Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 89 Pekerjaan Arip


__ADS_3

Sama seperti semua mahasiswa yang baru lulus. Arip juga mendapati dilema yang cukup besar. Apakah ia akan melanjutkan sekolah S2? atau mencari kerja terlebih dahulu? Kalau dari orang tua, kebanyakan menyerahkan keputusan kepada anak. Kalau mau lanjut S2, nanti uangnya pasti akan mereka berikan. Sedangkan kalau mau kerja juga orang tua mendukung. Selama gaji dan kerjanya jelas.


Sama seperti saat zamanku dulu, ibu kurang suka kalau kami mencari kerja di Yogyakarta. Karena UMR di sana terhitung kecil. Ia khawatir tidak akan bisa menabung nantinya kalau cuma dengan gaji segitu. Pada akhirnya seperti semua orang, Arip juga pada akhirnya mencari kerja di ibukota.


Alhamdulilah, ia berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang yang ia geluti, IT. Setelah melalui berbagai macam rangkaian test, akhirnya ia berangkat menuju Jakarta untuk tanda tangan kontrak. Aku dan keluarga dirumah mendoakan semoga Arip mendapatkan kontrak yang menguntungkan bagi dirinya.


Saat Arip berada di Jakarta, ia juga mengirimkan beberapa foto saat ia berada di kamar hotel. Cukup mewah untuk hitungan pegawai yang baru masuk, sudah mendapatkan fasilitas tanda tangan di hotel dan juga mendapatkan beberapa acara sambutan. Berbeda denganku yang cuma tanda tangan melalui email.


Beberapa hari setelah di Jakarta, Arip kembali pulang ke rumah. Ia memberitahukan apa saja yang ia lakukan saat berada di Jakarta. Tahap berikutnya ia masih harus mengikuti pelatihan online selama 3 bulan dan offline selama 3 bulan. Barulah setelah itu, ia mulai kerja di kantor sambil melalui masa percobaan. Kontrak kerja yang ia tandatangani juga ia ceritakan pada saat ini.


Seperti isi kontrak kerja kebanyakan, ia tidak boleh membatalkan kontrak kerja. Kalau batal, ia harus membayar denda. Kemudian ada berbagai macam syarat yang tertulis di sana. Namun kurang lebih, selama 5 tahun, ia harus mengabdi di tempat itu sebagai karyawan. Temanku yang juga bekerja di perusahaan milik negara juga kurang lebih mendapatkan kontrak yang sama.


“Bagaimana menurut mas kontrak ini?” Tanya Arip kepadaku.


“Ya normal sih kontrakanya, gak ada yang aneh juga. Hal yang paling penting nantinya bayaran sesuai dengan yang tertera di kontrak. Kalau berbeda, bisa tanyakan nanti ke bagian finance atau HRD. Karena gaji harus sesuai kontrak, tidak boleh lebih ataupun kurang.”


Setelah mendengarkan pendapat dari semua anggota keluarga, Arip akhirnya mantap untuk kerja di tempat yang sekarang. Perimbangan utamanya karena mencari kerja sekarang sedang susah. Oleh karena itu, ini kesempatan bagus baginya untuk mencari pengalaman. Kekurangan tempat kerja Arip menurut saya adalah karena perusahaan ini bergerak di bidang perbankan. Kehalalanya masih dipertanyakan sampai saat ini. Tidak ada hukum mutlak dalam agama mengenai bekerja di perusahaan bank konvensional sejauh pemahaman ku.

__ADS_1


Untungnya kalau IT seharusnya jauh dari riba, kecuali ia kerja di bagian kredit. Kalau bagian itu sih, sudah sangat terlihat jelas bahayanya. Semoga saja ia bisa sukses di tempat ini dan masa depan bisa ia lalui dengan baik. Karena sampai saat ini kami masih belum tahu akan seberapa banyak beban kerjanya yang akan Arip hadapi.


Saat masa pelatihan online, Arip full berada di rumah. Sama seperti diriku yang sedang WFH. Karena itulah, kami masih sering bertemu meskipun masing-masing sudah mendapatkan pekerjaan. Momen yang langka dan hanya terjadi akibat dari adanya pandemi.


Ketika Arip akan online, biasanya ia sudah nitip minta dibangunkan agar tidak terlambat bangun.


“Mas, nanti bangunin ya, mau meeting.”


“Ok”


Perilakunya akan berbeda dengan Lamda yang juga mengalami hal yang sama. Main sampai malam karena sekolah online dan susah dibangunkan saat pagi. Apalagi ketika akan absen dan harus masuk ke kelas online. Hal itu wajar karena mereka berdua umurnya jauh berbeda. Lamda yang masih kecil harus belajar lebih banyak mengenai tanggung jawab.


Saat sudah waktunya, aku membangunkan Arip yang masih tidur. Tidak hanya dengan perkataan, aku juga menggoyang-goyangkan badanya dengan kedua tanganku.


“Arip, ayo bangun, udah mau meeting tuh.”


Arip membuka matanya kemudian melihat jam di handphonenya “Ok, makasih mas.” Ia bangung tidur kemudian mencuci muka dan mulai bergnati pakaian. Karena nanti meetingnya harus on camera, ia mengganti setelan atasan yang awalnya kaos oblong rumahan, berubah menjadi kemeja putih berdasi hitam seperti ketika mahasiswa mau sedang.

__ADS_1


Setelah merapikan rambut dan mengecek keadaan mukanya di dalam cermin, ia bersiap untuk online di depan kamera laptopnya. Tentunya ia juga mengingatkan anggota keluarga yang lain untuk jangan berisik karena ia harus meeting. Aku hanya tersenyum dan mengikuti permintaanya. Karena saat meeting online, suara dari luar bisa sangat menggangu dan tidak sopan terdengar oleh anggota yang lain.


Kebetulan ketika Arip sedang online, posisinya dekat dengan meja kerjaku. Sehingga mau tidak mau, aku melihat keseluruhan acara yang Arip lakukan. Pastinya tidak mungkin speakernya dalam keadaan mute. Karena ia harus menyampaikan pendapat dan juga memberikan pertanyaan saat diberikan kesempatan.


Hal yang paling unik bagiku adalah setiap memulai meeting, kantor Arip memiliki aturan harus mengucapkan yel yel yang memberikan semangat. Awalnya menurutku itu cukup aneh dan membuatku tertawa. Namun kalau dipikir-pikir, sepertinya hal seperti itu penting untuk menumbuhkan semangat saat menghadapi pekerjaan.


Biasanya ia meeting sama seperti jam kerja. Dari pagi hingga sore. Namun tidak full tanpa berhenti. Kadang setiap beberapa jam sekali ia mendapatkan istirahat untuk sholat dan makan siang. Sepertinya tidak mungkin ada meeting online yang nonstop berjam-jam. pastinya ada beberapa menit untuk anggotanya istirahat.


Tidak hanya badan, mata juga harus dijaga apalagi saat WFH yang membuat para pegawai menghabiskan waktu lebih banyak di depan laptop. Sepertinya kedepannya, toko optik akan mendapatkan banyak pelanggan baru karena banyak sekali toko yang perlahan berubah menjadi online dan membuat waktu semua karyawan di depan laptop menjadi lebih banyak.


Sama seperti kata beberapa tokoh, setiap ada pandemi atau bencana berdampak ekonomi. Biasanya akan muncul beberapa orang kaya baru akibat hal itu. Tinggal bagaimana setiap lini usaha bisa survive dan bertahan. Entah dengan cara melakukan transformasi ataupun melakukan hal yang lain.


Perusahaanku juga sama, sekarang sudah mulai WFH ketika pandemi. Meskipun memang tidak semuanya bisa online karena ada beberapa staf yang harus pergi ke site untuk mengatasi saat ada masalah jaringan di kantor. Namun selain itu, semuanya full secara penuh kerja secara online.


Entah sampai kapan gaya hidup seperti ini akan berlangsung. Bisa saja hanya beberapa bulan, atau mungkin bisa sampai beberapa tahun? semuanya hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sebagai warganegara yang baik, aku hanya bisa mengikuti aturan pemerintah seperti menjaga 3m (mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker) serta menaati aturan-aturan yang pemerintah buat selama masa pandemi ini.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2