Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 121.Gino dan Tania /Lari Pagi


__ADS_3

Karena banyak yang request part khusus untuk pak Gino sama Tania, jadi part kali ini hanya menceritakan pak Gino dan Tania.


****


Lari pagi, kerap disebut jogging menjadi aktivitas penting bagi peminatnya, baik tua maupun muda semua akan melakukannya. Tania ... pagi ini dia pergi berlari sendiri, biasanya dia dan kedua sahabatnya melakukan aktivitas ini bertiga. Tapi apa mau dikata, kedua sahabatnya telah mempunyai kesibukan masing-masing.


Dengan handset di telinga, Tania terus mengayun kakinya berlari mengitari jalanan. Banyak yang berlari juga, ditambah ini hari libur, jadi tak ayal kalau banyak orang yang berlalu lalang.


"Mbak, bisa lari bareng, gak?"


Bukannya tidak dengar tapi, Tania cuma malas menanggapi. Karena dia pikir orang itu cuma kurang kerjaan, tanpa menatap sedikitpun Tania terus berlari.


"Sombong banget sih, Mbak." Tania cuma berdecak, dengan malas berbalik menatap orang yang berbicara dengannya.


"Situ kurang kerjaan atau ap--, astaga Bapak! Saya pikir siapa!"


"Kamu pikir siapa?"


"Saya pikir, om-om berkumis," ucap Tania, membuat pak Gino tertawa.


"Masa nggak kentarain suara saya?"


"Ya bukannya enggak ngentarain, 'kan saya pake handset."


"Bisa lari bareng?" tanya pak Gino.


"Boleh, berapa putaran?"


"Dua, bisa?"


"Hayyuk, saya hitung. Sampai ketiga, kita lari bareng."


"Oke."


"Satu, dua, tigโ€โ€, Bapak curang! Saya belum selesai hitungnya!" teriak Tania, dan berlari menyusul pak Gino.


"Yang selesai dua putaran duluan, harus teraktir!" teriak balik pak Gino.


"Bapak curang, tapi enggak apa. Saya terima penawarannya, yang selesai duluan dia yang harus teraktir!"


Sepertinya ini bukan jogging, tapi lomba lari. Di mana, orang-orang cuma berlari santai sedangkan mereka berdua berlari dengan sekuat tenaga.


"Bapak, larinya jangan kencang-kencang!"


"Bukan lari saya yang kencang, tapi kamu yang lambat!" ejeknya, terus berlari.


"Dih, lari saya yang paling kencang ini!"


"Berarti lari kamu memang lambat."


"Bapak, ngejekin?!"

__ADS_1


"Siapa juga yang ledekin, jangan baper! Ayo lari lagi, kalahin saya kalau bisa!"


"Jangan sombong kali, Pak!"


Yah begitu, mereka terus berlari, terus berlari. Hingga dua putaran habis, siapa pemenangnya? Tentu saja pak Gino eh ralat, Tania pemenangnya. Oh tepatnya, mereka berdua yang menang. Bagaimana bisa? Itu semua karena ulah Tania, yang selalu berbuat curang. Seperti ....


"Kaki saya sakit, Pak." Dan pak Gino berhenti, lalu kembali ke Tania, saat pak Gino mendekat dan berjongkok di hadapannya, Tania langsung berlari sekuat tenaga menjauh.


Tapi saat dia di lambung lagi, Tania kembali berulah.


"Lho, Thiar. Lagi lari juga?" Mendengar nama Thiar otomatis pak Gino berhenti, dan disaat itu juga, Tania kembali berlari mendahului pak Gino.


Begitu seterusnya, entah kenapa juga pak Gino selalu percaya. Lalu pada saat tinggal beberapa meter jauhnya dari garis finish, Tania sedikit mempercepat larinya, hingga saat dekat dengan pak Gino, dirinya langsung melompati punggung pak Gino, alhasil pak Gino harus menanggung beban di punggungnya sampai garis finish. Pada saat sudah tinggal selangkah, Tania langsung melompat turun dan secara bersamaan mencapai finis.


"Kita seri, enggak ada menang sama kalah," ucap Tania, dengan nafas tersengal-sengal.


"Tadi kamu yang bilang kalau saya curang, taunya kamu sendiri yang curang," kata pak Gino, Tania cuma menyengir unta.


"Oke, karena seharusnya saya yang kalah. Jadi, saya teraktir. Ayo."


"Kemana?"


"Cari makanan atau minuman, saya yang teraktir."


"Tunggu di sini," ucap pak Gino, dan langsung berlalu meninggal Tania.


Sekitar tiga menit, pak Gino kembali dengan air minum di tangannya.


"Bapak dari beli, ini?"


"Iya."


"Ya, harusnya saya yang beli Pak."


"Kamu, nganggap serius tantangan tadi? Padahal saya cuma bercanda," kata pak Gino.


"Tetap Pak, saya enggak enak."


"Enggak apa-apa, lagian sama pacar sendiri ngapain enggak enak, coba?" ucap pak Gino, sedikit bergumam.


"Bapak bilang apa, barusan?" tanya Tania.


"Bilang, apa? Enggak bilang apa-apa," kilahnya.


"Kamu capek?"


"Enggak."


"Mau lari, lagi?" Tania sontak menggeleng kencang, sedangkan pak Gino terkekeh.


"Kalau gitu, mau jalan-jalan di sekitar sini dulu baru pulang?" tanya pak Gino.

__ADS_1


"Boleh," jawab Tania.


Mereka mulai berjalan, entah ke mana tujuan mereka yang jelas, mereka cuma berjalan dengan sedikit berbincang. Hingga tangan pak Gino, menggenggam tangan Tania.


"Boleh, 'kan?" tanyanya, dengan mengangkat genggaman tangan mereka. Tania cuma mengangguk, dan memalingkan wajahnya ... salting.


Tidak ada perbincangan, mereka cuma berjalan dengan tangan yang saling berpegangan bagai tak ingin melepas nya.


Cinta, cinta memang bisa merubah segalanya. Dari sikap, posisi, bahkan umur. Tania, dirinya yang dulu cuek bahkan bisa dibilang selalu kesal, dan jutek saat melihat pak Gino, dan sekarang saat merasakan cinta, itu semua menghilang. Begitu juga dengan pak Gino, tidak pernah disangkanya akan seperti ini. Jatuh cinta dengan mahasiswinya sendiri.


Itu semua berawal dari Keral yang selalu mengejeknya, atau menjodoh-jodohkannya dengan Tania. Awalnya kesal, tapi lama-lama menjadi terbiasa, hingga kadang salah tingkah sendiri saat kepergok memandangi Tania diam-diam. Lalu lama-kelamaan, entah sadar atau tidak dia sudah jatuh cinta.


***


"Cita-cita kamu, apa?" tanya pak Gino. Sekarang sudah sore, dan mereka berada di pantai, sekedar melihat sunset atau matahari tenggelam.


"Mau kerja, tapi setelah selesai ambil S2 saya."


"Mau selesaiin S2, emang?"


"Iya, itu udah keinginan saya dari jaman dulu. Mau nyelesaiin S2, baru pikirkan yang lain. Seperti tadi, cari kerja atauโ€โ€"


"Menikah?" tanya pak Gino, memotong perkataan Tania.


"Ha?"


Pak Gino menggeleng, dan terkekeh. "Tidak, saya cuma bercanda. Enggak usah bengong gitu mukanya."


Tania menggaruk tengkuknya, dengan kekehan hambarnya.


"Mataharinya sudah mulai terbenam, cantik 'kan Pak?"


"Cantik, tapi lebih cantik yang di samping saya." Tania berhenti memperhatikan mataharinya, dan beralih menatap pak Gino.


"Bapak bilang apa, tadi?"


"Lebih cantikan yang di samping saya," ucap pak Gino lagi.


Tania melirik ke samping dan sekeliling, sepi. Kemudian menuju diri sendiri.


"Iyalah kamu Tania, kamu pikir siapa?"


"Enggak mikir siapa-siapa, soalnya enggak ngeh kalau itu Bapak yang barusan ngomong begitu. Bapak biasanya cuma bisa diam, kakulah istilahnya. Jadi agak heran, kalau Bapak ngegombal kayak gitu," oceh Tania.


"Kamu pikir saya, apa? Semua laki-laki pasti tau bicara seperti itu, tapi yang barusan saya bilang itu, bukan gombalan tapi kenyataannya. Kamu cantik," ucap pak Gino, dengan menatap Tania.


Cukup, Tania juga manusia biasa. Dikatai cantik sama orang yang dicintai, pasti bakal malu atau salting. Ditambah, sekarang dia ditatap sedalam-dalamnya, sedalam lautan.


"Kalau nanti saya ajakin menikah, kamu mau?"


Dah, Tania pingsan sekarang.

__ADS_1


Sorry for typo. ๐Ÿ™


__ADS_2