Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 101 Hasil Pemilu


__ADS_3

Sambil menikmati makan siang, aku memperhatikan televisi yang menayangkan hasil quick untuk saat ini. Berbeda dengan daerah tempatku berada, tempat pemilihan daerah lain ada yang belum menyetorkan hasil pemilihan suara TPS mereka.


Hal ini wajar saja karena Sabang sampai Merauke itu luas sekali. Belum kondisi geografis ada yang sulit dicapai karena di pelosok. Bahkan kudengar ada yang harus pakai jalur udara maupun laut untuk mengirimkan perlengkapan TPS. Wajar kalau hasil perhitungan juga akan mengalami perlambatan karena kondisi-kondisi tersebut.


Aku sendiri sudah tidak memikirkan hasil dari TPS tempatku berasal, karena selanjutnya akan dikerjakan oleh pak RT. Saya sebagai anggota sudah menetapkan untuk tidak memikirkan lagi tugas itu karena semuanya sudah selesai. Melihat kondisi quick count saat ini, aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.


Kenapa? Karena kalau kita lihat hasil quick count dari berbagai media, semuanya menayangkan hasil yang berbeda. Ada yang memenangkan pihak A, dan ada yang memenangkan pihak B. Entah siapa yang benar dan yang salah. Kelihatan sekali kalau ada pihak yang mendukung salah satu calon. 


'walah, kenapa bisa beda beda gini sih?' gumamku dalam hati.


Situasi ini juga menyebabkan jagad raya Indonesia ramai membahas masalah ini. Aku sendiri hanya sebagai pengamat saja memberikan komentar ke beberapa pos yang membahas masalah ini. Tentunya dengan menggunakan bahasa sopan dan santun. Karena sekarang kita juga harus bertanggung jawab atas ketikan jari yang kita lakukan. Bukan hanya mulut yang harus dijaga untuk zaman ini. 


*Mematikan tv*


Puas melihat berita yang simpang siur entah mana yang benar dan yang salah, aku memutuskan untuk mematikan televisi dan bersiap untuk berangkat kembali ke Tangerang. Karena aku hari ini sudah izin, tidak enak kalau aku meminta izin kembali untuk keesokan harinya.


Memang saat hari H pemilu kantor libur dan tidak ada yang pergi ke kantor. Awalnya aku mengira hari itu sudah cukup dan malamnya bisa berangkat kembali ke Tangerang. Namun ternyata, beban kerja selama 24 jam membuat tubuhku lemas, sehingga membutuhkan waktu satu hari untuk recover.


Untungnya kantor masih membolehkan aku izin, padahal belum ada satu bulan aku bekerja di tempat ini. Aku juga bersyukur sudah mengambil langkah yang tepat sehingga bisa istirahat selama satu hari. Apalagi setelah aku melihat berita berita yang bermunculan.

__ADS_1


"Panitia KPPS merenggut korban hingga ratusan jiwa. Pemerintah mempersiapkan bela sungkawa untuk keluarga korban yang ditinggalkan."


"A..apa!? Seriusan nih?"


Aku terkejut melihat berita ini. Rasa bersyukur banyak kuucapkan karena di daerahku, hal seperti ini tidak terjadi. Tentunya segala doa aku panjatkan kepada keluarga dan juga korban yang telah menjadi pahlawan dalam kegiatan pemilu ini.


Belakangan aku baru mengetahui kalau sebenarnya hal ini terjadi karena beberapa faktor. Faktor utamanya tentunya karena pemilihan yang digabung menjadi satu sehingga menambahkan beban kerja panitia di hari yang sama.


Hal ini dilakukan karena menurut mereka, akan mengurangi ongkos pelaksanaan pemilu. Namun menurutku agak aneh kalau hanya karena alasan itu malah jadi banyak korban berjatuhan. Karena nyawa setiap manusia tidak bisa dikesampingkan hanya untuk menghemat biaya. Pastinya pemerintah langsung ketar ketir saat berita ini keluar.


Aku juga merasa aneh karena seharusnya sebelum KPPS direkrut, mereka harus melewati beberapa macam tes seperti tes kesehatan. Sehingga seharusnya orang yang menjadi anggota harus orang yang sehat dan tidak punya penyakit komorbid.


Lanjut menerawang, saat aku melakukan kegiatan KPPS. Kegiatan pemilu memang menyebabkan lelah karena 6 jam lebih kita harus stand by untuk mengawasi kegiatan pemilu agar berjalan lancar. Selain itu juga, hal lainnya yang membuat kami kelelahan adalah proses perhitungan suara dan juga dokumentasi suara tersebut.


Kenapa hal itu menyebabkan lelah? karena metode perhitungan yang masih manual sehingga membutuhkan tenaga orang. Pastinya kalau ratusan surat suara harus dihitung secara manual, membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, bukan? Selain itu ketika pemungutan suara dilakukan, terkadang ada saksi dari pihak partai yang meminta dilakukan perhitungan ulang.


Alasannya beragam, ada yang karena perhitungan suara mereka tidak matching dengan kita, ataupun karena alasan lainnya. Untungnya saksi di tempat kami tidak terlalu memaksa. Sehingga meskipun ada perbedaan jumlah perhitungan, karena selisihnya tidak terlalu besar. Perhitungan ulang sama sekali tidak dilakukan.


Aku hanya bisa membayangkan bagaimana kalau daerah yang saksinya ngotot minta perhitungan suara ulang berkali-kali. Sekali aja ngitungnya bisa jemper, apalagi kalau berkali-kali. Itulah mengapa mungkin ini juga merupakan salah satu alasan kenapa korban bisa berjatuhan.

__ADS_1


Terakhir yang mungkin menurut saya membuat panitia KPPS lelah adalah dokumentasi yang ribetnya berkali-kali lipat. Kalau menurut seniorku di panitia, pemilu sebelumnya tanda tangan petugas cukup ketuanya saja. Tetapi sekarang, semua anggota harus ikut tanda tangan dan juga membuat salinan dokumentasi sebanyak 7 lembar dan tulis tangan. Tentunya hal ini sangat memakan waktu dan tenaga manusia untuk membuatnya.


Beruntung tempatku diadakan pemilu tidak ada insiden besar yang terjadi. Aku sangat bersyukur sekali kepada sang Maha pencipta, masih bisa selamat dan menjalani kegiatan seperti biasa. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan dari kejadian ini, semoga pemerintah bisa lebih cermat dalam mengambil kebijakan untuk kedepannya. Kita tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.


‘Hah, memang capek memikirkan hal seperti ini. Namun penting sekali bagi kita warga negara untuk mengetahui kondisi dari negara kita sendiri. Tidak mungkin kita acuh karena ini tanah air kita, tanah air Indonesia.’


Memastikan aku sudah membaca semua berita yang penting, aku mempersiapkan diri untuk kembali berangkat ke Tangerang. Pada saat ini belum ada metode kerja dari rumah sehingga aku harus kembali ke kantor saat semua urusan di sini sudah selesai. Karena masalah kondisi badan, aku minta diantar oleh bapak saja dengan kendaraan pribadi menuju Tangerang, tidak menggunakan kendaraan umum seperti baisa.


Tentu saja, dalam perjalanan. Bapak menanyakan banyak hal perihal kegiatan KPPS kemarin. Karena Ingin menjaga perasaan bapak, aku tidak mengucapkan kata-kata yang menyakiti beliau seperti sangat benci dengan nya karena memasukkan aku ke dalam panitia KPPS sedangkan aku sama sekali tidak mau. Karena bagaimanapun, ia adalah orangtua kita dan sebagai anak wajib untuk berbaik kepada orang tua. Meskipun kadang ada orang tua yang tidak pantas untuk kita hormati. Ini hanya pendapatku pribadi, terserah kalian bagaimana menghadapi orangtua masing-masing.


Karena setiap keluarga memiliki masalah berbeda sehingga mengakibatkan solusi yang berbeda pula. Jangan paksakan nilai yang ada di keluarga kalian ke keluarga lainnya. Khawatir akan terjadi ketidakcocokan akibat dari etika dan budaya masyarakat setempat.


“Terima kasih pah, om Maman. Sudah mengantar ke sini”


“Iya nak. Yang rajin ya kerjanya, bapak pulang dulu”


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya aku kembali sampai di kontrakan Tangerang. Tentu saja aku pamitan dengan bapak dan Om Maman yang  mengantarku sampai ke tempat ini. Kemudian aku langsung kembali ke kamar setelah menyiapkan makan malam untuk hari ini (beli di luar). Selesai menjalankan ibadah, makan malam, dan bermain handphone. Akhirnya aku kembali beristirahat untuk menjalani kegiatan kantorku esok hari. 


Kegiatan apa yang akan aku lakukan selanjutnya?

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2