
Setelah mendengar hal yang menarik itu, aku kembali mendengarkan cerita dari Pak Sabar mengenai pak Tian. Ternyata sebelum diriku, ia juga pernah melakukan hal yang sama dengan karyawan yang lain. Memang orang seperti ini gila kerja, namun empatinya sangat kecil. Sangat tidak cocok bekerja sebagai boss menurutku orang seperti ini. Pemberhentian kerja karyawan secara mendadak, ya panik lah mereka. Apalagi yang ada keperluan pokok setiap bulan.
Aku sendiri saat ini masih single sehingga tidak ada anggota keluarga yang menjadi tanggungan. AKu juga alhamdulillah tidak ada hutang sehingga aku aman-aman saja. Selain pekerjaan inti ini, aku juga memiliki penghasilan tambahan dari mengurus bedeng. Sehingga tidak sepenuhnya sumber pendapatan ku hilang total. Namun tetap saja, penghasilan terbanyak kerja di Elektronik Jaya ini sangat fatal kalau dipotong sekarang.
Apalagi kemarin aku baru saja mendapatkan kabar baik dari calon pasangan hidupku (Nanti akan dibahas di chapter tersendiri). Karena insiden ini, sepertinya waktu diriku untuk melepas masa lajang akan semakin bertambah. Semoga saja ia bisa bersabar hingga waktunya tiba. Tidak enak kalau terlalu lama membuat dia menunggu.
Selesai mengobrol dengan pak Sabar, saya pamit karena tidak ingin mengganggu dirinya yang memiliki pekerjaan lagi setelah inil. Tidak enak kalau aku kelamaan curhat sehingga tugas yang pak Sabar miliki tidak bisa dikerjakan. Aku pasti akan kangen masa-masa sebelum covid dimana aku sering shalat di masjid dan juga makan siang bareng bersama dengan pak Sabar.
Beberapa hari setelahnya, aku bolak balik dari rumah dan Tangerang. Satu sisi untuk mengurus dokumen pengalaman kerja. Satu lagi untuk mengurus barang-barang yang ada di kontrakan. Karena masih ada beberapa barang milikku yang belum dipindahkan dari sana. Maklum karena pemberitahuan kontrak tidak diperpanjang saja juga dadakan.
Kurang lebih satu minggu lamanya, akhirnya semua urusan di kantor Elektronik Jaya selesai. Aku juga sudah mengambil semua barang pribadiku yang ada di dalam kantor. Barang di kontrakan Tangerang juga sudah sepenuhnya saya ambil dan sekarang aku sudah kembali tinggal di rumah lagi bersama dengan orang tua.
Ada juga senang dan sedihnya tinggal bersama dengan orangtua. Hal yang paling enak adalah, aku sudah tidak perlu mencuci baju dan juga masak sendiri. Semuanya orang tua dan pembantu yang mengurusnya. Aku bisa fokus mencari kerja setelah pekerjaan yang satu ini selesai. Awalnya aku optimis akan bisa mendapatkan kerja dalam waktu dekat. Namun sepertinya, takdir berkata lain.
Dari waktu kontrak berhenti, hampir satu tahun lamanya barulah aku mendapatkan pekerjaan resmi lagi dan mendapatkan gaji. Namun sebelum sampai ke sana, ada banyak hal yang terjadi sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baru. Salah satu kejadian yang menarik adalah, aku melakukan donor darah.
Kenapa hal ini menarik? mungkin bagi sebagian orang hal ini lumrah dilakukan. Atau ada juga orang yang sama sekali tidak peduli dan tidak mau mendonorkan darahnya. Aku sendiri sebelum kejadian ini sama sekali tidak pernah melakukan kegiatan donor darah ini. Kejadian dimulai ketika aku sudah berada di rumah dan sedang browsing internet sambil mencari pekerjaan.
__ADS_1
[Ray, lagi di rumah kan? ke rumah sakit ya. Teman mamah ada yang butuh donor darah]
[Baik Mah, tunggu sebentar. Ray segera ke sana]
Kebetulan karena aku sedang tidak sibuk, aku langsung pergi menuju rumah sakit tempat ibu berada. Bapak sekarang semenjak mbah kakung meninggal, sering bolak balik rumah sakit untuk cuci darah. Kudengar hari ini ia juga sedang di rumah sakit untuk meminta donor darah. Karena hemoglobin di dalam darahnya berkurang, ia harus mendapatkan darah tambahan agar badannya tetap sehat.
Pada momen ini kebetulan kenalan ibu juga sedang membutuhkan darah. Golongan darahnya juga sama denganku. Karena itulah, aku setuju untuk mendonorkan darah kepada orang tersebut. Meskipun aku sama sekali tidak kenal siapa orang itu.
Dari rumah, aku berangkat menggunakan motor kesayanganku. Motor ini sudah menemaniku semenjak aku kuliah semester tahu, sudah lebih dari lima tahun ia ada di setiap momen kuliahku serta setiap aku menagih bedeng. Perjalanan ke rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 10 menit saja, aku sudah sampai di rumah sakit. Perjalanan juga lancar tidak ada kemacetan yang terjadi.
Rumah sakit yang aku kunjungi cukup besar dan merupakan salah satu RS yang dimiliki oleh BUMN di tempatku. Banyak orang yang memilih berobat ke sini karena fasilitasnya lebih lengkap dan juga jalannya lebih mudah diakses dibandingkan akses RS daerah. Kebetulan juga mbah langganan di tempat ini karena dahulu dia pernah masuk menjadi karyawan di perusahaan yang sama namun tidak di bidang kesehatan.
‘PMI…dimana lokasi kantor PMI? oh, ketemu! di sini toh rupanya.’ Beberapa menit setelah melihat peta, aku menghafalkan peta tersebut dan juga bertanya kepada satpam sekitar mengenai jalan yang harus aku tuju untuk sampai ke sana.
“Permisi pak.”
“Iya, ada apa?”
__ADS_1
“Mau nanya, kantor PMI sebelah mana ya?”
Dengan penuh senyuman ia menunjukkan secara jelas jalan yang harus aku lalui untuk sampai ke sana. Setelah bertemu kasih kepada petugas itu, aku langsung jalan kaki menuju ke tempat tersebut. Beberapa menit kemudian, aku telah sampai dan melihat ibu dan juga bapakku dari kejauhan. Aku melambaikan tangan kepada mereka kemudian mencium tangan mereka saat sudah sampai di tempat mereka berada.
“Sudah datang kamu nak. Ayo segera ke dalam untuk mengambil berkas dan juga tes tensi. Tadinya Mamah yang mau donor, tapi ditolak karena terlalu tinggi tensinya.”
“Baiklah mah.”
Aku memasuki ruangan depan kantor PMI. Di sana sudah ada petugas yang memberikan formulir yang harus diisi sebelum melakukan donor. Sebagai orang yang suka membaca, semua tulisan di formulir tersebut dibaca dengan seksama. Kemudian aku tanya kepada petugas mengenai bagian yang tidak jelas bagaimana cara mengisinya. Karena aku sangat tidak suka kalau ada data yang salah diisi, lebih tepatnya males nulis lagi. Lebih baik nulisnya rapi, jelas, dan tidak perlu berkali-kali mengisi formulirnya untuk menghemat waktu dan tenaga.
Setelah semua data diisi, aku menyerahkan kepada petugas dan mereka membacanya terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, ia mengeluarkan alat tensi yang sudah tidak asing aku lihat. Karena di rumah juga ada alat yang sama. Ibu dan ayah sering menggunakannya setiap hari dan saat kepala mereka mulai pusing. Mereka berdua memang memiliki riwayat tensi.
“Dites dulu ya pak”
“OK, silahkan mbak”
Petugas meminta dengan sopan tanganku untuk dilakukan pengecekan tensi. Aku penasaran, akan seperti apa hasil tensiku nanti. Semoga saja, hasilnya sesuai dengan ekspektasi.
__ADS_1
*Bersambung*