Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 106. Kampus Lagi


__ADS_3

Seminggu yang lalu Ara dan Reno telah kembali ke rumah mereka, pastinya setelah mengecek keadaan Ara. Apakah sudah sangat membaik, atau masih sedikit membaik. Dan kata dokter Seno, semua sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu di takutkan.


Ya, hari ini Ara akan kembali ke kampus. Setelah cutinya sebulan lebih, dia kembali lagi menginjak 'kan kakinya di kampus itu. Dan jangan lupakan, sedari bangun sampai mereka di dalam mobil, Reno terus mengoceh melarang Ara banyak aktivitas atau banyak melakukan hal-hal, di kampus.


"Mas enggak capek dari tadi bicara terus?" tanya Ara jengah.


Reno tersenyum, dia juga bingung, kenapa mulutnya sangat susah diam kalau sudah menyangkut tentang Ara. Apa lagi keselamatan dan kesehatannya.


"Selagi itu tentang kamu, Mas enggak ada capeknya," ucap Reno, sedikit gombalan.


"Nyetir aja, sih. Dari tadi itu-itu terus juga yang di bilang, sampai-sampai udah Ara hafal," ucap Ara.


"Jaga-jaga Ra, tau sendiri kalau kamu itu keras kepala. Dibilangin susah."


"Oke-oke aja lah, Mas yang paling benar," ujar Ara dengan wajah kesalnya, membuat pak Reno terkekeh.


"Oya, nanti kamu ikut sama Mas dari parkiran sampai kelas," ujar Reno, Ara seketika membulatkan matanya menatap Reno bertanya.


"Ngapain?"


"Tau sendiri kan, kalau kamu baru nampakin diri di kampus? Mas enggak mau kalau sampai kamu di keroyokin, dengan pertanyaan-pertanyaan. Kalau ada Mas, enggak akan ada yang berani mendekat," ucap Reno sedikit terdengar songong, tapi betul juga sebenarnya.


"Nanti mereka curiga, baru masuk kampus dan lagi bareng dosennya."


"Mungkin mereka akan berpikir, itu hal biasa. Kan kamu asisten dosen Mas, ya mungkin pikiran mereka enggak sampai kemana-mana," ucap Reno.


"Suruh Tania sama Risa aja deh, yang jemput di parkiran."


"Enggak bisa. Lagian enggak apa-apa Ra, kalau mereka tau. Memang kamu enggak capek, enggak bosen sembunyi-sembunyi terus?" Baru Ara mau angkat bicara, mobil sudah masuk ke area parkiran dosen. Masih banyak orang-orang yang bekeliaran, belum pada masuk ke dalam kandang. Untungnya kaca mobil Reno gelap, jadi menutup kemungkinan kalau ada di antara mereka yang melihat Ara. .


"Sudah turun, enggak usah di ladeni kalau ada yang bertanya macam-macam."


"Salim dulu," ucap Ara. Mereka turun dari mobil, di parkiran dosenpun masih ada yang baru datang. Salah satunya pak Gino, untungnya yang baru datang, sudah mengetahui pernikahan mereka. Jadi ya, tidak perlu khawatir.


"Sudah masuk Ara ?" tanya pak Wandi, yang terlebih dulu melihat mereka.Ara cuma membalasnya dengan kata 'iya Pak,' disertai senyuman canggung.


"Bagaimana kabarnya, sudah baikan?" tanya pak Darwis juga.


"Sudah, Alhamdulillah Pak."


"Ingat sama suaminya kan?" Siapa lagi yang bertanya, kalau bukan pak Gino, yang selalu menyebalkan seperti pak Revano. Reya menarik nafasnya, menatap pak Gino dan tersenyum manis tapi terpaksa. Demi kesopanan dengan dosen, karna sekarang berada di lingkuangan kampus. Apa lagi ada dua orang dosen di sini. Kalau tidak, mungkin dia sudah menginjak kakinya atau menjabak rambutnya sekilas.


"Ya sudah, kita sama saja ke fakultasnya," ucap pak Darwis.


"Ayo." Reno memegang tangan Ara, bermaksud menggandengnya. Tapi deheman pak Gino, membuatnya urung.


"Di kampus loh, Pak. Tangannya di kondisikan," ucap pak Gino dengan tampang watadosnya. Reno menatap nyalang temannya, di sertai suara cekikikan dari kedua dosen di dekat mereka.


Mereka berlima, pak Darwis, pak Wandi, pak Gino, Reno, serta Ara berjalan beriringan. Tepatnya, pak Wandi dan pak Darwis berjalan di depan, pak Gino di samping tengah, dan Reno berjalan sejajar dengan Ara.


Itupun menjadi sorotan para mahasiwa/i yang masih berlalu lalang, dua dosen yang humoris, dan dua dosen ganteng seantero kampus, dengan seorang mahasiwi berjalan beriringan. Pak Wandi dan pak Darwis berjalan sambil mengobrol, pak Gino dengan wajah datarnya, pak Reno yang berjalan dengan satu tangan yang di masuk 'kan ke kantung celana, dan tangan satunya memegang tas kerja disertai wajah dinginnya. Ara yang berjalan kalem, tapi tidak sekalem hatinya dan jantungnya. Sesekali menelan ludah susah, saat melihat tatapan menyelidik plus kepo dari orang-orang yang melihatnya.


"Rilex aja jalannya," ucap Reno dengan nada kecil, yang hanya bisa di dengar Ara ataupun pak Gino.


Karena terlalu serius berjalan, Ara sampai-sampai tidak sadar kalau sekarang dia sudah berada di depan lift khusus dosen (namanya kampus elit, akan ada lift khusus dosen dan pelajar). Baru ingin pamitan ke lift mahasiwa/i, tangan Ara sudah lebih dulu di tarik pak Gino dan Reno untuk masuk.


"Ikut di sini saja," ucap Reno.


"Tapikan ini lift khusus dosen," ucap Ara.


"Tidak apa-apa Ara , sering kok mahasiswa lewat sini kalau sudah mendesak," ujar pak Wandi.


"Nah, dengar kan. Enggak usah nolak Ra, entar ngamuk dia," ucap pak Gino kecil, tapi sangat di dengar jalas pak Reno dengan lainnya.


"Siapa yang ngamuk?!" tanya pak Reno dingin sedingin dinginnya.


Pak Gino berdehem sok cool, dan menggeleng. Jangankan mahasiwa/i, dosen saja takut dengan pak Reno, contohnya pak Gino.


Ting ....


Lift terbuka, mereka semua keluar. Untungnya tidak ada dosen ataupun mahasiswa yang menunggu, di sana. Pak Wandi dan pak Darwis pamit, ke ruangannya.


"Jadi ceritanya, lo jadi pengawal Ren?"


"Bisa tidak jangan cari masalah, dulu?!" ucap pak Reno masih dengan nada dinginnya. Pak Gino berdecak, dan berlalu pergi ke ruangnnya juga.


Mereka berdua sudah sampai di depan ruangan pak Reno, Ara memilih menunggu di luar, karena itu cuma sebentar. Pak Reno keluar dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Ayo," ucap Reno setelah selesai mengunci ruangannya.


Ara mengangguk, dan berjalan deluan. Tapi tiba-tiba berhenti, begitu saja. "Kenapa?"


"Kan Ara asisten dosen Ma-em Bapak, kenapa enggak di kasih ke saya? Ini juga kenapa saya jalan di depan, harusnya Bapak yang di depan," ucap Ara bagai orang bodoh.


Reno menggeleng, dan berjalan sedikit di depan Ara. "Sudah kan?"


"Tapi itu ...."


"Biar saya yang bawa." Ara cuma menurut, malah hatinya senang tidak membawa yang berat di tangan. Lain dimulut lain di hati.


Benar saja kata Reno tadi, sepertinya liburnya Ara selama sebulan, bisa membuatnya menjadi bahan sorotan. Buktinya saat ini Ara menjadi bahan tontonan, bukan hanya karena tidak pernah muncul di kampus, tapi juga karena berjalan dengan pacar haluan mereka. Siapa coba yang seberuntung Ara ?


Sampai di depan kelasnya, Ara memandang Reno meminta izin untuk masuk duluan. Reno cuma menganguk sekali, sebagai jawaban. Ara menarik nafasnya dalam, bagaimana 'pun ada rasa canggung dan malu ketika setelah sebulan baru masuk kuliah lagi.


Ara melangkah masuk dengan tenang, langkah pertama belum ada yang memperhatikan. Langkah kedua tetap sama, semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan lagi langkah Ara yang sangat lambat, hingga tak menimbulkan suara.


"Ekhem." Itu bukan deheman Ara atau penghuni kelas, melainkan deheman Reno. Seketika para penghuni kelas terdiam bak patung, dalam hitungan detik ke satu, mereka sudah tersadar. Dan dengan pelannya melihat ke arah suara itu.


Hal pertama yang di tangkap, adalah wajah Reno yang menatap mereka tajam campur dingin. Dengan menelan ludah kasar, mereka melihat ke arah samping Reno yang juga menatap mereka datar. Sepertinya Ara mengikuti gaya bosnya.


Sedetik.


Dua detik.

__ADS_1


Tiga detik.


Emp__


"Araaa" pekik seluruh penghuni kelas, membuat Reno menghela nafas.


Sedangkan Ara menutup kedua telinganya, sunggu suara mereka sudah seperti memakai toak. "Kalian bisa kembali ketempat masing-masing?!" Sampai kagetnya mereka dengan kedatangan Ara, hingga tidak sadar akan posisi masing-masing. Dengan gerakan cepat, mereka sudah duduk rapi di tempat masing-masing.


"Baik, hari ini teman sekelas kalian sudah kembali masuk kuliah lagi, setelah pasca sakit atau amnesia karena kecelakaan. Tolong kalian jangan bertanya atau menyuruh dia melakukan hal-hal yang berat untuk, sementara waktu," ucap Reno. Semua mengangguk dan menjawab 'iya.'


"Silahkan ke tempat duduk kamu."


"Baik Pak," Ara , dan berjalan ke tempat duduknya. Dalam hati Risa dan Tania kompak berpikir, 'bisa banget mereka nyembunyiin status mereka, dengan bersandiwara seperti ini.'


Tatapan kesal jelas terlihat di raut wajah Tania dan Risa bagaimana tidak kesal kalau mereka tidak di tanya sebelumnya, kalau Ara kembali ke kampus hari ini.


"Gue boleh duduk?"


"Silahkan, enggak ada yang larang," ucap Tania dengan nada terdengar kesal. Dan Ara menyadari itu, dia hanya mengulum bibirnya menahan senyum atau suara ketawa.


Setelah memastikan Ara sudah duduk, Reno memulai pelajaran. Dan tentu saja Ara ketinggalan banyak pelajaran, bayangkan saja sebulan tidak masuk, bagaimana ceritanya tidak ketinggalan banyak pelajaran.


***


Setelah kelas selesai, mereka berkumpul di kantin. Tentu saja Ara masih menjadi bahan ghibahan dengan tontonan.


"Berasa kek artis dadakan gue, dari tadi di perhatiin mulu," ucap Ara sambil menunduk memakan makanannya.


"Emang lo artis, awal lo enggak masuk aja udah jadi bahan ghibahan orang-orang," ucap Tania.


"Masa?"


"Kagak percaya?"


"Percaya gak percaya," kata Ara, dan mereka melanjutkan makan disertai tatapan para pengunjung kantin. Awalnya masih tenang-tenang saja, hingga ....


"Dady, kakak Ara di mana?" Suara anak kecil yang begitu nyaring di telinga, membuat para pengunjung kantin menatap ke arahnya, tak terkecuali Ara. Yang menjadi objek pertama, karena namanya di sebut.


"Devan!" panggil Tania dan Risa bersamaan, dengan melambikan tangan. Devan yang mendengar namanya di panggil, mengedarkan pandangannya hingga ke objek yang di carinya.


"Dady, ke sana," tunjuk Devan, dengan merengek. Pak Damar mengangguk, dan berjalan ke arah Ara . Oh bukan, bukan cuma karena kedatangan Devan yang membuat orang-orang berhenti dengan aktivitasnya, tapi karena kedatangan Reno juga.


"Kakak Ara kata dady sama om Ren, kakak Ara udah sembuh? Udah ingat Devan lagi dong? Asikk, berarti kita bisa main bareng lagi dong, bisa bantuin Devan lagi," celoteh Devan tanpa jeda, membuat Ara meringis sendiri dengan ucapan Devan yang tanpa sensor.


Bisik-bisik di kantin semakin menjadi, disaat Devan naik duduk di pangkuan Ara, lebih tepatnya Ara yang menaik 'kannya, karena Devan yang memang meminta di pangku.


Gitu ....


"Udah ingat Devan kan?"


"Ingat, rencana kita pun Kakak masih ingat. Jadi ... masih mau di bantuin?"


"Tentu Kak!" seru Devan keras, begitu semangat.


"Belum, Devan mau makan bareng Kakak."


"Emang di bolehin, dady?"


"Emm, boleh kan Dad?" tanya Devan meminta persetujuan, dengan wajah di imutkannya.


Aramenatap pak Damar, juga meminta persetujuan. Pak Damar tampak tak enak hati, dengan kelakuan Devan yang ceplas-ceplos. Tapi pak Reno bilang 'tidak apa-apa', tapi dengan berbisik.


"Ya sudah, Devan makan dengan Kakak Reya ya."


"Thanks Dad."


"Lho, katanya enggak ngerti bahasa inggris?" tanya Dina dan Tania barengan lagi.


"Belajar sama Dady, biar ngerti kalau Kakak pake bahasa inggris," ucap Devan dengan polosnya.


"Oke little prince, mau makan apa?" tanya Ara.


"Bakso seperti Kakak," ucap Devan.


"Emang Devan boleh makan bakso?" tanya Risa juga.


"Enggak tau," jawab Devan.


"Emang Devan, enggak pernah makan bakso?" tanya Tania


"Enggak ingat," jawab Devan lagi dengan gelengan polosnya, mereka bertiga cekikikan dengan jawaban polos Devan.


"Coba tanya sama dady, boleh gak mak__."


"Dady, Devan boleh makan bakso gak?!" Devan bertanya dengan suara agak keras, memenuhi kantin. Pak Damar mengelus dadanya, dengan kelakuan putranya yang sangat hobi teriak itu. Padahal mereka berdekatan, cuma beda meja saja.


"Boleh," ucap pak Damar.


"Boleh Kak."


"Ya sudah, Kakak Risa pesanin dulu. Devan tunggu, oke?"


"Oke."


Kurang lebih enam menit, Risa sudah kembali dengan mangkuk dan air putih di tangannya.


"Silahkan Prince."


"Bentar, sebelum Devan makan. Kakak Tania mau tanya, Devan emang tau apa artinya prince?"


"Tau, artinya pangeran. Waktu itu Kakak Ara pernah bilang."


"Oke, silahkan di makan."

__ADS_1


"Kakak Reya suapin," rengek Devan. Ara mengangguk, kebetulan dia sudah kenyang.


"Nih, aaaa."


Orang yang melihat kedekatan mereka pasti akan merasa iri ataupun senang, tak terkecuali pak Reno. Sedari tadi dia cuma fokus memperhatikan Ara yang begitu dekat, bahkan sangat lembut dengan anak kecil. Hingga kedatangan Faris, merusak segalanya.


"Hay Tan, Ris , Ara . Dan ..., nama kamu siapa?"


"Devan," ucap Devan terus mengunyah.


"Hay Devan, lagi apa?"


"Ya makanlah, yakali main bola," sewot Tania.


"Kan yang gue tanya Devan, bukan lo," balas Faris, kemudian duduk di depan Ara.


"Geu mewakili Devan."


"Kakak ini siapa?" tanya Devan, menunjuk Faris.


"Panggil aja Kakak, Faris. Kakak ini, calon Kakak ipar kamu," ucap Faris, membuat tisu yang di pegang Tania, melayang ke arahnya.


"Ngarep!"


"Calon kakak ipar? Devan enggak ngerti," ucap Devan, terus memakan bakso yang di suapi Ara.


"Maksudnya, Kakak ini colon suaminya kakak Ra. Atau pacarny__."


"Jangan ngajarin yang enggak-enggak deh, Faris! Lo engggak Devan anaknya siapa?" Dina angkat bicara, di balas gelengan Faris.


"Anaknya siapa emang?'


"Mau tau? Tuh, pak Damar," ucap Tania santai. Faris mengikuti lirikan Tania, hingga ke arah pak Damar dan pak Reno yang memandangnya seperti ... ingin di telan.


"Pak Damar? Gu-gue pikir adek salah satu dari kalian. Terus kenapa dia lengket banget sama lo?"


"Masalah emang?" tanya Reya tanpa menatap Faris.


"Emm, enggak. Eh Devan, menurut Devan Kakak cocok gak dengan kakak Ara?" Risa dan Tania menatap jengah juga malas, ke arah Faris. Sedangkan Reno, jangan tanya bagaimana ke adaannya sekarang. Sendok dan garpu yang di tangannya, dia pegang sanga kuat. Jelas terlihat rahangnya mengeras.


"Enggak, lebih cocok kalau kakak Ara dengan om Ren," ucap Devan. Risa, Tania, dan Ara yang sedang minum sontak tersedak. Apa lagi suara Devan yang di bilang, cukup besar.


"Om Ren? Siapa?"


"Itu di__."


"Eh Devan makan aja ya, enggak usah di ladenin dia," ucap Ara memotong perkataan Devan, yang hendak menunjuk pak Revano.


"Tenang saja, Devan tidak setuju kalau kakak Ara-nya dengan Faris. Katanya cocoknya dengan om Ren," ledek pak Damar, yang memang sedari tadi memperhatikan pak Reno.


Pak Reno tersenyum samar, begitu terlihatkah kalau dirinya sedang ... cemburu? Oh, sunggu memalukan.


***


[ Langsung ke parkiran, Mas tunggu.]


Pesan dari Reno, Ara berjalan juga sedikit berlari ke arah parkiran dosen. Di sana, memang sudah ada pak Reno yang sedang bersandar di pintu mobil, dengan bersedekap dada.


Dari jauh 'pun, aura ketampanannya masih terpancar jelas. Ara berlari ke arah pak Reno, tinggal kurang lebih lima langkah, suara pak Reno sontak membuatnya berhenti berlari, dan menyengir.


"Bisa gak jangan lari-lari?! Kalau kamu jatuh atau terben__."


"Bisa juga gak jangan marah-marah sekarang? Nanti ada yang dengar," potong Ara dengan satu telunjuk di depan bibir Reno.


"Enggak bisa! Kamu kalau di tanya jangan ngeyel dong Ra, di bilangin jangan lari-larian, tetap aja lari. Keras kepala banget," omel pak Reno sambil membuka pintu untuk Reya.


"Ya ya maaf, enggak lagi."


"Sekarang enggak, bentar-bentar di lakuin lagi." Pak Reno menutup pintu, dan berjalan ke arah pintu kemudi.


"Iya janji enggak lagi mulai sekarang, jangan marah-marah dong."


"Mas usahain enggak marah saat ini! Tapi lain kali, jangan harap Mas enggak marah," ucap pak Reno, menyalakan mesin mobilnya, menjalankannya meninggalkan kampus.


"Iya, hukum aja kalau enggak nurut," ucap Ara dengan cengengesan.


"Enggak ada hukuman yang cocok untuk orang keras kepala seperti kamu," ucap pak Reno kembali dengan mulut pedesnya.


"Ya kalau gitu, enggak usah di hukum kalau enggak ada yang cocok."


"Adasih, tapi pertanyaannya ... kamu mau gak? Kamu kuat gak?"


"Mau, kuat, jadi apa?"


"Kita singgah makan dulu, agar kuat jalanin hukumannya nanti," ucap pak Reno, menepikan mobilnya di depan restorant yang tidak terlalu besar juga kecil.


"Emang hukumannya berat gitu? Kan belum tentu Ara lari-larian lagi."


"Nahkan, belum apa-apa sudah keberatan."


"Bukannya keberatan, tapi jangan sampai hukumannya buat orang sakit terus pingsan terus koit terus__."


"Enggak bakal pingsan sama koit, bisa jadi orang gila ganteng Mas kalau sampai kejadian. Tapi kalau sakit sih ya ... Mas enggak jamin," ucap pak Reno kemudian keluar dari mobil.


"Sakit, emang hukumannya seberat apaan sampai-sampai sakit?" gumam Ara. .


"He, ngapain melamun. Ayo keluar." Ara tersentak dari lamunannya yang tidak-tidak, lalu bergegas keluar mobil.


"Udah enggak usah di pikirin, Mas cuma bercanda," ucapan Reno kelewat santai, Ara mendengus menatap tajam suaminya. Dia sudah memirkan yang tidak-tidak, seperti di guyur shower, di suruh tidur di lantai, di larang makan-makanan di rumah, berenang selama dua jam tanpa henti. Dan, ujung-ujungnya pak Reno bilang cuma bercanda? Ingin dia lempar rasanya sang suami, dengan hamsternya.


Tapi emang pikiran Ara juga sih, yang kelewatan parnoan.


Sorry for typo. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2