
Tania dan Debby pulang di antar oleh Aditya sendiri, atas permintaan mamanya pasti, dan itu tidak bisa di tolak.
Dan bila di tanya Nabila adik dari Tania yang tidak datang ke acara makan malam, itu karena ia sedang bekerja kelompok dan mengharuskan ia menginap di rumah temannya.
Keluarga Aditya pun memahami akan hal itu walau ada kekecewaan sendiri di dalam hati Mira, namun ucapan Aditya berhasil membuat Mira senang.
"Mama, kan bisa datang kapan aja ke rumah Tania, dan pasti bisa ketemu dengan Nabila dan juga Debby dan kapanpun itu Aditya pasti ngijinin." Seperti itulah ucapan Aditya ke pada Mira.
"Sudah sampai," ucap Aditya yang sudah berada di depan rumah Tania dan mematikan mesin mobilnya, Aditya menoleh sejenak ke arah Tania yang sedang kesusahan membuka pintu mobil karena sedari tadi Debby tidur di pangkuan Tania, dan itulah yang membuat di kesusahan.
"Tunggu biar saya bantu," ucap Aditya yang di balas anggukan oleh Tania dan setelah itu Aditya turun, berlari kecil memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Tania.
Aditya mengambil alih Debby yang sedang tertidur di pelukan Tania, walaupun Tania sempat menolak karena merasa di enak bila sekali merepotkan Aditya, namun keukeh Aditya dan tidak biasa di bantah.
"Biar saya aja yang ngendong Debby , kamu bawa mainannya aja," ucap Aditya yang di balas anggukan oleh Tania dan setelah itu Tania membuka pintu mobil belakang dan mengambil paperbag yang berisi mainan Debby yang sengaja di belikan oleh Aditya.
"Ih liat si Tania, dia antar sama cowok, pasti itu pelanggannya Tania, secara Tania kan wanita penghibur," ucap salah satu ibu-ibu yang sedang berkumpul di rumah sebelah Tania. Oh! Lebih tepatnya di teras tetangga.
"Iya, malah dia ngajak Tania lagi, kan kasian tau sama Debby masih kecil, tapi udah di bawa ke tempat-tempat haram," timpal ibu-ibu lainnya.
"Eh ... buk gak boleh gitu, siapa tau itu temennya atau suaminya, mana mungkin bak Tania yang baik gitu, jadi palacur," ucap ibu yang bekerudung warna biru tua.
"Yaelah buk, mana mungkin dia suaminya, orang kayak terpandang gitu, sedangkan Tania hanya orang miskin sekarang, dan lagi pula saya gak pernah tuh ngeliat suami Tania pulang ke rumah itu, dan baru kali ini saya ngeliat dia bawa laki-laki."
"Bener tuh, kalo bukan pelacur terus apa namanya, kalo terus-terusan pulang malam, apa lagi anaknya itu lahir tanpa ayah."
"Iya saya aja, yang rumahnya sebelah gak pernah tuh ngeliat ayahnya Debby, saat baru pertama kali di bawa ke rumah ini juga gak ada bapaknya," ucap ibu Nina yang rumahnya di sebelah Tania, karena semenjak bercerai dari Gino Tania 6 bulan lalu pindah rumah yang sederhana sesuai keuangan Tania waktu itu.
"Iiih, masak sih buk?" tanya ibu yang bekerudung biru tua itu, karena ia mengenal Tania sebagai wanita baik-baik dan juga ramah.
"Yaelah emang ibu pernah ngeliat suaminya Nadira? Enggak kan, setau saya selama ini dia itu tinggal di rumah itu cuman sama anaknya dan adeknya, gak pernah tuh saya liat suaminya," timpa bu Dewi yang bernotebe ratu rumpi di kalangan ibu-ibu itu.
Ya memang selama ini Tania bekerja hingga larut malam, tapi dia bukan bekerja di club melainkan di kafe yang buka 24 jam, dan dia meminta masuk sore hari karena harus menjaga Debby dan ia juga menunggu Nabila pulang sekolah agar bisa bergantian menjaga Debby. Dan karena itu juga ia harus bekerja sampai tengah malam.
Dan untu suami, memang kebanyakan orang-orang tidak mengetahui bahwa Tania masih singel, mereka selalu menyinyir Tania dengan sebutan 'jalang' namun Tania tak pernah menanggapi ucapan ibu-ibu itu. Toh itu tidak benar.
Bisik-bisik itu dengar oleh Aditya, dan seketika telinganya memanas mendengar cacian dari ibu-ibu yang di tunjukan oleh Tania dan juga Debby. Apa-apaan Debby di bilang anak haran, sungguh rasanya dia tidak terima akan hal itu.
"Maaf merasa tidak nyaman, mari masuk," ajak Tania yang sudah berada di belakang Aditya sambil menenteng mainan Debby, dan dia berucap seperti itu, karena pasti Aditya mendengar bisik-bisik itu.
"Tunggu," ucap Aditya sambil menahan pergelangan tangan Tania dan berucap lantang sampai-sampai di dengar oleh ibu-ibu rumpi itu.
"Mohon maaf ibu-ibu, siapa ya? Yang di bilang 'pelacur' oleh ibu-ibu semua?" tanya Aditya sambil menghadap ke arah ibu-ibu dengan tangan yang masih mengendong Debby dan satunya di buat mengenggam pergelangan Nadira.
"Ya siapa lagi kalau bukan Tania, ya enggak ibu-ibu," ucap bu Dewi dengan sinis, yang di angguki oleh ibu-ibu lainnya, sedang Nadira hanya menunduk sambil meremas gaunnya, hancur sudah harga dirinya di depan Aditya pasti setelah ini Aditya akan menjauh dari Tania pikir Tania.
"Kalau maksud ibu-ibu itu Tania, ibu salah besar karena Tania ini istri saya dan Debby adalah anak saya bukan anak haram," ucap Aditya lantang yang membuat ibu-ibu itu bungkam, sedang Tania menatap tak percaya ke pada Aditya.
"Halah, kalo emang emasnya suaminya Tania. kenapa selama ini kok gak pernah keliatan di rumah Tania," ujar bu Dewi yang seakan menantang ucapan Aditya, sepertinya orang ini ingin bermain-main. Ok! Aditya akan turuti itu.
"Owh itu, selama ini saya bekerja di luar negri, mangkanya saya gak pernah pulang ke rumah ini dan juga kenapa Tania harus pulang malam, itu karena ia harus mengurusi salah satu kafe milik saya yang buka 24 jam, dan apakah kalian tidak melihat interaksi kami bertiga yang seperti keluarga ini," ucap Aditya sambil merangkul pinggang Tania posesif.
"Owh, maaf ya mbak Tania kita gak tau kalo kamu punya suami, sekali lagi saya minta maaf." Bukan. Bukan ibu Dewi yang meminta maaf melainkan ibu lainnya, karena ratu rumpi itu jarang meminta maaf walau dia juga yang salah.
__ADS_1
"Iya bu, Tania maafin kok," ucap Tania sambil tersenyum manis, mungkin dengan cara ini nama baik Tania akan pulih, dan juga tak ada orang yang menyebut Tania dengan sebutan 'jalang'
"Lain kali jaga ucapan, atau tidak saya akan melaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik, karena saya tidak suka bila istri saya di katai 'jalang' dan anak saya ini bukan anak haram, karena saya adalah papanya, jadi jaga ucapan kalian," ucap Aditya yang membuat mereka menunduk takut, entah sadar atau tidak, Debby yang berada di pelukan Aditya mengeratkan pelukannya ke leher Aditya, tepat saat Aditya mengucapkan bahwa Aditya adalah papanya Debby.
Setelah mengucapkan kata itu Aditya berjalan ke arah pintu rumah Tania, Tania pun langsung membukakan pintu dan mereka pun langsung masuk yang tak luput dari pandangan ibu-ibu itu.
***
"Sedang apa?" tanya Tania yang baru keluar dari kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya menjadi baju tidur di atas lutut.
Tania bertanya seperti itu karena ia heran melihat Aditya yang sedang berdiri di depan jendela dan mengintip ke luar, entah apa yang di lihat olehnya.
Aditya yang mendengar suara Tania, terlonjak kaget dan mengelus dada sabar saking kagetnya, ia pun menoleh ke arah Tania , Aditya menelan Saliva nya saat melihat Tania memakai seperti itu.
"Ah, i-itu tetangga-mu masih saja melihat ke a-arah sini," ucap Aditya gugup dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf ya, gara-gara saya kamu malah terjebak dalam masalah ini," ucap Tania sambil memundurkan, jujur ia merasa bersalah terhadap Aditya, walau bukan ia yang menyuruh untuk mengatakan bahwa mereka berdua adalah sepasang suami istri.
"Hey, ini bukan salah kamu, saya ngelakuin ink karena saya gak suka ada orang yang menjelekkan orang lain, tanpa adanya bukti dan fakta kebenarannya," ucap Aditya sambil mengangkup pipi Tania , yang membuat Tania menatap Aditya.
Tatapan mereka bertemu, dan tampa sadar Aditya memajukan wajahnya, sampai berjarak sangat dengan wajah Tania, mereka berdua sama-sama bisa merasakan deru nafas masing-masing, Tania sudah menutup matanya dan ....
Gubrak!
Aditya dan Tania kaget dan sama-sama menoleh ke arah asal suara itu, dan ternyata ibu-ibu tadi yang menyinyiri Tania , sedang mengintip Aditya dan Tania yang sedang ingin berciuman namun tergagalkan, gara-gara suara itu.
Aditya dan Tania sama-sama salah tingkah, karena hampiri saja berciuman tanpa ada ikatan apapun, sedang ibu-ibu tadi sudah menghilang karena ketahuan sedang mengintip.
"Ng ... kopi aja," jawab Aditya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah, kamu duduk dulu," ucap Tania yang di balas anggukan oleh oleh Aditya dan setelah itu ia pergi ke dapur dan membuatkan Aditya kopi.
Sedang Aditya yang duduk di sofa ruang tamu, merutuki kebodohannya yang hampir saja mencium bibir ranum Tania.
Selang beberapa menit, Tania datang dengan membawa secangkir kopi yang di minta Aditya tadi, dan menaruhnya di atas meja dan ikut duduk di samping Aditya.
Aditya yang menyadari keberadaan Tania langsung menoleh dan tak sengaja menatap ke arah paha Tania yang sedikit ter-ekpos. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dari pada khilaf ya kan.
"Kamu kenapa sih, kok gak jawab cacian maki ibu-ibu itu, bilang kalo kamu bukan jalang, dan Debby bukan anak haram," ucap Aditya kesal, saat mengingat kejadian tadi.
"Buat apa saya jawab ibu-ibu itu, toh itu gak bener," jawab Tania.
"Iya sih, tapi kan kamu bisa bilang pada ibu-ibu itu bahwa itu tidak benar," ucap Aditya lagi.
"Kalo saya jawab, sama aja saya kaya ibu-ibu itu yang suka ngerumpi, saya gak jawab karena itu percuma, kalau mereka emang gak suka saya pasti mereka akan mencari kesalahan saya yang lain dan memojokan saya lagi, dan pasti percuma lebih baik saya diam dan dengarkan saja," ucap Tania yang membuat Aditya terpukau, cara pemikiran yang bagus dan tak banyak orang yang memakai.
Karena menurut orang lain, kata orang itu lebih penting dari pada kenyamanannya, sedang Tania tak memperdulikan apa kata orang lain.
"Saya tidak mengira kamu akan kepikiran seperti itu," ucap Aditya
"Sepertinya saya harus menginap di sini," sambung Aditya sambil melihat ke arah luar. Tania yang mendengar kata itu terperejat kaget, bagaiman bisa dua orang berbeda jenis kelamin, tinggal satu rumah tampa ikatan apapun, bisa-bisa terjadi fitnah nanti.
"Itu tidak mungkin, kita tidak punya hubungan apapun dan itu bisa terjadi fitnah nanti," ucap Tania, Aditya menoleh mendengar suara Tania yang menahan kesal.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, masak saya pulang pasti ada kecurigaan di mata ibu-ibu itu, saya baru datang dan tau mereka saya adalah suami kamu kalo saya tiba-tiba pulang tampa menginap mereka pasti curiga," ujar Tania, ada benarnya juga kata-kata Aditya.
"Tapi saya gak mau terjadi fitnah di antara kita berdua," ucap Tania.
"Itu tidak akan terjadi Tania, mereka 'kan taunya kita adalah sepasang suami istri, percaya sama saya Tania ini juga demi Tania agar tidak ada orang lain lagi yang bilang dia anak haram," ucap Aditya panjang lebar.
"Tapi ...." Belum selesai Tania berbicara Aditya sudah memotongnya.
"Percaya sama saya, kalau saya menginap itu pasti buat mereka percaya, dan besok kalau saya pulang dan ada ibu-ibu tanya keberadaan saya bilang saya sudah kembali ke luar negri karena urusan mendadak, pasti itu tidak akan membuat mereka curiga," ucap Aditya sambil menggenggam tangan Tania.
Tania pun menganggukan kepalanya, dan tanpa di sangka Aditya memeluk Tania erat, Tania Yang tak mengerti dan terkejut tak membalas pelukan Aditya.
"Balas Tania, itu ada ibu-ibu yang ngintip," bisik Aditya pada Tania , Tania yang mengerti dengan ucapan Aditya langsung saja membalas pelukan Aditya.
'Wangi' Batin Aditya yang mencium bau rambutnya Tania. Setelah melepas pelukan itu Nadira langsung beranjak keluar rumahnya dan mendapat ibu-ibu itu yang masih mengintip.
"Ibu-ibu itu gak ada kerjaan lain apa, pake segala ngintip-ngintip!" ujar Tania yang di balas cengiran oleh ibu-ibu itu, merasa malu ibu-ibu langsung kembali ke rumahnya tetangganya Tania. Tania yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
Tania pun masuk ke dalam rumahnya, dan mengunci pintunya dan juga menutup gorden jendelanya agar tak ada lagi yang mengintip.
"Kamu tidur di kamar Nabila ya Aditya," ucap Tania yang sudah menutup gordennya.
"Ah masak saya tidur di kamar cewek kan hak etis," canda Aditya ke pada Tania sambil terkekeh.
"Oh kalau begitu kamu tidur sama Debby di kamar saya, saya akan tidur di kamar Nabila," ucap Tania
"Oh tidak saya akan tidur di sini saja," ucap Aditya sambil menepuk sofa.
"Ah jangan gitu, saya gak papa kok kalau kamu mau tidur sama Debby."
"Tidak saya akan tidur di sini saja, kamu sana sama Debby saya gak papa kok," ucap Aditya di sertai senyumannya.
"Ya sudah saya ambilkan selimut dulu," ucap Tania. Setelah mengambil selimut untuk Aditya, Tania langsung masuk ke kamarnya dan ingin tidur.
"AAAAA TOLONG!!!"
Baru saja Aditya akan menutup matanya tapi dia sudah di kagetkan dengan teriakan Tania dan ia pun langsung masuk dan mendapat Tania yang sedang di tindih oleh seorang lelaki dan Debby yang sudah menangis.
"HEY! SIAPA KAMU!" teriak Aditya sambil menendang orang itu, dan orang itu pun jatuh dari atas Tania
Tania pun langsung beranjak dan mengendong Debby dan bersembunyi di belakang Aditya.
"Lo Siapa sih! Ngapain lo ikut campur urusan gue!" bentak pria itu.
"Saya suami Tania" jawab Aditya yang masih terlihat santai.
"Hahahaha, jangan harap kamu jadi suami Tania, saya hang akan jadi suami Tania," ujar pria itu.
"Udahlah Viko, kita udah gak ada hubungan apapun, jadi mending kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi!" bentak Tania.
"Tuh, anda denger 'kan, mending anda pergi dari sini atau saya bakal lapor polisi," ucap Aditya.
"Lo kira gue takut," ujar pria itu di sertai seringai, dan ia pun mengeluarkan pisau di jaket yang ia pakai, dan terus maju mengikis jarak dan ....
__ADS_1