Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 119 Jalan-Jalan ke Villa 3


__ADS_3

*Saat pertama kali mengunjungi Villa*


Aku bersama dengan tante Ina sedang dalam perjalanan untuk booking empat dan juga makanan restoran. Karena ada cukup banyak orang yang akan makan di sana. Dengan terpaksa, aku sekarang sedang menyetir tante Ina menuju ke sana. Di perjalanan, aku melihat banyak hotel dan pantai bertebaran. Wajar saja, karena memang wilayah ini dekat dengan laut.


Ada banyak mobil yang aku lihat lalu lalang saat di jalan. Sebisa mungkin aku menyetir dengan kecepatan santai saja. Sehingga meskipun terjadi sesuatu, tidak akan ada kecelakaan fatal terjadi. Namun tetap saja, meskipun sudah berhati-hati. Kalau sudah waktunya kecelakaan, tidak ada yang bisa menghindarinya. Sepertinya yang terjadi dengan ku saat ini.


“Ray!! apaan sih kamu, nyerempet orang segala. Bisa nyetir gak sih!” Ucap tante Ina dengan marah-marah sambil melihat ke arah mobil yang diserempet.


“Ya, maaf tante” Aku tidak banyak omong dan hanya fokus menyetir saja, takutnya terjadi hal yang sama sekali lagi.


Awalnya aku mengira hanya keserempet sedikit saja. Namun nanti pada saat aku sampai di tempat tujuan, terlihat sekali kalau bagian yang terbaret cukup panjang dan besar.


Sambil ngomel-ngomel, kami melanjutkan perjalanan dengan nada yang berat. Sampai di restoran, tante Ina langsung turun dan mengurusi booking restoran. Tentunya sebelum memesan, ia melihat kondisi mobil dulu dan kembali memarahiku terlebih dahulu sebelum melakukan hal tersebut.


Sedangkan aku langsung membuka hp milikku dan menelepon ibu. Hal ini harus langsung dilaporkan kepada ibu. Siapa tahu dia ada solusi.


“Halo, ada apa Ray? sudah sampai di tempat makannya?”


“Sudah mah, tapi Ray mau cerita sebentar…”


Aku menceritakan apa saja yang terjadi sepanjang perjalanan. Ibu mendengarkan omonganku dengan seksama dan paham bahwa wajar ketika aku mengalami kecelakaan. Karena memang aku tidak terbiasa mengendarai mobil kopling. Tidak lupa aku juga bilang ke ibu kalau misalkan tante Ina minta ganti biaya servis. Nanti bilang aja kepadaku, pastinya aku akan membayar biaya tersebut.


“Ok deh kalau begitu. Hati-hati di  jalan. Gak papa ko Ray, pastinya kalau pengemudi ada saja  mengalami kecelakaan satu dua kali. Yang penting kamu selamat nak.”

__ADS_1


“Terima kasih mah”


Telepon aku tutup kemudian aku termenung sambil melihat ke arah pantai. Aku lega sekali setelah menceritakan semuanya kepada ibu. Karena kalau tidak, dimana lagi tempatku mengadu ketika susah. Jadi ingat ucapan salah satu tokoh di komik. “Jadi orangtua itu repot, karena mereka tidak ada tempat untuk mengadu. Karena orang yang biasa menjadi tempat curhat sudah tiada.”


“Ayo Ray. Berangkat lagi kembali ke villa.”


“Iya, tante”


Kukira tadinya tante akan mengambil kunci mobil. Ternyata malah aku yang tetap disuruh nyetir sampai kembali ke villa. Ternyata masih tidak mau pegang setir ini tante, padahal aku sudah nyerempet mobil tadi.


Sama seperti saat keluar Villa. Jalan keluar di tempat makan ini juga memiliki jalan yang menanjak. Sehingga tidak heran kalau aku sempat turun mobilnya karena berada di tanjakan. Untungnya jalanan dalam keadaan sepi. Sehingga tidak ada mobil lain yang tertabrak. Dengan bersusah payah, akhirnya aku berhasil kembali ke jalan dan berhasil pulang ke penginapan dengan selamat.


Entah ke siapa saja Tante Ina cerita, namun sepertinya semua keluarga sudah mengetahui kejadian ini. Aku jadi bahan bulan-bulanan sementara waktu akibat kejadian ini. Dasar kurang ajar, dia paksa aku nyetir. Kecelakaan, aib malah disebar-sebar. Harusnya kalau ada aib itu ditutup, malah ini berbuat sebaliknya.


Itulah yang terjadi saat aku pertama kali ke Villa ini. Pengalaman yang tidak menyenangkan bukan? Untungnya aku masih mau pergi ke tempat ini lagi. Semoga saja tidak akan ada lagi kejadian seperti ini.


Setelahnya, kami menyelesaikan acara dengan makan di tempat yang tadi sudah di booking oleh tante Ina. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing. Aku lupa apakah aku atau bapak yang memegang setir kemudi dalam perjalanan pulang. Kalau nyetir mobil keluarga mah, aku sudah familiar karena mobilnya matic.


*Masa sekarang*


kami kembali ke Villa setelah selesai menonton matahari terbit. Selain kami, ada juga beberapa anggota keluarga yang lain ikut menonton momen tersebut. Sampai di Villa, kami kembali melanjutkan kegiatan lomba sambil menunggu makan pagi datang.


“Makanan sudah datang, ayo yang mau makan, cuci tangan dulu” Ucap tante Yeni sambil menaruh makanan di atas meja makan.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar berita itu satu per satu langsung mengambil kotak dan mulai mencari tempat yang nyaman untuk mereka makan. Tidak mungkin kami makan dengan berdiri, lebih baik makan sambil duduk. Aku sendiri mengambil makan setelah berdoa dan juga mencuci tangan.


Selesai makan, kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan lomba seperti makan kerupuk, lomba kelereng, dan lomba-lomba berbau 17san lainnya. Aku sendiri seperti sebelumnya hanya menjadi penonton saja.


Beberapa Jam berlalu, tidak terasa waktu sudah hendak memasuki waktu siang hari. Matahari sudah mulai naik tinggi ke atas kepala. Rasa panasnya sudah mulai meningkat dan terasa menyengat di kulit. Kalau jemur baju yang basah, pastinya baju tersebut akan lebih cepat keringnya.


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini kami tidak makan siang bersama di restoran. Karena saat pertama kali ke Villa ini, kasus covid-19 belum terlalu marak. Namun saat ini, kasusnya sedang melonjak tinggi di Indonesia. Sehingga tante Yeni sebagai seorang dokter menolak dengan keras untuk mengadakan acara makan bareng di luar rumah. Kalau di dalam rumah sih, katanya gak papa.


Karena itulah kami pulang sambil membawa kotak makan siang yang sudah disiapkan. Aku, ibu, bapak, dan adik-adikku naik ke mobil setelah semua barang kami bawa kembali ke dalam mobil. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, pintu kamar villa kami kunci dan aku serahkan ke tante Yeni selaku panitia dari acara ini.


“Terima kasih atas waktunya kakak-kakak dan adik-adikku. Sekarang ayo kita hati-hati di jalan, dan semoga selamat sampai ke tujuan”


“Aamiin”


Setelah menutup dengan doa, kami semua pergi ke rumah masing-masing dengan kecepatan yang berbeda-beda pula. Kali ini kami pulang dengan Arip yang menyetir. Sedangkan aku berada di kursi penumpang depan untuk memberitahukan jalan. Perjalanan kami berjalan normal dan akhirnya kami sampai ke rumah dengan selamat.


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


Kami mengucapkan salam kemudian masuk ke dalam rumah. Bapak langsung pergi ke kamar mandi kemudian kami sebagai anak-anak memasukkan semua barang dari mobil masuk kembali ke rumah. Selesai menaruh barang, aku langsung istirahat rebahan di atas kasur.


“Akhirnya sampai juga ke rumah..bisa istirahat” Ucapku perlahan sambil perlahan masuk ke dalam mimpi. Acara pergi ke Villa akhirnya selesai dan aku bisa istirahat dengan nyaman di rumah sendiri. Rumahmu adalah istanamu.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2