
Sebentar lagi aku akan mulai kerja di Tangerang. Daripada memilih bolak balik dari rumah ke Tangerang (perjalanan bisa memakan waktu lebih dari 2 jam). Aku memutuskan untuk mencari kontrakan di daerah Tangerang.
Pengalaman ngekost sudah pernah aku miliki saat kuliah dulu. 4 tahun lamanya aku kost di tempat yang sama dan tidak pernah pindah dari awal kuliah hingga lulus kuliah. Berbeda dengan kebanyakan orang yang biasanya pindah tempat kos setiap tahun.
Karena itulah, perpindahan kali ini tidak terlalu membuatku panik. Selama bisa mencari kost yang cocok, aku sudah siap untuk tinggal disana selama kerja di tempat itu..
Aku mencari kost tidak sendirian, keluargaku yang ada waktu menemaniku untuk pencarian kost kali ini. Ayah, ibu, Lamda, dan Yana ikut dalam kegiatanku mencari kontrakan. Hanya Arip yang tidak ikut karena ia masih kuliah di Yogyakarta.
"Gimana mas dengan yang ini?" Tanya bapak kepadaku
"Kurang luas, terlalu pengap, cari yang lain saja" Jawabku sambil melihat kondisi kamar yang ditawarkan oleh pemilik kontrakan.
Beberapa kontrakan telah kami datangi dan sulit sekali mencari yang sesuai. Mungkin sudah 4 sampai 5 kali kontrakan yang kami datangi.
Pastinya tidak semuanya bisa kami datangi. Kontrakan yang berada di jalan sempit tidak bisa kami masuki dengan mobil. Karena itulah, hanya kontrakan dengan jalan yang cukup lebar saja yang bisa kami lewati.
Ada beberapa kontrakan yang terlalu pengap, ada yang terlalu sempit, ada juga yang terlalu mahal. Memang kalau mahal fasilitasnya lebih lengkap, namun kalau biayanya terlalu mahal. Takutnya gajian bulanan tidak akan cukup. Menurut temanku, kalau biaya kontrakan lebih dari satu juta per bulan pasti akan terasa biayanya kalau gaji hanya UMR. Karena itulah sebisa mungkin aku mencari kontrakan yang seenak dan semurah mungkin.
"Permisi pak, mau nyari kontrakan di sekitar sini. Apakah ada pak?"
"Ada pak. Kebetulan saya yang punya, pas banget ada satu yang baru kosong. Penghuni sebelumnya baru saja beli rumah."
Aku akhirnya bertemu dengan kontrakan yang sesuai dengan kebutuhanku. Tempat yang cukup luas dengan harga sesuai dengan budget.
Tanpa pikir panjang, aku langsung setuju untuk ngontrak disini. Bayarnya per bulan, sehingga aku bisa berhenti ngontrak kapan saja setiap bulannya. Tidak perlu membayar biaya sewa selama satu tahun seperti saat aku kuliah dulu.
"Bapak tidak setuju. Ini gak aman Ray, ada di tengah jalan" bapak tidak setuju dengan pilihanku.
Padahal keamanan mah tergantung kitanya saja, sigap atau tidak. Meskipun nanti dua tahun kemudian perkataan bapak menjadi kenyataan. Diriku pada saat ini masih belum menyadarinya.
Berkat bapak tidak setuju, kami kembali muter muter untuk mencari kontrakan. Sampai pada akhirnya, aku tetap memilih kontrakan yang aku pilih sebelumnya. Karena semua kriteria sudah dipenuhi. Hanya bapa saja yang masih belum setuju.
Masalah keamanan, nanti aku usahakan untuk selalu kunci pintu setiap saat. Semoga saja kontrakan ini akan aman dan nyaman. Karena aku masih belum tahu secara pasti tingkat keamanan di wilayah ini.
*Satu hari sebelum kerja di Tangerang*
Hari ini adalah hari keberangkatan ke tangerang. Karena besok aku sudah mulai kerja di sana. Tanpa diduga, ternyata hari ini juga Mbah kakung dibawa ke rumah sakit di Bogor.
Mau tidak mau, sekalian berangkat ke Tangerang, kami juga berangkat ke Bogor. Aku menaruh barang dulu di kontrakan, kemudian melanjutkan perjalan ke sana.
__ADS_1
Barang yang aku bawa tidak banyak, hanya kasur Angin, laptop dan kawan-kawan, serta beberapa pakaian serta kemeja untuk pergi ke kantor. Tidak lupa sepatu bagus untuk alas kaki juga aku bawa ke sana. Tidak mungkin aku ke kantor menggunakan sandal jepit.
Kepergian ke Bogor dari Tangerang tidak terlalu lama, hanya sekitar satu jam kami lalui untuk mencapai rumah sakit tempat Mbah dirawat. Dalam perjalanan, seperti biasa aku hanya tidur saja karena ini sudah malam dan badanku sudah lelah akibat perjalanan ke Tangerang.
Menurut tanteku, Mbah dirawat karena ada masalah dengan kakinya. Susah digerakkan serta terdapat keluhan lain yang kurang aku ketahui. Akhirnya Mbah dirawat di Bogor, lebih mudah karena diurus oleh Tante yang juga bekerja di sana.
Sampai di sana, kami hanya makan malam kemudian kembali ke tangerang setelah sholat Maghrib. Tentunya aku menggunakan jurus salat jamak untuk melaksanakan shalat. Karena lebih mempersingkat waktu saat dalam perjalanan.
Sambil makan makan, aku juga ngobrol dengan beberapa saudara yang juga menjenguk mbah di rumah sakit. Kebetulan sekali om Dadang yang juga kerja di Tangerang juga sedang menjenguk mbah. Karena itulah aku menanyakan banyak tips & trick saat bekerja di Tangerang.
"Bagaimana Ray, besok mulai kerja di Tangerang ya?" Tanya salah satu tanteku yang juga tinggal di sana. Ia adalah istrinya om Dadang.
"Iya Tante, sudah dapat kontrakan, nanti habis ini langsung pergi ke sana."
"Daerah mana kontrakannya?"
"Wah, kung tahu Tante, belum hafal jalan di sana. Kayaknya sih sebelum WTC."
Kami membicarakan banyak hal mengenai Tangerang. Terutama angkutan kota yang bisa aku gunakan untuk menuju tempat kerja. Karena aku tidak membawa kendaraan pribadi ke kontrakan.
Om ku juga menambahkan hal-hal yang harus diperhatikan saat kerja di Tangerang. Mulai dari kondisi jalan dan hal-hal tentang Tangerang lainnya.
Aku jadi semakin paham harus seperti apa nanti hidup di sana. Karena aku tidak berencana untuk membawa motor ke tangerang. Karena tempatnya sempit untuk menaruh motor dan aku rasa lebih baik motor di rumah saja. Motor tersebut masih terpakai saat menagih biaya kontrakan.
Aku juga masih deg degan akan seperti apa lingkungan kerja nantinya. Apakah akan sama seperti saat mengajar, atau lingkungan kerjanya cukup berbeda. Hal itu adalah salah satu yang masih membuatku was was untuk saat ini.
“Ray, ayo kembali ke Tangerang, takut kemalaman” Ucap bapak sambil mengajak diriku kembali ke Tangerang.
“Pamit dulu Om, nanti kapan-kapan disambung lagi.”
“Siap Ray, nanti kalau ada apa-apa. Telepon saja ya.”
Setelah berpamitan dengan Om Dadang dan saudara yang lain. Kami kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Tangerang. Karena sekarang sudah tengah malam, jalanan cukup sepi sehingga kami lancar jaya hingga sampai ke kontrakan di Tangerang.
Sampai di Kontrakan, aku turun dari mobil namun keluarga yang lain tidak turun dan hanya berpamitan dari mobil saja.
"Hati-hati Ray, jangan lupa kunci pintu sama yang rajin kerjanya"
"Yang rajin kerjanya, biar naik jabatan"
__ADS_1
"Semangat kerja ya mas."
"Dadah mas, selamat kerja"
"Siap, terima kasih ya. Mamah papah juga hati-hati di jalan. Adek-adek juga. Jangan bandel ya di rumah."
Mamah, papah, Yana, dan Lamda mengucapkan salam perpisahan kepadaku. Karena aku akan menetap di Tangerang dan mereka akan kembali ke kampung halaman. MUngkin aku hanya akan kembali ke rumah dua minggu sekali. Selain harus silaturahmi dengan orang tua, aku juga masih ada kerjaan di rumah untuk menagih kontrakan.
Yana dan Lamda masih sekolah sehingga mereka masih belum mulai merantau. Tidak seperti aku dan Arip yang sudah lalang pernah merantau saat kuliah dulu.
'akhirnya mereka telah pergi.' aku merasakan kesedihan karena sudah tidak bisa bertemu mereka setiap hari.
Meskipun aku sempat ada banyak cekcok dengan bapak. Namun tidak serumah dengan mereka memberikanku rasa lega, senang, dan juga kangen. Memang kompleks sekali hubungan dengan bapak menurutku. Namun pada intinya, aku tetap sayang dengan ayah yang sudah membiayai sekolahku hingga bangku kuliah. Karena tidak semua orang tua mampu untuk melakukanya.
Pastinya aku sangat merindukan bisa mencium tangan ibu saat berangkat kerja dan curhat kepada nya saat mendapatkan masalah. Semoga saja aku tetap bisa sempat pulang berapa minggu sekali ke rumah.
Aku mulai masuk ke dalam kontrakan dan menguncinya setelah masuk ke dalam. Baru aku sadar, kasur angin belum ditiup, sedangkan pompa listrik menimbulkan bising kalau digunakan.
Karena tidak ingin mengganggu tetangga, aku memutuskan untuk menggunakan kasur angin tanpa ditiup. Alhasil tidurku kali ini hampir tidak ada bedanya dengan tidur di atas lantai.
Untungnya ada batal sehingga ku bisa tidur dengan kepala cukup nyaman. Hanya bagian kepala ke bawah yang terasa kerasnya. Untungnya aku tidak masalah tidur di atas lantai. Selama ada bantal dan kasur tidur yang kempes sebagai alas.
Bismilah, semoga besok kerjanya lancar dan tidak ada kendala'
Setelah selesai berdoa sebelum tidur., aku mulai memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi. Semoga saja besok aku bisa menjalankan pekerjaan dengan baik.
*Keesokan harinya*
"Wah, sudah pagi ya?"
Aku bangun pas sekali ketika adzan subuh berkumandang. Karena kontrakan ku dekat dengan masjid. Mau tidak mau suara adzan sangat jelas terdengar. Cocok sekali untuk membangunkan diriku untuk melaksanakan shalat.
Beres-beres sedikit kemudian aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat. Kemudian aku istirahat lagi dan bangun kembali untuk bersiap-siap berangkat.
'aduh, pegal juga ya tidur langsung di atas lantai’ ucapku sambil menatap kasur angin yang masih kempes.
Karena masih ada waktu, aku memompa kasurnya terlebih dahulu. Kemudian aku berdirikan agar tidak mengganggu jalan. Setelah itu aku juga merapikan posisi beberapa barang agar kegiatanku di dalam kamar tidak terganggu.
Bisa repot kalau jalan jadi gak rata karena ketutupan kasur. Semoga saja nanti malam kasurnya tidak kempes kembali.
__ADS_1
Setelah mengecek semua barang bawaan lengkap, aku keluar rumah dan pergi setelah mengunci pintu.
Mulailah langkahku menuju tempat kerja baru dan kehidupan yang baru di kota Tangerang.