
Kejadian ini terjadi sebelum liburan ke Bali dan sesudah liburan akhir semester ke jogja. Pada saat itu, bapak tiba-tiba datang ke dalam kamar dan berkata.
“Ray, nanti belajar mobil ya. Pokoknya harus bisa nyetir, masa cowok nggak bisa nyetir!” Ucap bapak dengan nada sinis dan membuatku kesal.
Aku malas banget belajar mobil, karena saat ini masih belum punya uang untuk membeli mobil sendiri. Untuk apa bisa menyetir kalau tidak punya mobil, ya kan? apalagi ditambah dengan kalimat bapak setiap membujuk belajar nyetir.
“Ayo belajar nyetir nak, nanti gantiin bapak nyetir ke Jogja”
Kalimat itu yang selalu ia lontarkan kepadaku ketika membahas mengenai belajar mobil. Alhasil setiap bujukan yang ia lontarkan, malah semakin membuatku jauh dari ingin belajar menyetir mobil. Memang bapak kurang lihai dalam pemilihan kalimat dan merasa apa yang ia katakan selalu benar. Sehingga tidak pernah melakukan introspeksi diri.
“iya pak, nanti kalau ada waktu belajar. Kan sekarang saya juga mengajar, waktunya padat.”
“Lah, alasan aja. Malas amat sih belajar mobil doang aja!” Sontak bapak langsung meninggi nadanya dan pergi keluar setelah mengucapkan kalimat itu.
“....” Aku hanya bisa menahan amarah. ketika bapak sudah pergi menjauh. Benda keras yang ada di sekitar aku pukul dengan sekuat tenaga. Pada saat ini, aku belum mengetahui benda bernama squishy yang ternyata sangat efektif untuk mengatasi amarah ini.
*Bam Bam Bam*
“Huuh” Setelah puas mukul beberapa benda, emosiku kembali stabil.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku dan berusaha agar tidak terpengaruh oleh kejadian barusan.
*Beberapa hari kemudian*
“Jadi, disini tempatnya” sambil melihat map dan duduk diam di atas motor. Aku memastikan bahwa sudah sampai ke tempat yang benar.
Tempatku berada saat ini adalah salah satu sekolah kursus untuk mengemudi. Berbeda dengan bapak yang keras, Ibu memberikan saran untuk mengikuti kelas mengemudi sama sepertinya. Karena sama seperti diriku, kalau diajar bapak, bukannya malah bisa. Malah cuma dapat makan hati aja karena dapat omelan terus saat belajar nyetir.
Ibu juga berhasil lancar mengemudi berkat belajar di kelas ini. Namun entah kelas seperti apa yang ia masuki. Secara perlahan aku membuka pintu kemudian pergi ke meja resepsionis.
__ADS_1
“Selamat datang di sekolah mengemudi maju-mundur, ada yang bisa kami bantu?” Resepsionis mempersilahkan diriku untuk duduk dan mengajukan beberapa pertanyaan
“Begini mbak, saya pingin belajar menyetir di sini.” ucapku kepada Mbak resepsionis.
“Baiklah Pak, silahkan pilih dari salah satu menu belajar yang ada di lembaran ini.” Di atas meja sudah tertempel daftar menu belajar mobil. aku mulai membacanya satu demi satu.
‘Wow, kok kelas mobil matik yang paling mahal?’ Aku heran kenapa kelas mengemudi matic mahal sekali.
Terdapat beberapa macam paket belajar di sini. Ada mobil matic dan kopling. Kemudian pertemuan dibagi menjadi berapa macam. Ada yang 6 hari, 7 hari, bahkan hingga 9 hari. Setelah mempertimbangkan paket apa yang aku pilih. Aku langsung membayar semuanya cash di muka.
Menu yang kupilih adalah belajar kopling selama 7 hari. Aku rasa jumlah ini akan cukup untuk sebagai dasar belajar mobil. Sisanya tinggal melancarkan saja di jalan. Mobil kopling dipilih jelas karena harga belajarnya yang lebih murah.
Aku juga melihat jasa mengemudi juga mengeluarkan jasa pembuatan sim A. Tanpa pikir panjang, aku juga mengambil jasa itu. Kalau aku total, jumlah ongkos untuk kelas ini beserta dengan sim bisa hampir menyentuh satu juta rupiah.
Untungnya dengan gajiku sebagai guru, tabunganku cukup untuk mengambil kelas di tempat ini. Katanya bapak sih pernah bilang akan membayarkan biaya untuk mengemudi, Entah ia akan menepati janjinya atau tidak.
Namun karena aku masih ada waktu liburan, aku padatkan belajar hampir setiap hari agar jumlah 7 pertemuan segera terpenuhi. Aku tidak sabar akan seperti apa nanti belajar mengemudi di sini.
*Hari belajar nyetir*
“Huuh, akhirnya tiba waktunya belajar” ucapku sambil memarkirkan motor dan menaruh helm.
Helm yang aku gunakan merupakan helm standar berwarna merah yang harganya paling sekitar seratus ribuan. Karena sayang saja pakai helm bagus malah rentan kecolongan. Masa naruh helm saja harus pakai gembok.
‘Semoga saja yang ngajar gak galak seperti bapa’ belajar menyetir mengingatkan ku kepada saat aku belajar bersama bapak.
Pada saat itu pertama kalinya menyentuh mobil dan belajar dengan mobil tipe kopling. Pastinya kalau pertama belajar ada kalanya mobil mati karena salah ketika melepas kopling.
bapak yang seperti biasa emosi dan omonganya tidak pernah dijaga. Lama kelamaan omelannya semakin kencang hingga teriak kepada diriku.
__ADS_1
“gimana sih, udah dibilangin cara make kopling kayak gimana! gak becus amat sih belajarnya!” Bapak teriak dengan nada sangat keras
“HIks..Hiks” Tangis tak terlekang jatuh ke bawah mobil. Ini kedua kalinya aku menangis setelah masuk ke bangku kuliah. Entah memang aku yang cengek, atau bapak yang terlalu bar bar.
Untungnya ada ibu yang segera meredakan situasi. Akhirnya belajar mobil dihentikan pada saat itu dan hampir tidak pernah lagi aku mau belajar mobil bersama dengan bapak. Apalagi kalau belajar mobil kopling.
Setelah kejadian itu, biasanya aku hanya mengemudikan mobil matic saja. Lebih mudah, simpel, dan ngak pakai banyak pikiran. Cukup main gas dan rem saja. Kemudian memperhatikan jalan dengan sekasama. Tidak perlu mikir masalah kopling yang menambah masalah saja.
*Masa kini*
Kembali ke kursus mengemudi, belajar kopling merupakan salah satu pembelajaran yang ekonomis. Karena kalau kita bisa bawa mobil kopling, pasti akan lebih mudah menggunakan mobil matic. Namun hal sebaliknya tidak bisa berlaku. Oleh karena itu, untuk kursus nyetir kali ini, aku memilih mobil kopling.
Aku masuk ke dalam toko kemudian bicara dengan resepsionis “Dengan bapak Ray, sudah siap gurunya?” tanyaku kepada mereka.
“Sudah siap pak, silahkan langsung ke belakang saja.” Ucap resepsionis sambil menunjuk arah ke pintu belakang.
Helm kutaruh di dalam toko kemudian aku pergi menuju pintu belakang. Aku melihat terdapat mobil berwarna putih sudah siap beserta dengan pelatih.
"Bentar ya pak, tunggu ini satu batang habis dulu” Guru nyetir berkata sambil menghisap batang rokok.
“Iya pak, saya tunggu” karena tidak ingin mencari masalah, aku memilih untuk menunggunya selesai saja.
Memang ngudut ini selalu membuat masalah. Banyak orang yang berhutang karena rokok. Ada juga yang ribut karena rokok. Udah harganya mahal, bisa buat penyakit lagi. Aku tidak tahu indahnya perokok karena bukan termasuk perokok aktif.
Ketika guru sudah selesai merokok, ia memintaku untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian ia menjelaskan secara dasar sedikit hal yang harus diketahui sebelum menyetir. Seperti fungsi lampu sein, lampu depan, sweeper, dan fungsi tombol mobil lainnya. Tentunya sebelum menyalakan mesin, sang instruktur menyuruhku menggunakan seat belt dengan benar.
“Perlahan injak kopling, kemudian starter mobilnya. Tunggu beberapa saat mobil menyala, kemudian pelan-pelan lepaskan kopling sambil menginjak gas secara perlahan. Jangan lupa setirnya arahkan ke sana”
Mengikuti petunjuk instruktur itu, aku perlahan berhasil keluar dari tempat belajar mengemudi. Setelah ini kami menelusuri jalan raya untuk kelas kali ini. Sayangnya guru yang mengajarku adalah cowok. Sepertinya akan lebih semangat kalau yang mengajar nyetir adalah cewek cantik.
__ADS_1