Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 84 Perubahan Akibat Pandemi


__ADS_3

Kalau dulu biasanya kita sibuk saat pagi untuk mempersiapkan berangkat kantor, pandemi merubah semua kebiasaan itu. Sekarang, pagi hari kita masih bisa memiliki waktu luang untuk menjalankan ritual pagi.


Saat bangun pagi, kita bisa lebih santai untuk beres beres rumah seperti cuci baju, nyetrika, menyapu halaman, dan kegiatan lain. Tidak seperti biasanya saat masuk kantor. Kita harus lakukan kegiatan pagi itu dengan terburu-buru.


Kemudian saat berangkat sekolah biasanya saya makan di perjalanan. Namun saat wfh, semuanya berubah. Aku hanya pesan makanan saja kemudian dibungkus untuk di makan di rumah.


Ketika jam kerja sudah tiba, aku segera membuka laptop dan bersiap untuk meeting hari ini. Saat wfh seperti ini, kegiatan meeting dilakukan full secara online melalui aplikasi yang tersedia. Sama sekali tidak ada tatap muka terjadi secara offline selama WFH.


Kali ini, meeting membahas sebuah aplikasi yang akan diimplementasikan secara lebih luas. Aku juga melihat ada beberapa orang baru yang belum aku kenal. Sekarang aku baru tahu namanya namun tidak dengan mukanya. Karena semuanya melakukan meeting dengan off camera.


Saat meeting, hanya suara dan nama usernya saja yang terlihat. Video orang tersebut tidak nyala. Untungnya kali ini aku tidak telat meeting. Karena pernah akibat dari sinyal yang sulit, aku jadi telat masuk ke ruang meeting. Langsung saja pak Bem yang melihat itu langsung bertanya-tanya “Siapa itu yang baru masuk!?”. Betapa kagetnya aku karena orang yang telat masuk itu adalah saya karena saya bangunya kesiangan.


Selesai meeting bagi, biasanya sudah tidak ada kontak lagi kecuali ada keadaan mendesak. Sisa hari aku jalani dengan mengerjakan tugas yang sudah diberikan.


Kemudian saat jam pulang kantor tiba, semua pekerjaan ditutup dan aku melakukan kegiatan lain untuk refreshing dan menjalani hari. Entah dengan bermain game, atau dengan istirahat di atas kasur. Jarang sekali aku keluar dari kontrakan. Kurang lebih itulah yang terjadi setiap hari saat wfh.


Memang aku ini sebenarnya tipe yang tidak suka keluar rumah. Karena itulah, metode kerja seperti WFH ini kebetulan sekali sangat cocok denganku. Apakah ada waktunya jenuh di rumah terus? gampang, tinggal pergi aja ke masjid setiap waktu sholat. Minimal sudah dapat tuh, angin dari dunia luar. Selain itu, aku jarang sekali pergi jalan-jalan kecuali memang ada yang perlu dilakukan.


Ketika sudah beberapa Minggu berlaku, wfh dilakukan secara terus menerus. Hingga pada akhirnya, ibu memintaku untuk pulang ke rumah saja. Daripada sendirian di rumah. Itulah kurang lebih perkataan ibu. Hal ini juga sempat aku singgung di chapter sebelumnya, namun aku akan memasukkan detail kejadian yang terjadi ketika aku pindah kontrakan.


Menuruti perkataan ibu, aku langsung pulang dengan menggunakan kereta. Karena ongkosnya tidak berubah sama sekali meskipun ada pandemi.  Berbeda dengan bus yang ongkosnya naik hingga 2 kali lipat. Dari informasi yang aku dapat. Bus yang biasanya hanya bayar 25.000 rupiah. Sekarang naik jadi 50.000 rupiah. Kenaikan yang signifikan bukan?


Hal itu wajar saja karena kapasitas dibatasi hingga 50 persen. Mau tidak mau, pihak penyedia bus tidak ingin rugi dan harus menaikkan ongkos jasa perjalanan mereka.


Namun meskipun kereta ongkosnya tidak naik, protokol kesehatan mereka jaga dengan baik. Semua orang yang masuk harus memakai masker serta di cek suhu tubuhnya. Kemudian para penumpang tidak boleh berkerumun saat ngantri atau di dalam kereta.


Aku salut sekali dengan kinerja petugas kereta api. Mereka tidak capek-capeknya mengingatkan penumpang kereta untuk selalu patuh terhadap protokol kesehatan. Setelah naik KRL, aku melanjutkan naik kereta lokal. Betapa kagetnya aku saat naik kereta lokal. Isi gerbongnya berubah total.

__ADS_1


Sebelum pandemi, penumpang bebas masuk dan duduk di mana saja. Tidak ada penggunaan nomor kursi dan banyak orang yang berdiri di dalam kereta. Namun saat pandemi terjadi, isi gerbong menjadi tertib. Setiap penumpang harus duduk sesuai dengan nomor tiket yang tertulis di atasnya. Serta sudah tidak terlihat orang yang berdiri di dalam kereta. Mungkin hal ini juga karena jumlah penumpang yang menggunakan kereta lokal berkurang akibat pandemi.


Hal ini membuat kereta tidak terlihat sesak dan lebih nyaman. Tidak disangka aku bisa menikmati perjalanan kereta lokal dengan tidak adanya penumpang yang berdiri di gerbong kereta. Turun dari kereta, aku melanjutkan perjalan dengan angkot kemudian melanjutkannya dengan berjalan kaki.


Aku juga melihat perilaku semua orang banyak yang berubah. Saat ini, banyak orang patuh menggunakan masker. Meskipun tidak semua mematuhinya, paling tidak jumlah warga yang pakai masker menjadi lebih banyak.


Sejak sebelum pandemi, aku sudah menggunakan masker dari dulu sehingga sebenarnya tidak ada hal yang berbeda dari kebiasaan yang aku lakukan. Entah kenapa aku juga lebih enak saat melihat mulai banyak orang yang memakai masker. Karena dilihat dari polusi yang ada di jalan, seharusnya orang selalu menggunakan masker saat bepergian ke luar rumah.


Sampai di rumah, aku istirahat kemudian menjalani pekerjaan seperti biasa keesokan paginya. Karena sekarang kerja sudah WFH, bisa kerja dimana saja dan kapan saja. Untungnya hal ini tidak membuat kami bekerja di luar jam kerja. Kalau hal itu sampai terjadi, bisa-bisa gempor tubuh ini.


Namun kebiasaan wfh ini kadang juga menimbulkan rasa jengkel juga. Terutama saat boss mengontak berkali kali karena meminta suatu laporan dikumpulkan. Karena mereka selalu mengirimkan chat dari WA untuk segera menyelesaikan tugas. Mau tidak mau aku hanya bisa dengan segera menyelesaikannya.


Ada juga masa ketika Boas meminta meeting dadakan diluar jam meeting harian. Hal itu sangat membuatku kesal setiap aku mengecek pesan wa dari boss ataupun kontak yang lain. Entah kenapa aku paling tidak suka hal yang dadakan. Paling tidak kabari lah satu atau dua jam sebelumnya. Lebih bagus lagi kalau bisa berikan kabar satu hari sebelumnya.


Untungnya semua itu bisa berjalan dengan baik hingga pada waktu yang lama. Saat pandemi terjadi beberapa momen menyenangkan dan juga menyedihkan muncul pada rentang waktu ini..


Hal ini menyebabkan posisi boss kosong dan entah siapa yang akan menggantikan pekerjaan pak Randy. Kemungkinan besar operasional kantor dipegang oleh orang lain. Aku harus membiasakan lingkungan kerja yang baru tanpa pak Randy.


Selain pekerjaan, pandemi juga berpengaruh ke banyak sektor. Terutama sektor transportasi. Untuk bulan ramadhan kali ini, pemerintah melarang semua orang untuk melakukan mudik. Hal ini karena pemerintah khawatir akan terjadi lonjakan kasus kalau mudik dibiarkan berjalan.


Tentunya hal ini membuat banyak orang masa bodo dan bersikeras untuk tetap melakukanya. Apa boleh buat, momen ini hanya terjadi sekali setahun. Masa iya hanya karena pandemi, semua orang dilarang mudik?


Namun apa daya kita sebagai rakyat. Hanya bisa mematuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah. Karena niatnya baik, untuk menekan angka kasus penyakit baru ini. Bahkan nenek saya juga melarang kami mudik akibat hal ini.


Aku pribadi tidak terlalu berpengaruh akan hal ini. Karena aku tidak suka pergi pergi ke luar rumah dan kerja juga secara WFH. Sehingga meskipun aku tidak keluar rumah berminggu Minggu hingga berbulan-bulan, aku tidak terlalu stress akan hal itu. Apakah ada juga yang sepertiku?


Pastinya tetap saja aku agak kesal karena bioskop menjadi tutup, padalah itu salah satu hiburan yang aku nantikan. Apalagi ada beberapa film anime yang tidak bisa aku tonton karena bioskop tutup. Mau tidak mau harus menunggu ada channel legal yang nanti menayangkannya.

__ADS_1


Aku hanya bisa menunggu pemerintah mengeluarkan aturan baru yang bisa menekan pandemi dan memperbaiki kondisi ekonomi bangsa kita. Karena tidak hanya negara kita, semua negara kaget akan pandemi ini dan tidak banyak negara yang benar-benar siap menghadapi pandemi. Bahkan WHO aja kewalahan menghadapi penyakit yang satu ini.


Untuk mengurangi beban pemerintah yang sudah banyak. Aku sebisa mungkin mengurangi kegiatan di luar rumah. Namun pastinya tidak bisa aku sama sekali tidak keluar. Pasti ada momen harus keluar seperti saat mencari makan dan keperluan sehari-hari lainnya. Paling tidak aku harus keluar untuk nagih kontrakan, bukan?


"Bro, nanti malam Minggu sibuk Gak?"


"Kenapa bro, mau ngumpul?”


Temanku tertawa di balik handphone kemudian berkata "Mana mungkin lah, kan lagi pandemi. Aku mau ngajak meeting online sama yang lain."


"Boleh tuh, nanti diatur-atur lagi saja ya, kapan nanti waktunya"


Tidak hanya perjalanan, komunikasi secara umum juga sudah mulai berubah. Dari yang biasanya kami lakukan secara offline. Sekarang kami hanya bisa bertemu melalui online saja.


Untungnya sekarang zaman sudah canggih. Dengan kamera hape serta internet saja, kita sudah bisa berbicara dengan teman kita yang berada di luar kota. Hal ini membuat rasa rinduku untuk ngobrol dengan teman sedikit terobati.


Meskipun memang tidak bisa menggantikan serunya ngumpul secara langsung. Namun untuk Sekarang, ini solusi sementara untuk komunikasi selama tidak boleh keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang.


Karena kalau ada yang bandel saja sehingga pergi ke luar dan memaksa berkumpul. Besar kemungkinan ia akan bisa membuat klaster wabah baru dan bisa membuat banyak orang kesulitan. Jangan sampaikan karena hanya satu orang abaikan, orang lain malah menjadi korban.


Bukan hanya kalian saja kok yang dibatasi untuk berkumpul, semua orang di Indonesia mengalami hal yang sama. Ayo saling bahu membahu dan berusaha untuk melawan covid bersama.


Jangan hanya bisa menyalahkan satgas covid saja. Pandemi ini merupakan masalah kita bersama. Tidak bisa hanya satgas yang mengurusnya. Seluruh lini masyarakat bisa membantu mengatasi hal ini sesuai dengannya kemampuan masing-masing.


Indonesia pasti bisa menang melawan covid!!!


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2