Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 48.Kisah Masa Lalu 6( Flashback End)


__ADS_3

“Jangan tinggalkan aku mas hiks.”


“Aku udah nggak cinta sama kamu!”


“Tapi gimana dengan anak kita mas?”


“Aku nggak mau tau! Pergi kamu dari rumah ini! Aku sama pacar aku mau senang-senang! Pergi kamu!”


“Aggrr ....”


Begitulah cerita di sinetron membuat Mama Reno menangis dan mengeram kesal, aku hanya melihat ngeri.


Aku bergidik melihat mama Reno menggeram sambil menggigit bantal sofa. Mungkin saking geramnya sama film 'suara hati istri'. Lihatlah, bantalnya sobek.


“Mama! Bantal sofa Reno ngapain digigit?!” teriak Reno yang baru datang.


Jadi, sehabis makan aku dan Tante Dewi langsung duduk di sofa sambil menonton. Nonton di HP. Sedang Reno katanya sakit perut jadi ke kamar mandi dulu.


“Habisnya mama geram liat tu laki yang lebih mentingin pelakor dari pada istri sendiri!”


Kembali Tante Dewi mencabik-cabik. Tapi, sekarang bedanya yang dicabik mama Reno kaki anaknya sendiri. Aku tertawa dalam hati melihat muka Reno yang pasrah dengan apa yang dilakukan Tante Dewi


Aku 'tak tahan, “Hahaha ....”


Mereka berdua menoleh, mungkin bingung mengapa aku tertawa. Tapi, tawaku 'tak bisa berhenti. Sudah aku coba lagi untuk menghentikan tawa tapi perutku rasanya digelitik oleh sesuatu sehingga 'tak bisa dihentikan.


“Setan!” teriak Tante Dewi sambil menunjukku. Seakan aku kerasukan.


Otomatis rasanya perutku langsung berubah menjadi batu. Tawaku berhenti menatap datar mereka berdua yang tertawa. Nyenyenye. Dasar camer (calon mertua) bobrok.


“Ara nggak kerasukan,” ucapku agak kesal.


Mereka tertawa lagi. Huh.


“Ahh, nggak asik. Ara jalan keluar dulu aja,” ucapku. “Mama ikut?”


Tante Dewi menggeleng kembali fokus pada tontonannya.


“Renren?” tanyaku.


Reno mengangguk, “Ma, kita keluar dulu ya.”


Tante Dewi mengangguk sambil mengangkat tangannya ke depan muka kami. Langsung saja kusambut dan segera menciumnya disusul oleh Reno.


“Jangan lama-lama, bawain mama makanan juga,” ujarnya tetap fokus pada tontonannya.


“Iya ma,” ujar Reno.


Segera kami berjalan keluar apartemen dan menuju mobil Reno.


“Mau kemana?” tanyanya.


“Terserah,” jawabku.


Lagi pula aku 'tak tau ini dimana.


Reno menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Kembali aku teringat tentang Zain yang habis ditonjok terus ditinggal. Kasian.


“Kita mau kemana?” tanyaku.


“Mau ke pantai.”


“Lama dong, terus mama gimana?”


“Bentar lagi papa pulang, katanya tadi udah dijalan bentar lagi mau ke apartemen, pasti mama yang minta.”


Aku mangguk-mangguk.


Di pantai


“Udah nyampe,” ujar Reno.


Akhirnya, setelah perjalanan yang berjam-jam. Kubuka pintu mobil dan disambut oleh pemandangan pantai dari kejauhan. Indah.


“Yuk.”


Ku sambut uluran tangan Reno dan segera berjalan menuju tepi pantai. Terlihat matahari yang mulai condong ke arah barat. Disini 'tak terlalu ramai. Aku membuka sepatu dan berjalan dengan kaki telanjang begitu pun dengan Reno.


“Ara.”


Aku mendongak menatap Reno yang lebih tinggi dariku. Kami berhenti.


“Kenapa?” tanyaku.


“Ada ulat di rambut Ara ” ujarnya sambil menunjuk rambutku.


Tentu saja aku terkejut.


“Aaaa Renren, tolong buang!”


“Ulatnya gede,” ucapnya sambil menjauh selangkah dariku.


Tentu saja aku tambah takut. Ulat gede? Aku takut ulat! Ya Tuhan, bagaimana ini? Huwa!


“Renren! Buangin!”


Kutepuk-tepuk kepalaku dan melompat-lompat agar ulat itu jatuh.


“Hahaha ....”


Aku langsung berhenti dan mendongak menatap Reno. Aku dikerjai! Reno awas kamu! Segera kupukul dia menggunakan tangganku namun sialnya tawanya makin pecah.


Bruk!


Astaga! Posisi macam apa ini! Aku hendak berdiri tapi tangan Reno malah memeluk pinggangku, alhasil aku terjatuh lagi menimpa tubuh Reno. Jantungku 'tak bisa diajak kompromi. Bukan! Bukan jantungku saja. Tapi, jantung Reno juga. Aku bisa merasakannya karena tanganku tepat diatas dadanya.


“Ara ,” panggilnya.


Suaranya terdengar serak dan berat.


“I-iya.”


“Kamu cantik.”


Deg! Deg!


Aku tertegun. Baru pertama kali Reno menyebutku cantik. Jika bukan berada diposisi begini mungkin aku akan berteriak.


“Ma-makasih.”


Gawat! Jantungku.


Aku 'tak berani menatap Reno. Aku malu.


“Tatap Reno!”


Perlahan kudongakkan pandangan ke arah matanya. Deg! Matanya indah. Hidungnya. Bibirnya. Pandanganku turun lagi kebawah. Aku terkekeh melihatnya, ingin sekali aku memegang benda itu.


“Kenapa?” tanyanya.


“Boleh Ara minta sesuatu,” ucapku.


Ia terlihat gugup, “M-minta apa?”


Ekspresi apa itu? Aku tidak akan minta yang macam-macam hanya ingin menyentuhnya saja.


“Ara engen banget megang sesuatu yang istimewa punya Renren itu,” ujarku.


Aku ingin sekali menyentuh jakunnya yang naik turun itu. Menggemaskan.


Ia gelagapan sambil menatap kesana kemari.


“Di--disini?”


Aku mengangguk. Tentu saja disini, memangnya harus dimana lagi. Tanganku yang berada di atas dadanya perlahan ku arahkan pada jakunnya itu.


“Tunggu,” ujarnya sambil menggenggam tanganku. “Nggak boleh,” lanjutnya.


“Yah, padahal dari dulu Ara pengen pegang jakun Renren,” ucapku.


“Jakun?” Reno membeo.


Aku mengangguk.


Reno menghembuskan nafas dan mengarahkan tanganku pada lehernya. Aku terkikik merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di tanganku. Rasanya aneh.


“Udah?” tanyanya.


“Udah.”


“Berdiri, ntar Reno khilaf,” ucapnya.


“Eh.”


Aku langsung berdiri disusul oleh Reno. Aku malu.


“Wah, mbak sama mas romantis banget.”


Aku menoleh pada lelaki yang memegang kamera dan selembar kertas? Atau mungkin foto? Ia mendekat, kemudian memberikan kertas kecil pada Reno. Reno tersenyum. Apa?


Segera aku mendekat untuk melihat apa itu. Aku membekap mulut. Itu foto aku dan Reno dalam posisi tadi. Tapi, di foto itu terlihat seperti berciuman karena cahaya matahari yang membuat bayangan rambutku seperti menyatukan bibir kami. Pipiku memanas.


“Kami ambil.” Reno menyerahkan uang berwarna merah dua lembar.


Apa itu tidak kebanyakan? Mentang-mentang kaya.


“Makasih mas, semoga langgeng,” ucap orang itu sambil berlalu pergi.


Mungkin dia mengira kami sudah menikah.


Reno menatapku. Entah kenapa tatapan itu membuatku jengkel. Matanya berkedip. Ku palingkan muka.


“Andai saja sudah menikah.”


Ku tatap kembali Reno.

__ADS_1


“Emang kalau sudah menikah bagaimana?” tanyaku.


“Ini akan benar-benar terjadi.” Reno menghadapkan foto itu di hadapanku.


“Yuk, lanjut,” ujarnya sambil menggandeng tanganku.


“Renren, udah mau malam,” ucapku.


Reno mengangguk, “Kita pulang.”


Kami segera melangkah menuju mobil, selanjutnya Reno menjalankan mobil menuju pulang.


Mobil Reno berhenti.


“Kok berhenti?” tanyaku.


Reno mengangkat foto tadi dan berjalan keluar mobil. Lama menunggu akhirnya Reno kembali dengan dua foto yang serupa.


“Ini untuk Ara,ini untuk Reno.”


Kuambil foto itu. Aku masih merasa malu walaupun itu hanya foto. Reno kembali menjalankan mobilnya.


Sampai dirumah Ara


“Sampai juga.”


Aku meregangkan tubuh dan segera turun dari mobil Reno. Hari sudah benar-benar malam.


“Renren, Ara pulang dulu ya,” ujarku.


Reno mengangguk, “Awas rindu.”


Cup!


Aku tertegun. Apa itu? Pipiku?


Reno terkekeh.


Aku segera berlari menjauhi Reno sambil memegang pipiku. Ah, malu!


“Mimpiin Reno ya!”


Aku tersenyum mendengar teriakannya dan segera berlari membuka pintu dan menguncinya. Ku sibak jendela disamping pintu.


Reno masih terlihat di sana sambil tersenyum dan memegang dadanya seakan mengambil sesuatu dan meniupnya kesini. Tanganku terangkat sendiri dan menangkap udara meletakkannya di dada.


Bibirku kembali melengkung senyuman.


Aku segera berbalik badan.


Deg!


Nenek dan bang Refan sudah berada di hadapanku.


“Eh bang Hendra,bang Marvel, bang Rizal, Bang Karfel, bang Refan hehe.”


Bang Hendra mengerutkan kening, “Dari mana baru pulang?”


“Kemarin nginap di apartemen,” jawabku.


“Berdua?”


Aku mengangguk.


“Kemarin udah izin sama nenek ,” ujar ku menunduk.


Aku tau aku salah. Tidak seharusnya anak gadis tidur berdua di apartemen dengan cowok.


“Tapi Ara nggak tidur seranjang dengan Reno 'kan?” tanya nenek.


Aku mendongak menatap nenek lalu menggeleng.


Nenek tersenyum mengelus rambutku, “Ya udah Ara naik, terus mandi,” ujarnya.


Aku mengangguk segera berjalan.


“Tunggu.”


Aku berhenti dan menoleh ke arah bang Refan. Mataku membola menatap benda yang dipegang bang Refan.


“Ini apa?!”


Aku terkejut mendengar bentakannya. Tidak pernah bang Refan.membentakku seperti ini sebelumnya. Nenek menutup mulut terlihat kaget.


Aku menggeleng, “I-itu hanya foto,” ujar ku.


“Maksudnya apa?! Ha?!”


Kembali aku tersentak mendengar bentakan bang Refan


“Jawab! Kau berciuman dengan Reno? Iya?!”


Air mataku menetes, “Nggak bang, i-itu 'tak seperti yang terlihat hiks.”


Bang Refan menggelengkan kepalanya.


Tanganku perih karena ditarik bang Refan keluar rumah.


“Sakit bang hiks ... hiks ....”


“Nenek ! Nenek percayakan kalau Ara nggak gitu?”


Nenek terdiam di tempat sambil menggeleng lemah. Nenek 'tak percaya padaku.


Bang Refan membawaku ke rumah Reno. Dia langsung membuka pintu.


“Reno!” teriak bang Refan .


“Bang, ini buk—”


“Diam!”


Aku kembali terisak mendengar bentakan itu.


“Ara .”


Aku mendongak menatap Reno yang berlari menuruni tangga.


“Ada apa ini?” tanya om Nando yang baru datang.


“Kita duduk,” ujar Tante Dewi.


Kami semua duduk di sofa termasuk nenek yang baru datang.


“Baiklah, ada apa ini?” tanya om Nando memulai percakapan.


Aku hanya menunduk meremas-remas ujung baju yang ku pakai.


Bang Refan.melemparkan foto tadi ke atas meja. Om Nando terlihat mengambil foto itu dan mangguk-mangguk.


“Baiklah, kalian berdua akan ayah nikah. "


Keesokan harinya disekolah


Jus alpukat yang rasanya manis entah kenapa sekarang rasanya pahit. Bahkan untuk menelan pun rasanya susah. Serasa ada sesuatu yang mengganjal dalam tenggorokanku, mungkin itu perumpamaan hatiku yang belum siap untuk dinikahkan. Kembali ku raup udara dan menghembuskannya kembali.


"Lo kenapa Ra ?"


"Hah?"


Salsa berdecak, "Lo kenapa dari tadi gue perhatiin melamun mulu."


Aku menggeleng. Aku pengen cerita sama Salsa tapi takut juga. Lagian juga belum pasti langsung nikah gitu aja. Kembali terbayang kata-kata om Nando.


'Kalian akan menikah seminggu lagi!'


Apa-apaan coba, masak kita masih sekolah udah nikah. Lagian foto itu juga tidak seperti kenyataan. Ini gara-gara si Abang tukang foto waktu di pantai itu. Sekeluarga nganggap kami udah lakuin hal-hal aneh. Kesel kan?


"Tuh, kan Lo melamun lagi!" Decak Salsa.


"Bukan gitu." Ku alihkan pandangan ke seluruh kantin.


"Lo udah dapat nomor Zain belum?" Tanya Salsa.


"Hah?"


"Hah heh hoh!"


Aku cemberut menghadap Sesil yang mengejekku. Dasar teman yang satu ini. Dari tadi diam aja makan. Sekali ngomong bikin mood turun.


Ku aduk kembali jus alpukat di depanku.


"Belum."


"Kok belum?!" Mukanya cemberut sambil menyeruput minumannya.


"Yah, belum," jawabku seadanya.


Muka Salsa tambah cemberut, "Lo udah janji!"


Kembali ku minum jus alpukat milikku.


"Besok."


Salsa mengangguk dan mulai memakan bakso didepannya begitupun denganku. Sekarang sedang istirahat, aku tidak menemui Reno dulu, lagian aku masih kesal bukannya bantuin jelasin soal foto itu, malahan Reno bilang 'Reno khilaf' katanya. Padahal kan mana ada.


POV Author


Hari ini memang panas. Ara sedang menunggu jemputan dari bang Refan . Sudah lumayan lama Ara menunggu dari saat bel pulang berbunyi. Hanya ada beberapa orang yang tersisa. Lagi pula seharian ini Ara memang belum bertegur sapa dengan Reno. Masih canggung tapi rindu.


"Naik."


Aku membuang muka saat Reno menawarkan tumpangan. Ngambek ceritanya.


"Ara , ayo naik."

__ADS_1


Aku masih membuang muka 'tak memandangnya. Aku tidak tau apa yang dilakukannya karena posisiku sekarang membelakanginya. Aku mengerutkan dahi saat 'tak mendengar suaranya lagi. Mungkin sudah pulang. Ku balikkan badan. Ternyata Reno masih diposisi tadi, duduk di motornya dan diam.


"Ngapain masih disini?" Tanyaku.


"Nungguin Ara ," jawabnya.


"Ara pulang bareng bang Refan ," ketus ku.


Ia menatap sekeliling, "Mana? Bang Refan nya nggak ada tuh."


Aku menggerucut. Benar, kemana bang Refan . Kenapa belum datang?


"Lima menit lagi bang Refan datang," ucapku tetap teguh.


Reno mengangguk tetap diam di tempat.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Dua puluh menit.


"Pulang bareng Reno aja."


"Nggak!"


Reno terkekeh, "Masih ngambek? Hmm?"


Apa-apaan. Ngapain ketawa-ketiwi gitu. Karena sebal ku pukul dia menggunakan tanganku yang sialnya ia malah tertawa keras.


"Hahaha ...."


"Diam! Jangan ketawa!" Tetap kupukul dia.


"Sorry hehe," ucapnya sambil mengangkat dua jarinya.


Ku tarik lagi tanganku kemudian bersidekap.


"Ngapain kemarin Renren bilang khilaf? Kenapa nggak bantuin Ara jelasin kalau foto itu nggak seperti kenyataan?"


Reno berhenti tertawa. "Ya, kan. Nggak papa," jawabnya santai.


"Nggak papa apanya, kita disuruh nikah!"


"Ehem, lagian kalau nikah kan bagus."


"Nggak bagus, kita masih sekolah!"


"Bentar lagi tamat."


"Masih lama!"


"Dua bulan."


"Tapi kan—"


"Udah, ayo pulang." Reno menarik tanganku.


Ia menyerahkan helmnya dan langsung ku sambut. Sambil mengerucut ku pakai helm yang Reno berikan. Segera aku duduk di motor Reno.


Ku kalungkan tanganku pada pinggangnya. Dalam posisi ini aku bisa menghirup bau parfum Reno yang sangat wangi. Aku tersenyum, memang rasanya aku 'tak bisa marah padanya lama-lama. Kusandarkan kepalaku pada punggungnya.


"Renren, Ara kekanakan ya?" Tanyaku.


Ia mengusap tanganku yang memeluk pinggangnya. Aku tidak tahu apa ekspresinya.


"Nggak," jawabnya.


"Maaf," lirihku.


Reno tidak menjawab dan segera menjalankan motornya.


Dua puluh menit lamanya di perjalanan akhirnya sampai di rumah Reno. Aku segera turun dan menyerahkan helm pada Reno.


"Ara pulang dulu," ujar ku.


Reno turun dari motornya dan meletakkan tasnya di teras rumahnya.


"Ayo," ujarnya saat di sampingku.


"Mau kemana?"


Reno berdecak, “Reno anterin Ara pulang."


POV Arabell


Aku mengangguk dan segera berjalan. Sampai di depan rumah kubuka pintu dan membawa Reno masuk. Terlihat bang Refan sedang duduk di sofa dengan nenek dan seorang gadis yang tidak ku kenal.


Segera aku dan Reno menghampiri mereka dan bersalaman dengan nenek.Selanjutnya aku pamit ke kamar untuk ganti baju di angguki nenek. Ku perhatikan gadis itu yang terus tersenyum kepada Reno. Kesal juga melihatnya.


Ku tinggalkan mereka dan segera melangkah ke kamar. Sampai di kamar aku langsung mencuci muka dan segera mengganti baju. Setelahnya aku kembali turun dan menghampiri mereka.


Reno sudah 'tak terlihat. Mungkin sudah pulang. Aku duduk di samping bunda berseberangan dengan gadis tadi.


“Clarissa,” ujarnya sambil tersenyum dan sedikit menunduk.


Carrissa? Mungkin namanya.


“Arabel ,” ujarku sambil tersenyum.


“Ara, Rissa sekarang tinggal disini untuk sementara, nenek kasian karena Rissa hilang ingatan. Dia cuma ingat namanya, selebihnya ia 'tak ingat apa-apa,” jelas nenek.


Aku mengangguk. Kasian juga. Mudah-mudahan dia 'tak seperti yang ada di novel-novel yang kubaca dan berakhir jadi pelakor antara aku dan Reno. Semoga.


Dari tampangnya dia lebih muda dariku mungkin setahun atau dua tahun. Lumayan cantik, hitam manis.


“Refan pergi dulu,” ujar bang Refan sambil berlalu keluar rumah. Mungkin pergi.


Gadis itu menunduk sambil memainkan jarinya. Ada yang aneh.


“Ehem! Ya udah. Ara , kamu bawa Rissa ke kamar disamping kamar kamu ya, nenek mau pergi ke apartemen abangmu lagi,” ucap nenek.


Aku mengangguk dan menyalami tangan nenek.


“Ayo.” ku tarik tangan Rissa dan membawanya menuju kamar yang nenek. maksud.


Kubuka pintu kamar itu dan segera berbaring. Rissa masih berdiri di ujung pintu.


“Rissa, sini.” ku tepuk-tepuk ranjang di sampingku.


Rissa mendekat dan segera duduk di tepi ranjang sambil memandangi sudut-sudut kamar disini. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Segera aku duduk dan tersenyum melihatnya. Entah kenapa ada perasaan bahagia melihatnya. Mungkin karena aku yang akan mendapat teman baru di rumah ini.


“Kamu suka?” tanyaku.


Ia mengangguk antusias. Lucu juga.


“Mmm, kak Ara ” panggilnya.


“Iya."


“Boleh aku panggil kakak?” tanyanya.


Aku terkekeh, bukannya dia sudah memanggilku kakak barusan. Aku mengangguk.


“Ya udah, kamu istirahat dulu. Biar ingatan kamu cepat pulih,” ucapku.


Ia mengangguk sambil tersenyum. Aku mengacak rambutnya. Akhirnya aku mendapatkan jawaban kenapa Reno suka mengacak rambutku. Karena menggemaskan.


Segera aku meninggalkan Rissa di kamarnya tidak lupa menutup pintu. Segera melangkah ke kamarku dan berbaring.


Ting!


Kuambil ponsel di nakas. Ku buka aplikasi hijau yang tampak mendapatkan pesan baru.


Reno ganteng.


[Ke rumah Reno sekarang.]


Tanpa menunggu lama lagi segera aku turun kebawah dan berlari menuju rumah Reno. Terlihat Reno yang sedang duduk di teras rumahnya.


“Ngapain lari-lari?” tanyanya saat aku sampai di dekatnya.


Aku tersenyum memamerkan gigi. Iya juga, ngapain aku lari-lari. Segera aku duduk di sampingnya.


“Apa?” tanyaku.


“Apa?” terlihat matanya yang mengerjab.


“Ck, tadi Renren chat Ara , ngapain?!”


Reno terkekeh, “Masih pms ya mbaknya? Galak banget.”


Kan bikin kesel. Aku berdiri hendak melangkah tapi terhenti karena tangan Reno yang menarik tangan. Ia berdiri.


“Jangan galak-galak Ara , Reno cuma becanda, ayo.”


Reno menarik tanganku berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.


“Mau kemana?” tanyaku.


“Makan sate.”


Aku mengangguk. Ku perhatikan tangannya yang menggenggam tanganku. Selanjutnya kami kembali melangkah santai dengan angin sore yang berhembus menggoyangkan dahan-dahan pohon di sekitar.


“I love you, Arabell ”


Kakiku spontan terhenti saat mendengar ucapan Reno yang tiba-tiba bersamaan dengan jantung yang terasa berhenti bekerja sebelum berdegup kencang.


Flashback End


👋🙋Haii reader,


Semoga suka dengan ceritanya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dan koment bawelnya.


__ADS_2