
Beberapa hari setelah berantem dengan pak Tian. Karena aku tidak ingin mengambil pekerjaan yang ia berikan. Pak Bem langsung ikut turun tangan dan memanggilku untuk masuk ke ruangan dirinya.
Pak Bem kurang lebih adalah owner atau bisa besar dari perusahaan tempat ku berada sekarang. Posisinya lebih tinggi dari pak Randy yang merupakan boss dari PT tempat ku berada saat ini. Karena itulah aku gugup sekali saat mendapatkan panggilan untuk menghadap beliau.
"Wah, pak Bem ngajak ketemuan nih. Pasti bahas masalah kemarin. "
"Masalah apa Ray? "
Banu dan pak Sabar yang ada di dalam ruangan menanyakan perihal kenapa saya bisa dipanggil oleh pak Bem. Aku tidak menutup nutupi dan menceritakan semua hal yang terjadi tempo hari. Untungnya kondisi mentalku saat ini sudah lebih baik daripada sebelumnya..
Setelah mendengar cerita dariku. Sama seperti pak Rawan dan yang lain. Mereka semua mendukung dan setuju kalau ini semua tidak sepenuhnya salahku. Memang bisa dibilang aku juga salah karena tidak mau melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku. Namun menurut pendapatku, tidak mungkin aku bisa membuat sebuah aplikasi yang tidak jelas arah dan tujuan, serta waktu deadline yang juga tidak jelas.
Sambil banyak berdoa aku segera menuju tempat ruangan pak Bem berada. Lokasi ruangan pak Bem terletak tidak jauh dari ruko yang aku tempati, kurang lebih hanya 2 menit perjalanan saja sudah sampai ke kantornya. Berada di tempat ini mengingatkanku saat pertama kali kerja di tempat ini.
Pada saat itu juga aku ke gedung ini untuk bertemu pak Bem karena pak Rawan belum sampai ke kantor. Namun berbeda dengan waktu ini, kali ini aku tidak diantar untuk menuju ruangan pak Bem. Saat aku pertama kali kerja di sini, aku di antar ke ruangannya oleh sekretarisnya yang muda dan cantik. Memang entah kenapa kalau dimana-mana sekretaris itu biasanya wanita cantik, muda, dan penuh dengan talenta. Di tempat ini sepertinya hal itu juga berlaku.
Sebelum masuk ke dalam ruangan, aku mengetuk pintu terlebih dahulu dan menunggu jawaban dari dalam.
*tok tok tok*
__ADS_1
“Masuk” Aku membuka pintu setelah pak Bem persilahkan diriku untuk masuk.
Ruangan ini masih sama seperti saat aku kesini terakhir kali. Terdapat banyak dokumen dan buku yang berjejer rapi di dalam rak. Kemudian ada televisi yang merangkap sebagai proyektor tepat di depan meja beliau. Pak Bem Sendiri saat ini sedang duduk di kursinya kemudian sedang berada di depan laptopnya.
“Silahkan duduk Ray, kamu pasti tahu kan alasan kamu dipanggil ke sini.”
“Iya pak, saya tahu.”
Setelah aku duduk, pak Bem langsung tanpa basa basi langsung masuk ke dalam pokok permasalahan. Sepertinya dugaanku benar, pak Tian sudah ember kepada pak Bem mengenai masalah tempo hari.
“Jadi..” pak Bem menatapku dengan tajam kemudian berkata “Kenapa kemarin kata pak Tian kamu gak mau mengerjakan tugas yang ia berikan? Kamu sudah tidak mau kerja di sini atau bagaimana?”
“Benar pak, karena saya tidak bisa mengikuti cara kerja pak Tian. Tidak mungkin bisa membuat aplikasi secara cepat kalau dari awal tidak ada plan yang solid. Saya juga sampai sekarang tidak tahu pak Tian ingin membuat aplikasi seperti apa. Kemudian dengan waktu yang tidak jelas kapan deadline. Saya rasa hasilnya nanti tidak akan maksimal kalapun itu aplikasi jadi.”
Aku menjelaskan banyak hal mengenai kekurangan dari metode yang pak Tian gunakan dalam membuat aplikasi. Memang mungkin kalau dipaksakan lanjut akan selesai, namun entah nanti berapa banyak konflik yang akan terjadi saat proses development. Kemudian kalau membuat aplikasi buru-buru, pastinya akan muncul banyak error nantinya.
Daripada maksa membuat sesuatu secara cepat tapi nanti malah banyak error. Lebih baik saya mundur saja. Karena yang ideal adalah membuat aplikasi dengan timeline yang masuk akal kemudian harus dilakukan pengetesan juga. Saya rasa pak Bem sudah cukup mengerti dengan penjelasanku sampai sini.
Pak Bem diam sebentar kemudian berkata “Begitu ya, nanti saya bilangin deh ke Tian. Memang sih seharusnya mengerjakan aplikasi tidak bisa seperti itu. Makasih ya Ray atas waktunya, nanti akan saya bilangin kepada pak Tian.”
__ADS_1
Selesai mendengarkan penjelasanku, kami hanya ngobrol sebentar kemudian kembali mengerjakan tugas masing-masing. Saat ini sudah jam pulang kantor sebetulnya. Namun memang pak Bem ini pekerja keras. Banyak cerita yang aku dengar kalau ia kadang saat malam hari masih sering menelpon karyawannya untuk masalah kerjaan.
Mungkin beberapa orang akan melayaninya, namun pak Rawan seniorku sendiri sangat menolak keras akan hal itu. Ia tidak akan mengurus mengenai pekerjaan jika tidak dalam waktu jam kerja. Apalagi kalau ditelpon saat hari sabtu minggu atau hari libur, pastinya langsung ia tolak membahas mengenai pekerjaan. Namun tidak semua orang berani seperti pak Rawan.
Sampai kembali ke ruangan kantor. Aku membicarakan mengenai hal ini kepada pak Sabar dan Banu. Mereka memberiku selamat dan bersyukur bahwa aku berhasil tidak mendapatkan semprot dari pak Bem. Semoga saja besok-besok tidak akan ada kejadian seperti ini lagi.
*Beberapa hari setelahnya*
Pasca pertemuan dengan pak Bem, pak Tian bagaikan hilang ditelan bumi. Ia sudah tidak pernah menghubungi diriku lagi. Kami sudah tidak pernah berkumpul untuk membahas database yang kami buat sebelumnya. Aku sangat lega ternyata pertemuan kemarin paling tidak berhasil membuatku tidak perlu mengurus tugas yang tidak jelas lagi. Akses milikku terhadap aplikasi yang sedang ia buat juga sudah diblokir. Hilanglah sudah hal yang membuat diriku stres selama beberapa hari belakangan.
Tetapi aku tidak tahu apakah kedepannya ini akan mempengaruhi pekerjaanku atau tidak. Aku harap tidak akan ada dampak buruk di masa depan yang akan menimpaku karena masalah seperti ini. Sekarang bukan aku yang dipanggil oleh pak Tian, namun si Banu. Sepertinya ia menjadi incaran baru untuk mendapatkan pekerjaan darinya.
Semangat Banu, semoga kamu bisa lebih sabar menghadapinya daripada diriku. Kejadian ini membuatku mengerti kalau aku tidak suka diperintah untuk sesuatu yang jelas. Aku juga sepertinya tidak suka kerja di bawah orang. Apalagi yang bossnya tidak benar kerja dan etikanya kurang baik. Senyum di depan tapi ngasih tugas yang gak jelas serta pakai ancaman.
Sepertinya aku akan mencoba untuk membuat usaha sendiri dan mencari uang dengan tenagaku sendiri. Aku ingin sekali melakukan hal itu.
Entah kapan hal itu bisa aku wujudkan. Namun ada halangan besar sebelum aku bisa melakukannya. Bukan karena tidak ada modal atau masalah materi lainnya. Masalah membuka usaha datang dari ibuku sendiri. Sepertinya ia tidak suka kalau aku melakukan usaha atau membuat usaha sendiri. Harus cari kerja sehingga lebih aman serta harus cari duit yang banyak.
Hal ini karena dahulu bapak juga pernah berada di dalam fase itu. Membangun bisnis sendiri dan menjadi wirausahawan. Namun bukan penguasa namanya kalau tidak pernah mengalami jatuh bangun dalam membuat usaha. Karena kegagalan itulah, bapak sudah tidak menjadi pebisnis dan kembali menjadi karyawan kantoran.
__ADS_1
Sedangkan ibu menjadi seperti anti menjadi pengusaha karena kejadian ini. Semoga saja aku bisa meyakinkanya dengan menunnjukkan hasil dari usaha yang aku buat. Segala hal membutuhkan usaha dan waktu, daripada menghabiskan waktu dan usia kita yang terbatas untuk mensejahterakan perusahaan punya orang lain. Bukankah lebih indah kalau kita mengurus dan mengembangan perusahana punya kita sendiri? Bagaimana menurut kalian dengan pendapatku itu?