. Karena kegiatan untuk hari esok masih banyak sekali.


*Bersambung*


__ADS_2