Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 94 Mbah Kakung Dirawat 3


__ADS_3

Beres mengambil bantal dari rumah Bule Yeni, kami kembali berangkat ke rumah sakit. Dengan istirahat sebentar dan om Iskandar sempat ngopi tadi selama beberapa menit. Seharusnya energi supir kali ini sudah cukup terisi. Benar saja, om Iskandar masih semangat untuk menyetir kembali ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, aku membawakan bantal ke ruangan UGD. Namun aku tidak masuk ke dalam, hanya memberikan bantalnya dari luar ruangan saja. Karena sekarang kalau mau masuk ruang UGD, semua orang harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Orang yang tidak mengenakan APD, tidak diperbolehkan untuk memasuki ruangan.


"Ini bule, bantalnya. "


Bule Yeni menerima bantal tersebut lalu berkata "Makasih ya nak Ray, sudah boleh silahkan kalau mau pulang dulu biar bisa istirahat. Sisanya nanti Bule yang jaga mbah."


Setelah berpamitan dengan Bule Yeni, aku kembali ke tempat om Iskandar menunggu untuk memberikan kabar ini. Ia sekarang sedang bersantai di sekitar mobil.


"Gimana Ray? Mbah butuh bantuan apa lagi? "


Aku menjelaskan apa yang tadi Bule Yeni jelaskan. Mendengar penjelasan dariku, Om Iskandar memutuskan untuk berangkat pulang ke rumah. Kami memanggil kedua perawat yang kami bawa, tidak mungkin mereka kami tinggal. Bisa dendam kesumat nanti mereka kalau hal itu kami lakukan


Saat kami sudah berkumpul, barulah kami memulai perjalan untuk kembali ke rumah. Ketika berada di jalan, tiba-tiba om Iskandar menanyakan kepadaku “Gimana Ray, mau tukeran nyetir gak?”


Memang aku sekarang sudah lumayan bisa menyetir. Karena aku sudah kursus mengemudi dan memiliki SIM. Namun malas banget aku kalau menyetir mobil kopling. Karena aku terbiasa menyetir mobil dengan gigi matic. Daripada ribet kaki harus injek rem dan kopling, lebih baik kurangi satu variabel agar saat nyetir tidak perlu terlalu banyak menghabiskan konsentrasi. Karena itulah aku lebih suka mobil matic dan menolak tawaran dari om Iskandar.


“Gak om, tadi saya belum tidur. Ini masih ngantuk banget. Lagian, saya belum lihai kalau mobil kopling mah”


Om Iskandar tertawa dan kembali nyeletuk “Om juga capek tapi nyetir, udah, gantiin om aja nyetir.”


Kami melanjutkan obrolan seperti ini hingga om Iskandar menyerah dan tetap menyetir hingga kembali ke rumah nanti. Aku berusaha untuk menemaninya ngobrol sepanjang perjalanan. Namun karena sekarang sudah hampir mau waktu subuh, tubuhku lelah dan pada akhirnya sempat ketiduran.


Namun tidurnya tidak terlalu lama, karena om Iskandar selalu membangunkan diriku saat melihat indikasi kalau aku sudah mau tidur. Pada akhirnya aku kembali menemani om Iskandar hingga kami sampai di sebuah rest area.


“Akhirnya bisa lengserkan kaki dulu” Ucapku sambil keluar dari mobil dan meregangkan badan.


Dilihat dari aplikasi peta, sepertinya sampai di rumah tinggal satu jam lagi. Namun karena sekarang sudah mau memasuki waktu subuh. Kami berhenti di rest area untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Aku mengambil wudhu kemudian langsung shalat tanpa melihat waktunya. Alhasil saat selesai shalat, aku diberitahukan oleh seseorang. Ia melihatku dengan tatapan heran dan berkata kepadaku.

__ADS_1


“Mas, tadi shalat subuh?”


“Iya mas, memangnya kenapa? di sini nggak boleh shalat?” Tanyaku dengan nada heran.


Orang itu diam sebentar kemudian melanjutkan omongan “Mohon maaf sebelumnya, tapi tadi mas shalatnya belum masuk waktu shalat subuh, jadi sholatnya belum sah. Nanti diulangi saja ya.”


Aku menggelengkan kepala kemudian saat aku cek di aplikasi, memang ternyata saat tadi aku shalat, belum masuk waktu subuh “Astaghfirullah, ternyata belum waktunya sholat. Saking ngantuknya aku sampai tidak sadar. Makasih ya mas, sudah mengingatkan.”


“Sama-sama mas”


Mas mas itu kembali ke sudut ruangan untuk melanjutkan zikir. Tidak hanya aku yang salah waktu sholat, om Iskandar juga melakukan hal yang sama. Mau tidak mau, kami harus mengulang shalat kami saat nanti sudah masuk waktu subuh.


“Allahuakbar Allahuakbar.” Suara adzan elektronik akhirnya berkumandang. Sekarang baru benar waktunya untuk melaksanakan shalat.


Karena adzan sudah otomatis, tidak perlu ada muadzin lagi yang melantunkan adzan. Semuanya sudah robot yang melakukanya dengan rekaman suara yang telah dipersiapkan sebelumnya. Aku melakukan shalat sunnah kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan shalat berjamaah. Beres sholat, aku kembali ke mobil untuk bersiap melanjutkan perjalan.


Ketika kami kembali ke mobil, tidak terlihat perawat mbah di sekitarnya.


Aku menunjuk ke arah para perawat yang sedang ngopi “Kayaknya lagi pada ngopi di sana tuh.”


Om Iskandar memanggil mereka untuk segera kembal ke mobil. Karena kami akan melanjutkan perjalanan. Sama seperti sebelum-sebelumnya, aku menemai om Iskandar ngobrol hingga kami akhirnya kembali ke rumah. Untungnya aku kepikiran beberapa topik pembicaraan sehingga ada bahan yang bisa dibicarakan.


Saat kami akan sampai ke rumah, om Iskandar menawari diriku untuk makan uduk.


“Ray, mau makan uduk ngal? om udah laper nih?”


“Ngak om, aku mau langsung tidur aja. Tapi om kalau mau beli gak papa, aku tunggu”


Melihat aku tidak masalah menunggu, Om Iskandar memutuskan untuk berhenti sejenak untuk membeli nasi uduk. Tentunya ia juga menawarkan hal yang sama kepada para perawat yang tidur di belakang. Mereka berniat untuk makan juga sehingga Om Iskandar membelikan nasi untuk mereka semua.

__ADS_1


Beres membeli makan, kami akhirnya sampai ke rumah mbah dengan selamat. Kemudian aku sendiri kembali ke rumah untuk melanjutkan istirahat. Lelah juga perjalanan bolak balik dari bogor ke rumah. Rumahku dengan rumah mbah sangat dekat, jalan kaki saja tidak sampai 2 menit.


Sampai ke rumah, pintu depan dalam keadaan terkunci. Mau tidak mau, aku harus mengetuk orang yang di dalam rumah untuk membukakan pintu.


“Assalamualaikum”


*krek*


Untungnya, sudah ada orang dirumah yang bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Ibu langsung membukakan pintu beberapa menit setelah aku mengetuk pintu.


“Eh, Ray sudah pulang, gimana tadi mbahnya? sudah shalat belum?”


“Sudah mah, jadi gini ceritanya. Tadi mbah itu.” Ucapku sambil masuk ke dalam rumah dan mulai duduk di ruang tamu.


Aku kembali menceritakan apa saja yang terjadi di sepanjang perjalanan. Mulai dari mengikuti ambulans. Ambulans yang minta kami pergi duluan karena gak tahu jalan. Mbah  dipindahkan dari ambulance ke ruang UGD, hingga momen aku mengambilkan bantal untuk mbah. Semua cerita dariku ibu dengan baik. Di tengah pembicaraan, bapak yang sudah bangun juga ikutan ngobrol untuk menanyakan kabar mbah. Mau tidak mau, aku juga kembali menceritakan hal yang sama dari awal.


“Semoga mbah cepat sembuh ya. Kamu juga doakan kesembuhan untuk mbah juga ya Ray.”


“Siap mah, aku permisi dulu, mau lanjut tidur, ngantuk banget ini.”


Setelah selesai mengobrol, aku berpamitan untuk kembali ke kamar. Meskipun aku tidak menyetir, duduk di mobil selama berjam-jam itu membuat pantat dan badan pegal-pegal. Apalagi kalau yang tidak biasa jalan jauh kayak saya. Aku meregangkan badan sejenak kemudian melanjutkan istirahat di kasurku yang empuk.


‘Bismika Allahumma ahya wa bismika amut.’


Mataku tertutup setelah aku membacakan doa sebelum tidur. Sambil menunggu hilang kesadaran, aku membacakan beberapa doa-doa yang biasa dibaca sebelum tidur.


Mbah, semoga mba cepat sembuh dan sehat kembali. Agar bisa menjalankan aktifitas seperti biasa, aamiin.


Setelah mendoakan keselamatan mbah yang sedang dirawat di bogor, aku kembali menutup mataku untuk masuk ke alam mimpi. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk tidur pulas. karena pas sekali badan sudah pegal-pegal efek dari perjalanan jauh.

__ADS_1


“zzz..zzz”


*bersambung*


__ADS_2