Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 170 Survei ke Sekolah


__ADS_3

Setelah banyak berunding, akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengajar di SMK. Meskipun ada perasaan berat karena harus melepas pekerjaan di Darka yang hanya bertahan selama 4 bulan. Keputusan ini aku pilih tidak asal-asalan.


Meskipun di awal dari kedua tempat kerja tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dengan artian pagi sampai sore ngajar di SMK kemudian malam harinya boleh mengajar di Darka. Memang kalau secara waktu pasti ketemu dan hal ini mungkin sekali dilakukan secara teori.


Tetapi…Badanku bukan robot. Tubuhku membutuhkan waktu istirahat setiap harinya. Kalau pagi sampai sore energi sudah habis mengajar anak-anak SMK yang tidak karuan. Apalagi kalau malamnya di suruh mengajar murid di Darka kembali. Bisa-bisa bukannya kerja, malah tumbang nanti di tengah jalan


Mau orang berkata apapun, aku yang paling tahu badanku sendiri. Aku yang paling tahu kondisi tubuh dan mentalku. Pastinya aku tidak akan kuat dalam sehari tidak bisa sama sekali bermain ataupun istirahat kalau harus mengerjakan dua job seperti ini. Memang sih kalau dari sisi pendapatan akan mendapatkan peningkatan karena memiliki dua pekerjaan.


Tetapi kalau kesehatan dan waktu istirahat menjadi taruhan. Percuma duit lebih banyak tapi tidak bahagia. Mungkin ada orang yang kerja sebagai hiburan ataupun hobi. Namun aku belum sampai tahap itu. Aku masih terasa capek dan lelah saat mengajar. Mau dipelintir seperti apapun, tetap saja aku masih tidak bisa menjadikan mengajar sebagai hobi atau hal yang disukai. Sehingga akan terasa capek saat pulang sekolah datang.


Memang ada kalanya murid itu sedang kondisi baik dan mengajar kondusif serta enak untuk ngajarnya. Namun hal seperti itu jarang sekali terjadi. Kalau sedang sial dan semua hal buruk terjadi saat mengajar. Apa bisa dikata? Sehingga aku memilih untuk membuang satu job dan fokus terhadap job yang lain. Daripada terjadi insiden tidak diinginkan. Seperti aku melampiaskan stress terhadap murid misalnya. Nauzubillah min dzalik.


Job yang menjadi korban adalah Darka. Banyak pelajaran yang aku dapatkan di tempat ini. Aku juga mendapatkan banyak ilmu terutama mengenai coding. Bidang yang sudah lama aku tinggalkan. Karena kalau di kantorku sebagai IT terakhir lebih banyak sesi rancangan aplikasinya. Sedangkan pembuatan aplikasinya lebih simpel dengan menggunakan aplikasi. Tidak banyak ilmu baru yang aku dapatkan dari sana.


Sayangnya saat aku hendak keluar dari tempat tersebut, kondisi kantor berubah total dan lebih mengarah menggunakan software openbravo sebagai media pembuatan aplikasi mereka. Dimana aku masih belum menguasai betul aplikasi tersebut. Momen-momen itu yang membuatku mulai tidak nyaman kerja di sana. Apalagi pada saat ini, pandemi datang ke Indonesia.


Sekarang, sebelum aku mulai mengajar. Aku harus kembali survey tempat terlebih dahulu. Datang ke sekolah lalu kenalan dengan orang-orang disana. Serta mengurus dokumen resmi dengan kepala sekolah. Terutama mengenai kehadiranku untuk mengajar di tempat tersebut.

__ADS_1


Berangkat dengan motorku, aku sampai dengan lancar ke ruangan kepala sekolah. Dari zaman aku mengajar dulu, terdapat beberapa perubahan dari sisi bangunan. Meskipun tidak signifikan. Kulihat juga ada beberapa wajah baru, namun kebanyakan semuanya guru wajah lama.


Sekilas hal ini bagus, menandakan kalau ada banyak guru yang loyal dan tidak pindah mengajar. Namun aku berpikir, bagaimana seandainya tiba-tiba seluruh guru pergi ke sekolah negeri akibat mendapatkan tawaran yang lebih baik. Kira-kira, apa yang akan terjadi dengan sekolah ini? Aku merinding kalau memikirkan skenario terburuk seperti itu.


Meskipun saat ini aku hanya kerja sebagai guru saja. Tidak perlu memikirkan hal-hal rumit seperti ini. Aku hanya bisa yakin dan berdoa kepada Allah kalau semuanya akan baik-baik saja.


“Eh, pak Ray sudah datang. Ayo pak, silahkan masuk.”


Pak Rima, kepala sekolah yang baru menyambutku dan membiarkan diriku untuk masuk ke ruangan. Dulunya yang memegang jabatan sekolah adalah tanteku. Namun ia digantikan dalam beberapa tahun terakhir.


“Gimana kabarnya, pak Rima?”


Kami mulai basa basi sedikit lalu perlahan-lahan mulai ke pembicaran inti.


“jadi begini, pak Ray. Kami sudah membuat jadwal. Kira-kira, bapak nanti akan mendapatkan jam mengajar sebanyak 50 jam. Apakah bapak bersedia? atau mau meminta request untuk jamnya?”


Kulihat sekilas jadwal yang pak Rima berikan lalu berkata “Saya siap pak. Tidak ada permintaan khusus yang aku minta. Saya serahkan semuanya kepada pak kepala sekolah dan juga wakasek kurikulum” Ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


Pak Rima senang mendengar jawabanku. Kami mulai membahas detail mengenai jam mengajar yang akan aku terima. Wakasek Kurikulum juga sudah hadir ke ruangan dan membahas hal tersebut. Kebetulan mereka juga sedang membahas slot wali kelas  yang kosong karena kekurangan murid.


“Bagaimana ini pak, gurunya masih kurang sebagai wali kelas?”


Pak Rima melihat ke arahku dan berkatan “Nih ada pak Ray. Dia saja yang mengisi jabatan wali kelas. Pak Ray bersedia tidak menjadi wali kelas?”


“Saya sih, oke-oke aja”


“Bagus, catet tuh bu. Pak Ray bersedia” Ucap pak Rima kepada Wakasek Kurikulum bernama ibu Renata.


Bu Renata dan Pak Rima mulai mengatur jadwal dan wali kelas sesuai informasi baru yang mereka terima.


“Baiklah kalau begitu pak Ray. Selamat bergabung kembali ya dengan kami.”


“Ok pak. Senang bisa datang kembali”


Akhirnya, kedatanganku kembali ke sekolah ini menjadi resmi.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2