Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 102 Merawat Bapak


__ADS_3

Kondisi bapak sudah lebih stabil namun ada banyak juga kejadian yang terjadi setelah diputuskan bapak harus cuci darah. Karena itulah, Bapak harus menjalani beberapa pengobatan sebelum kegiatan itu rutin dilakukan. Salah satunya adalah pemasangan sebuah alat yang entah apa sebutannya. Saya tidak tahu nama alatnya, namun alat tersebut nantinya di pasang di bagian lengan yang nantinya cuci darah mulainya akan dari sana.


Namun sebelum operasi itu dilakukan, tiba-tiba mendadak bapak mulai mengeluh sering sesak nafas dan perutnya terasa penuh. Melihat bapak yang sulit bernafas itu, pada akhirnya ibu membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, diagnosis membuat bapak harus dirawat semalam untuk pemasangan alat dan juga perawatan.


?


Alat kali ini dipasang untuk membersihkan cairan yang ada di dalam paru-paru. Terlihat bahwa bapak seperti dipasangi selang kemudian pada ujungnya ada kantong darah. Nantinya semua cairan yang disedot akan masuk ke sini. Tentu saja karena kantung ini memiliki kapasitas maksimum, secara berkala harus dibuang dengan meminta tolong suster.


“Mas, nanti temenin mamanya ngerawat bapak ya, satu malam saja kok.”


“Ok mah.” Ucapku saat masih berada di rumah. Kami mulai berangkat menuju rumah sakit setelah mendengar kabar tersebut. 


Hal ini bukan pertama kalinya bapak dirawat di rumah sakit. Setelah kematian mbah satu bulan lalu, kondisi bapak mulai ikutan sakit dan sudah beberapa kali dirawat di rumah sakit. Bahkan pernah ia menjalani perawatan selama satu minggu karena penyakit komorbid nya. Pada saat itu aku, ibu, dan adikku Arip bergantian menjaga sang bapak.


Pada momen ini untungnya aku sudah WFH full sehingga aku bisa menjaganya saat malam hari dan kembali bekerja pada saat kembali ke rumah dan waktunya gantian jaga. Namun tetap saja, tidak nyaman saat menjaga bapak di rumah sakit. Karena tidur menjadi tidak nyaman serta badan menjadi lebih lelah. 


Beruntung ada handphone yang selalu sedia menemani. Aku menonton beberapa film saat bapak dirawat. Lumayan agar tidak bosan. Karena Aku harus siap siaga kalau-kalau bapak manggil untuk mengajak ngobrol. Kali ini bapak di rumah sakit tidak berhari-hari, hanya satu malam saja. Namun aku belum mengetahui kalau ternyata satu malam menjaga bapak kali ini lebih capek daripada menjaga bapak sebelumnya.


Pada hari itu, aku dan ibu berangkat dengan mobil saat malam hari untuk menemani bapak. Setelah sampai di parkiran, kami pergi ke depan lorong ruangan untuk meminta izin masuk kepada satpam. Karena sekarang sedang pandemi, tamu kunjungan diperketat dan jumlahnya dikurangi. Tidak boleh banyak-banyak untuk saat ini, apalagi sampai membuat kamar pasien penuh.


Untuk merawat bapak kali ini, kami tidak membawa kasur ambal seperti biasa dan hanya membawa selimut. Karena rencananya hanya aku sendiri yang akan menjaga bapak, tetapi bapak ternyata punya rencana lain. Ia manja dan mau ditemani oleh kami berdua. Sehingga ibu tidak diperbolehkan untuk pulang.


“Ini ya bu, ruang bapak?”


“Iya nak, ayo kita masuk”


“Assalamu'alaikum”

__ADS_1


“Waalaikumsalam”


Kami berdua mengucapkan salam dan bapak membalasanya. Pintu kamar kami tutup kemudian langkah kaki kami pergi menuju kasur tempat bapak dirawat. Wajah bapak cukup kelelahan dan ia mengenakan selang di bagian lenganya. Ia juga menggunakan masker oksigen. Sepertinya paru-parunya sudah tidak kuat kalau harus menghirup udara seperti biasa. Kata suster, ia sesak nafas saat alat bantu nafasnya dilepas. 


“Gimana pah kabarnya, baik?”


“hmm..hmmm”


Diajak ngobrol kayak apapun, bapak hanya mengeluarkan jawaban singkat dan tidak banyak bicara. Hal ini sebenarnya sedikit membuatku lega, karena tidak perlu mendengar omongan bapak yang pedas. Namun ternyata masalah baru muncul. Ibu kaget juga karena ternyata ia tidak boleh pulang oleh bapak. Sehingga mau tidak mau kami berdua harus berbagi tidur di atas selimut yang tipis serta tidak cukup untuk kami berdua.


Aku paksakan untuk tidur, namun ternyata ketika aku sudah akan masuk ke alam mimpi. Bapak memanggil diriku.


“Ray, bapak mau duduk”


“Hmm? baik pak, sebenar”


Berkali-kali hal itu terjadi hingga aku memutuskan untuk tidak tidur dan duduk di kursi. Awalnya aku menonton film, namun tidak enak karena setiap beberapa menit bapak meminta untuk kembali duduk atau tiduran. Pada akhirnya aku menghabiskan waktu dengan bermain media sosial atau membaca novel. Hal ini terus aku lakukan hingga waktu subuh tiba.


“Loh, Ray? kamu tidak tidur?”


“Ngak mah, bapak minta ditemani semalaman” ucapku dengan mata yang sudah berat karena menahan kantuk.


Ternyata berguna juga kehidupan begadang saat kuliah. Kalau memang niat, tidak masalah bagiku untuk begadang selama satu malam. Saat kuliah aku sering melakukanya ketika skripsi ataupun bermain game saat sedang stage yang seru. Setelah aku dan ibu shalat, aku meminta tolong ibu untuk gantian menjaga bapak sedangkan aku gantian tidur di atas selimut.


Saat aku terbangun, sudah waktunya sarapan dan ibu sudah menyiapkan sarapan untuk hari ini.


"Ini Ray, makan dulu"

__ADS_1


"Terima kasih bu. "


"Nanti setelah makan temani bapak sebentar ya, ibu mau pulang dulu untuk mandi dan ganti baju.”


“Baik bu.”


Ibu bersiap-siap kemudian pamitan dengan bapak sambil salam kepadanya. Ketika ibu sudah pergi, gantian aku yang menjaga bapak dan menjadi teman ngobrolnya saat ia ingin ngobrol. Sisanya aku habiskan dengan cek wa takutnya kantor menghubungi diriku.


Beberapa jam kemudian, suster datang dan memberitahukan kalau bapak akan pindah ruangan untuk cuci darah.


“Permisi bapak, bapaknya pindah ke ruangan cuci darah dulu ya.”


“Ok, silahakan sus”


Mempersilahkan suster, aku perhatikan bagaimana kasur pasien ternyata bisa diatur sehingga dapat mudah dipindahkan. Karena di bagian bawah kasurnya ada roda. Aku membawa barang-barang yang penting kemudian menemui bapak di ruangan yang baru.


Saat memasuki ruangan, aku lihat selain bapak juga ada beberapa orang lain yang sedang melakukan cuci darah. Ternyata banyak juga orang yang harus melakukan hal ini setiap minggu. Kulihat juga orang di dalam beragam. Ada yang tua dan juga ada yang muda. Beberapa ada yang sendirian, beberapa ada yang ditemani oleh keluarganya. Aku sendiri sudah mengabari ibu dan katanya ia sedang dalam perjalanan ke seini.


Aku tidak bisa menemai bapak saat siang hari karena aku harus WFH, karena itulah aku minta ibu untuk datang ke rumah sakit. Menggantikan diriku menjaga bapak. Saat bapak sedang cuci darah, ia sering meminta untuk ditemani. Katanya kalau sendirian ia kesepian. Beberapa menit menunggu, akhirnya ibu datang.


“Nak Ray, sudah biar ibu yang gantikan. Kamu pulang saja ya jagain rumah” ucap ibuku sambil memberikan kunci mobil.


“Siap mah, papah jaga-jaga kesehatan ya. Ray pamit dulu”


Setelah berpamitan dengan kedua orangtua, aku menyetir mobil untuk pulang ke rumah. Kegiatan kantor seperti biasa aku jalani dan tidak ada hambatan yang berarti. Semoga bapak cepat sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2