
Keluarga kami akhirnya mulai berangkat dari kota C menuju Tangerang. Perjalanan menggunakan mobil milik Pakde Tarno dengan mas Darius sebagai supirnya. Ada juga mas Deva, Bude Weni, ibuku, Yana, Lamda, dan terakhir ada aku yang ikut berada di dalam mobil. Kebetulan posisi duduk diriku berada di bagian belakang sehingga aku bisa merasakan bagaimana sempitnya duduk di sini. Meskipun mobil yang dipakai adalah Pajero.
Kalau kalian perhatikan, mobil Pajero itu kalau dari luar terlihat besar dan juga tinggi. Paling tidak lebih tinggi daripada mobil-mobil pada umumnya. Namun kalau kalian masuk ke dalam, terlihat bagasi belakangnya itu cukup kecil. Sehingga kalau ingin membawa barang banyak, salah satu kursi belakang harus dilipat agar bisa memuat lebih banyak barang dengan mengurangi penumpang sebanyak satu orang. Untungnya hal itu tidak terjadi kepadaku kali ini.
Karena kalau kursi dilipat, nantinya ada orang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Hal inilah yang menyebabkan kami tidak melipat kursi yang ada di bagian belakang. Namun hal ini menyebabkan masalah lain yang muncul.
Ada barang yang tidak muat masuk bagasi.
Bahkan hanya untuk barang bawaan kami saja. Sudah terlihat rambu-rambu kalau barang bawaan kami cukup banyak. Padahal di awal sudah wanti-wanti agar tidak membawa barang yang banyak. Meskipun begitu, perasaan bagasi sesak bukan hanya karena barang bawaan kami juga. Terdapat juga beberapa barang milik Pakde Tarno yang masih ada di bagasi dan mengambil space yang ada di sana.
Itulah alasan kenapa sekarang aku memeluk salah satu tas milik Yana karena ia harus membawa laptop dalam perjalanan ini. Berbeda denganku yang tidak memiliki keperluan untuk membawa laptop sehingga peralatan yang aku bawa hanya berupa handphone pribadi milikku saja. Karena saat ini aku belum memiliki pekerjaan yang mengharuskan diriku untuk membawa laptop setiap saat..
“Ayo semuanya berangkat, jangan lupa berdoa dulu.” Ucap Pakde Tarno yang duduk di kursi penumpang bagian depan.
Kami semua memulai berdoa menurut kepercayaan kami agar perjalanan berjalan lancar. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak korban berjatuhan akibat kecelakaan saat berada di jalan. Hal inilah yang menyebabkan kami harus banyak-banyak berdoa agar diberikan keselamatan. Jangan lupa untuk selalu berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan patuhi rambu lalu lintas yang ada di jalan. Serta mengemudilah secara aman dan jangan ngebut-ngebut sembarangan.
Selesai berdoa, mas Darius mulai menjalankan mobil dan menuju rumah milik mbak Livi yang ada di Tangerang. Kami tidak langsung jalan ke kota P karena ada beberapa barang milik keluarga Pakde Tarno yang masih ada di rumah Tangerang. Selain mengambil barang, sekalian kami juga ingin menengok sepupuku, Aizen.
Aizen merupakan anak dari Mbak Livi dan juga suaminya. Kalau tidak salah saat ini ia sudah berumur sekitar 1 tahun, lagi lucu-lucunya. Tadinya Aizen sempat lahir prematur karena alasan yang kurang aku ketahui. Namun beruntungnya, anak dan ibunya selamat sehingga sekarang mereka bisa hidup seperti orang normal. Sejauh yang aku tahu, Aizen tidak memiliki komplikasi maupun kebutuhan khusus akibat kejadian ini.
__ADS_1
Perjalanan kami cukup berjalan mulus karena kami menggunakan jalan tol menuju ke sana. Kalau tanpa menggunakan jalan tax on location ini, pastinya kami harus melalui perjalanan yang lebih panjang. Namun menurutku ongkosnya cukup besar juga, sekitar 50.000 rupiah sekali jalan. Perjalanan berjalan dengan normal sampai kami akhirnya sampai ke rumah mbak Livi.
Ini bukan pertama kalinya aku ke tempat ini. Saat mbak Livi masih belum punya anak, aku dan keluargaku sempat mampir ke sini. Kalau diingat-ingat, inilah tempat terakhir yang bapak setirkan untuk keluarga kami. Sebelum ia kembali kepada sang Maha pencipta.
Saat sampai di sana, kami akhirnya bisa istirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan yang lebih jauh, menuju kota P. Kota yang sama sekali belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Karena sampai saat ini, tidak ada keperluan yang mengharuskan diriku pergi ke kota tersebut.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Kami mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah dan Mbak livi dengan baik menyambut kedatangan kami. Bukan tanpa alasan, kedatangan Bude Weni membuatnya bisa menitipkan Aizen kepadanya sehingga ia bisa fokus melakukan pekerjaannya. Karena saat ini Mbak Livi sering melakukan kerja secara remote.
Derita bekerja secara online, terkadang ada saja acara yang mengharuskannya bekerja pada saat hari libur seperti Sabtu ataupun Minggu. Hal inilah yang membuat mbak Livi mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain. Karena ia saat ini memiliki anak yang harus ia asuh.
Aku sendiri ngumpul bersama dengan kaula muda lainnya seperti mas Darius dan juga Mas Deva. Mereka saat ini bermain Playstation 4 yang dibeli oleh suami Mbak Livi sambil melakukan obrolan satu sama lain. Melihat mereka berdua ngobrol, aku jadi kangen untuk ngobrol dengan Arip. Karena sebelum memasuki dunia kerja, kami juga sering melakukan hal seperti ini. Rebutan bermain Ps sampai ribut karena tidak ada yang mau mengalah. Kejadian yang pada saat itu merepotkan namun menjadi kenangan yang indah di masa kini.
Saat hari sudah malam, kami akhirnya istirahat di tempat yang sudah disiapkan. Aku sendiri tidur di kasur yang berada di lantai atas yang sudah disiapkan bersama dengan Lamda. Namun ku dengar keesokan harinya, Lamda merasa tidak nyaman tidur bersama diriku karena katanya suaraku saat ngorok mengganggunya. Sehingga ia tidur sendirian di sofa ruang tengah.
*Keesokan harinya*
__ADS_1
“Hmm?Dimana Lamda?” Gumamku sambil melihat ke sampingku.
Padahal sebelum tidur tadi, aku lihat ia tidur di sampingku. Namun ketika bangun tidur, ia sudah hilang. Memang ia seringnya melek malam sehingga aku biasanya tidur lebih dulu daripada dirinya. Melihat sekarang sudah waktunya subuh, aku membangunkan anggota keluarga lain dan akhirnya menyadari kalau Lamda sudah berada di sofa ruang tengah. Karena ruang ibadah harus melewati tempat tersebut. Badan Lamda yang cukup besar ini pastinya terlihat saat aku menuruti anak tangga. Dengan pulasnya ia tidur di atas sofa dan terlihat anteng sekali. Berbeda saat ia bangun dan sering ribut kalau lapar.
Selesai ibadah, mandi, dan sarapan. Kami akhirnya bersiap-siap untuk memulai perjalanan kembali. Tentunya kami juga banyak ngobrol juga dengan Mbak Livi serta suaminya selama berada di tempat ini. Karena kami bersyukur sudah diberikan tempat istirahat secara cuma-cuma.
Ibu dan juga Bude Weni juga senang sekali bisa bermain dengan cucu. Melihat ibuku yang sepertinya sudah semangat sekali bermain dengan Aizen. Membuatku merasa terancam sebagai anak pertama. Korean pastinya cucu pertama normalnya harus datang dari diriku.
Untuk calon sudah ada, namun saat ini karena aku sedang mengganggur. Tidak mungkin aku berani untuk mengambil anak orang saat aku masih belum bisa berdiri sendiri. Namun aku percaya, suatu saat ini aku pasti akan bisa melakukannya.
Suasana saat mengumpul seperti ini terasa cukup hangat, kecuali untuk adikku Lamda yang memang tidak suka melakukan komunikasi dengan orang. Hal inilah juga yang membuat kami pusing tujuh keliling mencari cara agar ia mau ngobrol dengan orang. Karena ia terlalu fokus dengan dirinya sendiri yang bermain HP. Memang sih kalau akibat memberikan Hp terlalu dini ya seperti ini.
Jangan pernah berikan gadget kepada anak yang berada di bawah umur. Kita juga harus mengontrol apa saja yang ia tonton agar anak tidak tersesat. Paling tidak berikan dia gadget saat sudah menginjak usia SMP. Aku sendiri mendapatkan HP pertama saat aku sudah menginjak kelas 4 SD. Baru mengenal internet pada saat SMP. Kemudian saat SMA sudah bisa dibilang aku cukup melek dalam mengoperasikan komputer.
“Hati-hati ya mah di jalan. Ayo Aizen, di dadahin Omahnya.” Ucap Mbak Livi bersama dengan suaminya, mas Arki di samping sambil menggendong Aizen.
“Dadah Aizen, Livi, Arki. Kami pergi dulu ya!” Ucap Bude Weni sambil melambaikan tangan kepada Aizen.
Namanya juga anak kecil, ia masih kelihatan sekali masih belum memahami kejadian yang terjadi di sekitar dirinya. Melihat anak yang masih bersih seperti kanvas putih ini, membuatku semangat untuk belajar mengenai ilmu parenting.
__ADS_1
Setelah istirahat semalam, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kota P. Kira-kira, akan seperti apa kota yang nantinya menjadi tempat Yana menimba ilmu ini? Semoga saja ia bisa betah di sana.
*Bersambung*