Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 133 Tahlilan Bapak


__ADS_3

“Bapak-bapak dan ibu-ibu. Mari kita mendoakan agar beliau amal ibadahnya diterima di sisi-Nya” Ucap pak ustad sambil bersiap-siap untuk memulai sesi doa.


Saat ini aku masih berada di samping kuburan bapak. Tempat peristirahatan terakhir beliau. Ketika doa dimulai, aku bersama dengan peziarah yang lain mulai duduk langsung di atas tanah. Awalnya aku tidak mau melakukannya, karena duduk di atas tanah itu kotor. Namun melihat semua orang melakukan pose yang sama. Aku mengikuti mereka agar tidak terjadi konflik.


Lagipula kalau dipikir-pikir, agak kurang sopan juga berdoa sambil berdiri di atas makam. Kebanyakan semuanya mendoakan mayit di sana dengan posisi duduk.


“...” Pak ustad mulai membacakan doa yang kadang aku ngerti kadang nggak tahu itu doa apa. Sebagai pendengar yang baik, aku hanya meminta doanya dan membantu mengucapkan Aamiin saja.


“Alhamdulillahi rabbil alamin” Doa telah selesai. Pak ustad mulai memberikan sedikit ceramah saat doa telah selesai. Barulah kemudian, satu persatu dari peziarah pulang ke rumah masing-masing.


Aku sendiri bersama dengan keluargaku merupakan rombongan yang cukup terakhir pulangnya. Kami tidak bisa terlalu lama berdiam di makam, karena masih ada Bude Weni dan juga keluarganya masih menunggu kami. Setelah dari makam, kami kembali pulang bersama dan ngobrol sebentar. Baru ketika waktunya sudah pas, Bude bersama dengan yang lainnya pulang kembali ke Tangerang. Katanya karena mau ada pertandingan bola. Sehingga mereka tidak bisa berlama-lama di sini.


Bapak dimakamkan pagi hari dan kami sudah kembali ke rumah sekitar siang. Dari siang sampai sore hari. Kami banyak menerima tamu yang datang setelah mendengar berita mengenai bapakku telah tiada. Tentu saja, dari salah satu tamu yang datang adalah calon istriku, Uswa. Mengenai bagaimana aku bertemu dengannya dan seperti apa saja kisah kami. Akan saya bahas di lain waktu.


Untungnya si Uswa ini sebelum bapak meninggal sudah sempat bertemu dengannya. Pas satu bulan setelah bertemu, bapak jatuh sakit kemudian sekarang ia sudah meninggal. Ia bekerja sebagai guru TK dan juga mengajar bimbel sehingga jadwalnya cukup padat. Aku senang sekali ia masih ada waktu untuk datang berziarah ke rumah. Karena setelah ini, ia masih memiliki acara untuk mengajar anak-anak.

__ADS_1


Pada momen ini juga aku memperkenalkan kepada Bude Weni dan yang lainnya mengenai Uswa. Karena insyaAllah, dia nantinya juga akan masuk menjadi bagian dari keluarga kami. Tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menitan Uswa datang dan mengobrol dengan ibu serta saudara yang lain. Ia pamit karena masih ada kegiatan yang lain serta melihat tamu-tamu semakin banyak sehingga ia memberikan waktu untuk pengunjung yang lain.


“Hati-hati ya Uswa di jalan.”


“Iya kak, kakak juga etap sabar dan teguh ya. Sekarang kakak sudah menjadi laki-laki tertua di rumah.” Setelah melihat Uswa pulang bersama dengan omnya, aku kembali masuk ke dalam.


Rumah kami terus menerus kedatangan kamu hingga waktu maghrib datang. Setelah malam hari, barulah jumlah tamu berkurang dan akhirnya tidak ada lagi tamu yang datang. Hari ini kami masih belum akan melakukan acara Yasinan. Kalau di kota C ku ini. Setiap ada orang yang meninggal, dibacakan Yasin selama satu minggu lamanya.


Nantinya kami juga akan mengundang warga sekitar dan juga keluarga serta kerabat yang lain. Sehingga kami harus menyediakan snack, besek, dan makanan-makanan lainnya. Tentu saja aku sangat keheranan, baru saja kami dilanda musibah, kok harus mengurus beli makan seperti ini. Keluar lagi dong biaya, padahal bapak sebagai kepala rumah tangga baru saja telah tiada.


Memang saat melakukan persiapan acara Yasinan merepotkan. Namun saat melihat ada banyak orang yang mendoakan keselamatan bapak. Hatiku menjadi tersentuh dan senang sekali. Apalagi setelah Yasinan, kami juga masih harus stand by untuk menemani anak santri yang akan membaca alquran hingga khatam quran.


Seringnya sih, ibu yang nungguin. Kalau aku udah kecapean sehingga langsung tidur setelah Yasinan.


Saat acara mengaji, hanya aku dan Arip yang ikut. Lamda dan Yana menolak untuk ikut kegiatan tersebut. Sayangnya, Arip harus pergi kembali ke Jakarta karena pekerjaanya. Sehingga hari-hari berikutnya, aku sendirilah yang ikut pengajian.

__ADS_1


Terlihat sekali kalau ibu repot setiap hari harus menyiapkan makanan untuk acara Yasinan selama 6 hari berturut-turut. Beruntung ia tidak sendiri, ada saudara yang mau datang membantu. Ada juga momen saat Uswa juga datang untuk membantu ibuku. Sehingga ibu tidak terlalu kecapean pada saat ini.


Badan juga mulai lelah karena setiap malam harus mengaji hingga larut. Untungnya pada momen ini, tidak ada yang jatuh sakit dan semuanya berada dalam keadaan sehat. Di saat hari terakhir tahlilan, ada momen kami mengadakan acara makan-makan saat siang harinya.


Melihat hal ini, Yana marah besar karena menurutnya. Masa ketika bapaknya meninggal, malah orang kumpul-kumpul dan makan-makan seakan-akan merayakan kematian orang tua yang ia sayangi itu. Ibu dan aku berusaha untuk menasehati Yana untuk tidak berpikir seperti itu. Namun omongan kami sama sekali tidak ia dengar.


Aku sendiri juga sebenarnya keheranan, namun karena memang itu budaya di sini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Daripada kita nyari ribut dan tidak mengadakan acara tersebut, lebih baik kita bersabar dan menjalaninya dengan penuh senyuman. Meskipun dalam hatinya mungkin kita sedang bersedih.


Dari pengalamanku hidup selama 20 tahunan ini. Ada kalanya memang kita harus banyak bersabar. Sulit sekali bagi satu kelompok kecil seperti kami ini melawan budaya yang sudah mengakar sejak lama. Daripada kita repot dan sakit hati tidak terima dengan kegiatan ini. Lebih baik kita ambil sisi positifnya saja.


Dengan kita mengadakan acara makan-makan, paling tidak kita sudah memberikan sedekah makanan kepada saudara-saudara dan kerabat kita. Paling tidak kalau kita percaya, pasti Allah akan membalas yang lebih baik. Seketika perasaanku menjadi berbeda saat menghadapi kejadian ini. Baik atau tidaknya setiap kegiatan kadang tergantung dari persepsi kita saja. Kalau kita melihatnya baik, insyaAllah hal itu menjadi baik. Selama tidak melanggar aturan hukum dan agama yang berlaku.


Selesai mengurus yasinan bapak selama 7 hari. Kami sudah bisa bernafas sedikit lega. Karena kami sudah memiliki waktu istirahat dan tidak perlu untuk melakukan acara tahlilan setiap malam. Namun kegiatan tahlilan ini masih belum selesai. Di tempat kami, setelah 7 hari. Nantinya akan ada lagi acara pengajian setiap 40, 100, hingga satu tahun setelah kematian bapak. Jadinya setiap tahunnya, kami harus kembali mengadakan kegiatan ini.


Semoga saja pada saat itu tiba, kondisi rumah sudah lebih stabil sehingga kami bisa menjalani kegiatan ini secara rutin. Karena semakin banyak orang yang mendoakan keselamatan kita di alam sana, Insya Allah itulah salah satu cara bagi kita untuk berbakti kepada orang tua yang sudah tiada.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2