Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 56 Hari Pertama Bekerja (Tangerang) 2


__ADS_3

Bingung melihat tidak ada cara untuk masuk ke dalam kantor. Tidak mungkin aku paksa dobrak untuk masuk ke dalam. Nanti menimbulkan masalah baru. Pada akhirnya aku hanya bisa bengong di depan kantor sambil menunggu apakah ada instruksi tambahan dari senior dan atasan.


“Eh, orang baru ya? sudah daftar sidik jari belum?” Ucap salah satu orang yang keluar dari kantor.


“Benar pak, saya belum daftar. Hari ini pertama kalinya bekerja”


“Ikut saya saja masuk sini, masuk ke perusahaan mana?”


“PT Elektronik Jaya pak”


“Oalah, itu mah lantai paling atas. Ayo ikut saya sampai ke sana”


Pegawai itu langsung mengantarku menuju lantai paling atas. Menurut informasi darinya, ruko ini memiliki 2 perusahaan yang menaunginya. Elektronik Jaya (EJ) dengan Bestfriend. Karena ada perubahaan karyawan, EJ yang tadinya berkantor di lantai 3, pindah ke lantai 1.


Sambil pergi ke lantai 3, aku melihat sekilas kondisi setiap lantai. Lantai satu ada 2 ruangan meeting, 1 kamar mandi, serta 1 mushola. Lantai 2 Aku lihat ada satu ruang tengah serta satu kamar mandi. Selain itu juga add beberapa kantor kecil yang aku tidak tahu jumlahnya.


Barulah lantai ketiga dengan satu kamar mandi kemudian satu ruangan besar. Selain itu satu lagi ada teras tempat khusus untuk merokok. Lantai ini juga terdapat wastafel dan tempat kopi semuanya di taruh di sini.


Sampai ke lantai 3, aku hanya duduk saja sambil ngobrol dengan orang sekitar. Pembicaraan kami hanya ngalor ngidul dan tidak ada hubunganya dengan pekerjaan. Namun sempat ada pembicaraan yang cukup lucu. Mengenai nama tempat-tempat yang ada di Yogyakarta.


“Dulu sekolah di mana?” tanya salah satu pegawai sambil melihat ke arahku.


“Jogja pak” Aku menjawab dengan agak canggung karena ini pertama kalinya kami bertemu.


“Sudah pernah ke xxx dan xxx belum? Kalau ke xxx sudah pernah?”


Dia menyebutkan beberapa nama tempat yang ada di Jogjakarta. Namun aku sama sekali belum pernah mengunjungi apalagi mendengar nama tempat tersebut. Maklum aku memang jarang keluar saat kuliah. Paling keluar hanya untuk pergi ke mol saja nonton bioskop bersama teman-taman atau mencari makan di luar.


Hasilnya kalau tempat-tempat spot foto atau tempat wisata unik sama sekali aku tidak ketahui. Namun pegawai itu kembali melanjutkan pertanyaanya.


“Ke mana saja kamu pada tahun 96? saya sudah pergi ke banyak tempat pada tahun segitu. Masa kamu gak pernah kemana-mana?”


Aku sempat diam sebentar lalu menjawab “...Saya tahun segitu baru lahir pak”

__ADS_1


“...”


Kami diam sejenak lalu dia berkata “Waduh, kerasa deh umur kalau udah seperti ini, hahaha.” Pegawai yang lain juga tertawa saat mendengar salah satu orang berkomentar seperti itu.


Memang di lantai ini terdapat beberapa orang. Meskipun aku sempat salaman untuk memperkenalkan diri. Tetapi aku sama sekali tidak ingat dengan nama mereka. Karena kami ternyata berada di PT yang berbeda. Pertemuan ini adalah pertama kalinya kami bertemu dan seterusnya mungkin kami akan jarang berkumpul lagi.


Setelah obrolan itu kami semua melanjutkan tugas masing-masing. Kecuali diriku yang masih tidak tahu hari ini harus kerja apa. Hingga salah satu rekan kerja dari EJ sudah sampai ke lantai atas.


“Eh, itu pak Sabar sudah datang, nih pak, anggota baru sudah datang.” Ucap salah satu orang di sana  sambil menunjuk diriku.


“Oh, pak Ray sudah datang? sudah ambil laptopnya?”


“Belum pak, di mana saya bisa ambil laptop itu?”


Teman kantor bernama pak Sabar itu sudah cukup lama kerja di sini. Awalnya ia dari sister company namun karena sebuah kejadian. Akhirnya ia ditarik untuk masuk ke EJ. Ia biasanya mengurus jaringan untuk perusahaan yang berada di dalam grup kami. Untung aku tidak mendapatkan tugas untuk jaringan karena aku belum terlalu ahli. Saat kuliah saja motong kabel RJ45 kesulitan.


Setelah pengenalan singkat, aku menerima laptop kemudian pergi ke lantai satu untuk mencari tempat bekerja. Sayangnya saat ini ruangan untuk kantor EJ masih dalam perbaikan, karena itu belum bisa digunakan.


Mau tidak mau, aku pergi ke ruangan yang kemarin aku gunakan sebagai tempat wawancara. Tempatnya cukup kecil dan hanya bisa muat untuk 4 orang saja duduk maksimal. Mungkin hanya sekitar 2x2 meter ukurannya.


“Belum pak, ini baru mau saya buka”


Perlahan aku membuka laptop kemudian aku sempat diam sebentar. Karena kaget melihat spek yang dimiliki oleh laptop ini. Belakangan aku tahu kalau harga laptop ini sekitar 10 juta rupiah. Spek yang cukup untuk melakukan berbagai macam pembuatan aplikasi berbasis web.


“Gimana? bagus kan? ini nanti laptop untuk kamu membuat program. Hari ini, kamu fokus belajar saja dulu. Sudah mendengar tentang scriptcase?”


“Belum pak” Jawabku sambil menggeleng kepala.


“Langsung cari aja di google kemudian tonton tutorialnya sambil download softwarenya. Password untuk wifi adalah XXX. Hari ini dan beberapa hari kedepan kamu fokus untuk belajar aplikasi ini saja ya.”


“Baiklah pak”


Setelah pembicaraan itu, kami berdua fokus dengan pekerjaan masing-masing. Pak Rawan dengan projeknya sedangkan aku fokus untuk belajar menonton video tutorial. Pak Rawan saya lihat sekilas sepertinya orang cina. Kemungkinan besar kami juga memiliki kepercayaan yang berbeda.

__ADS_1


Tidak mungkin saat pertemuan pertama aku langsung sok kenal dan tanya yang aneh-aneh. Biarkan saja mengalir dan nanti topik obrolan akan muncul dengan sendirinya. Berbeda keyakinan bukan berarti tidak bisa bekerja sama. Bahkan mungkin ada waktunya kerja dengan orang selain agamaku lebih mudah dan kondusif. Selama kita bisa tidak saling mengganggu, aku pikir itu sudah toleransi yang tepat.


Ketika aku sedang fokus untuk menonton video, ada kalanya aku mengenakan jaket kemudian meregangkan tubuhku. Karena kelamaan duduk di kursi, badan menjadi pegal-pegal.


“Pegal ya pak Ray?” Tanya pak Rawan sambil tertawa.


“Iya pak, lumayan. Biasanya pas ngajar gak banyak duduk” Jawabku sambil tersenyum.


Pak Rawan kulihat-lihat jarang memulai pembicaraan. Karena aku juga orangnya pendiam, alhasil kami kebanyakan hanya berdua diam saja di dalam ruangan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sampai suatu ketika aku melihat sebentar lagi sudah mau jam makan siang.


“Pak Rawan, biasanya istirahat makan siang jam berapa?”


Pak Rawan melihat ke arahku dan berkata “Jam dua belas sampai jam satu siang. Nanti pulangnya biasanya jam lima sore kalau masuk jam delapan pagi dan jam setengah enam sore kalau masuknya jam setengah sembilan”


“Ok pak, saya pamit nyari makan siang dulu pak” Jawabku sambil berdiri untuk mengambil dompet dan hp.


“Silahkan pak, monggo” Ucapnya sambil tersenyum.


Dari yang aku perhatikan, sepertinya pak Rawan ini biasanya membawa bekal ke kantor. Mungkin diberikan oleh istrinya. Dugaanku sih ia sudah menikah dan punya anak. Namun aku belum menanyakan langsung kepadanya tentang hal tersebut.


Tadi pagi saat berangkat ke kantor sih masih melihat banyak tempat makan. Sekilas lihat saja sepertinya ada beberapa restoran ayam dan donut dekat kantor. Bahkan juga ada tempat untuk memakan pizza. Banyak sekali godaan untuk mencicipi makanan di restoran sekitar tempat kerja.


Namun pastinya, sebagai pegawai baru yang belum mendapatkan transfer gaji, aku memilih untuk makan masakan padang saja. Murah, enak, dan membuat perut kenyang. Makanan dengan menu komplit. Kali ini aku memilih ayam dengan minum teh tawar. Ternyata hanya habis 15.000 rupiah saja. Lumayan yah dengan biaya segitu bisa kenyang sampai nanti malam.


Selesai makan, aku mencari mushola untuk aku salat di kantor. Namun menurut pak Rawan, karena sedang renovasi, sepertinya mushola di gedung kantor tidak bisa digunakan. Mau tidak mau, aku harus mencari tempat yang agak jauh untuk melaksanakan ibadah.


Kira-kira, aku bisa menemukannya di mana ya? Awalnya aku sempat membuka peta di maps untuk melihat lokasi. Namun semuanya cukup jauh dari tempatku, harus menggunakan kendaraan. Apa daya aku yang pakai angkot untuk berangkat ke kantor.


“Pak Ray, mau kemana? mau sholat ya? itu di mal situ aja, ada musholanya di atas?” Salah satu petugas kebersihan melihatku dan memberikanku saran untuk shalat.


“Ada ya? makasih ya pak Herman. Lantai atas ya...lumayan lah buat olahraga” Ucapku sambil melihat ke arah mol berada.


“Kalau begitu saya duluan dulu pak Herman, mau shalat dulu.”

__ADS_1


“Hati-hati, jangan lupa oleh-oleh. hehehe” Canda pak Herman sambil melihat ke arah luar kantor.


Pak Herman ini petugas kebersihan satu-satunya di kantor ini. Ia juga mengurusi tiga gedung ruko yang lain secara bersamaan. Memang hebat kerjanya dia. Orangnya juga suka ngobrol dan ramah sehingga menyenangkan saat diajak diskusi. Semoga aku bisa akrab dengan dia selama bekerja di sini.


__ADS_2