Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 34 Softhouse 2


__ADS_3

‘Bismillah’ Sebelum mulai pergi menuju gedung tes, aku berdoa terlebih dahulu. Setelah mentalku siap, aku pamit dengan omku yang masih berada di mobil untuk menungguku. Tidak mungkin dia tiba-tiba ngilang kan. Bisa panik saya nanti.


“Berangkat dulu om, doain lancar tesnya”


“Tentu saja Ray, om akan mendoakan semuanya lancar”


Aku mengangguk kemudian pergi menyebrang ke tempat tujuan. Dari tempat parkir mobil kami, aku masih harus berjalan beberapa menit. Karena mobil tidak boleh parkir masuk ke dalam perusahaan.


Semua kendaraan yang masuk harus menggunakan kartu parkir khusus pegawai. Aku lihat dari depan saja keamanan tempat ini cukup baik. Menarik sekali, serasa seperti kantor di film-film, masuk harus pakai kartu.


“Misi pak, saya tadi yang mau tes kerja”


“Oh ya pak, silahkan masuk. Langsung ke meja resepsionis ya”


Satpam sudah kami temui ketika mencari tempat parkir tadi, sehingga aku hanya perlu permisi saja untuk masuk ke dalam. Saat aku lihat dari luar. gedungnya tidak terlihat besar. Dari depan memang sudah terlihat gedung ini memiliki banyak lantai.


Namun betapa terkejutnya diriku ternyata meskipun dari depan tidak lebar, namun gedungnya cukup panjang hingga sampai ke belakang.


Aku pura-pura bermuka tenang karena tidak ingin terlihat seperti orang kampung. Kemudian perlahan aku pergi ke arah resepsionis di tempat tersebut. Tentunya sambil melihat ke sana kemari dan memperhatikan segala sisi dari lantai ini.


“Permisi mbak, untuk tes kerja ke arah mana ya?”


“Baik pak, silahkan naik melalui tangga in kemudian duduk di ruang tunggu.” Ucap petugas resepsionis sambil menunjuk ke arah tangga.


Setelah mengucapkan terima kasih, aku pergi ke arah yang ditunjuk oleh resepsionis. Memang benar-benar kantor yang hebat, resepsionisnya saja cantik. Pada bening semua di sini. Entah kenapa saat melihat cewek cantik secara langsung, badan langsung auto panik. Semoga saja bisa terbiasa nanti.


Ketika aku sudah mencapai ruang tunggu, terdapat beberapa kursi yang sudah disediakan. Aku menempati kursi yang kosong sambil membuka handphone untuk belajar mengenai perusahaan ini lebih jauh lagi. Peserta yang lain juga sepertinya telah menunggu di sini.


Kulihat pakaian mereka semuanya rata-rata bagus semua. Namun masih semi formal dan kebanyakan menggunakan kemeja dan sepatu. Untungnya kostum yang aku gunakan juga sudah proper.


Tidak ada yang memakai jas, tapi mungkin ada yang menggunakan jam tangan mahal. Aku tidak akan menyadarinya karena aku tidak suka memakai jam tangan.


“Untuk peserta tes, silahkan ikut saya ke ruangan” Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pengawas tes sudah datang. Aku memastikan tidak ada barang tertinggal sebelum berdiri dan mengikuti pengawas.


Ruangan yang kami tuju merupakan ruangan dengan kaca transparan sebagai tembok. Mirip dengan ruangan kantor yang kalian lihat di film-film barat. Dari alam kita bisa melihat kondisi luar ruangan, begitu juga sebaliknya. Karena itu kemungkinan terjadi tindak kejahatan akan berkurang.


Saat perjalanan aku melihat ruangan lain yang sedang digunakan. Ajaib sekali suara dari dalam sama sekali tidak terdengar. Sepertinya terdapat kedap suara juga di ruangan ini. Ketika telah memasuki ruangan, kami semua duduk ditempat yang kami inginkan. Posisi duduk tidak diatur. Peserta bebas duduk di mana saja selama belum ditempati oleh orang lain.

__ADS_1


Aku memulai percakapan kecil dengan teman sebelah ujianku. ternyata ia berasal dari tempat yang jauh, Cirebon lebih tepatnya. Orang ini ke sini dengan menggunakan kereta. Hebat sekali perjuanganya bisa sampai ke sini.


Dia juga akan mengikuti ujian di tempat lain, benar-benar orang yang giat untuk mencari pekerjaan. Dalam hal semangat, aku juga tidak boleh kalah dengan orang ini. Harus berjuang dengan sepenuh hati.


“Silahkan isi test ini sesuai dengan instruksi yang ada. Waktu pengerjaan adalah 180 menit. Setiap tes akan memiliki waktunya masing-masing. Ketika waktu sudah habis, kertas tes akan diambil kemudian diganti tes selanjutnya. Silahkan mengerjakan tes dalam hitungan 3...2...1… Mulai!”.


Benar sekali sesuai kata pengawas, ujian ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Entah sudah berapa kertas yang diambil dan dibagikan kembali olehnya. Mungkin bisa sekitar 5 atau lebih ujian sudah aku lewati.


Untungnya pulpen yang aku bawa isinya tidak habis. Aku juga sempat meminjamkan penaku ke peserta di sampingku. Memang keputusan yang tepat untuk membawa alat tulis pada ujian kali ini.


Hanya suara pulpen yang terdengar sepanjang sesi berlangsung. Panitia juga dengan tegas mengawasi kami satu persatu. Namun kulihat ia juga kadang melihat hpnya, mungkin untuk melihat kalau ada kontak dari atasan atau client. Karena perusahaan seperti ini pasti memerlukan kinerja yang cepat dan tepat. Ketika jam kerja, setiap pegawai harus stand by dan cepat tanggap saat dipanggil.


Tidak ada peserta yang melakukan hal-hal aneh, apalagi berusaha mengobrol. Semuanya fokus untuk mengerjakan tes di depan mata. Karena banyak hal yang harus diisi sedangkan waktu yang ada tidak terlalu banyak.


“Tes selesai, silahkan istirahat makan siang kemudian kembali kesini untuk melakukan tes wawancara.”


‘Akhirnya Beres juga’ aku meregangkan badan terlebih dahulu kemudian perlahan keluar ruangan.


Karena aku tidak mengenal peserta yang lain, aku memilih untuk mencari tempat makan terlebih dahulu. Setelah mencari tahu letak tempat makan dari resepsionis, aku segera pergi ke tempat itu. Aku tidak ingin terlambat menghadiri wawancara karena kelamaan makan siang.


Sebelum makan aku juga sudah mengabarkan om ku untuk mencari makan siang sendiri. Takutnya ia malah menunggu untuk makan siang bersama. Kali ini aku memesan makan siang sederhana saja, ada nasi kemudian lauk pauk seadanya.


Setelah selesai makan dan menunggu isi perut turun, aku segera menuju mushola terdekat. Awalnya aku mengira harus masuk ke lift. Ternyata lift juga sama seperti parkir, hanya bisa dipakai oleh karyawan. Setiap lift memerlukan kartu pegawai untuk digunakan. Untungnya ada lift untuk umum yang bisa kita pakai ke parkiran dan mushola.


Aku berusaha untuk mengurangi hawa keberadaan karena takut menyinggung orang-orang di sini. Karena aku belum tahu adat kebiasaan lingkungan kerja di sini. Khawatir ada orang yang mudah tersinggung. Perjalanan menuju mushola dari lift tidak lama, hanya beberapa menit saja.


Mushola kantor ini meskipun berada di basement, cukup adem dengan adanya AC serta kondisi yang bersih. Aku lihat marbod masjidnya sangat giat bekerja di sini. Nyaman sekali menjalankan ibadah di tempat ini. Sempat takut kebablasan dan malah ketiduran saking nyaman nya.


Setelah selesai menjalankan ibadah, aku kembali ke ruang tunggu untuk tes berikutnya. Setiap menit yang tersisa aku habiskan dengan melakukan persiapan untuk tes wawancara.


*Beberapa menit kemudian*


“Pak Ray, silahkan masuk kedalam ruangan” Namaku dipanggil oleh panitia tes.


“Siap!” Ucapku dengan gagah sambil memasuki ruangan interview.


Ketika sudah selesai jam makan siang, aku melihat banyak orang keluar masuk dari ruangan interview. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam ruangan, hanya terlihat gerakan mereka melakukan pembicaraan.

__ADS_1


Tidak seperti tes di Jogja, aku tidak berani bertanya mengenai pengalaman interview di dalam, sehingga aku hanya curi-curi dengar saja. Karena aku tidak mengenal orang-orang di sini.


“Silahkan duduk pak Ray” Aku baru duduk setelah dipersilahkan untuk melakukannya.


Berbeda dengan saat di Jogja, kali ini yang melakukan wawancara adalah wanita muda yang cantik. Aku penasaran apakah ini salah satu ujian juga, untungnya aku sudah belajar ilmu untuk melakukan wawancara dengan baik dan melihat ke arah yang tepat.


“Perkenalkan diri anda?” Pewawancara memulai tugasnya.


Pertanyaan standar digunakan untuk memulai wawancara. Perkenalan diri yang mantap adalah syarat wajib untuk lolos semua wawancara. Namun jangan terlalu menggunakan pengenalan diri yang standar dan jangan terlalu berlebihan.


Pastikan apa yang kita omongkan adalah fakta. Mereka pasti akan melihat gerak gerik kita kalau berusaha berbohong. Kecuali memang kalian pintar untuk bersandiwara.


Setelah itu ada pengecekan dokumen dan banyak pertanyaan dilontarkan kepadaku. Aku berusaha menjawab pertanyaan dengan sebaik mungkin. Namun ada pertanyaan yang mungkin aku salah menjawabnya, yaitu mengenai apa kekurangan diriku.


Dengan polosnya aku menjawab kalau aku kurang disiplin. Padahal sebenarnya kalau dilihat-lihat. Diantara orang lain, aku bisa dibilang paling disiplin dan tepat waktu. Ngumpul jam 10 ya datang harus tepat jam segitu. Tidak boleh ngaret. Hal itulah yang selalu aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sayangnya tidak ada obat untuk penyesalan. Nasi sudah menjadi bubur. Aku melanjutkan menjawab pertanyaan lainnya sebaik yang aku bisa.


Interview berlangsung tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar 30 menitan. Petugas wawancara seperti biasa hanya memberikan arahan untuk menunggu pengumuman masuk ke dalam email. Aku hanya bisa menunggu sampai waktunya tiba. Setelah pamitan dengan cara yang baik, aku kembali ke tempat om ku telah menunggu.


“Sudah selesai om, ayo kita pulang” Jawabku dengan perasaan lega telah selesai tes.


“Mau jalan-jalan dulu gak Ray? mumpung lagi di Tangerang?”


Aku menggelengkan kepalaku dan menolak ajakan pamanku. Karena kalau jadi jalan-jalan , pastinya semua ongkos nanti aku yang nanggung. Terlebih badanku juga lelah setelah melakukan dua test sehingga tidak sabar ingin rebahan di kasur.


Perjalanan berlangsung aman dan aku telah sampai ke rumah. Tidak lupa aku juga memberikan upah kepada om ku, bensin di perjalanan juga aku yang membayar. Untungnya masih ada uang dari pekerjaanku sebagai guru. Berapapun gaji yang kita punya, kita harus biasakan menabung. Paling tidak itulah yang diajarkan ibu kepadaku.


Serta jangan lupa untuk mengatur keuangan kita. Jangan sampai pendapatan lebih besar dari pengeluaran. Hal itulah yang merupakan salah satu penyebab malapetaka kehidupan.


Setelah berbincang sebentar dengan kedua orangtua serta istirahat dengan bermain game, aku tidur lelap malam ini di atas ranjang yang empuk. Berusaha untuk tidak memikirkan test yang baru saja aku jalani.


*Beberapa minggu kemudian*


“hasilnya sama seperti kemarin” Aku menghela nafas setelah melihat pengumuman yang sampai ke email.


Beberapa hari setelah tes, aku mendapatkan pengumuman maaf dari softhouse. Kurang lebih isinya aku belum berkesempatan untuk bekerja di sana. Namun semangatku belum pudar, aku pasti akan mendapatkan kerja di tempat yang layak.

__ADS_1


Percaya bahwa sudah ada yang mengatur segalanya untuk kita. Dengan semangat yang membara, aku tetap melanjutkan kegiatan sebagai pengajar secara profesional. Kejadian ini tidak boleh membuatku lemas. Malahan harus menjadi bahan bakar untuk lebih semangat kedepannya.


__ADS_2