Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 69 Extra Part 5 ( Rissa sakit dan Papa kecelakaan).


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama SMA NUSA BANGSA melaksanakan ujian, Ara ,Salsa,Rara ,Sesil dan Reno sedang berjalan menuju kantin. Karena perut mereka sudah minta di isi, juga merileks 'kan pikiran karena soal ujian yang membuat kepala sakit.


Sesil tiba-tiba berhenti, Ara yang melihatnya menatap heran pada Sesil.


"Kenapa? Kok berhenti?" tanya Ara heran.


"Eh, lihat deh, itu 'kan, Aldo. Dia sama siapa? Kok ceweknya pake tongkat," kata Sesil sambil menatap orang di depannya. Ara pun mengikuti pandangan Sesil. Walaupun Aldo memunggungi mereka, tapi mereka masih bisa menandakannya.


"Iya ya, samperin yok," ajak Ara.


"Ayok," balas Sesil.


"DODO!! TUNGGU!!" Sesil menutup telinganya karena mendengar teriakan cempreng Ara sementara Ara hanya cengengesan.


"Ada apa?" tanya Aldo ketika Ara dan Sesil sudah berdiri di depannya.


"Putri," kata Ara sambil menatap Putri. Ya, perempuan yang bersama Aldo adalah Putri.


"Ngapain ni ular bisa sama lo?" tanya Sesil dengan pedas. Aldo yang mendengarnya menatap Sesil tajam, sementara Sesil yang melihatnya menelan salinvanya kasar.


"Ma--maksud gue, Putri," kata Sesil dengan di akhiri kekehan.


"Dia pacar gue."ucap Aldo.


"Haaa!!!" Aldo menutup telinganya begitupun dengan Putri, karena teriakan Ara dan Sesil sangatlah kuat.


"Kok bisa?" tanya Sesil heran.


"Dulu, kita itu pernah pacaran selama dua tahun. Dan kita juga satu sekolah, tapi Papa Putri mengajak keluarganya pindah karena urusan pekerjaan. Waktu itu gue sedih banget, tapi ya mau gimana lagi. Dan di saat Putri pergi, gak ada kata putus di antara kita. Tapi saya bersyukur, tuhan mempertemukan kami kembali," kata Aldo dengan panjang lebar.


"Bener apa yang di bilang Dodo tadi?" tanya Ara sambil menatap Putri, sementara Putri hanya menganggukkan kepalanya.


"Ara ," kata Putri dengan lirih. Laura menatap Putri dengan sebelah alis yang terangkat, seperti berkata 'apa.'


"Gue minta maaf ya sama lo, karena selama ini gue udah nyakitin lo, dan gue juga udah merusak hubungan lo sama Reno. Trus gue juga nyuruh orang buat bunuh lo. Jujur, sebenarnya gue juga sayang sama Reno , tapi sekarang gue sadar, gue terlalu jahat untuk Reno ," kata Putri sambil menatap Ara lekat.


"Jadi lo yang udah jebak gue?!! Dan lo juga yang udah nyuruh orang sialan itu, untuk bunuh gue?!! Lo kurang ajar tau gak?! Hampir aja gue mati!" bentak Ara ketika mengingat kejadian di rumah kosong dulu.


"I--iya, gue m--minta maaf ya sama lo, gue janji gue bakal berubah." setelah berkata, Putri menundukkan kepalanya.


"Gak! Lo minta maaf sama gue, karena lo adalah pacar dari sahabat gue 'kan?" tanya Ara dengan penuh selidik.


"Gak, bukan karena itu. Gue benar-benar minta maaf sama lo, karena gue sadar, gue gak seharusnya kaya gitu," kata Putri kembali dan menatap wajah Ara


"Udahlah, Ra. Maafin aja apa susahnya sih? Lagian Putri 'kan udah minta maaf. Lagian kalo lo maafin dia, lo gak akan dapat dosa kok. Justru kalo lo maafin Putri, lo akan di sayang sama tuhan." kini Aldo yang angkat bicara.


"Gak! Enak banget, setelah semua yang dia perbuat sama gue, dan gue semudah itu buat maafin dia? Lo gak mikir apa?! Gue hampir mati tau gak?!" bentak Ara pada Aldo, lalu berlalu pergi bersama Sesil.


"Gue benar-benar minta maaf sama lo!! Gue janji! Apa yang lo minta, pasti gue turuti!"


Ara yang mendengarnya menghentikan langkahnya lalu berjalan kembali ke arah Aldo dan Putri. Begitupun dengan Sesil


"Apa tadi? Coba ulangi," kata Ara memastikan yang dia dengar tadi.


"Gue benar-benar minta maaf sama lo, gue janji, apa yang lo minta, pasti gue turuti," kata Putri mengulang kembali perkataannya.


"Beneran?" tanya Ara dengan wajah berseri.


"Iya, asal lo mau maafin gue," balas Putri.


"Oke, gue maafin. Tapi ... lo harus traktir gue selama satu minggu," kata Ara.


"Cuma itu?" tanya Putri.


"Selebihnya nyusul," kata Ara datar.


"Yaudah, ke kantin yuk. Gue laper nih," ajak Sesil. Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin.


"Eh tapi tunggu dulu," kata Sesil yang membuat mereka berhenti lalu menatap Sesil dengan heran.


"Lo kenapa? Kok pake tongkat?" tanya Sesil menatap Putri.


"Kemaren gue kecelakaan, dan gue harus pake tongkat sebagai alat bantu gue buat jalan," balas Putri. Sementara Sesil hanya membulatkan mulutnya.


******


"Boleh gabung?" tanya Ara pada Reno dan Cs nya ketika mereka sudah sampai di kantin.


"Boleh dong," balas Bagas. Mereka pun duduk bersama.


"Siapa yang pesan nih?" tanya Denis karena mereka memang belum membeli makanan.


"Gue aja, lagian satu minggu ini kita akan makan gratis karena Putri yang bayarin," kata Ara dengan seringai kecil. Putri yang mendengarnya menelan sali vanya susah payah. Perjanjiannya, hanya Ara saja. Tetapi mengapa kawannya juga ikut.


"Loh, kok gitu?" tanya Putri heran.


"Emang gitu? Kenapa? Gak suka?" tanya Ara dingin.


"Ng--ngak kok, pesan aja," kata Putri tergagap ketika melihat tatapan mata Ara


'Gapapa deh, sekali-kali gue kerjain, sebagai balasan karena dia udah jahat sama gue.' batin Ara lalu beranjak pergi untuk membeli makanan.


Gak terasa.. Ujian terakhir di sekolah.🌳🌳🌳


Hari ini adalah hari terakhir SMA NUSA BANGSA melaksanakan ujian, Ara keluar dengan Salsa.


"Huftt ... lega. Akhirnya ujiannya selesai juga," kata Ara tersenyum kepada Salsa.


"Iya, gue seneng banget. Tapi, gue juga deg-degan sama nilai kita, kita lulus gak ya?" tanya Salsa


"Doa-in aja, semoga kita lulus dengan nilai yang bagus, dan bisa membuat orang tua kita bangga,"balas Ara.


"Amiin," kata Salsa sambil menyatukan telapak tangannya.


"Ra, lo pulang sama siapa?" tanya Salsa


"Gue bawa motor," balas Ara.


"Yaudah gue duluan ya," kata Salsa yang di balas anggukan oleh Ara.


Salsa berlalu begitupun dengan Ara , dia berjalan pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Namun, mata Ara. membulat sempurna ketika mendapati ban motornya kempes semua.


"Apa-apaan nih, kok ban motor gue kempes? Duh, gimana nih. Malah sekolah sepi lagi, ck, kurang ajar banget sih yang kempesin nya. Terpaksa deh, gue harus dorong. Oh iya, telfon supir aja deh," kata Ara sambil mengambil ponselnya, lalu menelpon supir rumahnya. Tapi yang menjawab hanyalah operator, Ara tidak putus asa, dia menelpon Salsa , tapi ponsel Salsa juga tidak aktif.


"Terpaksa, harus dorong. Mana bengkel gak ada lagi di sekitaran sini," kata Ara sambil mendorong motornya keluar dari gedung sekolah.


Sudah 1 jam Ara berjalan sambil mendorong motornya, namun belum juga sampai ke rumahnya.


"Ck, kaki gue pegel banget, gue istirahat dulu deh," kata Ara sambil memarkirkan motornya di tepi jalan lalu dia duduk di sampingnya.


"Mana sih Ara , gak ketemu juga," kata Keysa.


Ya, Keysalah yang membuat ban motor Ara jadi kempes, matanya berbinar ketika dia melihat Ara sedang duduk di tepi jalan, dia melajukan mobilnya ke arah Ara setelah pas dengan Ara dia menumpahkan air comberan ke tubuh Ara.


Byur!


"Aaaa ... apa-apaan nih, duh bau lagi, woiiiiiiii turun gak lo." Ara berteriak ke arah mobil tersebut.


Keysa yang mendengarnya membuka kaca mobilnya.


"Enak? Hhhh, makanya lo jangan sok kegatelan sama Arjuna, udah tau Arjuna gebetan gue, lo malah sok pacaran sama dia," kata Keysa, lalu turun dari mobilnya.


"Lo tu ya," kata Ara sambil menatap Keysa tajam.


"Apa!! Lo emang pantes dapat yang kaya gituan, karena lo itu gatel," kata Keysa sambil mendorong Ara alhasil Ara terjatuh. Keysa yang melihatnya tersenyum mengejek, lalu kembali masuk ke mobilnya dan berlalu.


"Kita liat Keysa, sampai dimana kesombongan lo itu," kata Ara kembali berdiri dan mendorong motornya kembali.


Kini Ara sudah sampai di depan rumahnya, dia memarkirkan motornya lalu masuk ke rumah.


"Hari yang melelah 'kan, ban motor kempes, bengkel gak nemu, baju kotor, kaki pegel, ah, capek," kata Ara berjalan ke atas tangga.


"Hiks ... hiks ...."


Langkah Laura terhenti ketika dia mendengr suara orangmenangis.


"Suara orang nangis? Siapa ya?" tanya Ara pada diri sendiri.


"Suaranya di depan kamar gue," kata Ara sambil berlari ke arah kamarnya.


"Loh, Nenek kok nangis," kata Ara sambil berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya.


"Hiks ... Nek ,Ara , sekarang ganti baju ya! Kita ke rumah sakit," kata Mbok Nina.


"Emangnya siapa yang sakit, Mbok?" tanya Laura heran.


"Non Rissa , Non. Hiks ..."

__ADS_1


"A-apa, Rissa ? Emangnya Rissa kenapa, Mbok?" tanya Ara


"Tadi, Non Rissa pingsan di kamar mandi, trus darah banyak keluar dari kepalanya Non Rissa. Mbok nelpon ambulans, tapi Mbok gak ikut ke rumah sakit, hiks ... nunggu Non Ara pulang, hiks ...."


Ara yang mendengarnya terkejut, dia menjatuhkan dirinya di lantai dengan kaki sebagai penahannya.


"Non siap-siap, kita pergi sekarang!" kata Mbok.


Ara langsung masuk ke kamarnya, dia mengganti bajunya lalu kembali ke tempat Mbok tadi.


"Mbok, ayo! Hiks ..."


Ara keluar bersama Mbok, lalu memesan taxi. Tidak berselang lama, taxi pun datang. Mereka langsung masuk dan sopir pun melajukannya.


"Rissa , hiks ..." lirih Ara.


"Pak, ngebut Pak, biar cepet sampe," kata Ara, sopir pun mengangguk.


"Non yang sabar ya," Mbok sambil mengelus punggung Ara.


Mereka pun sampai di rumah sakit, mereka membayar taxi dan masuk ke rumah sakit. Ara berlari di sepanjang koridor rumah sakit.


"Loh, itu 'kan, Ara . Ngapain dia kesini? Lari sambil nangis lagi, gue ikutin ah," kata Reno sambil mengikuti Ara .


Reno memang berada di rumah sakit, karena dia mempunyai teman dari pemilik rumah sakit tersebut.


"Sus, pasien yang bernama Fanaya Clarissa, kamarnya dimana?" tanya Ara pada resepsionis ketika sudah sampai.


"Pasien berada di kamar no 14," balas suster tersebut.


"Makasih, Sus," kata Ara sambil mengikuti arahan dari suster tersebut.


Setibanya di kamar tersebut, Laura langsung masuk ke dalam dan memeluk mamanya.


" Rissa !!!"


"Apakah, anda keluarga dari pasien?" tanya dokter yang berada dalam ruangan tersebut. Ara mengangguk.


" Saudari anda akan segera kami operasi, karena, terjadi pendarahan yang cukup parah di kepalanya," kata dokter tersebut.


Ara yang mendengarnya kaget, dia menghapus kasar air matanya yang terus mengalir di pipinya.


"Ya Dok, lakukan apapun untuk membuat Saudari saya sembuh," balas Ara. .


"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin," balas dokter tersebut.


"Sus, 1 jam lagi, bawa Ibu ini ke ruang operasi," perintah dokter tersebut kepada rekan yang berada di sampingnya.


"Baik, Pak," balas suster tersebut menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu, saya keluar dulu," kata dokter tersebut lalu keluar di ikuti suster tadi.


"Oh, ternyata yang sakit Rissa , Ara hmm kasian ."ucap Reno


"Ris...Rissa harus kuat ya," kata Ara sambil memegang tangan Rissa yang terkulai lemah.


"Non, gak makan dulu? Dari tadi Non belum makan lo," kata Mbok yang baru sampai.


"Gak Mbok, aku gak selera makan, hiks ..." lirih Ara.


"Loh Non, Non Ara. harus makan. Kalau Non Laura sakit, Non Rissa pasti sedih," kata Mbok.


Ara yang mendengarnya menatap Mbok nya tajam, lalu menghembuskan napasnya kasar.


"Yaudah Mbok, Ara keluar dulu. Mbok jaga Rissa ya, hiks ..."


Mbok pun mengangguk, Rissa keluar dengan lesu. Mbok Nina menatap punggung Ara yang sudah menghilang di balik pintu, dalam hatinya menatap Ara sendu.


Tujuan Ara sekarang adalah pergi ke kantin rumah sakit, dia memesan makanan lalu duduk di bangku, sebenarnya Ara tidak nafsu untuk makan, namun dia paksakan.


Kini Ara sudah kembali, Mamanya sedang di operasi. Dia tidak hentinya memohon kepada tuhan untuk keselamatan Saudari nya.


3 jam berlalu, akhirnya dokter pun keluar. Ara yang melihatnya berjalan ke arah dokter tersebut.


"Dok, gimana keadaan saudari saya," kata Ara cemas.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar, namun saudari anda akan mengalami koma sekitar 3 hari," kata dokter tersebut menjelaskan.


Ara yang mendengarnya tersenyum bahagia, walaupun mamanya harus koma dalam 3 hari ini, namun tidak apa-apa, asalkan Rissa sehat.


"Iya, Dok." Dokter itu pun berlalu pergi.


Ara masuk ke kamar Rissa , dia menatap wajah pucat Rissa yang terbaring lemah. Air mata pun sudah tidak dapat di bendung.


Ara menangis sejadinya ketika melihat mamanya, Mbok Nina yang berada di sampingnya pun juga ikut menitikkan air mata.


******


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 Ara sudah tidur di samping Rissa.


"Non," kata Mbok Nina sambil menepuk pelan pipi Ara. .


Ara yang sedang tidur pun terganggu, lalu membuka sedikit matanya, dan menatap ke arah Mboknya.


"Kenapa Mbok?" tanya Ara.


"Non sebaiknya pulang aja, Nyonya biar Mbok yang jagain, emangnya Non Ara. gak capek, Non 'kan belum mandi, besok pagi-pagi baru datang lagi ke sini, ya," kata Mbok.


Ara yang mendengar mengangguk pelan. Dia mengambil tasnya di atas meja.


"Mbok jagain Rissa , Ara pulang dulu," kata Ara yang di angguki Mbok Nina.


Laura berjalan keluar dari rumah sakit, dia memesan taxi. Tidak butuh waktu lama, akhirnya taxi pun tiba.


20 menit di dalam taxi, kini Ara sudah sampai di depan rumahnya. Dia membayarnya lalu berjalan ke rumahnya.


Ara langsung mendaratkan tubuhnya di kasur empuknya. Baru saja matanya ingin di pejamkan, namun ponselnya yang berada di tasnya berbunyi.


Ara mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya, dia menggeser tombol hijau ketika mengetahui yang menelponnya adalah Salsa


("Halo, Ara )


"Iya, kenapa Sal ."


("Gue punya kabar gembira buat lo")


"Kabar gembira? Emangnya apaan?"


("Gue tadi keluar ...")


"Trus? ..."


("Ck, dengerin dulu o'on")


"Iya maaf, trus?"


("Gue tadi keluar, trus gue gak sengaja lewat depan rumah Arjuna, dan gue lihat Arjuna. Itu berarti, dia udah pulang")


"Haaa ... serius lo," balas Ara lalu merubah posisinya yang tadi berbaring kini duduk.


("Iya serius, gue lihat pake mata kepala gue sendiri")


"Oke, besok gue bakal dateng ke rumah Arjuna, soalnya gue kangen banget sama dia."


("Lebay lo")


"Hehehe, sekali-kali juga gak papa."


("Iya deh iya, lo dimana sekarang?)


"Gue di kamar, habis pulang dari rumah sakit."


("Ngapain lo ke sana?")


"Beli sepatu."


("Ck, Ara !! Gue serius, emang siapa yang sakit?")


"Rissa , dia jatuh di kamar mandi trus mengalami pendarahan, tapi sekarang Rissa udah di operasi."


("Haa!! Ya ampun, Ara !! Kok lo gak bilang-bilang!!!")


Ara menjauhkan ponselnya dari telinganya, karena suara Salsa yang membuat gendang telinganya serasa pecah.


"Ini 'kan udah."


("Ck, yaudah gue jenguk Rissa lo besok. Udah dulu ya, gue di panggil nih sama Mama ")

__ADS_1


"Iya."


("Assalamualaikum")


"Waalaikumsalam."


Tuut!


Sambungan pun terputus, Ara kembali merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamarnya sambil senyum-senyum sendiri, ketika mengingat dia akan menemui orang yang selama ini dia rindui, dan dia akan menemuinya.


"Duh, gak sabar buat besok. Semoga aja hari cepat pagi, amiin," monolog Ara lalu tertidur.


*******


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 Ara masih setia berada di dalam dekapan selimutnya, dia terbangun ketika cahaya matahari masuk dan membuat mata Ara menjadi silau. Ara melirik jam yang tergantung di dindingnya. Matanya membulat sempurna, ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 09.00.


"Ya ampun, gue telat. Gue 'kan harus ke rumah sakit," kata Laura sambil bangun dari tempat tidur, lalu berlari masuk ke kamar mandi.


5 menit, Laura sudah siap. Dia berjalan keluar rumah untuk pergi ke rumah sakit.


"Pak, anterin Ara ke rumah sakit ya," kata Ara pada supirnya yang sedang duduk di teras rumahnya.


"Siap, Non."


Mobil pun melaju membelah jalanan kota.


Laura melirik jam yang melingkar di tangannya mungilnya.


"Pak, kok Bapak akhir-akhir ini jarang di rumah, emang Bapak kemana aja?" tanya Ara heran ketika dia sudah di dalam mobil. Soalnya terkadang di saat lagi butuh, Pak sopir gak ada.


"Bapak banyak urusan Non, soalnya, anak Bapak 'kan banyak, istri Bapak juga sekarang sakit-sakitan."


"Ooh."


Kini Ara sudah sampai di rumah sakit, dia langsung menuju kamar dimana mamanya di rawat.


"Assalamualaikum." Ara membuka knop pintu sambil mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, eh Non Ara ," kata Mbok sambil menatap Laura, dia baru saja membersihkan tangan mamanya Laura menggunakan kain dengan pelan.


Ara berjalan ke arah mamanya, lalu mengecup pipi Rissa yang terbaring lemah.


"Mbok udah makan?" tanya Ara mengalihkan pandangnnya ke arah Mbok Nina.


"Udah Non," balas Mbok sambil tersenyum.


"Mbok, jagain Rissa ya, Ara keluar sebentar, ada urusan," kata Ara .


"Iya, Non," balas Mbok.


Ara keluar dari rumah sakit, kini Laura berada di luar gedung rumah sakit, langkahnya terhenti ketika dia melihat Salsa . Salsa pun juga sama, dia berjalan ke arah Ara.


"Lo mau kemana?" tanya Salsa heran ketika dia mendapati Ara


"Gue mau ke rumah Arjuna, lo ikut nggak?" tanya Ara.


"Yaudah ayo."


Mereka pun berjalan ke arah mobil Salsa lalu masuk. Salsa menjalankan mobilnya pelan.


Ketika sudah sampai, Salsa menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Arjuna, satpam yang melihatnya berjalan mendekat.


"Cari siapa Non?" tanya satpam tersebut.


"Arjuna Pak," balas Salsa.


"Arjuna baru keluar, silahkan masuk dulu Non."


Salsa dan Ara pun berjalan masuk, lalu duduk di atas kursi yang ada di depan rumah Arjuna.


*******


Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 Salsa dan Ara masih di depan rumah Arjuna.


"Duh, Arjuna lama banget sih. Di tungguin dari pagi sampe sekarang belum datang juga," keluh Salsa


Tin! Tin!


Salsa dan Ara menoleh ke sumber suara, terlihatlah Arjuna yang baru sampai. Mata Ara berbinar ketika melihat Arjuna, namun dia kembali memasang wajah datarnya ketika melihat seorang wanita bergelayut manja di lengan Arjuna.


Arjuna berjalan ke rumahnya, namun dia kaget ketika mendapati Ara dan Salsa berada disana.


' Salsa..Ara !!' batin Arjuna cemas.


"Sayang, mereka siapa?" tanya Linda. Namun Arjuna tidak menjawab, dia menatap Ara dengan tatapan takut, cemas, bingung, grogi.


Ara yang mendengarnya membulatkan matanya, sebenarnya apa yang terjadi.


"Sa-sayang?" tanya Ara heran, begitupun dengan Salsa .


"Iya, emang kenapa? Dia ini suami aku," kata Linda.


Bagai di sambar petir di siang hari, tubuh Salsa terasa kaku ketika mendengar ucapan Linda, matanya sudah berembun, menahan tangis yang sebentar lagi akan turun.


"Arjuna!! Jelasin semua ini!" bentak Ara .


"Maaf Sal , sebenarnya ... aku sudah menikah," kata Arjuna menatap sendu Salsa.


Pantes aja Arjuna nikah sama aku, ternyata pacarnya gak banget, cupu! Hhhh, najis dong Arjuna pacarnya pacaran sama kamu," timpal Linda mengejek.


Salsa yang mendengarnya kini beralih menatap Linda.


"Lo bilang apa tadi?!! Cupu?!! Lo cantik karena make up lo tebalnya kaya aspal, lo lihat ya," kata Salsa sambil membuang kacamata nya, rambut yang dia kepang kini dia lepaskan ikatannya dan membiarkan rambutnya tergerai, gigi kelinci palsu yang dia pakai kini dia buka, wajahnya yang dia buat seperti banyak jerawat kini dia hapus, kulitnya yang semula seperti kehitaman, kini dia lepaskan, karena itu hanyalah sarung tangan yang menempel seperti asli di tangannya.


Mereka yang melihatnya melongo kaget, karena Salsa begitu cantik.


"Lo! Hapus make up lo itu sekarang, biar kita tahu siapa yang cantik diantara kita berdua," kata Salsa


Linda yang mendengarnya gelagapan, karena takut, dia memilih masuk ke rumah.


"Sal , aku minta maaf ya," lirih Arjuna.


Plak!


"Lo udah bikin sahabat gue jadi sakit hati, ... awas aja lo," kata Ara lalu mendorong Arjuna.


******


Kini Ara berada di balkon kamarnya.


Drtt Drtt Drtt


Ponsel Ara berbunyi, dia menghapus air matanya kasar, lalu melihat siapa yang menelponnya, 'Ayah' itulah nama kontaknya, Laura menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.


"Hallo ayah"


("Hallo, apa benar ini anaknya pak Doni?")


'Ini bukan suara ayah' batin Ara.


"I-ya saya anaknya, ini siapa ya?"


("Saya Farhan, teman kerja Papa kamu. Saya mau ngasih tau kamu kalau ... mobil Papa kamu kecelakaan, dan mobil itu terbakar, Papa kamu ada di dalam, saya tidak tau keadaannya, jadi sekarang saya minta kamu datang ke lokasi")


Deg!


'Papa kecelakaan?'


"Dimana tempatnya, Pak?"


("Di jalan xxxxxxxx")


Tut!


Ara mematikan ponselnya, lalu berlari keluar. Dia menyambar kunci mobil milik keluarganya lalu berjalan berlari ke mobil, dia melajukannya dengan sangat cepat.


Tak butuh waktu lama, Ara sudah sampai di tempat kejadian. Matanya membulat sempurna ketika melihat tubuh seseorang yang gosong akibat kecelakaan tersebut.


"PAPA!!!!!!" ARA berteriak dan berlari ke arah mayat tersebut.


Hayooo, gimana ceritanya. Gantung gak sih?? Gimana perasaan kalian ketika mengetahui Rissa sakit parah, semoga cepat sembuh ya Rissa.


Hai 👋🙋 readers,


satu episode lagi part terakhir ya.


Tinggalkan jejak. like dan komnet bawelnya.

__ADS_1


__ADS_2