Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 137.Stevan Marcello


__ADS_3

"Hei, welcome Der!" sapa Stevan.


(Selamat datang Der).


Stevan Marcelo. Dia, sosok yang sudah dibicarakan pak Reno tadi. Siswa pindahan dari Singapura yang sekarang pindah ke Indonesia. Katanya, orang tuanya sedang mengelolah bisnis, dan akan tinggal satu atau dua tahun lamanya.


"Hay. Ngomong-ngomong, enggak capek apa setiap aku datang kamu selalu nungguin di parkiran? Bukan apa-apa juga, masalah kamu capek atau enggaknya, itu bukan urusan saya. Tapi, kalau sampai ada yang nyebarin huru-hara, nyebarin hoax! Kita juga yang kena," ujar Ara, menyerocos.


Stevan sendiri cuma tertawa. Dia fasih berbahasa Indonesia karena ayahnya orang Indonesia, cuma Ibunya yang berdarah asli orang Singapura.


"Mouth's got them, biarkan saja mau berbicara apa. Benar tidak?"


(Mulut punya mereka).


"Iya-ya, apapun yang Anda bicarakan, itu selalu benar. It's always true!"


(Itu selalu benar).


"Right! Your very smart! Tidak salah jika kamu menjadi istrinya dosen," ucap Stevan menggebu, sambil menjentikkan jarinya.


(Betul! Kau sangat cerdas!).


"Si Bule, baru nyadar kalau gue pinter?"


"Hmm, baru sadar," ujarnya dengan wajah polos, seketika buku yang dibawa Reya melayang ke lengannya.


Banyak yang menggosipi kedekatan Stevan dan Ara, apalagi panggilan Stevan ke Ara, yang memakai 'Der' atau lengkapnya 'Ader.'


"Der, bisa minta nomor telepon atau whatsappnya Tania?" tanya Stevan, sambil menyapa orang-orang yang dilewatinya.


"Loh, emang kamu enggak punya?"


"Tidak. Setiap kali bertemu, lupa minta."


"Nanti di kelas. Bay the way, dalam rangka apa minta nomornya?"


(Ngomong-ngomong).


Stevan menggeleng. "Nothing. Sekedar nambah teman chat."


(Tidak ada).


"Serius?"


"Yes, i am not lying!"


(Ya, aku tidak berbohong).


***


FYI, kelas Tania dan Ara sekarang berbeda.

__ADS_1


Ara dan Stevan melangkah masuk ke kelas dengan bersamaan. Dua minggu berturut-turut, pemandangan itu sering dilihat orang-orang. Baik datang maupun pergi dari kelas, Ara dan Stevan jarang sekali tidak bersama. Hal itu yang menimbulkan gosip-gosip yang tak enak didengar. Apalagi sosok Stevan yang begitu gagah, membuat orang-orang berasusmsi yang tidak-idak.


Banyak yang mengatakan kalau, Ara itu sangat beruntung. Hidupnya dikelilingi orang-orang yang tampan. Punya kakak yang tampan, suami yang tampan, bahkan sekarang mempunyai teman yang tak kalah tampannya dengan pak Reno.


"Coba katakan, kenapa mereka semua selalu memperhatikan kita?" tanya Stevan, setelah mereka sampai di tempat duduk masing-masing.


Bangku Stevan berada tepat di depan bangku Ara.


"Kau bodoh atau apasih? Pantas saja kamu enggak pernah berhenti nungguin di parkiran!" sentak Ara mendengus.


"Why?"


(Kenapa?)


"Listen to me Stevan Marcelo! Kamu tau 'kan kalau misalnya aku udah nikah? Bahkan punya anak?" Stevan mengangguk, lalu Ara berkata lagi, "Mereka tiap saat merhatiin kita karena aku yang udah menyandang status seorang ibu atau orang tua."


(Dengarkan aku Stevan Marcelo!)


"Where is the problem?" Otak lemot Stevan yang sedang dalam mode on, jadi maklumi saja.


(Masalahnya di mana?)


"Stevan ...."


"Yes?"


"Mereka nerka-nerka atau ngegosipin, kalau ... misalkan ... kita ini ... punya hubungan. Paham sekarang?"


"Oh God, ganteng-ganteng lemot," gerutu Ara


"Ngakuin juga kalau aku ganteng. Ngomong-ngomong juga nih, kenapa mereka berasumsi kalau misalkan kita punya hubungan? I don't understand."


(Aku tidak mengerti).


"Kedekatan kita, kamu yang selalu nungguin di parkiran. Pergi ke kantin atau ke mana-mana, hampir selalu bersama. Think about it! Jadi tidak heran kalau mereka berasumsi yang tidak-tidak," jelas Ara, Stevan mengangguk-angguk mengerti.


(Pikirkan itu!)


"Jadi sekarang? Ais, padahal dari awal aku tidak ada niat untuk memiliki hubungan selain teman denganmu, mereka terlalu berlebihan!" desis Stevan, sambil menggaruk kepalanya.


"Begitulah. Jadi mulai sekarang, enggak usah menjemputku di parkiran atau di mana-mana lagi. Kalau ada apa-apa, tungguin aja di kelas."


"Ok. Tapi suamimu saja tidak cemburu, 'kan? Kenapa mereka yang sangat sibuk?"


"He-he, kamu pikir suamiku enggak cemburu? Belum lihat saja," ucap Ara, dengan menyeringai misterius.


"Bay the way, aku tidak pernah melihat suamimu langsung. Kata orang-orang ... dia tampan? Bisa ajakin ketemu tidak?"


"Serius mau ketemu?" tanya Ara, Stevan mengangguk mantap.


"Lebih baik jangan, deh. Daripada kamu diteror nanti," ucap Ara tertawa.

__ADS_1


"Teror? Your husband mafia or psychopath?!" Stevan berbicara agak keras, hingga membuat beberapa orang menatapnya.


(Suamimu mafia atau psikopat?!)


"Sorry," ujar Stevan.


"Jadi?"


"Apanya?"


"Suami kamu itu mafia? Atau psycho?"


"Jangan ngadi-ngadi! Sana balik badan, dosen bentar lagi masuk!"


"Nomornya Tania?"


"Nanti aku kirim."


***


Semua jam mata kuliah hari ini sudah selesai, saatnya Ara pulang ke rumah menemui kedua malaikat kecilnya. Baru berpisah beberapa jam, tapi rasa-rasanya dia sudah sangat merindukannya.


Sekarang Ara sudah ada di dekat parkiran, menunggu mobil pak Reno datang. Stevan, laki-laki itu juga ada di sana. Katanya, dia benar-benar ingin melihat secara langsung suami Ara, dia cuma pernah melihat fotonya.


"Suami kamu mana? Masih lama?" tanya Stevan, sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka.


"Di jalan, udah mau sampai katanya," jawab Ara, sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.


"Eh ...."


"Apa?"


"Suami kamu memangnya segalak yang diceritakan orang-orang? Terus, kata kamu tadi ... aku bakal diteror? Teror seperti apa?" tanya Stevan, yang sungguh penasaran dan sudah termakan omongan Ara.


"Jauh lebih galak! Jadi jangan macam-macam sama dia kalau ketemu nanti. Hmm, terornya mungkin ... dikirimi pesan atau surat setiap hari biar menjaga jarak," ucap Ara.


"Jaga jarak denganmu?" tanya Stevan, Ara mengangguk.


"Tapi .... Yaah, padahal cuma kamu teman terdekatku di sini. Ada, sepupuku juga sebenarnya yang kuliah di sini, tapi beda fakultas. Kalau misalkan kita menjaga jarak, bisa-bisa ... aku akan seperti orang bodoh," ucap Stevan, dengan wajah murungnya.


"Siapa bilang? Enggak lihat banyak perempuan yang mau nempel sama kamu? Bahkan terus-terang bilang kalau menyukaimu. Mau jadi seperti orang bodoh bagaimana?" ujar Ara, terkekeh.


"Memangnya kamu pikir aku tidak bisa membedakan mana yang tulus dan tidak? Mereka semua mau mendekatiku karena ketampanan, kekayaan, dan terpenting aku dari negeri luar. They just want to use me for fun, not out of sincerity!" jelas Stevan.


(Mereka hanya ingin menggunakanku untuk bersenang-senang, bukan karena ketulusan!)


"Rupanya kau pintar dalam urusan wanita?"


"Rupanya kau baru sadar." Mereka tertawa bersama, dan tidak menyadari ada orang yang sedari tadi melihat mereka dengan tangan yang bersedekap dada, dengan lengkungan senyum sinis yang tercipta di sudut bibirnya.


"Apa sesi mengobrolnya sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang?" Pertanyaan itu sontak saja mengalihkan perhatian keduanya. Sedangkan yang berbicara cuma menampakkan wajah bertanya dengan kedua alis yang naik.

__ADS_1


Sorry for a typo🙏


__ADS_2