Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 61 Menjenguk Bapak 3


__ADS_3

Beberapa menit setelah jalan dari pintu depan rumah sakit, akhirnya aku telah sampai ke ruangan bapak di rawat. Untungnya bapak tidak masuk ke dalam ruang ICU, sehingga kami boleh dengan bebas untuk datang menginap untuk merawat bapak. Kalau bapak sampai masuk ke sana, kami akan kesulitan untuk menjenguk dan bertemu langsung dengan bapak.


Tidak hanya bapak, kebanyakan pasien di rumah sakit biasanya ditemani oleh anggota keluarga atau kerabat dekat. Jarang sekali yang dirawat di rumah sakit seorang diri. Walaupun hal itu terjadi, pastinya orang di sekitar akan kasihan melihat pasien yang tidak ditemani oleh keluarga. Aku tidak  ingin bapakku mengalami hal seperti itu.


Aku penasaran kenapa hal itu bisa terjadi ini karena aku sendiri belum pernah mengalami sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Saat aku kecelakaan pun, hanya rawat mandiri saja di kos, tidak pergi ke rumah sakit. Langsung membeli obat merah di indomaret terdekat dan menggunakan daun sebagai pengobatan herbal, agar cepat kering.


Karena itu mengenai tata krama dan etika saat keluarga ada yang sakit kurang aku pahami. Harus aku pelajari hal ini mulai dari sekarang. Dalam perjalanan menuju ruangan rawat bapak, aku melihat lalu lalang perawat, dokter, dan petugas keamanan. Sepertinya Memang rumah sakit tidak pernah istirahat. Mereka harus bekerja 24 jam. Hormat untuk kinerja mereka para petugas kesehatan.


Mereka menerapkan sistem shift pagi dan malam. Agar setiap waktu, rumah sakit memiliki petugas yang stand by, takutnya terjadi sesuatu terhadap pasien. Karena nyawa orang siapa yang tahu. Biasanya hanya perawat dan petugas keamanan yang melakukan hal ini. Dua petugas ini yang biasanya memantau pasiennya selama 24 jam.


Untuk dokter dan petugas spesialis lainnya hanya berkunjung dan mengecek pasien sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Karena kalau mereka tidak ada istirahat dan ikut menjaga pasien terus menerus, tubuh mereka bisa lelah nanti. Kalau mereka lelah, takutnya bisa salah dalam mendiagnosis pasien. Kurang lebih itulah yang aku tahu secara umum mengenai kinerja rumah sakit.


Apalagi kudengar kalau tenaga medis di Indonesia belum tersebar secara merata. Ada beberapa daerah, terutama daerah pedalaman. Masih kekurangan petugas kesehatan. Karena memang agak sulit untuk transportasi ke tempat tersebut. Apalagi mana ada orang yang rela jauh merantau hanya untuk mengobati pasien di pinggiran daerah.


Hanya dokter luar biasa yang mungkin mau melakukan hal itu. Aku salut kepada siapapun yang rela berkorban untuk negara. Karena aku saja yang pernah sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, menyerah di jalan dan memilih untuk menjadi programmer. Alasan utama nya karena penghasilan yang kurang.


Kalau gaji guru di Indonesia meningkat, mungkin saja dunia pendidikan Indonesia akan semakin maju dengan pesat. Namun Itu hanya salah satu faktor saja, masih ada kok, guru yang mengajar dengan baik meskipun penghasilan mereka tidak seberapa.


‘Aduh, mikir apa sih. Fokus Ray fokus. Setelah mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Kamu harus sabar dan jangan sampai menggunakan nada keras dengan bapak yang sedang sakit.’ Setelah menghilangkan pikiran yang kurang penting dan menarik nafas yang panjang. Aku mulai mengetuk pintu.


*tok tok tok*


“Assalamualaikum” ucapku sambil membuka pintu.


“Waalaikumsalam” Jawab suara dari dalam ruangan.

__ADS_1


Aku lihat ruangan ini memiliki dua buah kasur. Satunya bapaku tempati, satunya dipakai oleh pasien yang lain. Setelah memberikan salam ringan kepada tetangga bapak, aku lanjut berjalan masuk ke dalam.


Ruangan ini cukup sempit, mungkin hanya sekitar 3x3 meter. Apalagi dengan adanya kasur, tv, dan peralatan medis lain. membuat ruangan ini terkesan lebih sempit lagi. Bapak kasurnya berada di ujung ruangan. Dekat dengan kamar mandi. Aku juga melihat ibu sedang duduk di samping bapak dan sedang memberikan makanan kepada bapak.


Sepertinya saat sakit, bapak lebih senang makan sambil disuapin oleh ibu. Hehehe, seperti anak kecil saja. Aku memberikan salam kepada bapak dan ibu serta mencium tangan mereka.


“Aku datang untuk menjenguk bapak. Ini mah, nasi uduk yang mamah pesan.”


“Terima kasih ya nak” Ucap ibu sambil mengambil satu nasi uduk dan menaruhnya di meja.


“Sama-sama bu” Aku menatap ke bapak lalu berkata “Bapak gimana kondisinya, sudah mendingan?”


“Alhamdulilah nak. Bapak udah mendingan, kemarin..” Bapak mulai menceritakan kronologi dirinya memasuki rumah sakit.


Aku sudah mendengarnya dari ibu melalui telepon. Namun tidak ada salahnya untuk mendengarnya langsung dari mulut bapak. Sepertinya memang penyebab utamanya adalah bebek yang dimakan saat pergi ke bogor. Kemudian posisi tidur bapak selama perjalanan pulang ke Cilegon yang salah sehingga membuat tangan gemetaran dan keram.


Sesampainya di rumah, Yana dan Lamda langsung menyambutku. Karena mereka sudah lapar. Dengan semangat mereka menagih makanan untuk kali ini.


“Mas, mana sarapan. Aku sudah lapar” Ucap Lamda sambil menyodorkan tangannya untuk meminta makanan.


Memang adiku yang satu ini sangat sekali doyan makan. Terlihat dari postur tubuhnya yang cukup montok. Saking senangnya makan, kadang meskipun sudah makan nasi dengan lauk. Ia masih melanjutkan dengan ngemil pop mie, sereal, ataupun mie gelas. Entah apakah dia mengenal istilah kenyang atau tidak.


Setelah selesai menyiapkan sarapan. Aku kembali istirahat karena sepertinya perjalan jauh lebih melelahkan dari yang aku kira.


*Siang Hari*

__ADS_1


Aku terbangun dan langsung membersihkan badan kemudian melaksanakan shalat. Selesai shalat, aku melihat ibu memberikan pesan melalui wa.


“Nak, pesan online saja ya untuk makan siang. Nasinya nanti kamu saja masak buat orang yang ada di rumah” Pesan singkat ibu masuk saat jam makan siang.


Setelah membaca pesan aku langsung pesan makan untuk 3 orang. Sambil menunggu lauk datang, aku juga memasak nasi dengan rice cooker. Pengalamanku kost selama 4 tahun lebih tidak sia-sia. Memasak nasi sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Saat aku ngekost di Tangerang, aku juga berencana untuk membeli rice cooker kecil dalam waktu dekat.


Selesai makan siang, aku kembali ke rumah sakit bersama dengan tante Yeni. Karena ia dokter, ia juga ikut memeriksa kondisi bapak.


“Kang, ini penyakit biasa. Untungnya sih belum parah. Akang harus lebih jaga kesehatan lagi dan kurangi rokoknya. Banyakin olahraga dan makan makanan bergizi.”


“Iya dek”


Kurang lebih itulah pembicaraan yang mereka lakukan. Meskipun tante sebagai dokter sudah memberikan banyak saran. Entah bapak akan bisa menurutinya atau tidak. Padahal kalau bisa nurut dan bersabar saja tidak merokok. Paling tidak badan bapak akan lebih sehat dan bugar.


“Bapak, Ray ke sini selain menjenguk juga mau sekalian pamit. Karena besok sore sudah kembali ke Tangerang. Seninnya sudah kembali ngantor.”


“Oh iya nak, hati-hati di jalan  ya.”


Setelah selesai mengucapkan salam, aku kembali mengobrol bersama bapak. Mungkin karena ia sedang sakit, kata-kata bapak tidak sepedas biasanya. Hal ini menguntungkan untukku karena paling tidak saat momen ini. Aku bisa berbicara dengan bapak tanpa terlalu emosian.


Menjelang sore hari, aku pamit pulang dulu karena harus muterin kontrakan. Meskipun Aku bekerja di Tangerang. Tugas ini masih aku pegang hingga saat ini. Karena aku tidak ingin ibu repot-repot keliling untuk menagih kontrakan. Cukup menerima uangnya saja. Sayangnya, bayaran yang aku terima kurang banyak menurutku pribadi.


Namun aku tidak tega untuk meminta lebih. Karena aku tahu keluarga masih ada pengeluaran. Karena semua adikku masih sekolah. Hanya aku yang sudah bekerja dan tidak perlu didukung lagi oleh orang tua.


Mungkin saja ketika pengeluaran keluar sudah menurun ketika semua adik telah bekerja, otomatis aku bisa meminta lebih jatah dari kontrakan. Karena pastinya nanti setelah berkeluarga, kebutuhan yang aku punya menjadi meningkat. Apalagi nanti kalau sudah punya anak, nambah lagi deh pengeluaran.

__ADS_1


Tetapi untuk saat ini, anggap saja hitungan ibadah untuk membantu pemasukan keluarga. Paling tidak bisa meringankan beban ibu meskipun hanya sedikit.


__ADS_2