
Dua hari sudah sadarnya Ara , juga sudah akrab dengan orang sekelilingnya. Walau belum mengingat mereka siapa, contohnya Risa dan Tania. Ara belum mengingat, tapi sudah berbagi keluh kesahnya dengan keduanya. Dan juga, karena melihat kondisi Ara yang belum mengingat siapa-siapa, mereka mengambilkan Ara cuti setengah semester.
"Ra, beneran enggak ingat kita? Padahal kita udah temenan bertahun-tahun loh," gerutu Tania dengan wajah cemberutnya.
Ara sendiri cuma tinggal bengong layaknya orang bodoh, karena sekuat apa'pun dia mencoba mengingat ... tetap hasilnya nihil, dan akan berujung sakit kepala.
"Udah gue bilang Tania pe'a! Jangan nanya-nanya gitu, entar sakit lagi kepalanya," ucap Risa kesal, memang sudah sering dia memberi peringatan, tapi nanti-natinya akan di langgar Tania lagi.
"Hmm, coba gue sebutin kebiasaan kita, supaya lo ingat." Tania mulai memikir-mikir hal yang bagus.
"Lo ingat saat kita pulang dari sekolah, waktu Sma? Kita manjat pohon mangga, terus datang anjing yang menggonggong di bawah kita?" Ara menggeleng. "Emm, yang waktu bolos manjat pagar, terus rok Risa kesangkut, inget?"
"Aah, aib tu Tan!" rengut Risa .
"Diem aja dulu Ris ! Inget gak?" lagi-lagi Ara menggeleng.
"Waktu telat datang upacara, kita si suruh lari keliling sekolah, inget?"
"Waktu kuliah ni, lo enggak ngerjain tugas ... terus lo hukum, di suruh ngerjain makalah lima puluh lembar sama, pak Sandi. Lo ingat?"
"Waktu telat bangun, dan berakhir telat ke kampus. Pas pelajarannya pak Reno, lo dipanggil ke ruangannya setelah jam keluar. Inget?"
"Dan waktu lagi jalan, rambut lo di tarik sama pak Reno sampai-sampai, lo teriak. Enggak ingat juga?"
"Enggak ingat apa-apa?" Ara menggeleng, dengan memegang kepalanya yang berdenyut.
"Kenapa? Sakit? Lo sih Tan, di bilangin udah," omel Risa.
"Entar pak Reno datang, terus lihat Ara pegang kepala karna sakit. Lo yang bakal gue salahin!" Tania cuma menyengir, dan menatap Ara yang sedang menatap mereka bingung.
"Apa hubungannya dengan pak Reno, kalau kepala gue sakit?" tanya Ara polos campur bingung.
Mereka berdua menggaruk tengkuknya. "Dan lagi, sebenarnya gue masih bingung. Pak Reno kan cuma dosen kita, dosen gue kan? Terus kenapa dua hari ini, dia kayak merhatiin gue banget?" Mendapat pertanyaan dari Ara membuat mereka cuma cengengesan tak jelas.
"Udah lah, enggak usah di pikirin. Lo istirahat aja, entar malah makin sakit kepala lo kalau, banyak mikir," ucap Risa memperbaiki posisi selimut Ara .
"Tunggu dulu, kenapa setiap gue nanya yang bersangkutan pak Reno ... kalian selalu ngalihin pembicaraan?!" tanya Ara mulai tegas. Mereka berdua menelan ludah kasar, apa yang harus mereka bilang? Haruskah jujur sekarang?
"Ekhem ... ekhem. Pak Reno sebenarnya ... teman abang lo, kak Marvel . Iya gitu ... jadi pak Reno udah nganggep lo, sebagai adiknya gitu. Ya kan Ris , ha ha." Risa mengangguk, dengan ketawa hambar mereka.
"Tapi gue enggak lihat, kalau dia nganggep gue adik. Perhatiannya seperti__."
"Pak Reno suka kali sama lo," celetek Tania.
"Mana ada!" ucap Ara dengan nada ngeggasnya.
"Ada, buktinya pak Reno sering banget ngunjungin lo sewaktu masih belum sadar. Bahkan bermalam di rumah sakit ini," ucap Risa sedikit berbohong, karna bukan lagi sering, setiap hari malah.
"Kalian enggak bohongkan?"
"Mana pula kita bohong, ini seratus persen terjamin jujurnya," ucap Tania.
"Cie-cie, kenapa Ra? Malu? Atau jangan-jangan ... lo suka juga sama pak Reno ya?" goda Tania, dengan mencolek dagu Ara .
"Ngaco kalian! Mana bisa gue suka, biar udah lama kenal. Tapikan gue enggak ingat, dia siapa. Kalian aja ... enggak," ucap Ara dengan menunduk 'kan kepalanya, sedih. Mendadak suasana menjadi melow, saat Tania dan Risa bersamaan memeluk Ara , yang memang posisinya sedang duduk dengan badan yang bersandar di senderan brangkarnya.
"Sabar ya Ra, kita akan selalu bantuin lo buat berjuang mengingat semuanya."
"Tapi emang benarkan, lo suka sama pak Reno?" Tania melanjutkan goda'annya.
"Enggak!"
"Iya enggak. 'Enggak tau,' tapi."
"Ngeselin kalian, ish!"
"Emang benar 'kan?"
"Enggak!" tekan Ara dan berbaring, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tawa mereka berdua pecah, ya mereka tau kalau Ara sedang ... malu, maybe.
Sedangkan di luar ruangan di dekat pintu, pak Reno tersenyum kecil. Untunglah ada kedua teman Ara , yang membuat Ara tersenyum. Lalu perlahan pak Reno membuka pintu, mengalihkan perhatian Tania dan Risa.
"Bapak udah dateng, kita keluar dulu ya Pak," pamit Risa lalu menyeret Tania keluar. Setelah memastikan keduanya keluar, pak Reno duduk di kursi samping tempat tidur Ara.
"Hey, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Reno dengan menggenggam tangan Ara. Sedangkan Ara yang di pegang tangannya, tinggal diam. Entah kenapa, dia nyaman.
"Baik," jawab Ara singkat, masih diam memikir.
"Sudah makan?" Ara menggeleng. "Saya pesankan bubur ya?"
"Enggak mau bubur," ucap Ara .
"Kenapa?"
"Enggak ada rasanya, makanan luar aja deh. Makanan rumah sakit enggak ada rasanya," ucap Ara dengan muka di tekuk.
"Enggak boleh, kamu baru sadar Ara. Enggak boleh makan-makanan luar dulu," ucap Reno lembut selembut lembutnya.
"Tapi enggak enak."
"Makan bubur aja ya, biar sedikit."
"Enggak mau, udah dua hari makan bubur terus," ucap Ara semakin menekuk wajahnya.
"Biar sedikit Ra " ucap pak Reno, lagi-lagi Ara mau menangis. Matanya berkaca-kaca, sambil menunduk.
Kalau sudah begini bisa apa, dengan menghela nafas. Reno mengambil hpnya dan mengorser makanan.
"Udah, Ma-saya sudah pesenin makanan. Jangan nangis lagi." Reno mengangkat dagu Ara, dan mengahapus air matanya.
"Hey-hey, udah ah nangisnya. Enggak malu sama saya?" goda Reno. Ara menggeleng pertanda 'tidak.' Reno terkekeh, entah dorongan dari mana ... dia langsung menciumi bi*ir Ara sekilas. Cuma sekilas. Namun ... tentu saja Ara terkejut, tapi belum selesai keterkejutannya, Reno lagi memeluknya.
"Mas kangen sama kamu, Dek," gumam Reno, dan tidak di dengar jelas oleh Ara.
"Pak ... pak mmmmp." Lagi-lagi Reno menyambar bi*ir itu lagi, bahkan sekarang sudah **********.
"Pak," panggil Ara , dengan mendorong-dorong dadaReno dengan satu tangan. Karna satu tangannya lagi masih di kasih selang infus.
"Hmm." Reno cuma berdehem, tanpa melepas ci*m*nnya. Hingga ketukan di pintu membuatnya dengan berat hati, menyudahi itu. Dengan langkah berat, dia berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Ara sendiri sekarang tinggal diam terbengong-bengong, ada yang aneh dengan dirinya. Entah, dia ingin marah tapi tidak bisa. Keluh rasanya lidahnya berucap satu katapun.
"Makan, Mas suapin." Yang datang tadi memang kurirnya.
"Eh iya, mulai sekarang kamu panggil saya Mas. Oke?" ucap Reno dengan menyodorkan makanan ke depan mulut Ara.
"Mas?" Reno mengangguk, dengan terus menyuapi Ara.
"Saya enggak enak, masa harus manggil__."
"Itu perintah, bukan penawaran! Paham?!" Ara. mengangguk patuh, kata-kata itu serasa tidak asing lagi di telinganya.
"Nih makan lagi."
"Lagi."
"Lagi."
"Udah, udah kenyang."
"Kamu makan masih sedikit, Ra. Lagi ya, terakhir deh."
"Enggak mau."
"Lagi Ara."
"Enggak!" bantah Ara , dengan memalingkan wajahnya. Reno menyimpan makanannya di atas nakas, dan mengambil air minum.
"Oke ini, minum dulu." Ara mengambil gelasnya tanpa melihat ke arah Reno.
"Sudah?" Ara mengangguk dan memberikan kembali gelasnya.
"Saya mau nanya!" ucap Ara agak ketus, Reno tersenyum kecil dan mengangguk.
"Kenapa Bapak nyium saya tadi?!"
"Panggil saya Mas! Bukan Bapak!"
"Jawab dulu, kenapa?!"
"Enggak ada apa-apa."
"Masa? Ini namanya pelecehan, Bapak se'enaknya nyium-nyium saya!" ucap Ara kesal. Tanpa mendengarkan ocehan Ara, Reno malah mendekatkan kembali kepalanya.
"Ja-jauh ... jauh ish!"
"Saya sudah bilang, jangan manggil saya Bapak! Atau mau saya cium lagi, sekarang?! Hmm," tanya Reno dengan seringai sinisnya.
"Jangan ma-macem ... macem! Bapak bukan siapa-siapa saya!"
"Oya? Kalau saya bilang, saya pacar kamu bagaimana?" tanya Reno masih dengan seringainya.
"Ma-mana ada, Bapak ngaco! Bagaimana ceritanya saya pacaran sama dosen sendiri," ujar Ara tergagap.
"Kalau memang kenyataan, bagaimana? Yang jelas saya memang pacar kamu."
"Tapi Risa sama Tania enggak bilang apa-apa," ucap Ara.
"Bapak makin ngac__."
"Saya sudah bilang, jangan manggil saya Bapal Ara !"
"O-oke, tapi emang bohongkan? Kita eggak pacaran kan?"
"Benar, kita memang pacaran. Oke, karna kamu sudah tau kalau kita sebenarnya pacaran. Jadi ... jangan heran kalau saya melakukan sesuatu yang tidak di lakukan dosen kepada mahasiswinya."
"Saya keluar sebentar, kamu istirahat," ucap Reno dengan mengusap lembut kepala Ara.
"Tunggu Pak, eh Mas. Kita benar ... pac-pacaran?"
"Berapa kali saya harus bilang, kita memang pacaran. Dan soal ciuman itu, kita sudah sering ngelakuin," ucap Reno sambil tersenyum menyebalkan, kemudian meninggalkan Ara yang diam dengan wajah memerah malunya.
***
"Woy, dari tadi melamun mulu!" tegur Tania yang sedari tadi, memang melihat Ara melamun.
"Kenapa?" tanya Risa angkat bicara.
Ara menghembuskan nafas. "Gue emang beneran pacaran, sama pak Reno?" tanya Ara menatap bertanya-tanya kedua teman yang tak di ingatnya.
Tania dan Risa saling pandang ikutan bingung, kemudian menatap Ara kembali. Ingin sekali berkata ... 'bukan pacaran, tapi udah nikah. Kalian sudah jadi suami-istri,' tapi itu cuma dalam hati, tidak berani mengelurkannya.
"Kenapa diam? Heran juga kan? Pasti pak Reno cuma bohongin gue," ucap kesal Ara.
"Siapa bilang? Kalian emang pacaran," ucap Tania dan Risa barengan.
"Beneran pacaran?" tanya Ara di angguki keduanya.
"Huhft, kenapa gue enggak ingat apa-apa. Sampai kapan gue enggak ingat apa-apa dan siapa-siapa?" tanya Ara ke dirinya sendiri.
"Sabar Ra, secara perlahan ... lo pasti bakal ingat semuanya," ucap Risa dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Iya Ra kita bakal selalu bantuin lo buat ingat semuanya. Bukan cuma lo dan kita yang kesiksa liat lo kayak gini, ada orang yang paling tersiksa dan merasa bersalah lihat kondisi lo kayak gini," ucap Tania dengan menyeka sudut matanya yang berair.
"Merasa bersalah? Kenapa?"
"Karna salah paham, berakhir jadi begini. Lo kecelakaan, dan ya ... jadi kayak gini," sambung Risa.
"Kecelakaan ... aakh." Ara memegang kepalanya, saat bayangan yang buram dan tak jelas teringat di otaknya.
"Lo kenapa? Gue panggilin dokter ya."
"Engga-engga, enggak usah. Cuma sedikit ... gue kayak ingat sesuatu tapi ... aakh."
"Udah, enggak usah di ingat lagi. Lo istirahat, jangan maksain!" tegas Risa , dan membantu Ara berbaring juga dibantu Tania.
'Ada apa sebenarnya, kenapa mereka seperti menyembunyikan sesuatu?' batin Ara. .
~Singkat,
__ADS_1
Setelah sekitar lima hari setelah Ara sadar. Dokter memperbolehkan pulang, sehabis melihat kondisi Ara yang sudah baik-baik saja. Luka di kepalanya juga sudah mengering, dengan syarat ... setiap tiga hari sekali, harus datang memeriksa keadaannya. Tepatnya trauma yang tak jelas.
Dokter juga mengatakan, kalau mungkin saja Ara akan merasa pusing saat melihat kendaraan yang berlalu lalang. Atau bisa di bilang, dia bisa mengingat secara tidak jelas kejadian kecelakaannya.
"Jadi ... Ara sementara tinggal di rumah abang Hendra ?" tanya Risa.
"Iya, kalau tinggal di rumah mereka. Bisa saja Ara kaget, serumah dengan orang yang dia pikir bukan siapa-siapanya," ucap bunda neneknya Ara terkekeh.
"Reno kalau tidak keberatan, tinggal di rumah nenek juga. Capek nanti kalau harus bolak-balik," ucap abang Hendra di angguki nenek nya Ara dan Reno juga cuma mengangguk mengiyakan.
Mereka semua naik mobil masing-masing, Reno yang menyetir sedangkan abang Hendra duduk di sampingnya. Bunda dan Reya di jok belakang, dengan Ara yang sengaja nenek Ara baringkan di pahanya, agar tidak melihat kendaraan yang lalu-lalang.
Tania semobil dengan pak Gino, dengan separuh barang-barang Ara sewaktu di rumah sakit. Risa dangan Marvel juga semobil. Hanya mobil Tania dan pak Gino yang hening, tanpa suara. Sedangkan di mobil Marvel, tidak ada hening-heningnya. Marvelyang semakin gercep mendekati Risa , dan Risa yang sangat responable dengan setiap perktaan yang keluar dari mulut Marvel
"Kalau misalkan ada yang nembak kamu, nyatain cintanya sama kamu ... apa kamu terima?" tanya Marvell dengan jantung dag-dig-dug.
"Tergantung, kalau cowonya baik dan aku suka ... terima. Tapi kalau enggak baik dan enggak aku suka ya ... di tolak," ucap Risa apa adanya.
Marvel mengulam senyumnya. "Kalau aku, kamu suka gak?" tanya Marvel membuat Risa mendadak sakit tenggorokan.
"Kakak serius Ris , kamu suka sama Kakak?" Risa menatap Marvel dalam, kemudian menghela nafas, "Enggak tau pasti, aku masih bingung dengan perasaan ku sendiri. Di lain sisi, aku nyaman dekat dengan Kakak, dan di sisi lain ... aku ragu, apa aku pantas buat Kakak? Apa aku bisa jadi yang terbaik buat Kaka?"
"Tapi ... Kakak beneran serius dengan perasaan Kakak ke kamu Risa . Setiap saat Kakak mau menepis bayangan kamu, tapi itu semakin menjadi. Saat Kakak lihat kamu di dekati laki-laki lain, Kakak seperti ingin langsung menghampiri kamu, dan menarik kamu menjauh dari laki-laki itu. Tapi Kakak enggak mau maksa kamu, Kakak beri kamu waktu buat memantapkan perasaan kamu," ucap Marvel panjang lebar.
"Dan enggak ada kata enggak pantas, semua pantas. Juga ... cukup kasih kesetiaan dan saling berkomitmen, itu yang yang terbaik," sambung Marvell.
"Sudah samapi, ayo turun." Risa mengangguk, dan membuka pintu mobil.
***
"Ini kamar Ara ," ucap neneknya Ara , Ara melihat setiap sudut kamarnya, terasa sangat familiar di matanya. Tapi lagi-lagi, tidak bisa dia ingat.
"Kamu istirahat dulu, nenek mau turun. Di bawah ada orang tuanya Reno," ucap neneknya Ara, Ara cuma mengangguk.
Tinggal 'lah dirinya sendiri di kamar, Ara berdiri dan hendak ke kamar mandi. Tapi baru selangkah dia meninggalkan kasurnya, suara pintu kamarnya terbuka. Masuk Reno dan langsung menghampirinya.
"Mas kenapa bisa masuk ke sini? Enggak di larang?" tanya Ara, Reno terkekeh kecil. Biarpun melakukan yang aneh-aneh dengan dirinya, tidak ada yang larang, pikir Reno.
"Mau kemana?"
"Kamar mandi."
"Ya sudah, Mas anter," ucap Reno, Ara terbelalak kaget.
"Jangan macem-macem, biarpun cuma kita berdua di sini!" ucap Ara memperingati, lagi-lagi cuma mendapat kekehan dari orang di samlingnya.
"Enggak bakal, kecuali khilaf," ucap Reno tanpa dosanya.
"Awas aja."
"Lagian ada-ada aja kamu, Mas cuma mau nemenin. Enggak bakal ngapa-ngapain."
Reno menuntun Ara ke kamar mandi hinggal ke dalam, biarpun selalu di usir, tetapi tidak di hiarukannya. "Kelaur sana, Ara mau ganti baju!"
"Emang bisa?"
"Ya bisa lah," ucap Ara kesal.
"Coba? Tangan kamu masih sakit sama masih belum sembuh, bisa emang?"
"Ini bisa ... aau-auu."
"Nahkan, apa Mas bilang. Sini biar Mas yang buka__."
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya!" ucap Ara geram.
"Mas udah bilangkan, enggak bakal ngapa-ngapain. Kecuali khilaf," ucap Reno lagi, membuat Ara semakin kesal.
"Ya udah cepetan, tapi jangan macam-macam!"
"Enggak bakal, banyak bacot kamu Ra."
"Mas yang nyari perkara."
"Kan Mas laki-laki normal, bagaimanapun pasti bisa tergo__ Aaa, sakit Ra." Perkataannya terpotong, saat Ara meninju perutnya.
"Rasain! Makanya jangan mesum!"
"Ish, buka baju susah. Giliran mukul Mas, kuat banget tenaganya," kata Reno dengan menormalkan jantungnya.
"Enggak usah banyak cincong ish, cepet bantuin. Terus keluar!" Dengan menarik nafas dalam, Reno perlahan menarik ke atas kaos yang di pakai Ara, jangan lupakan matanya yang tertutup sedikit, cuma sedikit.
"Cepat ih, jangan tinggal lihat-lihat!" Reno terkejut, karena memang sedari tadi dia tidak pernah berkedip.
"I-iya." Dengan menghela nafas, Reno dengan perlahan mengeluarkan tangan Ara, dan menarik bajunya keluar leher. Tersisa tank-top yang menutupi bra Ara.
"Udah sana keluar!"
"Itu__."
"Ya udah cepat!" Sepertinya Ara yang tak sabaran, di sini. Tapi jangan salah paham, Ara tak sabar menunggu Reno keluar dari kamar mandi.
Dengan lagi-lagi menghela nafas, Reno menarik naik tank-top Ara Kali ini serius menutup mata, saat sudah lolos keluar dari kepala Ara.
"Udah keluar sana! Jangan lihat-lihat!" ketus Ara dengan menutup badannya dengan baju. Namun sialnya, saat melangkah keluar, pak Reno kesandung kaki sendiri. Dan akhirnya dia nyunsep ke lantai, untungnya tangannya cepat menahan tubuhnya.
Ara sendiri secara reflek jongkok hendak menolong Reno. "Nggak apa-apa?" tanya Ara antara khawatir dan ingin ketawa.
"Enggak," ucap Reno dengan menghela nafas lega, untungnya kepalanya tidak terbentur dan berakhir ikutan amnesia.
Astaghfirullah, enggak deh. Amit-amit.
Saat Reno berbalik menatap Ara matanya melotot dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah. "Kamu sengaja mau godain Mas, Ra "
"Ha? Apanya? Enggak lah!" ucap ARa ketus, tanpa menyadari kondisinya.
"Astaga Ra, Mas bisa beneran khilaf ini." Setelah mengatakan itu, pak Reno langsung melangkah keluar, sebelum benar-benar khilaf.
Ara sendiri masih terdiam, memikirkan sikap aneh pacarnya itu. "Kenapa, enggak ada___ Astaga Ara ! Ceroboh banget lo!" rutuk Ara , setelah melihat penampilannya. "Bisa buka celanya juga gak?!" tanya Reno dari luar, sedikit teriak. "Enggak ada! Udah ya, enggak usah godain saya!" teriak balik Ara dengan nada ketus campur malu. Reno sendiri cuma terkekeh.
__ADS_1
Sorry for typo. 🙏