Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 145 Kota P


__ADS_3

Perjalanan dari kota Tangerang menuju kota P akhirnya kami mulai. Dengan badan yang sudah bertenaga setelah istirahat, kami dengan mantap memulai perjalanan kembali menuju salah satu tempat tujuan kami. Kali ini kami akan menuju kota P yang kira-kira memerlukan waktu sekitar 8 jam. Karena dari provinsi Banten kami menuju ke Jawa Tengah bukan merupakan jarak yang dekat.


Ratusan kilometer jauhnya kami lewati untuk menuju tempat Yana akan masuk sekolah. Karena ini adalah pertama kalinya Yana pergi ke sana. Kami sekeluarga bersedia untuk mengantarkan dirinya. Namun untuk kedepannya, semoga ia bisa berangkat sendiri dengan menggunakan kendaraan umum. Untuk meringankan beban kami dan juga ongkos menjemputnya ke sana.


Tersedia beberapa media transportasi seperti travel ataupun kereta dari kota P menuju kota C ataupun kota Jakarta. Kalau dia sudah berani. Kapanpun waktu bisa ia gunakan untuk pulang kembali ke rumah menggunakan transportasi umum. Tidak perlu kami capek-capek pergi ke saan untuk menjemputnya. Namun entah kapan hal itu bisa terjadi. Karena ia anak cewek dan juga merupakan adikku. Sampai sekarang aku masih melihatnya seperti ia masih kecil dan baru saja lahir. Karena dari bayi aku sudah melihat perkembangan Yana sampai sekarang sudah menjadi dewasa dan masuk ke bangku kuliah. Mungkin ini juga perasaan orangtua saat melihatnya anaknya. Selalu melihat anak kalau ia masih kecil, meskipun umurnya sudah dua puluhan tahun.


Selama perjalanan aku habiskan dengan mendengarkan lagu ataupun podcast dari Hp. Kemudian mengobrol dengan mas Darius ataupun Pakde Tarno kalau mereka memulai sebuah topik pembicaraan. Perjalanan kami menuju kota P tidak bersama mas Deva lagi karena ia harus melakukan sekolah online. Ditambah dengan kursi yang sudah tidak muat akibat digunakan untuk membawa barang. Sekarang kami hanya bertujuh naik di dalam mobil ini.


Meskipun itu juga sudah cukup sesak karena Yana harus dipangku oleh orang lain. Karena sudah tidak ada tempat lagi. Sepertinya memang sebenarnya aku harusnya sering latihan mobil. Agar lebih jago lagi dalam mengemudi. Kalau nanti sudah jago, aku bisa membawa Ibu pergi keluar kota. Walaupun aku tidak suka keluar rumah, namun kalau ibu minta dianterin, sebagai anak yang baik, tidak boleh menolaknya tanpa alasan yang benar.


Perjalanan berjam-jam itu kami lakukan tanpa mengganti supir. Mas Darius masih kuat sebagai supir tanpa perlu melakukan pergantian pemain. Aku juga tidak enak tidur begitu saja saat tahu sopir masih berjuang untuk mengendarai mobil yang kami naiki. Namun apa daya terkadang rasa kantuk tidak terelakkan dan aku kadang tidur kadang bangun sepanjang perjalanan. Tidurnya seperti tidur ayam gitu, bangun tidur lalu tidur lagi.


Anehnya, setiap kita tidur di dalam mobil. Sama sekali tidak membuat badan terasa enak. Terkadang malah terjadi sebaliknya. Badan malah semakin capek. Memang lebih ideal kalau kita tidur di atas ranjang yang empuk.


“Yana, kemana lagi arah kampusmu?” Tanya Pakde Tarno kepada Yana.


Kami saat ini sudah mencapai wilayah kota P. Sekarang kami hanya tinggal mencari dimana kampus Yana berada. Kemudian kami harus mencari kontrakan yang dekat dari sana agar Yana tidak terlambat masuk kuliah. Kontrakan yang terlalu jauh justru akan merugikan dirinya sendiri nantinya.


Kamus yang kami datangi adalah kampus kedokteran. Sama seperti kampus lainnya, kampus P ini juga memiliki gedung yang berbeda untuk prodi yang berbeda. Seperti contohnya Yana yang masuk kedokteran memiliki lokasi yang berbeda dari beberapa prodi lainnya.


Bukan kenapa-kenapa, biasanya kampus seperti ini dibangun secara bertahap. Bangun satu gedung sedikit jurusan terlebih dahulu. Barulah ketika sudah memiliki kemampuan yang cukup, mereka membangun gedung baru untuk menambahkan jurusan yang baru di kampus mereka. Jarang sekali ada kampus yang sekali berdiri sudah memiliki banyak gedung dan banyak jurusan. Meskipun itu kampus negeri sekalipun.

__ADS_1


Kebetulan kampus P tempat Yana berada ini juga merupakan salah satu kampus negeri. Sehingga kami harap, biaya pendidikan di sini nantinya tidak semahal saat kita masuk ke dalam universitas swasta. Aku sempat tidak enak juga menolak untuk tes SBMPTN lagi karena sudah masuk ke kampus swasta. Karena aku tidak ingin satu tahun hidupku sia-sia hanya karena ingin mengganti kampus ke kampus negeri.


Beberapa menit berselang, akhirnya kami sampai ke kampus tempat Yana akan sekolah. Dari sini, kami mulai menyusuri jalanan sekitar untuk mencari kontrakan. Persis di gerbang kampus, kami melihat ada kontrakan khusus wanita. Tentu saja kami mencari kontrakan khusus untuk wanita, tidak mungkin kami akan mengambil resiko dan memasukkan Yana ke dalam kontrakan yang campur antara pria dan wanita.


Sayangnya kontrakan yang di dekat kampus itu sudah penuh kamarnya, tidak ada kamar kosong untuk Yana tempati. Kami bertanya kepada warga di sana untuk mencari kontrakan lagi yang dekat di sekitar sini. Barulah kami mulai berjalan kembali secara perlahan sambil mencari kontrakan.


Sampai di tempat kedua, lokasi agak jauh sedikit dibandingkan kontrakan sebelumnya. Namun tempatnya saya lihat cukup bersih dan aman karena ada pagar di dalamnya. Namun pakde tidak sreg dengan kontrakan yang satu ini.


“Wah, gak bener ini! Sombong amat cuma jadi penjaga kontrakan doang. Apalagi penjaga cowok kok untuk kontrakan cewek. Gak usah lah ngontrak di sini. Kita cari yang lain” Ucap Pakde Tarno setelah ia masuk ke dalam mobil.


Tentu saja ia tidak mungkin ngomong blak-blakan di depan orangnya. Karena kita ingin menjaga perasaannya juga. Meskipun kalau dipikir-pikir aneh juga, masa penjaga kontrakan cewek dipegang oleh cowok. Bukankah nantinya itu berbahaya?


Selain masalah tadi, Pakde Tarno juga tidak suka dengan attitude sang penjaga kontrakan yang terlihat tidak professional. Seperti tidak tahu ada kontrakan yang kosong atau tidak serta tidak gercep untuk memberikan kontak pemilik kontrakan.


Biasanya bapak yang concern dengan sisi ini karena ia juga pernah pengalaman ngekos dan juga akibat kejadian yang menimpaku sebelumnya. Keamanan menjadi hal yang diutamakan saat mencari kontrakan. Kami akhirnya sampai ke kos ketiga yang kami datangi hari ini.


“Kos Bunga, cukup bagus juga kosan ini” Ucap ibuku sambil melihat ke arah rumah kontrakan.


Kontrakan kali ini cukup luas dan cukup bersih. Saat masuk ke dalam, sudah dibagi beberapa kamar dan setiap kamarnya memiliki AC. Cocok sekali dengan kriteria yang Yana inginkan. Tentu saja dengan fasilitas kamar mandi dalam, lemari baju, meja, serta televisi untuk semua kamarnya.


Dengan harga kontrakan satu juta rupiah, saya rasa ini cukup mewah dan juga murah untuk hitungan kosan cewek. Karena setahuku, kontrakan khusus cewek pastinya biaya sewanya lebih mahal daripada kosan cowok. Beres melihat-lihat, kami mulai berdiskusi mengenai tempat kontrakan yang satu ini.

__ADS_1


“Gimana pak de? Ok gak tempat ini?” Tanya ibuku kepada Pakde Tarno.


“Cukup bagus, Yana sendiri gimana? ok nggak kontrakan yang ini?”


“Bagus pakde. Ada juga teman ngontrak disini sehingga saya nantinya tidak sendirian.”


Setelah diskusi mengenai kontrakan selesai, kami meminta tolong kepada penjaga kontrakan untuk menelpon yang punya rumah. Karena kami akan membahas mengenai detail harga kemudian memberitahukan waktu kapan nantinya Yana akan mulai menempati tempat ini.


Beberapa menit menunggu, akhirnya datang salah satu mobil ke depan kontrakan. sepertinya itu adalah mobil pemilik kos. Saat pintu terbuka, aku melihat ada ibu-ibu turun dari mobil kemudian mulai jalan menuju ke arah kami berada.


“Halo ibu. sudah lihat kontrakanya kan? Bagaimana ibu, apakah anaknya sudah cocok di tempat ini?” Tanya ibu kontrakan itu dengan penuh senyuman.


Kami mulai membicarakan mengenai harga dan juga fasilitas yang akan Yana dapatkan. Selain itu kami juga menanyakan mengenai lokasi makan di sekitar ini serta berapa jarak dari stasiun kota P dengan kontrakan ini. Kalau lokasi stasiun cukup dekat, Yana nantinya tidak akan kesulitan saat ingin menggunakan kereta menuju Jakarta nantinya.


“Baiklah ibu. Nanti saat Yana mulai menempati tempat ini. Akan saya kabari lagi. Bayarnya juga pada saat itu ya bu?”


Pemilik kontrakan mengatakan kalau bayarnya nanti saja setelah mulai menempati kamarnya. Namun nantinya kamarnya sudah tidak akan disewakan ke orang lain. Karena sudah Yana booking. Cukup baik juga sistemnya. Kalau tidak salah, Yana akan mulai kuliah offline semester berikutnya yang akan jatuh sekitar bulan Februari tahun depan.


Beres mengurus kontrakan, kami kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Kami berpamitan terlebih dahulu dengan pemilik kontrakan serta meminta nomor telepon yang bisa dihubungi untuk kami kontak lagi nantinya saat Yana akan mulai menempati kamar di sana.


Urusan pertama kami jalan-jalan sudah beres. Sekarang kami akan melanjutkan perjalanan untuk acara berikutnya. Kondangan ke Yogyakarta.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2