Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 96 Mbah Meninggal 2


__ADS_3

Kami berIringan jalan dari mobil jenazah menuju makam. Kurang lebih 5 menit kami habiskan berjalan untuk sampai ke sana. Saat mencapai area kuburan, aku melihat sudah banyak orang yang datang untuk melihat prosesi pemakaman. Tukang gali kubur juga sudah siap untuk menguburkan jenazah.


“Pelan-pelan taruh di sini. Angkat secara perlahan, kemudian..”


Terdengar suara keras tukang gali kubur dan pak ustad memberikan instruksi untuk menurunkan jenazah. Karena berbeda dengan penguburan normal. Dikubur dengan peti membuat mayat lebih berat dari biasanya. Kemudian lubang kuburan juga lebih dalam dari pada pemakaman secara normal. Saat melihat ke lubangnya saja badanku sampai merinding.


Karena entah kenapa aku saat melihat dari ketinggian merasa badan menggigil. Bisa jadi karena aku ternyata takut dengan ketinggian, atau karena ada rasa dorongan untuk terjun ke bawah. Bagaimanapun juga, aku harus extra hati-hati saat berada di ketinggian. Kalau tidak, aku bisa kehilangan kesadaran nantinya.


Banyak sekali orang yang membantu menurunkan peti jenazah. Mungkin bisa sampai 5 orang lebih. Mereka semua juga masing-masing menggunakan APD agar tidak bersentuhan langsung dengan mayat mbah. Ketika peti berhasil ditaruh secara perlahan ke dalam kuburan. Semua orang yang berada di dalam kuburan secara tertib keluar dari lubang tersebut.


Karena lubangnya cukup dalam, mereka semua membutuhkan bantuan dari orang yang berada di atas untuk naik ke permukaan. Setelah memastikan semua aman, tukang gali kubur secara berirama memasukkan kembali pasir ke dalam makam. Saking dalamnya lubang tersebut, mereka perlu bergantian karena kelelahan saat menutup lubang kembali.


Apalagi seorang yang di awal boleh mengurus kuburan adalah yang mengenakan APD. Sehingga mereka lebih cepat merasa engap dan kesulitan bernapas. Beberapa menit setelah mereka menutup lubang, akhirnya diputuskan kalau sudah aman dan tidak perlu APD lagi untuk merapikan kuburan.


Sontak tukang gali yang tidak mengenakan APD langsung maju ke baris depan. Dengan tambahan personil. Prosesi penutupan tempat peristirahat terakhir mbah itu menjadi lebih cepat selesai. Setelah lubang makam tertutupi oleh tanah, para tukang merapikan gundukan tanah untuk menandakan kalau ada jenazah di sana.


Nisan yang sekarang masih berupa kayu juga sudah di tancapkan bersamaan dengan ditutupnya lubang kuburan. Pak ustad langsung memulai memimpin doa setelah melihat para tukang selesai mengurusi makam. Aku dan keluarga mengikuti doa yang ustad panjatkan.


Beberapa ada yang berdoa sambil berdiri, ada juga yang berdoa sambil duduk. Namun entah karena kesepakatan bersama atau apa. Perlahan semua orang yang berdiri mulai berdoa dengan cara duduk di atas tanah. Padahal tidak ada kursi atau apapun, duduk langsung beralaskan tanah saja.


Tentunya aku juga melakukan hal yang sama dan kembali membacakan doa sesuai dengan arahan pak ustad. Pantat aku dudukan di atas sandal. Daripada langsung kena tanah, lebih baik aku duduki sandal yang aku pakai.

__ADS_1


“Aamin ya Rabbal Alamin”


Doa telah selesai dibacakan, kemudian semua keluarga secara bergantian menyirami kuburan dengan air yang sudah disiapkan. Kurang lebih ada 3 botol air mineral yang berisi masing-masing 1,5 liter air. Tentunya semua air tersebut sudah didoakan terlebih dahulu sebelum disiramkan ke makam.


Semua anggota keluarga mulai dari om tante, keponakan dan juga aku kebagian untuk melakukan proses siraman. Bapak yang sepertinya sudah pegal sempat menolak untuk melakukan hal tersebut. Namun berkat bujukan dari ibu, akhirnya ia bersedia untuk melakukannya.


“Ngapain sih, nyiram-nyiram kuburan?” Ayah mengatakan hal itu dengan nada agak tinggi.


“Pak, ini tempat istirahat terakhir bapak, masak gak mau dimandikan untuk terakhir kalinya?” Ucap sang ibu untuk membujuk bapak.


Setelah beres menyirami makam. Perlahan satu persatu dari orang yang ada di sini berpamitan untuk pulang ke rumah. Karena ini hari Jumat, cukup banyak yang bisa datang ke pemakaman mbah kakung. Banyak dari kantor membolehkan untuk kerja setengah hari pada hari jumat. Hal ini mengakibatkan banyak orang yang bisa hadir ke pemakaman Mbah.


“Ayo Ray, pulang. Pamit ke om dan tante dulu.”


Ibu sudah memberikan arahan untuk pulang. Aku dan yang lain berpamitan dengan om dan tante satu per satu.


“Pamit dulu Om.”


“Iya Ray, makasih ya udah datang.”


Setelah beres berpamitan, kami semua kembali ke mobil untuk istirahat ke rumah tercinta. Sampai dirumah, aku masih gak kebayang kalau mbah kakung sudah tiada. Untuk Mbah putri sudah meninggal saat aku kuliah di Jogja. Waktu itu aku tidak sempat hadir ke pemakaman beliau, karena waktu perjalanan dari Jogja ke rumah cukup jauh. Meskipun aku paksa pulang, tidak mungkin akan sempat mengikuti sesi pemakamannya.

__ADS_1


Entah beruntung atau tidak, proses kerja yang WFH ini membuatku bisa menghadiri acara pemakanan mbah karena aku kerja di rumah. namun di lain sisi, pandemi jugalah yang menyebabkan mbahku tidur untuk selamanya. Entah sampai kapan situasi akan seperti ini, semoga saja aku bisa beradaptasi dengan cepat untuk hal ini.


Aku memanfaatkan waktu yang ada untuk istirahat sebisa mungkin. karena nanti malam aku akan melakukan yasinan untuk mbah. Selama 7 hari ke depan aku akan menani bapak untuk yasinan di kediaman mbah setiap malamnya. Memikirkannya saja sudah membuat tubuhku lelah. Namun aku harus tetap semangat, karena ini untuk mendoakan mbah, semoga beliau mendapatkan tempat terbaik disisi Nya.


Malam hari tiba, aku memastikan berkali-kali kalau acara dimulai setelah shalat isya selesai. Mungkin sekitar pukul 19.30. Untuk yasinan pertama, kami semua berangkat kecuali Lamda dan Yana karena mereka masih kecil. Mau tidak mau aku dan Arip sebagai perwakilan anak harus berangkat untuk menemani bapak berangkat yasinan.


Sampai ke sana, acara belum mulai karena kami masih menunggu yang lain untuk datang. Karena beberapa orang masih shalat di masjid baru berangkat ke tempat ini. Namun semua orang yang datang diberikan masker karena ini merupakan protokol yang harus dipatuhi. Beberapa menit menunggu, akhirnya orang-orang sudah pada datang dan pak ustad juga sudah siap untuk memulai acara.


“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih untuk bapak dan ibu yang telah menyempatkan waktunya untuk acara pengajian …. bin …. . Semoga doa kita akan diterima dan beliau akan ditempatkan pada tempat terbaik di surga. Aamiin ya rabbal alamin.”


MC diam sejenak kemudian berkata “Sebelum memulai doa, saya serahkan kepada Bapak … selaku anak tertua dari almarhum untuk memberikan sambutan.” Pak ustad memberikan mic kepada bapakku karena ia anak yang tertua.


Bapak memulai sambutan dengan penuh hikmat dan semua orang mendengarkan dengan baik. Memang dari apa yang ia ucapkan, tidak terlihat kalau ia bersedih atas kepergian mbah. Namun aku yakin, dari dalam lubuk hatinya ia juga merasakan kesedihan yang mendalam.


Selesai memberikan sambutan, kami lanjutkan prosesi doa dengan pembacaan surat yasin kemudian dilengkapi dengan doa-doa.


“Aamiin ya rabbal alamin”


Setelah doa selesai, semua panitia sibuk untuk membagikan sembako kepada peserta pengajian. Aku dan Arip juga membantu mereka karena di luar dugaan, banyak sekali orang yang datang untuk mendoakan mbah kakung. Beres membagikan sembako, aku pulang bersama Arip sambil membawa besek untuk dibawa pulang.


Bapak masih menetap di tempat pengajian karena ia masih mau ngobrol dengan ustadz serta adiknya yang lain. Aku tidak menyadari kalau momen ini adalah dimana kondisi bapak akan mulai memburuk. Karena sama sekali tidak ada pertanda dan hal ini terjadi secara tiba-tiba. Mirip seperti pandemi yang terjadi di berbagai negara. Tidak banyak negara yang siap akan pandemi yang baru ini. Diriku pada saat ini masih belum mendapatkan feeling apa-apa mengenai apa yang nanti akan menimpa ayahku.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2