
“Sudah sampai di Restoran seafood. Kita akan makan malam ditempat ini. Silahkan untuk para penumpang harap turun dengan tertib. Kemudian duduk dengan tenang sambil menunggu pesanan datang.” Ucap salah satu pemandu yang berada di depan bus.
“emm?…” Aku terbangun kemudian melihat ke arah jendela.
Benar saja, kami sudah tidak berada di dalam area GWK lagi. Kali ini kami berada di daerah restoran yang berada di dekat pantai. Restoran seperti ini pastinya menyediakan makanan seafood. Masa iya restoran dekat laut malah menyajikan makanan dari gunung.
Berbeda dengan restoran indoor, restoran ini menyediakan tempat makan secara outdoor. Alhasil meja dan kursi di luar ruangan sudah disiapkan. Sambil menunggu makanan datang, semua orang pergi ke pantai untuk berfoto sendiri maupun berkelompok. Aku termasuk orang yang ikut berfoto.
Sama seperti sebelumnya, karena tidak membawa baju ganti, aku tidak berani untuk nyebur ke air terlalu dalam. Cukup sampai mata kaki saja menerima air laut ke tubuh ini. Mumpung aku jarang ke pantai, momen ini tepat sekali untuk berkumpul bersama keluarga kemudian mengambil banyak foto bersama.
“Makanan sudah datang, rombongan dari … silahkan ke tempat makan yang sudah disediakan.” Salah satu pelayan restoran memberikan pengumuman menggunakan toa agar terdengar. Karena suara biasanya terpecah oleh ombak, sehingga teriak tanpa alat akan sulit terdengar dari jarak jauh.
Semua orang yang bermain di pantai langsung kembali ke restoran. Dengan duduk di atas kursi beralaskan pasir. Hal ini membuat keseimbangan agak sulit untuk dikendalikan. Karena semakin besar orang yang duduk, kursi akan semakin terpendam ke dalam pasir. Pengalaman yang unik namun kalau bisa jangan sering-sering. Karena ngeri-ngeri sedap takut jatuh terjungkal akibat dari pasir.
Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu nanti yang tidak nahan. Namun kalau duduk tanpa goyang-goyan, seharusnya insiden itu tidak akan terjadi. Menu kali ini terdapat banyak seafood seperti ikan bakar, cumi tepung, serta udang tepung. namun bagi yang tidak suka ikan, ada juga ayam goreng untuk mereka.
Sampai heran kenapa masih ada saja orang yang tidak suka ikan, mungkin karena takut melihat mata mereka? Kudengar ada juga yang gak suka ikan karena alergi, baunya yang asin, dan berbagai macam hal lain. Untungnya aku sendiri tidak pernah mengalami masalah saat menyantap ikan. Mungkin durinya saja yang harus hati-hati, jangan sampai tertelan.
Puas menyantap makan malam yang nikmat, kami mampir ke tempat oleh-oleh sebelum kembali ke penginapan. Memang pemandu tur kali ini sering belok ke tempat oleh-oleh. Mungkin karena mereka akan mendapatkan komisi setiap melakukan hal itu. Namun menurut saya ini hal yang sangat membuang waktu, apalagi bagi yang tidak berniat membeli oleh-oleh seperti aku.
Sampai ke penginapan, sama seperti kemarin. Malam ini kami mendapatkan jatah bebas untuk pergi kemanapun. Karena besok merupakan hari terakhir kami berada di Bali, malam ini merupakan kesempatan terakhir untuk nongkrong malam-malam di pulau dewata ini.
__ADS_1
*tok tok tok*
“Mas Ray, mau jalan-jalan gak? bapak dan ibu ngajarin keluar tuh” Suara adikku, Yana terdengar dari luar pintu.
“Mau dong, kalian berdua gimana?”
“Mau mas”
“malas sih mas, tapi gak papa, aku mau ikut”
Arip semangat untuk ikut sedangkan Lamda sepertinya kecapean namun memaksa untuk ikut. Badanku juga sebenarnya lemas ketika akan pergi malam ini, karena tubuh ini rasanya pengen sekali untuk istirahat di atas kasur yang empuk. Namun karena ini momen langka, jalan malam-malam di bali. Tidak ada salahnya untuk memaksa diri untuk malam ini.
Kami keluar kamar kemudian berjalan kaki untuk mencari tempat makan lagi. Bapak masih ingin sekali memakan seafood karena tadi makanya kurang puas. Ibu dan adik-adik yang lain hanya bisa geleng kepala saja. Beberapa menit kami berjalan, bapak dan ibu yang berumur sudah mulai terasa lelah, namun tempat makan yang dituju masih belum terlihat.
Hebat sekali, jalan sempit seperti ini masih ada taxi yang rela untuk lewat. Memang taxinya kecil namun berani sekali melewati jalan seperti ini. Semua keluarga setuju untuk naik ke dalam taxi secara bersamaan.
Sayangnya karena jumlah dan berat badan keluarga kami terlalu berat. Terasa sekali taxi yang kami tumpangi lebih turun dari biasanya. Apalagi ketika sedang melewati polisi tidur, jelas terdengar sekali bagian bawah mobil tergores oleh gundukan itu. Untung supir taxi hanya bisa tertawa kecil saja karena ia membutuhkan uang dari kami sebagai penumpang.
Kami akhirnya sampai ke sebuah restoran yang direkomendasikan oleh supir taxi. Dalam perjalanan, aku melihat banyak sekali orang yang sedang dugem di pinggir jalan. Memang benar katanya kalau tempat ini banyak sekali midnight party. Aku juga sempat melihat beberapa restoran umum seperti Mec dan KPC.
Kalau aku pikir-pikir, ngapain jauh-jauh ke bali makanya tetap ke fast food? mumpung lagi di bali, kami mencari makanan khas dari bali.
__ADS_1
Restoran kali ini kurang lebih restoran cina yang menjual beraneka macam seafood. Namun anehnya kok parkiran sepi? karena biasanya kalau restoran enak, ngantrinya pasti panjang. Seperti yang terjadi di negara sakura.
Namun karena kami tidak mengetahui persis mengenai daerah ini, hp ku juga cukup lemot kalau dipaksa untuk searching secara cepat. Mau tidak mau kami masuk ke restoran di depan mata kami.
Melihat menu dan suasana dari restoran ini cukup lumayan menjanjikan, dengan meja berbentuk melingkar dan ada putaran di tengah meja. Biasanya kalau di film komedi, puteran di meja ini yang akan menjadi bahan untuk bercandaan.
Kami memesan beberapa makanan seafood yang biasa kami makan seperti kepiting, udang, dan cumi. Semua makanan itu enak namun aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda dengan ketika beli di pinggir jalan di kampung halaman. Yang beda hanya adanya meja putar dan alat khusus untuk memecahkan kulit luar kepiting.
*Selesai makan*
“Ini bu, total biayanya” Petugas kasir memberikan struk kepada ibu.
Betapa kagetnya diriku ketika melihat total biaya kami makan mencapai satu juta rupiah!! ingin rasanya aku teriak ‘Hei, apa-apaan harga ini!?’ Namun dilihat dari menu yang kami baca, memang harga di tempat ini kurang lebih segitu. Apalagi kami berenam. Aku benar-benar merasakan sia-sia makan di tempat mahal seperti ini.
Perasaan ini juga kurasakan saat makan masakan cina saat kuliah dulu. Masa sekali makan untuk 8 orang bisa habis 800 ribu rupiah. Tidak masuk akal menurut saya. Namun apakah ini hanya aku saja? atau ada orang lain yang juga merasa seperti itu? Nasi telah menjadi bubur, mau tidak mau kami harus membayar makanan yang kami santap.
Untungnya ibu tidak panik dan tetap membayar dengan tenang. Ibu tidak pernah mempermasalahkan biaya untuk makan malam ini. Karena dia tahu, semua ini adalah keinginan suaminya tersayang. Ditambah lagi, kemungkinan besar kami tidak akan kembali ke tempat ini lagi. karena kampung kami cukup jauh dari Bali.
Puas makan malam ronde kedua, kami akhirnya kembali ke penginapan dengan taxi yang tadi kami tumpangi. Aku memaksa badanku yang lelah untuk pergi ke kamar hotel dan mengunci pintu. Kemudian aku menyetel film di televisi hotel dan menontonnya bersama dengan Arip dan Lamda.
Setelah beberapa menit menonton, aku tidur duluan karena badan sudah lelah. Entah Arip dan Lamda yang sekamar denganku juga tidur dengan waktu yang sama denganku atau tidak. Nyaman sekali akhirnya bisa tidur di kasur hotel.
__ADS_1
Senang sekali hari ini bisa pergi ke tempat wisata yang terkenal. Gedungnya cukup besar bahkan dari jauh saja masih bisa kelihatan patung yang tingginya berpuluh-puluh meter itu. Memang beda rasanya melihat di foto dengan secara langsung. Kira-kira besok akan pergi ke maan lagi rombonganku? Besok adalah hari terakhir kami ke Bali. Tidak terasa sebentar lagi kami harus kembali pulang dan menjalankan rutinitas seperti biasa.