Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 124 Positif Covid 3


__ADS_3

Setelah mendapatkan berita dari dokter bahwa semua orang di dalam keluarga positif. Aku, Arip, Lamda, dan juga Yana berusaha untuk isolasi mandiri dan beristirahat secara penuh agar bisa segera sembuh dari covid. Siapa sih yang ingin sakit terus menerus?


Pada momen ini, aku sama sekali belum pernah menerima vaksin. Karena itulah aku hanya melawan virus ini dengan antibodi normal yang aku miliki. Untuk saat ini, biarkan orang yang lebih membutuhkan mendapatkan vaksin terlebih dahulu. Aku bisa nanti kapan-kapan. Semoga saja meskipun kami belum mendapatkan vaksin. Kami sekeluarga bisa menghadapi ini semua dengan baik dan sembuh seperti sedia kala.


Sambil menanti kabar dari ibu, kami semua hanya istirahat di rumah dan saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak lupa minum obat. Meskipun masih belum ada obat ampuh untuk covid, studi menunjukkan kalau kita bisa meminum obat sesuai dengan gejala yang kita rasakan.


Contohnya kalau kita batuk dan terkena covid. Berarti kita tinggal minum obat batuk kemudian obat antivirus. Sebisa mungkin gunakan obat yang aman untuk diminum secara bersamaan. Serta pastikan kalau tubuh kita tidak memiliki riwayat alergi dengan obat. Karena kalau kita alergi dan masih paksa minum, bisa-bisa nantinya malam akan muncul masalah baru.


Beberapa jam kita menunggu, akhirnya datang juga kabar terbaru dari ibu.


“Anak-anak, dengarkan ibu baik-baik” Ucap ibu dengan nada serius terdengar dari balik telepon.


Saat aku mendapatkan telepon ini, mode telepon sudah diganti jadi mode speaker sehingga semua anak bisa mendengarnya secara bersamaan. Sekarang kami semua berada di ruang tengah sambil memperhatikan kabar apa yang akan ibu berikan.


“Bapak malam ini akan dikirimkan ke Bogor. Karena disini tidak ada ruang ICU yang kosong. Bapak membutuhkan ruangan tersebut dan tidak bisa menunggu antrian di tempat ini.”


Ibu menjelaskan lebih detail kalau antrian untuk masuk ICU sebanyak 9 orang. Daripada menunggu terlalu lama dan membahayakan kesehatan bapak. Ibu bersusah payah untuk mencari ruang ICU di rumah sakit lain. Meskipun sebenarnya memindahkan bapak keluar kota untuk mencari ruang ICU juga memiliki bahayanya sendiri.


Setelah mencari informasi kesana kemari, ibu akhirnya mendapatkan kabar dari Bule Yeni kalau ada ruangan yang kosong di rumah sakit Bogor. Mendengar hal itu, ibu langsung mengurus segala berkas yang diperlukan untuk pemindahan bapak ke rumah sakit di sana. Kami semua yang ada di rumah mendoakan agar semuanya berjalan lancar.


Saat jam 9 malam, ibu mendapatkan kabar kalau bapak akan segera mulai diberangkatkan. Mendengar hal itu, kami semua yang ada di rumah memaksakan diri untuk berangkat mengantar kepergiannya. Karena Bule Yeni memberikan tetuah untuk mengantarkan orangtua kita dan memberikan semangat. Kami semua akhirnya berangkat dengan mobil dengan Arip sebagai supirnya.


Dalam perjalanan, kami semua berusaha untuk menahan sakit dan akhirnya sampai ke rumah sakit dengan susah payah. Namun bukannya langsung mengantar bapak berangkat, kami malah harus menunggu berjam-jam sebelum bapak akhirnya berangkat.

__ADS_1


Selama menunggu, semua orang yang ada di mobil proses dan bertanya-tanya. Kapan sebenarnya bapak akan berangkat ke bogor. Setelah penantian yang panjang, akhirnya kami mendapatkan kabar saat sudah jam 2 pagi. Ibu menelepon ke hp ku dan aku mengangkat telepon tersebut.


“Mas, akhirnya bapak berangkat. Ayo segera ke pintu depan untuk mengantarnya.”


“Siap mah..Eh!??”


Saat menutup telepon, aku sempat kaget karena bapak jadinya berangkat dari pintu depan rumah sakit. Padahal sebelumnya kami mendapatkan informasi kalau bapak akan berangkat lewat pintu belakang.


“Arip, ayo segera pergi ke pintu depan. Bapak ternyata berangkatnya dari saya.”


“Siap mas.”


Mendengar kabar baru itu, kami langsung pindah dari parkir di pintu belakang, sekarang menuju pintu depan. Di jalan, kami juga mengatakan hal yang sama kepada om Maman yang juga telah bersiap untuk mengantar dengan mobil. Berbeda dengan adik-adik yang setelah pamitan dengan bapak akan pulang. Aku bersama dengan om Maman nantinya akan mengantar bapak ke bogor untuk ikut mengawal.


“Sebentar! jangan dekat-dekat ya. Takut menular nanti covidnya” Ucap salah satu petugas kesehatan mengingatkan kamik.


“Gak perlu mbak, sudah positif semua kok anak saya.” Ibu memberitahukan kepada petugas mengenai kondisi kami. Mendengar hal itu, petugas tidak melanjutkan larangan mereka dan membiarkan kami semua untuk mendekatkan diri ke bapak.


“Pada datang semua ya.” Ucap bapak dengan wajah terharu melihat kami semua.


“Cepat sembuh ya pah.”


“Papah pasti akan sembuh”

__ADS_1


“Hiks..Hiks.. Papah harus sembuh ya. Yana tunggu di rumah!”


“Cepat sembuh pah”


Aku, Arip, Yana, dan Lamda secara bergantian memberikan semangat kepada papah. Diantara kami, terlihat sekali kalau Yana yang paling care dengan bapak. Memang benar kata orang, kalau anak cewek itu dekatnya dengan bapaknya. Kami juga mulai mengatakan berbagai macam kata-kata semangat lainnya sampai waktu yang kami punya habis.


Melihat kami yang sudah selesai mengobrol, akhirnya suster melanjutkan pekerjaan mereka dan mengangkut bapak masuk ke dalam ambulans.


“Makasih ya semuanya sudah datang. Selain Ray, yang lain pulang saja ke rumah. Doakan papah cepat sembuh ya anak-anak”


“Baik mah!”


Setelah berkata sepatah dua patah kata, aku, ibu, dan om Maman naik kedalam mobil kemudian mulai mengikuti ambulans dari belakang. Sedangkan Arip dan yang lain pulang ke rumah dengan mobil.


Saat di dalam mobil, aku berbicara banyak hal dengan ibuku. Terutama mengenai pengalamannya merawat bapak selama beberapa jam ini. Dari keluarga kami, hanya ibu yang tidak di tes covidnya sejauh ini. Namun melihatnya selalu kontak dekat dengan bapak dan juga selalu merawat bapak. Besar sekali kemungkinan ia terkena covid. Ibu juga menceritakan gejala-gejala penyakit yang ia terima. Berdasarkan informasi tersebut, bisa dibilang kalau ibu ini 90 persen juga terkena covid.


Om Maman sebagai sopir mengenakan masker dan juga perlengkapan perlindungan lainnya. Karen jangan sampai ia sebagai supir ikut teler karena penumpangnya ini semuanya terkena covid. Omku ini sudah lihai dalam berkendara dan dapat mengikuti ambulans dengan baik dan benar.


Karena saat mengantar ambulans, kita mengikuti ambulans tersebut dari belakang. Setiap mobil yang ada di depan ambulans menyingkir satu per satu. Memang aturannya seperti itu. Saat mendengar sirine polisi, ambulans, ataupun pemadam kebakaran. Semua pengendara yang lain harus memberikan jalan.


Dengan metode ini, kami berhasil sampai ke Bandung dengan waktu yang relatif lebih cepat dari biasanya. Berbeda dengan saat mengantar mbah dulu, sopir ambulans kali ini sudah tahu jalan menuju RSUD Bogor. Akhirnya, kami telah sampai ke Bogor pada saat pagi harinya. Kira-kira, apa yang akan terjadi berikutnya?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2