Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 110. Tingkah Aneh Ara


__ADS_3

Sudah hampir sebulan terlewatkan begitu saja, hubungan Ara dan Reno sangat baik dan harmonis. Kelakuan Reno yang kadang sangat manja di rumah, dan sangat cuek di kampus. Begitu juga hubungan Risa dan Marvel, semakin romantis. Dan yang terakhir, hubungan antara Tania, pak Gino, dan Thiar. Thiar semakin gencar mendekati Tania, sedangkan pak Gino belum memberikan kepastian apa-apa.


Sejak kejadian di bioskop saat itu, setiap membahas soal pasangan, pasti Dina akan mengungkitnya, alhasil Tania menjadi bahan candaan Risa dan Ara. Tanpa mempedulikan Tania yang mencak-mencak.


***


Reno masuk ke dalam rumah, setelah pulang dari kantor. Ada yang sedikit aneh, bukan karena rumah yang berubah bentuk atau apa. Tapi tidak ada Ara yang menyambutnya, seperti biasa saat pulang ke rumah. Reno melangkah masuk ke dalam kamar, sama ... tidak ada Ara di sana. Hanya ada satu lagi tempat yang sering Ara datangi di rumah ini, selain kamar dan dapur.


Reno berniat ke sana, tapi sebelum itu ... lebih dulu dia melepas pakaian kerjanya dan mengantinya dengan pakaian santainya. Kemudian berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, pergi menghampiri Ara.


Yah benar, Ara ada di sana. Di belakang rumah, sambil bermain dengan kucing di dekat kolam ikan. Tunggu ... di dekat kolam ikan? Kucing di dekat kolam ikan?


Reno tak habis pikir, bagaimana ceritanya Ara sesantai itu bermain dengan kucing di dekat kolam ikan. Padahal sangat dia tau, kalau kucingnya itu sangat-sangat garang dengan ikan-ikan itu. Salah sedikit di tinggalkan begitu saja, ikan sudah berada di dalam mulut kucingnya. Ya biar itu berada di dalam air.


Reno berjalan ke arah Ara , niatnya ingin mengkagetkan Ara . Tapi ujung-ujungnya dia juga yang kaget, saat Ara langsung berbalik barengan dengan suara kucing yang mengeong begitu keras.


"Mau buat Ara kaget?!"


"Eng-enggak, jangan sok tau," ucap Reno, mengambil alih kucing itu.


"Ish, jangan di ambil!" Ara kembali mengambil kucing dari tangan Reno, kemudian dia berdiri dan berjalan ke afah kandang si kucing.


"Kamu kenapa, sih? Kenapa judes gitu?"


"Enggak ada apa-apa," jawab Ara cuek, memasuk 'kan kembali kucingnya kedalam, kandang.


"Itu kamu cuek gitu, ada apa, sih?" tanya Reno lagi, sambil mengelus rambut Ara


"Mau di beliin bakso," ucap Ara, sambil berdiri masuk kembali ke dalam rumah. Di ikuti Reno.


"Cuma mau di beliin bakso, sampai-sampai judes sama cuek-cuek gitu?"


"Kenapa? Enggak mau?!" Reno menggeleng cepat, dengan senyuman manisnya. "Kamu tunggu di sini, Mas pergi beliin dulu," ucap Reno.


"Emang Mas enggak capek?"


"Enggak. Apa 'pun yang kamu minta, Mas akan turuti," kata Reno.


Reno pergi ke penjual bakso di depan kompleks, dengan menggunakan motor pak Doni. Masih ingatkan dengan penjual bakso yang pernah Ara , Risa dan Tania datangi? Nah di situ tempatnya.


Sekitar dua belas menit, Reno sudah kembali. Setelah menyiapkannya di mangkok, dia membawanya ke Ara.


"Ini." Reno meletak 'kannya di meja makan, di hadapan Ara.Tapi Ara malah berdiri, dan berjalan pergi membawa mangkok lagi, lalu kembali ke meja makan.


"Mau di apain?"


"Pisahin, Ara cuma mau kuahnya," ucap Ara , dan benar memindahkan bakso dan mienya, ke mangkok lain.


"Mau kuahnya, doang?" tanya Reno memastikan, di balas anggukan Reya.


"Terus baksonya?" tanyanya lagi.


"Mas yang makan," jawab santai Ara, mulai memakan kuah baksonya, ingat ... cuma kuahnya.

__ADS_1


"Mas yang, makan?"


"Iya, kalau enggak mau ya ... kasih ke mbok Mina."


"Enggak usah, biar Mas yang makan," ucap Reno, kemudian pergi mengambil kecap dan lombok.


"Bener enggak mau?" Bukan apa-apa sih, nanti kalau benar-benar Reno makan, udah dia habisin. Terus Ara baru mau baksonya, dia harus pergi lagikan belinya.


"Ish, enggak!" ucap Ara mulai kesal, menatap garang suaminya.


"Ya udah kamu lanjut, Mas yang makan," ucap Reno.


Sore harinya


Sore ini, Reno dan Ara sedang dalam perjalanan ke rumah abang Hendra dan nenek nya Ara. Memang sedari tadi Ara terus merengek, ingin ke rumah abang nya.


Sesampainya di sana, Ara langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Reno sendiri bingung dan aneh, dengan sikap Ara.


"Ra jangan lari-lari!" ucap Reno, bisa di bilang agak teriak.


"Nenem Ara datang!" teriak Ara yang menggema di dalam rumah.


Reno menggeleng-gelengkan kepala, tidak bisakah Ara tidak usah teriak? Ini rumah, bukan hutan.


"Nenek ! Araaa —"


"Cucu Nenek ! Kenapa datang enggak bilang-bilang!"


Ketiga laki-laki yang di sana cuma bisa mengelus dada yang menutup telinga, dengan teriakan melengking mereka.


"Nenek juga kangen, ngomong-ngomong ada apa nih, main kesini?"


"Ish, kan udah bilang kalau Ara kangen," ucap Ara , dan pergi ke abang Hendra dan juga memeluknya.


"Kangen juga sama, Abang ?"


"Iya, kangen banget," ucap Ara.


"Sama Abang enggak, Dek?"


"Enggak!" jawab acuh Ara . Seketika tawa jahat keluar dari mulut Reno.


"Ketawain aja, gue!" sungut Marvel.


"Abang mau angkat telepon, dulu," ucap abang Hendra , Ara melepas pelukannya.


"Mau peluk gue? Bener enggak kangen?" Ara menatap Marvel , lalu menggeleng. Dan langsung ke pelukan, tepatnya ke pangkuan Reno.


"Lebih baik peluk suami, dari pada peluk Abang," ucap Ara , menjurkan lidahnya sekilas ke Marvel


"Adek gue lo masih makan apa, Reb ? Kenapa jadi aneh gitu?" Keral menatap aneh Ara yang kini semakin mengeratkan pelukannya ke Reno.


"Makan nasi, makan apa lagi kalau bukan itu," ucap cuek Reno, dengan mengelus rambut Ara . Posisinya, Ara berada di atas pangkuan Reno sambil memeluk, dan Reno yang memeluk Ara dengan satu tangan, lalu tangan satunya mengelus kepala Ara.

__ADS_1


Marvel menatap mereka datar, sambil melipat tangannya di depan dada. Merutuki nasibnya sekarang. Mau ada pacar atau tidak, tetap dia merasa terasingkan di antara pasutri itu. Tidak ingin berlama-lama menangisi nasibnya, Keral lantas berdiri dan mengeluarkan hpnya, untuk menelpon Risa.


Malam harinya


Sepulangnya dari rumah Nenek nya , mereka berdua sedang duduk di meja makan, untuk makan malam. Tadinya ingin makan malam di rumah nenek, tapi lagi-lagi Ara merengek ingin pulang. Bukan hanya Reno dan Marvel yang merasa aneh dengan tingkah Ara , Nenek dan abang 'pun sama. Apa lagi Risa yang juga ada di rumah nenek nya karena panggilan dari Marvell.


"Kenapa enggak, dimakan?" tanya pak Reno, pasalnya dia sudah ke suapan ke lima, Ara masih sibuk mengaduk-aduk makanannya.


"Enggak nafsu," ucap Ara , terus mengaduk makanannya.


"Mau Mas suapin?"


"Mas kan lagi makan."


"Enggak apa-apa. Sepiring berdua 'kan, lebih bagus," ucap Reno, dan terkekeh. Kemudian mengambil beberapa lauk, dan menyuapkannya ke Ara .


"Kenapa jadi manja sih, istri Mas nih?"


"Enggak tau, mau aja gitu di suapin."


"Apa jangan-jangan kamu ...." Reno menggantung ucapannya, membuat Ara mau tidak mau menatapnya dengan kebingungan.


"Ara kenapa?"


"Datang bulan?"


"Sok tau, kirain kenapa," kata Ara sambil minum.


"Benar kan?"


"Enggak tuh," jawab acuh Ara.


"Terus kenapa jadi, manja gini?"


"Ish. Kan udah bilang enggak tau! Emang enggak suka kalau, Ara gini?" tanya Ara dengan mata ingin menangis, dan berdiri, melangkah meninggalkan meja makan.


Reno gelagapan sendiri, melihat Ara yang ingin menangis. Ditambah, Ara yang berdiri meninggalkannya. Dengan cepat, Reno ikut menyudahi makannya, walau masih lapar. Dan entah kenapa, nafsu makannya beberapa hari ini naik. Mungkin dia harus banyak olahraga, biar perutnya tidak berlemak, atau tidak sixpack lagi.


"Ra ... Ra, bukan gitu maksud Mas. Mas suka, suka banget kalau kamu manja. Jangan marah dong," ucap Reno, menarik tangan Ara .


"Terus kenapa nanya-nanya, terus?!"


"Cuma aneh, biasanya kamu agak cuek-cuek gitu sama—"


"Tuhkan, Mas pikir Ara aneh kan? Emang Ara aneh," ucap Ara memotong perkataan Reno, sambil menatap sedih suaminya.


Reno menggaruk kepalanya, sepertinya dia harus memberikan jawaban yang tidak menyinggung. Dan kenapa juga Ara begitu sangat sensitif.


"Bukan gitu sayang, kamu enggak aneh. Oke, Mas minta maaf udah nanya-nanya terus. Enggak lagi sekarang, jangan nangis ya," ucap Reno, dan menghapus air mata yang mengalir di mata dan pipi Ara .


"Benar?"


"Iya, janji." Reno mengangkat kelingkingnya, begitu juga ARa. Ingin sekali Reno menertawakan dirinya, yang berubah menjadi seperti anak-anak jika bersama ARa.

__ADS_1


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2