Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 85 Perubahan Akibat Pandemi 2


__ADS_3

Pandemi merubah segala penjuru dunia. Mulai dari segi ekonomi, kesehatan, industri, semua terdampak dari penyakit ini. Hal ini wajar saja karena virus ini sangat baru. Tahun 2020 ini, dunia masih berusaha untuk beradaptasi menghadapi covid.


Teknologi berperan penting dalam mengurangi dampak wabah ini. Meskipun pandemi membuat semua orang tidak boleh banyak keluar rumah. Semua segmen mulai melakukan perubahan dari cara mereka berkegiatan.


Dari awalnya sering meeting ke kantor untuk hal sepele, sekarang sudah bisa dilakukan meeting secara online. Dunia pendidikan juga sama. Sekarang, mereka sekolah hanya dengan modal handphone dan koneksi internet saja.


"Mas, internetnya mati, minta tethering. " Ucap adikku Yana meminta internet kepadaku.


Daerah tempatku berada memang kadang mengalami hal ini. Bisa internetnya mati, atau yang lebih sering kejadian. Kecepatan internet menjadi sangat lemot. Karena itulah, biasanya Yana meminta tethering dariku pada saat momen seperti ini.


Dengan menggunakan laptop mereka, Yana melakukan meeting online untuk menjalankan kegiatan sekolah. Dari luar kamarnya saja, aku sudah bisa mendengar suara Yana dipanggil pada saat diabsen oleh guru kelasnya.


"Fafa hadir? "


"Hadir bu!! "


"Yana? "


"Siap, Hadir! "


Terdengar guru mengabsen muridnya satu per satu. Aku rasa adikku yang satu iniĀ  cukup mudah beradaptasi dengan new normal yang baru ini. Karena rata rata generasi dia lebih pandai menggunakan gadget. Dibandingkan generasiku yang bisa dibilang lebih baru dalam mendapatkan teknologi.


Setelah absensi, biasanya mereka mulai materi. Bisa dilakukan secara live, guru menerangkan kemudian tanya jawab. Atau guru memberikan tugas dari halaman buku atau memberikan video untuk ditonton oleh para murid. Beda guru, beda juga cara menreka mengajar.


Jam sekolah juga berubah. Dari awal nya Yana berangkat jam 6 pagi kemudian pulang jam 6 sore. Sekarang, kelas online hanya dilakukan dari jam 07 pagi hingga 12 siang. Jauh sekali perbedaannya.

__ADS_1


Kalau dulu Yana harus capek perjalanan selama satu jam ke sekolah. Sekarang ia tinggal di rumah saja untuk sekolah. Aku pribadi senang karena ia sudah tidak terlalu capek dan lelah di jalan hanya untuk sekolah. Entah kalau menurutnya sendiri lebih enak sekolah online atau tatap muka.


Tapi ada kalanya kepenatan muncul karena lama tidak keluar rumah. Aku sendiri anak rumahan sehingga tidak terlalu terpengaruh. Berbeda dengan Yana, ia cukup aktif sehingga stres kalau lama tidak bisa keluar rumah.


Pada suatu hari, Yana sudah tidak tahan lagi dan meminta untuk keluar rumah.


"Papah, mamah, aku mau ke mol. Ayo Jalan-jaan. Aku bosan di rumah terus!"


Yana meminta kepada kedua orang tua untuk pergi ke luar. Melihat daerah kami masih berada di daerah aman, kami setuju untuk melakukannya. Aku sendiri ikut dengan mereka karena sedang berada di rumah akibat wfh.


Kami memutuskan untuk pergi ke salah satu mall di daerah kami. Meskipun daerah ini termasuk kecil, hebatnya terdapat 3 mall di kota ini. Mal yang kami datangi ini adalah salah satu dari yang terbaru.


Mall ini mengikuti arsitektur mall-mall jakarta. Sehingga terlihat lebih modern dari mall yang lain. Isi tokonya juga kebanyakan sama dengan toko yang ada di mall Jakarta. Tidak heran mall ini merupakan mall favorit di daerah kami untuk saat ini.


Hal yang kami lakukan tidak banyak. Kami hanya jalan-jalan saja kemudian makan siang bersama di sana. Memang Yana sudah cukup puas meskipun tidak membeli barang dan hanya muter muter saja. Sudah cukup bagi Yana kalua sudah bisa melakukan window shopping, tidak perlu membeli apa apa.


Tidak sama dengan restoran all you can eat. Restoran ini mengharuskan pelanggan untuk membayar dibuka. Sehingga biaya yang dikeluarkan sesuai dengan makanan yang kita ambil. Karena itulah, mudah sekali untuk biaya makan tempat ini menjadi mahal.


All you can eat modelnya agak berbeda. Kita makan dulu sepuasnya, kemudian saat akan keluar resota baru membayar biaya makan dengan harga flat. Tidak akan tambah mahal meskipun mengambil makanan yang banyak. Berbeda sekali dengan restoran ini. Namun memang feeling makanan yang kita masak sendiri memiliki sensasi yang berbeda.


Beres jalan-jalan dan makan siang, kami segera kembali ke rumah agar tidak bertemu dengan kerumunan. Pastinya kami mengikuti proses dan memakai masker saat berada di dalam mall. Hanya dilepas saat makan saja. Patuhi protokol untuk mencegah penyebaran penyakit covid 19.


Karena virus ini menyebar melalui droplet. Kalau kita menjaga jarak dan menggunakan masker. Seharusnya kemungkinan kita tertukar cukup kecil. Namun tetap saja, sebisa mungkin kita menghindari kerumunan meskipun sudah menggunakan masker agar mengurangi persentase terjangkit virus.


Ketika sudah sampai rumah, Yana senang sekali dan ia melanjutkan pekerjaan rumahnya dengan semangat.

__ADS_1


Yana untungnya masih bisa mengatur sekolahnya secara online. Karena ia sudah SMA dan cukup dewasa untuk bertindak.


Berbeda dengan Yana yang sudah Sma, efek covid ini terasa sekali kepada adikku yang paling kecil, Lamda.


Saat pandemi datang, ia masih sd kelas 6. Ketika ia sedang masa harus belajar komunikasi dengan orang. Malah ia dilarang keluar dan tidak bisa bertemu orang. Hal ini membuat proses belajar mengajarnya menjadi terganggu.


Berbeda dengan Yana yang sudah bisa mengatur kegiatannya. Lamda tidak bisa kita tinggal untuk belajar sendiri. Seringkali saat sekolah online, bukanya meeting bertemu dengan gurunya secara virtual, ia malah tidur dengan santainya. Anaknya sih cuek, namun orang tua dan kakaknya yang kebingungan harus mengawasinya saat sekolah online.


Sering kali ibu mendapatkan laporan kalau ia ketiduran saat belajar. Ibu hanya bisa geleng geleng kepada karena tidak punya waktu untuk mengawasi Lamda. Karena pekerjaan ibu tidak bisa WFH, ia masih harus ke kantor sehingga tidak bisa mengawasi Lamda dengan seksama.


Mau tidak mau, aku juga ikut campur saat sekolahnya Lamda. Aku cek setiap jam online, kemudian membangunkanya berulang kali hingga ia bangun. Alhamdulillah hal ini membuatnya masuk online saat kelas dimulai. Meskipun ia pakai ngambek dulu saat dibangunkan. Semoga saja tidak ada tugas atau PR yang kelupaan ia kerjakan.


Kegiatan online ini berlangsung hingga ia lulus dan menginjak bangku SMP. Saat sudah SMP pun, ia masih harus kelas online lagi. Sehingga tugasku sebagai pengawas Lamda terus berlanjut hingga akhir semester pertama kelas 7.


Aku sangat prihatin bagaimana kedepannya kalau Lamda begini terus-menerus. Namun aku tidak boleh menyerah, karena ia masih harus bimbingan dari pihak luar. Secara pelan-pelan aku harus membimbingnya agar menjadi murid teladan yang tidak malas malasan lagi.


Umur seperti Lamda harus pelan-pelan kalau diberikan nasehat. Dia tidak akan masuk kalau kita mengurui dirinya. Kita harus pelan pelan menjadi teman akrab dulu kepadanya. Apalagi meskipun ia sebenarnya masih kecil, ia merasa kalau dirinya itu sudah besar. Padahal tanggung jawab yang seharusnya ia kerjakan seperti pr dan tugas masih sering lupa dikerjakan.


Apalagi ia juga sudah terlalu terpengaruh oleh gadget. Dalam sehari, ia bisa lebih dari 8 jam melotot terus ke layar handphone. Hal ini juga sulit untuk diubah karena ia terlalu dini saat memegang handphone sehingga kontrolnya terhadap pengaruh gadget masih belum bagus. Hal yang sangat disayangkan.


Berbeda dengan ku yang memegang handphone saat kelas 4 SD. Itupun masih dengan fitur sederhana, tidak seperti HP jaman sekarang. Zaman dulu, hape cuma bisa SMS sama telpon saja. Sehingga tidak bisa untuk browsing aneh aneh ke internet seperti handphone sekarang.


Zaman dulu juga anak-anak masih sering main ke luar daripada hanya sibuk dengan gadgetnya sendiri. Mana ada dulu saat umur 6 tahun, ada anak mainan nya pakai iPhone. Beda sekali anak zaman now dengan zaman ku dahulu.


Oh pandemi, kehadiran dirimu merubah segala hal di dunia ini. Apakah itu adalah pertanda baik? Atau pertanda buruk? Hanya waktu yang bisa menjawab nya.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2