
Selesai mampir ke sekolah, aku pergi ke bedeng untuk kembali menagih kontrakan. Kalau kalian ingat, orang tuaku mempunyai bisnis kontrakan. Sehingga sebagai anak aku membantu mereka untuk mengelolanya. Meskipun aku masih harus bolak balik dari Tangerang ke kampung halaman, yang menghabiskan waktu selama 2 jam. Aku tetap berusaha rutin paling tidak dua minggu sekali pulang pada jumat sore dan kembali ke Tangerang pada Minggu sore.
Waktu berlalu begitu saja, tidak ada hal spesial yang terjadi beberapa bulan berikutnya. Hingga… pandemi menyerang Indonesia.
Sudah sejak Desember tahun lalu\, isu tentang virus ini merebak di W*h*n. Banyak desas desus bermunculan. Apalagi mengenai kemungkinan Indonesia juga terdampak akibat Imlek. Karena pada momen itu\, orang cina dari Indonesia akan pulang ke negara mereka\, kemudian kembali ke Indonesia. Hal ini membuat para warga khawatir virus berbahaya itu akan menyerang Indonesia.
Hal itu karena mereka yang dari W*h*n sana\, pergi kembali ke Indonesia sehingga memungkinkan virusnya juga menyebar di sini. Sayangnya\, pemerintah kita sepertinya kurang siap untuk menghadapi masalah ini.
Terlihat dari beberapa statemen yang mereka keluarkan untuk menenangkan rakyat. Intinya mereka menganggap kalau Virus itu tidak akan ke Indonesia. Entah dengan alasan virusnya takut panas lah, beserta dengan alasan-alasan aneh lainnya. Namun ternyata, takdir berkata lain.
Dari satu restoran di salah satu kota besar, meluaslah wabah menjadi seluruh Indonesia. Banyak orang ketakutan dan tidak mau mengaku pernah melakukan kontak dengan orang yang terindikasi terkena virus.
Banyak orang bepergian tanpa adanya prokes yang baik karena masih awal awal pandemi. Pada akhirnya, seluruh Indonesia terkena dampaknya.
Tempat usaha pada ditutup untuk protokol kesehatan. Ekonomi terpengaruh, serta banyak orang yang terkena pemutusan hubungan kerja. Aku merupakan salah satu yang khawatir akan terkena juga dampaknya.
Untung nya untuk saat ini, aku masih bekerja secara normal dengan gaji secara normal juga. Awal pandemi, kantorku masuk seperti biasa. Namun lama kelamaan, akhirnya kami melakukan masuk secara bergiliran. Agar tidak membentuk kerumunan
__ADS_1
"Nanti saya buat ya, list untuk masuk nantinya. Jangan semuanya masuk secara bersamaan. Harus ganti gantian untuk menghindari kerumunan."
"Siap pak."
Beberapa Minggu semenjak hari itu. Kebijakan terus berubah ubah. Kadang masuk ke kantor, kadang kerja dari rumah. Lama lama, setiap harinya selalu saja online dirumah dan Tidak pernah ke kantor.
Awalnya aku mengira Indonesia hanya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk terhindar dari wabah ini. Namun ternyata sudah 3 bulan lamanya, belum ada perkembangan yang berarti.
Melihat situasi seperti itu, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman sambil kerja dari rumah. Karena ngapain di kontrakan sendirian kalau kerjanya ternyata di rumah juga. Waktu terus berlalu dengan kebiasaan hidup orang Indonesia berangsur-angsur mulai transformasi.
Beberapa bulan kemudian, aku merasa sayang sekali kontrakan tidak pernah dipakai tapi masih dibayar. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk melepas kontrakan dan mengambil semua barang-barang yang ada di sana. Sebelum yakin untuk keluar dari kontrakan, aku membicarakan hal ini dengan orang tua terlebih dahulu. Mereka setuju untuk hal itu karena sayang juga bayar mahal-mahal tapi kontrakan tidak pernah dipakai.
Semoga saja, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pada saat work from home (wfh), aku menggunakan laptop kantor yang aku bawa ke rumah. Pastinya aku harus menjaganya dengan baik karena ada banyak data perusahaan di sana.
Banyak orang yang stress karena tidak bisa keluar rumah karena pandemi. Namun aku beruntung sekali karena masih bisa bekerja serta pendapatan tidak terpengaruh oleh wabah yang sedang terjadi di Indonesia.
Namun seperti biasa, kalau tinggal bareng orang tua, pastinya banyak hal yang aku lakukan untuk mereka ketika membutuhkan bantuan. Sebagai anak yang berbakti, aku harus siap sedia kalau sewaktu-waktu orang tua membutuhkan bantuan.
__ADS_1
Hal yang tidak pernah aku lewatkan adalah menagih kontrakan. Kalau saat aku kerja di Tangerang, capek bolak balik setiap 2 Minggu. Saat pandemi, aku lebih mudah menagih mereka karena sudah tidak ke Tangerang lagi. Lebih dekat dan tidak capek karena sekarang sudah selalu standby di rumah akibat pandemi.
Energi perjalanan bisa dipindahkan fokus penuh untuk menagih kontrakan. Karena percaya atau tidak, menagih orang itu memerlukan energi dan kesabaran yang banyak. Serta komunikasi yang bagus. Karena tidak semua orang akan merespon dengan sopan saat kita menagih. Banyak kan kasusnya? orang yang ngutang malah suaranya lebih kencang dari yang nagih utang.
Apalagi saat bertemu dengan yang tunggakan ya banyak. Rasanya ingin aku pukul saja biar cepat bayar. Namun aku harus bisa bersabar karena menagih hutang juga harus dengan cara yang baik. Kalau dengan marah-marah, mungkin mereka nantinya akan bayar. Tapi kalau mereka bayar sambil ngomel kan jadinya gak enak juga.
Pandemi ini merubah segalanya. Pola hidup orang berubah, kebiasaan orang berubah, sehingga mendapatkan sebutan new normal. Entah berapa lama situasi ini akan berlanjut. Namun yang pasti, semua pihak harus bekerja sama untuk menangani pandemi yang terjadi ini. Kita tidak boleh hanya meminta pemerintah untuk mengatasinya. Rakyat juga harus ikut serta dengan menaati protokol kesehatan dan aturan yang dibuat untuk menanggulangi pandemi.
Orang jadi lebih sering menggunakan masker meskipun masih ada yang kadang bolong bolong juga maskernya. Kalian juga harus belajar cara menggunakan masker yang baik dan benar. Percuma kalau sudah pakai masker tapi cara memakainya masih salah. Harus lebih tertib saat mengantri dan juga harus jaga jarak, dan banyak perubahan lainnya.
Terasa sekali kalau saya bepergian, karena kapasitas penumpang dikurangi sebanyak 50 persen. Sehingga saat naik bus atau kereta, tempatnya menjadi seakan lebih luas, padahal hal itu karena orang yang naik berkurang.
Sempat ada isu katanya armada angkutan umum dikurangi agar orang tidak bepergian. Namun ternyata, malah menghasilkan masalah baru. Orang menjadi antri karena jumlah armada berkurang, namun jumlah calon penumpang nya tetap sama. Hasilnya, banyak yang protes akan kebijakan itu. Hal ini juga menimbulkan kerumunan yang tidak diinginkan.
Banyak negara tidak siap menghadapi wabah ini. Karena itulah, sebisa mungkin kita mencari informasi yang benar mengenai protokol kesehatan dan berhenti memberikan informasi hoax. Dengan kerja sama semua orang, Indonesia pasti menang melawan pandemi.
Jangan lupa untuk 3m. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Karena sejauh ini, cara inilah yang paling ampuh untuk melawan virus covid 19. Sambil menunggu nantinya ada metode yang lebih pasti untuk mencegah ataupun mengatasi pandemi.
__ADS_1
*bersambung*