
‘Kenapa sampai sekarang masih belum nemu ya, cewek yang cocok denganku?’ Ucapku dalam hati sambil berbaring di atas kasur.
Setelah penolakan dari ketiga cewek sebelumnya, aku sempat mendekati dua perempuan yang baru. Mereka bernama Rani dan Lisa. Keduanya dikenalkan dari sumber yang sama, Bule Yeni. Katanya sih cewek-cewek ini sedang mencari calon suami sebagai pendamping hidup. Namun keduanya menolakku dengan jawaban yang sama, ingin fokus mencari kerja dulu katanya.
Sudah khatam diriku dengan kata penolakan seperti ini. Yakin sekali diriku kalau yang mendekati mereka sultan atau memiliki paras yang ganteng, mungkin saja jawaban mereka akan berbeda. Padahal saat aku mendekati mereka, pekerjaanku saat itu masih oke. Sebagai tim IT di perusahaan swasta. Dengan gaji di atas UMR, seharusnya menjadi daya pikat wanita yang mencari ekonomi yang stabil.
Sayangnya takdir berkata lain, mereka berdua menolak diriku hanya setelah sekali bertemu denganku. Mereka tidak coba PDKT dulu, menolak diriku mengenal mereka lebih jauh. Pihak cewek juga tidak ada rambu-rambu ingin mengetes diriku dulu dan langsung menolakku begitu saja. Hal ini sempat membuatku kebingungan dengan minimnya respon dari mereka.
Beruntung aku ada pakar wanita, teman-temanku di dalam grup ekskul Rohis SMA. Mereka yang memberikan penjelasan kalau itu sebenarnya penolakan secara halus. Cewek-cewek seperti ini sebenarnya ingin menolak tapi segan. Karena itu biasanya mereka menunggu pihak cowok paham sendiri kodenya untuk tidak mendekati mereka lagi. Aku hanya bisa menghela nafas saat mendengar hal ini. Enak sekali mereka? saya yang capek-capek deketin tapi mereka tidak memberikan jawaban yang pasti dan hanya menggantung begitu saja. Mungkin ini juga mirip dengan yang namanya ghosting?
Namun aku tetap bersyukur, mereka sudah memberikan kode di awal. Tidak morotin harta ku dulu terus meninggalkanku begitu saja. Aku yakin masih ada tangan yang di Atas untuk hal ini. Sehingga aku diberikan pertanda secara langsung padahal baru ketemuan sebanyak satu kali.
Aku bertemu Rani sama seperti kasus wanita sebelumnya. Bertemu di sebuah tempat makan dan dikelilingi oleh seluruh anggota keluarga. Padahal dari orang tuanya sudah lampu hijau gitu kalau anaknya nyari calon. Eh, malahan anak mereka memiliki pendapatan yang berbeda. Aku rasa, tidak heran kalau ada miskomunikasi dalam keluarga seperti ini. Bahkan hal itu juga masih sering terjadi di keluargaku sendiri. Tidak heran hal itu terjadi juga di keluarga yang lain.
Mungkin saja memang sebenarnya yang pengen punya cucu orangtuanya. Namun anaknya sendiri masih ogah-ogahan dan mau mencari kerja dahulu. Aku juga kalau gak karena desakan kedua orangtuaku, mungkin akan ikut ogah-ogahan juga.
Berbeda dengan Rani, aku bertemu Lisa langsung mampir ke rumahnya. Orang Tua Lisa adalah teman Bule Yeni, sehingga kami sekalian silaturahmi ke rumah mereka. Namun karena percakapan di dominasi oleh orang tua, Lisa dan diriku tidak sempat melakukan percakapan cukup panjang.
__ADS_1
Pada saat itu, aku memang tidak terlalu fokus untuk bicara dengan mereka. Namun menikmati pempek yang mereka buat. Karena orangtua Lisa memiliki usaha membuat pempek. Jadi meskipun aku tidak dapat hatinya, tapi dapat kenyang saat berkunjung ke rumahnya.
Lisa tidak menghubungi diriku lagi setelah pertemuan itu. Bahkan pesanan pempek yang aku minta kepadanya sama sekali tidak diurus. Ia menolak sekali kalau aku mau mampir lagi ke rumahnya, dengan beribu macam alasan. Melihat rambu ini, aku langsung tidak melanjutkan proses PDKT kepadanya. Hanya buang-buang waktu saja.
“Loh, kok kamu gak lanjutin mendekati si Lisa?” Tanya suami Bule Yeti kepadaku. Aku memberikan penjelasan alasanku melakukan hal ini. Karena aku sudah menyiapkan jawaban ketika mendapatkan pertanyaan seperti ini.
Tetapi seperti orang tua kebanyakan, mereka tidak percaya akan alasanku dan hanya memberikan penilaian seenak jidat mereka sendiri. Dirikulah yang disalahkan karena kurang gigih untuk mengejarnya sang cewek. Aku hanya bisa tersenyum saja dan menerima saran tersebut masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Barulah beberapa minggu setelah itu, Bule Yeni yang sudah menanyakan kepada LIsa secara langsung menjelaskan alasan sebenarnya.
“Iya nak Ray. Katanya Lisa itu masih mau fokus kerja dan masih belum mau membina rumah tangga” Itulah jawaban yang diberikan oleh pihak Lisa. Tepat sesuai dugaanku.
Ya kali itu alasan yang sebenarnya. Hanya isapan jempol saja itu. Sudah pahamilah diriku, kalau ada cewek memberikan penolakan seperti itu. Sama seperti saat sekolah dulu, yang bilangnya mau fokus belajar dulu dan gak mau pacaran. T*i kucing sekali. Namun aku bersyukur tidak mendapatkan penolakan secara ekstrim sehingga mempengaruhi kesehatan mental diriku. Tidak sedikit laki-laki yang menjadi berubah kesehatan mental nya setelah mengalami penolakan seperti ini. Semoga saja kejadian ini membuatku menjadi pribadi yang lebih baik. ‘Apa yang tidak membuat mati akan membuatmu lebih kuat’. Aku cukup percaya mengenai perkataan ini.
‘Loh? ada apa ini? kok semuanya membahas pernikahan?’ Karena banyak channel membahas hal ini. Aku mencoba untuk menonton beberapa video tersebut.
Selesai menonton, muncul perasaan yakin dalam hatiku. ‘Sepertinya, ini sudah waktunya aku mulai lebih serius dalam mencari pasangan.’ Tekad ini langsung aku beritahukan kepada teman-temanku di grup ekskul SMA. Siapa tahu, ada yang mempunyai kenalan.
Namun namanya jodoh, kita tidak tahu darimana dia datang. Kali ini, ada cewek baru yang dikenalkan oleh salah satu penghuni kontrakan yang aku urus.
__ADS_1
“De, sudah punya istri belum?” Tanya penghuni kontrakanku, om Chen. Ia memiliki paras tubuh yang agak pendek dengan kulit putih. Om yang satu ini memiliki usaha baju dan harganya cukup murah. Aku sering mampir kesana untuk membeli beberapa baju.
“Belum a, ini juga masih nyari calon.”
Mendengar ucapanku, Om Chen ekspresinya langsung tersenyum lebar dan memperkenalkan ponakannya kepadaku.
“Ini om ada Ponakan. Lagi cari calon juga de. Lulusan sarjana dia, agamanya juga saya jamin bagus. Lulusan pesantren. Mau aa kenalin gak?”
“Boleh a, pas sekali. ada nomor kontaknya gak?”
Pembicaraan ini merupakan awal dari perjalanan panjang diriku dengan Uswa. Wanita yang dikenalkan oleh Om Chen. Setelah mendapatkan nomor tersebut, aku kembali meningkatkan kemampuan skill PDKT secara signifikan. Banyak teori dan simulasi yang aku lakukan untuk mempersiapkan kesan pertama yang pantas dan bisa memikat si dia. Mulailah aku mengirimkan chat rutin kepadanya dan mulai perlahan sedikit demi sedikit mengenal wanita ini lebih jauh.
Waktu demi waktu berlalu, hingga pada akhirnya. Aku mengajak Uswa untuk ketemuan pertama kali. Dengan tangan bergetar, aku mencoba untuk mengajaknya kencan melalui chat.
“Uswa, nanti hari Sabtu sibuk gak? Mau makan siang bareng dengan saya?” Ucapku secara sopan setelah mengucapkan salam tentunya.
[Boleh kak, mau ketemuan di mana?] Balasnya kepadaku.
__ADS_1
Aku mulai membicarakan detail pertemuanku dengan wanita yang satu ini. Tentu saja sebagai pria, aku harus pergi untuk menjemputnya di rumah. Sekalian bertemu dengan orangtuanya. Haruskah aku memperkenalkan diri kepada calon mertua. Semua rencana meet up juga aku yang susun.
Tidak terasa, waktu pertemuan dengan Uswa telah tiba. Teori sudah banyak aku pelajari. Pakaian terbaik sudah aku gunakan untuk pertemuan pertama ini. Sisanya, aku hanya bisa berusaha sekeras mungkin untuk membuat Uswa tertarik kepadaku. Semoga saja, aku tidak akan mendapatkan perlakuan seperti yang sudah-sudah. Kira-kira, bagaimana kencan pertamaku akan berjalan nanti? Aku sudah tidak sabar dan deg-degan juga untuk mencari tahu.