
“..” Aku terbangun dan melihat atap dari kamarku. Kulihat di sebelah, Arip masih tidur dengan posisi tidurnya yang khas, meringkel seperti kucing.
Saat sudah mulai terkumpul nyawaku, aku mulai menjewer tanganku dan aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.
“Jadi, yang kemarin bukan mimpi”
Aku sempat berharap kalau kejadian tadi pagi itu adalah mimpi belaka. Bapak sebenarnya sudah sembuh total dan baru saja pulang tadi pagi. Namun kenyataannya, ia sudah tidak bersama kami lagi. Sayang sekali aku belum bisa membahagiakan salah satu dari orang tuaku dan belum sempat memberikannya seorang cucu.
Bangun dari tidur, aku pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu di sana. Kemudian aku menjalani ibadah seperti biasa. Lalu aku pergi ke kamar adik dan juga ibuku untuk membangunkan mereka shalat subuh juga. Setelah itu aku langsung mandi dan langsung pamit untuk pergi ke tempat mbah.
Kata ibuku, dari pagi hari, sudah banyak orang yang lalu lalang datang untuk melihat jenazah bapak untuk terakhir kalinya. Karena nanti bapak akan dimakamkan sekitar jam 9 pagi. Itulah yang menyebabkan sudah banyak orang yang mulai berdatangan.
Aku merasakan segarnya pagi dan betapa dinginnya hari tanpa matahari belum memperlihatkan wujudnya. Betapa terkejutnya diriku saat sudah sampai ke tempat mbah, banyak orang yang datang untuk mendoakan beliau. Terharu sekali aku melihat situasi ini. Meskipun bapak menurut kau adalah orang yang pemarah dan galak. Namun ternyata cukup banyak orang yang respect dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Melihat mereka berbondong-bondong mendoakan bapak, aku juga melakukan hal yang sama dan mengaji di depan jenazah beliau. Hal ini terus aku lakukan sampai tiba waktunya aku minta gantian dengan Farhan karena aku ingin istirahat sebentar. Setelah ini nantinya akan ada banyak kegiatan. Mulai dari berangkat menuju tempat pemakaman, shalat jenazah, kemudian sampai menguburkan mayat bapak kembali ke bumi sebagai tempat peristirahatan terakhir. Aku harus menyiapkan stamina untuk kegiatan itu.
Baru saja aku masuk rumah, belum juga duduk. Aku mendengar suara hp ku bergetar.
“Siapa ini yang telepon?”
Kuambil hp dari kantong celanaku kemudian aku melihat kalau ibu sudah menelepon.
“Halo bu, ada apa?”
“Ray, itu cepat adik-adikmu yang masih leha-leha disuruh segera siap-siap. Sebentar lagi mobil jenazah bapak akan datang.”
“Hah? kok cepat sekali? bukannya masih satu jam lagi?”
__ADS_1
Ibu menceritakan karena di depan rumah sedang ada acara vaksin. Untuk menghindari kerumunan, diputuskan bahwa jenazah akan berangkat lebih cepat. Kemudian nanti akan dishalatkan di mushola dekat bedeng. Mendengar hal ini, aku langsung segera menyuruh Lamda dan Yana untuk bersiap-siap setelah aku menutup telepon dari ibu.
“Baiklah..Sepertinya aku harus menghubungi Bude Weni”
Aku segera menelpon Bude Weni. Karena seingatku, ia juga ingin mengiringi bapak ke makam. Telepon baru nyambung saat aku sudah menghubungi untuk kedua kalinya.
“Ada apa Ray?”
“Bude, ini ternyata sudah mau berangkat ke makam. Bisa tidak segera ke rumah sekarang berangkat bareng. Sekalian nanti kami menunjukkan jalan ke makam.”
“Yang benar!? Ok, Bude segera kesana” Ucap Bude Weni sebelum menutup telepon.
Memang tadinya kami memberitahukan Bude kalau waktunya masih satu jam lagi sebelum berangkat ke makam. Namun karena situasi darurat, jadinya harus berangkat lebih awal.
Tidak perlu menunggu lama. Beberapa menit kemudian, aku melihat mobil Pakde Tarno sudah datang. Melihat kendaraan kita sudah datang, aku bersama dengan ibu dan saudara yang lain juga bersiap-siap untuk naik ke mobil. Arip tidak ikut bersama kami karena ia sudah duluan ikut dengan rombongan pergi ke MUshola.
Kami semua naik kedalam mobil kemudian mulai berjalan menuju kuburan. Dari rumah kami, setidaknya butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke sana. Untungnya jalanan menuju ke makam tidak terlalu macet layaknya di kota-kota besar. Lalu lintas lancar jaya. Namun ada kurangnya, jalan menuju makam cukup sempit sehingga kami cukup kesulitan mencari parkir kalau menggunakan mobil.
Sampai pada akhirnya, kami parkir di tempat yang cukup jauh dari pemakaman. Sisa perjalanan harus kami lalui dengan berjalan kaki.
“Benar di sini tempatnya?” Tanya Pakde Tarno sambil melihat ke sekitar.
“Betul pak De, habis dari sini tinggal jalan kaki.”
Aku, Lamda, Yana, Bude Weni, Pakde Tarno, dan ibuku turun dari mobil. Kami mulai jalan menuju tempat jenazah bapak akan dikuburkan. Perjalanan kami lalui dengan melakukan obrolan ringan karena jaraknya lumayan jauh dari tempat parkir mobil.
Sampai di kuburan, aku melihat sudah ada lubang kubur untuk bapakku tempati nanitnya. Berbeda dengan mbahku, bapak sudah bebas dari covid sehingga akan dimakamkan dengan cara biasa. Tidak memakai peti mati seperti procedure covid. Sempat kulihat ke dalam dan aku jadi merasa sedih karena inilah tempat istirahat terakhir bapakku. Kita juga harus ingat, pada akhirnya, kita semua akan kembali ke tanah jika waktunya telah tiba.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, akhirnya jenazah sudah terlihat sedang dibawa oleh rombongan. Mereka semua baru saja melakukan shalat jenazah di mushola, barulah mereka pergi ke tempat ini. Saat mereka sudah terlihat, aku juga siap-siap mengambil posisi tidak jauh dari lubang kubur. Karena nantinya, aku akan ikut turun ke sana bersama dengan Arip.
Sambil membawa jenazah, ada iringi-iringan yang mengucapkan banyak doa-doa sambil berjalan ke arah kuburan. Ketika sudah sampai, mereka menurunkan mayat secara perlahan-lahan dan mulai membuka penutup jenazah sampai bapak hanya tersisa kain kafan saja.
Saat semua sudah dibuka, seluruh keluargaku tidak kuasa untuk menahan tangis. Sekarang bapak sudah seperti pocong, wajahnya sudah pucat dan mata telah tertutup. HIdungnya juga sudah tertutup oleh kapas. Ketika jenazah sudah siap untuk dimasukkan. Salah satu dari petugas makam mempersilahkan kepada keluarga untuk mulai memasukkan jenazah ke dalam.
“Keluarganya mana? ada? anaknya bapak xxx?”
‘Ada, hadir!”
“Satu lagi siapa?”
“Hadir”
Aku dan Arip langsung maju untuk masuk ke dalam kuburan Kami ditemani oleh salah seorang petugas makam untuk membawa myat bapak masuk ke dalam kuburan. Perlahan-lahan, aku menuruni tepi lubang dan akhirnya sampai ke dasarnya.
Lubangnya cukup dalam, kira-kira hampir setinggi dua meter. Terlihat dari kepalaku saja masih agak jauh dari dasar tanah. Ketika semua sudah siap, perlahan-lahan mayat diturunkan ke bawah. Lalu kami bertiga yang ada di bawah mulai mengambil alih dan perlahan-lahan memasukkan bapak kelubang yang sudah disiapkan.
Posisiku berada di tengah sehingga di depanku adalah badan bapak. Saat mayat sudah berhasil masuk. Kami semua yang ada di bawah melepaskan tali pocongnya satu per satu. Kemudian kami mengatur posisi mayat agar pipi kanannya menyentuh tanah. Setelah semua beres, aku pindah posisi ke arah kepala untuk memberikan adzan dan juga iqamah di telinga bapak.
“Allahuakbar..Allahuakbar” Aku mulai mengumandangkan adzan sambil berusaha untuk menahan air mata agar tidak tumpah. Kudengar dari saudara yang ada di tas semuanya memberikan semangat agar aku tetap tegar dan menyelesaikan adzan dan iqamah ini.
Beres mengumandang Adzan dan Iqamah. Papan kayu yang sudah disiapkan mulai diturunkan satu per satu. Kayu ini digunakan untuk menutup lubang tempat bapak berada saat ini. Setelah posisi kayu telah tepat. Petugas yang ada di atas kuburan mulai memasukkan kembali tanah ke dalam kubur.
Kami yang masih ada di dalam tentu saja kecipratan tanah yang mulai kembali menutupi lubang. Ketika tanah sudah sampai menutupi semua kayu, barulah kami yang ada di bawah pergi ke atas untuk kembali ke permukaan. Setelah sampai di atas, aku kembali melihat bagaimana makam bapak mulai terbentuk dari yang tadinya lubang. Menjadi sebuah gundukan tanah seperti kuburan yang lain.
*Bersambung*
__ADS_1